ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 38


__ADS_3

Malam ini hanya di temanin oleh para bintang, karena sang rembulan kini sudah bersembunyi dibalik awan hitam. Angin yang mulai berhembus kencang, mampu menampar helaian rambut seorang lelaki saat ini.


"Lu ingin mengalahkan anggota ALASKA? Itu tidak akan mudah, untuk semua anggota yang masih ingusan kayak lu pada!" Murka seorang lelaki yang memiliki wajah tampan, sekaligus memiliki tatapan tajam bagaikan elang.


Devano Alaska Galaksi— seorang lelaki remaja yang memiliki tatapan tajam, dan tidak pernah melepaskan mangsanya bagaikan seekor burung elang. Bahkan, dirinya tidak pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan para musuhnya, dengan umurnya yang masih terbilang muda, dirinya mampu mengendalikan seluruh anggotanya, yang mencapai seratus anggota.


Seorang lelaki yang kini berada di dalam genggaman tangan Devano. Berulang kali, lelaki itu menerima semua hantaman pukulan di seluruh tubuhnya dan wajahnya, dengan rasa yang sangat ngilu mengenai tulangnya.


Seluruh anggota ALASKA yang melihat kejadian di hadapannya, mereka hanya memberikan senyum yang meremehkan, dan dengan tatapan mata yang terlihat penuh kemenangan. Seorang lelaki yang masih setia menatap apa yang terjadi di hadapannya, dirinya mulai memberikan tatapan mata tajam kepada lawannya, dan dirinya mulai mengambil alih untuk memberikan hantaman ke seluruh tubuhnya.


Seorang lelaki yang selalu bersikap bodoh di hadapan para sahabatnya. Mulai hari ini dan detik ini, dirinya seketika menjadi seorang lelaki yang sangat kejam bagaikan seorang iblis.


Bugh! Pukulan pertama mulai mendarat di bagian perut seorang lelaki di hadapannya. "Pukulan pertama yang gue kasih ke lu saat ini! Itu hanya sebuah pukulan, supaya bukan hanya gue yang masih mengingatnya, tapi lu juga harus mengingat semuanya kembali!" Ujarnya dengan penekanan.


Bugh! Pukulan kedua mulai mendarat kembali di bagian wajah kiri seorang lelaki saat ini. "Pukulan kedua yang gue kasih ke lu saat ini! Itu semua tidak seberapa besar, yang lu berikan waktu itu kepadanya!" Jelasnya dengan terengah-engah.


Pukulan demi pukulan pun mulai mendarat dengan sangat sempurna di seluruh tubuh seorang lelaki saat ini. Devano yang melihat kejadian di hadapannya, dirinya mulai memisahkan kedua lelaki tersebut dengan sekuat tenaganya. Kedua lelaki yang memiliki sebuah hubungan yang dahulunya sangat dekat, kini mereka berdua bagaikan sebuah langit dan bumi.


Lelaki remaja yang tidak bisa mengendalikan emosinya saat ini, dirinya kini menatap wajah Devano dengan tatapan tajam. "Kenapa? Lu mau berpihak kepadanya? Tanyanya dengan penekanan.


Devano yang melihat salah satu anggota di hadapannya, sudah termakan emosi. Dirinya mulai memberikan sebuah pukulan di wajahnya dengan sangat sempurna, dan itu mampu membuat ujung bibirnya sobek.


"Lu nggak lihat? Dia sudah hampir mati karena menerima pukulan lu terus menerus! Kendalikan emosi lu, Put!" Jelas Devano yang mulai meninggikan nada bicaranya.


Yah, lelaki remaja yang selalu terlihat bodoh, ternyata dirinya bisa menjadi bagaikan seorang iblis. Lelaki iblis yang menyembunyikan semua sikapnya di balik sifat bodohnya, yah, lelaki itu adalah Putra Mualan.


Putra yang mendengar lontaran kalimat dari lelaki di hadapannya, kini dirinya mulai beralih menatap seorang lelaki remaja yang kini sedang terkulai lemah di bawah kakinya.


Putra tertawa kecil, dirinya mulai menatap Devano dengan tajam. "Gue nggak emosi, tapi gue hanya ingin memberi pelajaran ke lelaki yang tidak bertanggung jawab kayak dia!" Ujarnya dengan penekanan.


"Tapi, lu nggak seharusnya seperti itu, Put! Itu semua sudah berlalu, dan yang sudah pergi tidak mungkin bisa kembali! Dengan cara lu yang seperti ini, itu sama saja membuatnya tidak tenang!"


Seketika waktu mulai berhenti, hanya ada kesunyian di tempat yang terjadi saat ini. Semua lontaran perkataan Devano barusan, mampu membuat semuanya menjadi hening.


Devano yang melihat lelaki di hadapannya membisu, dirinya mulai menepuk pundak Putra dengan pelan.


"Semua sudah berlalu, walaupun lu masih melampiaskan semua emosi lu saat ini. Itu semua tidak akan berguna, karena kita tidak bisa membantah sebuah takdir. Berulang kali, lu ingin menghancurkan semua orang yang telah membuatnya hancur, dirinya tidak akan pernah kembali!" Jelas Devano sambil menatap wajah Putra dari samping.


Aiden Kusuma— seorang ketua dari anggota Black Kobra, dengan umurnya terbilang masih muda, dirinya mampu mengendalikan seluruh anggotanya, yang mencapai sekitar puluhan anggota. Baru hari ini, dirinya dikalahkan oleh salah satu anggota. Ntahlah, apakah pikirannya teralihkan karena kehadiran seseorang yang dari masalalunya? Atau dirinya belum siap mengingat semua memori pahit itu kembali?


Aiden yang masih terkulai lemah di atas tanah, dengan kondisi tubuh yang terlihat sangat tidak wajar untuk manusia biasa. Dirinya mulai mengepal erat kedua tangannya dan menatap lelaki di hadapannya.


"Kenapa lu selalu nyalahin gue, hah? Itu semua bukan salah gue seorang, Put! Yah, gue emang lelaki brengsek yang hanya memanfaatkan dia waktu itu! Mungkin, kesalahan gue waktu itu tidak bisa dimaafkan, tapi apa yang lu tahu tentang gue, hah? Bukan lu aja yang menderita, tapi gue juga, sialan!" Jelas Aiden yang mulai memberikan sebuah pukulan keras di wajahnya.

__ADS_1


Pukulan demi pukulan mulai melayang di seluruh wajah Putra dengan sangat hebat. Devano yang melihat Putra masih terdiam, tanpa membalas satu pun pukulan dari Aiden. Dirinya mulai memisahkan mereka berdua, tapi niatnya di cegah atas perlakuan Putra di hadapannya.


Putra tersenyum kecil. "Yah, emang semua itu salah lu! Kalau lu nggak bisa membalas perasaannya, lu nggak perlu melakukan hal seperti itu kepadanya! Sampai-sampai dia depresi waktu itu—" perkataan Putra terpotong oleh tertawa renyah seorang Aiden Kusuma.


"Itu semua bukan salah gue! Kalau lu nggak egois waktu itu, disaat dimana dia membutuhkan sahabat terbaiknya  waktu itu, dia mungkin akan tetap hidup di dunia ini! Waktu itu lu kemana, hah? Kenapa lu selalu menghindar darinya? Apa lu takut, kalau perasaan lu itu tidak akan pernah terbalas olehnya? Sialan! Lu malah melemparkan semuanya ke gue, padahal lu juga ikut terkait tentang akhir kehidupannya!"


Putra yang mendengar setiap lontaran demi lontaran, dirinya mulai mengepalkan tangannya, semua kenangan mulai terlintas kembali di seluruh kepalanya.


"Put ... Lu kenapa selalu menghindar dari gue? Apa karena gosip di kelas, malah membuat lu juga menjauh dari gue? Gue kira, lu berbeda dengan yang lain, kalau lu akan selalu bersama gue. Gue bukan cewek murahan, Put. Gue mohon balas Voice gue."


Sebuah voice terakhir yang selalu dirinya ingat sampai detik ini, ternyata sebuah voice itu adalah terakhir kalinya dirinya mendengarkan suara lirihnya.


Aiden yang melihat Putra terdiam, dirinya tersenyum kecil. "Kenapa lu diam? Lu nggak bisa menjawab, karena semua perkataan gue itu benar! Karena lu terlalu egois, lu selalu memikirkan perasaan lu terlebih dahulu!" Jelasnya dengan tatapan tajam.


Bugh! Sebuah pukulan mulai melayang berat di bagian perut Putra dengan sangat kuat. Devano yang melihat pukulan hebat dari Aiden berulang kali, dirinya mulai mendorong tubuh Aiden dengan sekuat tenaganya.


"Lu gila, yah? Selama gue masih hidup, nggak akan ada ada satu pun yang boleh menyentuh anggota gue!" Murka Devano dengan tajam.


Devano pun mulai merangkul tubuh Putra, dirinya menatap tatapan kosong dari lelaki di sampingnya. Yah, dirinya sangat betul kejadian waktu itu, karena dirinya juga sebagian dari masalalu di antara kedua lelaki tersebut.


Aiden yang diperlakukan seperti itu, dirinya hanya tersenyum kecil dan menatap wajah Putra dengan penuh benci.


"Lu nggak perlu takut, sampai kapanpun gue nggak akan pernah melupakan kejadian waktu itu! Sebuah kejadian yang dimana, bukan hanya gue seorang yang salah disini, tapi lu termaksud orang yang akan selalu disalahkan!" Jelas Aiden dengan penekanan.


'Kenapa? Kenapa, gue yang disalahkan waktu itu? Jika bukan karena urusan waktu itu, gue mungkin akan selalu menemani dirinya, dan akan selalu bersama dirinya.' Batin Putra.


Devano pun melihat kepergian Aiden bersama dengan seluruh anggotanya, dan dirinya pun mulai beralih menatap Putra dengan datar.


"Gue tahu semuanya, di saat dimana waktu itu, lu tidak bisa membalas semua pesan darinya. Jadi, jangan terlalu di ambil perkataan Aiden barusan, dia hanya emosi." Jelas Devano dengan helaan beratnya.


Putra menatap Devano dengan tatapan kosong. "Masalahnya ... semua masalalu itu akan terjadi terulang lagi untuk kedua kalinya." Ujar Putra.


"Maksud lu?" Tanya Juna yang mulai berhenti memainkan ponselnya.


Putra menghela nafasnya dengan berat. "Lu pada tahu David, kan?" Tanya Putra kepada Juna.


"Yah, gue tahu dia. Emang ada apa sama dia dengan masalalu yang akan terjadi lagi?" Tanya Juna dengan heran.


"Lu semua pasti tahu siapa Alga, kan?" Tanya Putra sekali lagi.


"Kalau lelaki itu gue kenal! Dia yang memiliki tim anggota basket dan membawa sekolahnya diurutan pertama, dia sudah terkenal di kalangan remaja." Jawab Devano.


"Terus masalahnya dimana?" Tanya Juna lagi.

__ADS_1


"David akan melakukan berbagai cara apapun, untuk membuat perasaan Alga bingung. Apakah dirinya akan memilih seorang dari masalalu, atau dirinya akan memilih seorang gadisnya saat ini."


"Terus? Lu mau ngapain sekarang? Kalau lu butuh saran gue, seperti biasa gue, jangan pernah melepaskan sedetik pun musuhmu, walaupun dirinya meminta ampun sekali pun." Jelas Devano dengan kata logatnya.


"Gue tahu itu, dan gue sudah punya rencana di saat dimana dia bikin masalah, gue akan mengeluarkan rencana gue ini." Ujar Putra.


"Good Boys, dengan cara lu kayak gitu, semua orang pada tahu kalau lu adalah anggota ALASKA. Karena gue nggak akan pernah melepaskan musuh gue sedetik pun." Jelas Devano dengan tertawa lebarnya, yang diikuti oleh para anggota lainnya.


Pukul 2.30 pagi. Langit masih menunjukkan awan gelap gulitanya dengan sangat sempurna, dan para bintang yang menjadi saksi seluruh para lelaki remaja saat ini.


Semua anggota ALASKA pun mulai membubarkan barisan mereka, dengan suara motor dan mobil yang saling bersautan mampu meramaikan jalanan Ibu Kota Jakarta.


...***...


Matahari yang mulai terlihat di balik awan dengan masih malu-malu memberikan sebuah kehangatannya, kini dirinya menjadi saksi untuk seorang lelaki remaja bernama Algasa.


Alga pun mulai berlari kecil ke arah depan pintu rumah seorang gadis saat ini. Dengan rasa yang bercampur aduk, dirinya mulai memberanikan diri untuk mengetuk pintu di hadapannya.


Tok ... Tok ....


Pintu pun mulai terbuka dengan sangat lebar, terdapat seorang gadis yang selalu terlihat sangat manis bagi kehidupan Alga, walaupun kondisinya saat ini tidak sempurna dan menggunakan kursi roda.


"Kalau lu sudah selesai, dan tidak ada yang tertinggal, kita langsung berangkat saja." Jelas Alga dengan senyuman manisnya.


Dasa yang melihat senyuman dari lelaki di hadapannya, dirinya membalas senyuman hangat itu, sebuah senyuman yang tidak pernah pudar di hadapannya.


Alga pun mulai membuka pintu mobilnya, dan mulai menggendong tubuh kecil Dasa dari kursi roda. Setelah itu, dirinya mulai menaruh kursi roda tersebut ke bagasi, dan Alga pun mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar.


Dasa yang selalu memperhatikan lelaki di sampingnya, senyuman yang sedari tadi mengukir manis di wajahnya tidak pernah luntur.


"Ga? Makasih, yah? Makasih selalu bersama Dasa, walaupun keadaan Dasa saat ini terlihat sangat lemah, dan terimakasih yang selalu menepati semua janji Alga kepada Dasa." Lirih Dasa dengan senyuman kecilnya.


Alga yang mendengar lontaran setiap lontaran dari gadis di hadapannya, dirinya mulai menatap kedua mata seorang gadis di hadapannya saat ini. Sebuah tatapan mata yang saat ini, ada sebuah kristal yang sedang ditahan olehnya.


Jujur, di dalam perasaannya yang sangat dalam, dirinya masih menyayangi kehadiran seorang gadis di hadapannya. Tapi, dirinya tidak ingin egois maupun serakah saat ini. Karena ada perasaan yang sangat tulus kepadanya saat ini, dan dirinya harus menjaga perasaan seorang gadis yang saat ini membuatnya sangat takut— sebuah ketakutan untuk kedua kalinya, dirinya merasakan kehilangan. Mungkin dengan cara seperti ini, dirinya bisa menjaga kedua gadis yang sangat dirinya sayangi.


Alga pun menganggukkan kepalanya. "Sudah tugas gue, untuk menjaga lu berdua." Jelasnya dengan datar, mungkin dengan cara seperti ini, dirinya tidak memberi harapan palsu apapun kepada Dasa.


Dasa yang mendengar lontaran datar dari lelaki disampingnya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan tersenyum kecil. Dasa pun mulai terdiam membisu dan beralih menatap samping jendela mobil.


Matahari yang mulai muncul dengan senyuman manisnya, dirinya mulai memberikan kehangatannya tanpa ada rasa malu. Sebuah saksi hidup yang sangat mengetahui kisah kehidupan Alga saat ini.


Alga pun mengendarai mobilnya ke rumah seorang gadis kecil yang bagaikan horor buatnya saat ini, ntahlah, dirinya tidak sabar untuk menjemput pujaan matahari kecilnya. Dengan senyuman yang mulai terukir di wajah Alga yang tidak pernah luntur, dirinya mulai berada di depan sebuah rumah sederhana di dalam pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2