
Angin sore yang mulai berhembus dengan sangat sempurna, dan menampar helaian rambut kedua kejora yang berlain jenis disebuah sepeda motor yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.
Pelukan yang masih melingkar di pinggang Putra dengan sangat erat, sesekali dirinya mulai menatap seorang gadis yang berada di belakangnya, yang sedang membenamkan kepalanya di punggung yang kokoh tersebut.
Ntah kenapa, perasaan seseorang lelaki saat ini tidak bisa bekerja sama dengan tubuhnya. Sesekali lelaki itu mencuri pandang kepada gadis di belakangnya, sesekali itu pula perasaannya berdegup dengan sangat kencang dan tidak karuan.
Sedangkan, Putra sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi kepada perasaannya sekarang. Karena yang dirinya ketahui sekarang adalah, untuk menjaga seorang gadis yang sangat penting di dalam kehidupan sahabatnya sekarang ini.
Disebuah rumah yang terlihat sangat sederhana dan untuk kedua kalinya Putra berada di halaman rumah seorang gadis saat ini. Sebuah rumah yang terlihat sangat hangat bagi tatapannya.
Kini, dirinya pun mulai menghentikan motornya di depan sebuah pagar rumah yang tertutup dengan sangat rapat. Asa yang menyadari dirinya sudah tiba di depan rumah, dirinya pun mulai memberikan barang milik Putra, dan masih berdiri di samping laki-laki tersebut.
"Kak Putra nggak mau mampir dulu, kah?" Tanya Asa.
Putra yang mengabadikan perkataan dari Asa, dirinya hanya bisa menatap seluruh rumah Asa yang terlihat sangat sepi.
"Orang tua lu belum pada pulang juga?" Tanya Putra dengan datar.
"Bunda sudah pulang kok, tapi pulangnya pas jam sembilan malam." Jawab Asa dengan cepat.
"Terus, ayah lu?" Tanya Putra sekali lagi.
Asa yang mendengar perkataan Putra barusan, dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat dan tersenyum kecut. "Ayah masih sibuk sama pekerjaannya." Jawab Asa.
Putra menganggukkan kepalanya dan mulai turun dari motornya.
"Yaudah, gue mampir dulu ke rumah lu. Sudah dua kali gue ke rumah lu, tapi nggak dapat apa-apa bagaikan tamu yang tidak diharapkan." Ujarnya dengan dingin, sambil mendorong motornya memasuki halaman rumah Asa.
Asa pun mulai membuka pintu rumahnya dan terlihat sangat tidak berpenghuni di dalamnya.
"Assalamualaikum." Salam Asa kepada rumahnya yang tidak ada penghuninya.
__ADS_1
"Walaikumsalam." Jawab Putra yang mendengar salamnya Asa.
Asa yang mendengar salam Putra, dirinya hanya menatap Putra dengan heran.
"Kenapa lu?" Tanya Putra yang risih ditatap oleh Asa.
Asa menggelengkan kepalanya. "Asa heran saja, seharusnya Kak Putra itu bilang salam kayak Asa barusan, bukannya 'Walaikumsalam." Jelasnya.
"Suka-suka gue, lah! Lagian sayang kalau perkataan manis lu itu nggak di jawab begitu saja!" Jelasnya yang mulai menghembuskan tubuhnya di sofa panjang.
Asa yang melihat tingkah laku laki-laki di hadapannya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan kasar.
"Seharusnya, yang pertama kali datang ke rumah Asa itu Kak Alga, bukannya sih curut tikus!" Dengus Asa dengan sebal.
Putra yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai tersenyum kecil atas apa yang dirinya dengar barusan.
'Berarti Alga nggak pernah mampir ke rumah Asa, gitu? Kalau gue lihat dari dekat, wajah Asa manis juga, yah? Apalagi tingkahnya bagaikan hewan yang ingin manja sama majikannya.' Batin Putra sambil membayangkan seorang Asa yang menurut di dalam kepalanya.
Asa yang melihat tingkah seorang lelaki remaja yang sedang merebahkan dirinya di atas sofa panjang dari kejauhan, dirinya melihat laki-laki itu tersenyum sendiri, dan sesekali lelaki itu tertawa lebar.
Asa yang mulai memegang kepala Putra dengan sangat cepat, dirinya pun mulai melemparkan semua kalimat doa di bibir manisnya. Sedangkan, Putra yang dilakukan seperti layaknya seorang yang sedang kerasukan setan, dirinya pun mulai mendorong tubuh Asa dengan cepat.
Putra pun mulai membangkitkan tubuhnya, dan menatap wajah Asa dengan risih.
"Lu ngapain sih? Gue lagi enak-enak mimpi, lu malah gangguin gue!" Ketusnya dengan kesal.
Asa yang mendengar perkataan dari Putra, dirinya mulai mendekati Putra, dan meletakkan tangannya di kening Putra dengan lembut.
"Kak Putra nggak sakit dan suhu tubuh Kak Putra juga panas dingin. Tapi kenapa Kak Putra malah senyum-senyum sendiri?" Tanya Asa dengan heran.
Putra yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai menghembuskan tangan Asa dengan kasar.
__ADS_1
"Lu sok tahu banget, sih!? Terus gue sebagai tamu di rumah lu nggak disiapkan apapun gitu?" Tanya Putra dengan datar, sambil melihat ke arah meja yang tidak terdapat apa pun disana.
Asa yang mendengar perkataan dari Putra, dirinya mulai mencemberutkan bibirnya.
"Masalahnya, tadi Asa sudah mau bikin minuman buat Kak Putra. Tapi! Asa lupa kalau nggak ada apa-apa di rumah." Cengirnya tanpa dosa.
"Kak Putra boleh pulang kok sekarang, nanti Asa undang lagi Kak Putra buat mampir di rumah Asa, kalau ada makanan yang bisa disajikan buat Kakak." Jelasnya dengan lembut dan senyuman.
Putra yang mendengar perkataan dari gadis di hadapannya, dirinya tidak percaya apa yang terjadi saat ini, dengan helaan nafas yang berat, dirinya hanya meraih dompet dan kunci motornya.
Sedangkan, Asa yang melihat kepergian Putra tanpa harus membawa tasnya yang masih tertinggal di sofanya dengan heran.
"Aneh! Kalau mau pulang itu barangnya diperiksa kek, bukannya ceroboh!" Gumam Asa dengan datar, sambil menatap sebuah tas hitam yang masih setia berada di sofanya.
Berbeda dengan seorang laki-laki yang kini sedang menerobos beberapa motor maupun mobil yang menghalangi jalannya, angin yang mulai berhembus dengan sangat kencang di wajahnya, mampu membuat wajahnya terlihat sangat datar dan dingin.
Sepeda motor pun mulai terhenti, dan terpakir di depan sebuah Indomaret yang begitu sangat besar dan antrian pengunjung.
Putra pun mulai mengambil keranjang belanja, dirinya pun mulai mengelilingi setiap baris yang terlihat begitu saja banyak makanan, dan mulai memasuki beberapa keperluan penting ke dalam keranjang.
Setelah selesai, dirinya pun mulai mengantri dengan pengunjung lainnya di tempat kasir, dengan helaan nafas yang sangat berat akhirnya antrian Putra mulai terbaris di depan kasir.
Dirinya pun mulai meletakkan keranjang belanja, dan mulai dihitung oleh pegawai kasir dengan sangat cepat.
"Semuanya, total 500 ribu rupiah." Jelas seorang pegawai wanita yang sudah berumur.
Putra pun mulai mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, dan memberikan semua uang tersebut kepada pegawai kasir. Setelah pembayaran selesai, dirinya pun mulai menaiki motornya, dan meninggalkan tempat tersebut dengan kecepatan tinggi.
Matahari yang mulai tidak terlihat lagi, dirinya mulai menelusuri semua jalanan dan menerobos beberapa mobil maupun motor yang selalu menghalangi jalannya.
Dengan sebuah angin yang menemani dirinya. Kini sepeda motor tersebut pun mulai berhenti di sebuah halaman rumah yang sangat sederhana.
__ADS_1
Putra yang melihat seorang gadis bersama dengan laki-laki di hadapannya, dirinya mulai mengklakson motornya.
Kedua kejora yang berlain jenis pun mulai menatap kemana sumber suara tersebut, dan menatap seorang lelaki yang kini sedang membawa beberapa kantong pembelanjaan di kedua tangannya.