ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 61


__ADS_3

Sebuah ruangan yang serba berwarna putih, dengan bau khas aroma obat di dalam ruangan tersebut. Seorang gadis yang masih setia dengan berbagai infusan di seluruh tubuhnya, dan dengan seorang lelaki remaja yang masih setia menemani seluruh perjuangan seorang gadis saat ini. Seorang gadis yang sudah mengalahkan seluruh penyakit kankernya.


Sebuah penyakit yang selama ini tidak pernah gadis itu fikirkan akan menghilang begitu saja. Mungkin benar, Tuhan masih menyayangi dirinya, makanya itu ... semua penyakit gadis malang itu menghilang bagaikan sebuah keajaiban.


Dilan yang masih menemani Dasa saat ini. Dirinya mulai tersenyum manis, disaat dirinya melihat tatapan mata indah dari gadis di hadapannya.


"Al-ga?" Panggil Dasa dengan lirih.


Dilan yang mendengar lontaran kalimat pertama dari gadis di hadapannya, sebuah senyuman manis yang terlihat indah, kini seketika berubah menjadi sebuah senyuman lirih. Selama seminggu ini, dirinya yang selalu menemani gadis kecil ini, tapi kenapa? Kenapa malah bukan namanya yang dipanggil oleh gadis kecil ini? Kenapa malah harus memanggil seseorang yang selama ini tidak pernah ada untuk menemani dirinya?


"Alga harus kembali ke Jakarta. Karena dia sudah banyak sekali absen di sekolah, makanya gue yang gantiin Alga untuk menemani lu saat ini." Jelas Dilan dengan senyuman manisnya.


Yah, mungkin yang Dilan katakan memang benar. Tapi! Bukan Alga saja yang sering absen, Dilan pun sama halnya dengan Alga. Malah dirinya sudah banyak sekali mendapatkan surat dari guru BK, jika dirinya tidak hadir dalam pelajaran, maka pihak sekolah akan mengeluarkan dirinya, atau dirinya akan dikenakan skors.


Dasa yang mendengar perkataan dari lelaki remaja di hadapannya sekarang, dirinya mulai tersenyum kecut, dan menghela nafas panjang.


"Apa benar, di dalam kehidupan Alga saat ini sudah tidak ada lagi kehadiran Dasa? Walaupun itu hanya sedikit saja?" Tanya Dasa dengan lirih.


"Lu adalah seorang gadis yang pernah datang di dalam kehidupannya dulu. Walaupun lu sekarang tidak ada di dalam hatinya, tapi perasaan dia untuk lu masih ada. Yaitu, perasaan yang sangat berarti untuk kehidupan Alga." Jelas Dilan dengan senyuman manisnya.


Dasa pun menggelengkan kepalanya. "Lu nggak perlu berbohong di hadapan gue. Mungkin benar, di dalam hatinya masih ada perasaan untuk gue, tapi perasaan itu hanya untuk persahabatan di antara kita–"


Dasa pun menghela nafasnya dengan berat. "Seharusnya, gue nggak perlu berbohong tentang penyakit gue ini ke dia. Kalau ujung-ujungnya, penyakit kanker gue ini akan menghilang begitu saja di seluruh tubuh gue." Ujarnya dengan senyuman lirih dan dengan air mata yang mengalir.


Dilan yang mengerti maksud lontaran dari gadis di hadapannya, dirinya mulai tersenyum kecil. Walaupun sakit rasanya, karena semua kalimat yang dilontarkan bukan untuknya.


"Lu seharusnya bersyukur, akhirnya semua penderitaan lu selama ini pun menghilang dari seluruh tubuh lu—"


"Syukur? Yah, jika gue menjadi orang lain, mungkin gue akan bersyukur dengan semua ini." Lirih Dasa yang memotong perkataan Dilan.


Dasa pun mulai tersenyum kecil, sambil menatap ke arah luar jendela, yang terdapat pemandangan langit putih.


"Lu tahu sendiri, dulu gue menjauhi dirinya karena semua penyakit kanker gue ini! Gue takut, jika dia nggak bisa melepaskan gue sepenuhnya, dia nggak akan mendapatkan sesosok wanita lain selain gue--"


"Tapi kenapa? Kenapa tuhan harus mempermainkan gue lagi? Kenapa tuhan menginginkan semua orang yang gue cintai pergi? Apakah segitunya tuhan tidak ingin melihat gue bahagia? Apakah tuhan segitunya membenci gue?" Lirih Dasa dengan senyuman pucatnya.


Dilan yang mendengar semua perkataan dari Dasa, dirinya mulai menarik tubuh lemah gadis itu di dalam pelukannya.


"Sstt! Lu nggak boleh bilang seperti itu, Tuhan masih peduli sama lu. Buktinya lu masih bisa bernafas di dunia ini, dan Tuhan juga menginginkan lu memilih kehidupan lu di dunia ini." Jelas Dilan dengan nada lirih.


Dasa yang mendengar perkataan dari Dilan, dirinya mulai mendorong tubuh Dilan dengan kasar.

__ADS_1


"Lu nggak tahu apa-apa tentang kehidupan gue selama ini! Apa yang lu tahu tentang gue? Lu nggak tahu apa-apa, Dil." Ujar Dasa sambil menatap wajah Dilan dengan senyuman kecilnya.


"Seberapa pun usaha lu untuk menemani gue disini, gue nggak akan luluh dengan semua perbuatan lu. Karena gue pergi ingin melihat dia bahagia, dan gue akan kembali untuk mendapatkan dirinya lagi untuk gue!" Jelas Dasa dengan lirih dan penekanan.


"Gue sadar, Da! Gue paham dimana posisi gue di dalam kehidupan lu, walaupun gue saat ini nggak ada di dalam hati lu. Tapi ijinkan gue selalu bersama lu, walaupun lu memberi jarak jauh di antara kita berdua." Ujar Dilan dengan lirih.


"Gue nggak mau melihat wajah lu sekarang, Dil!"


"..."


"Dil, gue mohon sama lu keluar dari ruangan gue sekarang juga!" Pinta Dasa dengan nada ditinggikan.


Dilan yang mendengar perkataan dari Dasa. Dirinya mulai tersenyum manis, dan menghela nafasnya dengan berat.


"Yaudah, gue keluar dulu, kalau lu butuh apa-apa? Lu bisa manggil gue kapan pun itu," ujarnya yang masih setia menatap wajah Dasa.


Tidak ada respon apapun dari gadis di hadapannya saat ini, dengan langkah yang berat, dan dengan hati yang terluka dalam diam. Seorang lelaki remaja kini keluar dari ruangan tersebut dengan rasa bercampur aduk.


'Seberapa keras lu menyuruh gue menjauh, sekeras itu pula gue akan berusaha mendapatkan lu. Walaupun akhirnya, gue yang akan terluka.' Batin Dilan.


...***...


"Wis, ternyata cinta itu bisa bikin sebuah balok es berubah menjadi sebuah pangeran matahari yang sangat hangat, yah?" Tanya BomBom dengan cengiran kudanya.


Wisnu yang mengerti maksud dari arah pembicaraan BomBom kemana? Dirinya mulai tersenyum kecil, dan menatap Alga dengan tajam.


"Gue nggak tahu, yang gue tahu itu satu hal. Cinta akan bisa melakukan berbagai cara apapun untuk melihat orang yang kita sayangi bahagia." Jelas Wisnu yang masih setia fokus dengan handphonenya.


BomBom menganggukkan kepalanya. "Maksud lu? Seperti gue yang selalu ingin terlihat lucu di hadapan 'Putri Ayu' gue saat ini?" Tanya BomBom dengan senyuman bodohnya.


"Putri Ayu? Sejak kapan lu dekat sama cewek?" Tanya Putra yang sedari tadi asyik menggoda adik kelasnya.


"Kepo lu! Emang harus gitu? Disaat gue dekat sama salah satu cewek, gue harus bilang ke lu dulu, gitu?" Jelas BomBom dengan sewot.


Alga yang sama sekali tidak menggubris perkataan dari para sahabatnya. Dirinya mulai fokus dengan handphonenya, dan tersenyum manis melihat salah satu foto Instagram seorang gadis.


Wisnu yang melihat senyuman manis pertama kali dari sahabatnya, dirinya mulai tersenyum kecil.


"Gimana keadaan dia?" Tanya Wisnu kepada Alga.


Alga hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh, "Gue nggak tahu." Jelasnya dengan datar.

__ADS_1


"Dilan masih menemani tuh gadis?" Kini Putra yang mulai bertanya kepada Alga, tapi malah dapat anggukan dari Alga dengan cepat.


"Gue heran sama tuh anak, kenapa masih suka sama tuh gadis dari dulu, padahal nggak ada hal spesial dari dirinya." Jelas Putra dengan sinis.


Alga yang mendengar perkataan dari Putra, dirinya mulai menatap Putra dengan tajam.


"Dia punya nama! Namanya Dasalina Wulandari, kalau lu nggak tahu namanya." Ujar Alga dengan sinis.


"Gue tahu, apa salahnya kalau gue nggak mau manggil nama itu gadis? Bukan salah mulut gue, kan?"


Alga pun mendesah dengan berat, "Terserah lu, gue malas berdebat." Ujar Alga kembali.


"Iyalah, karena lu akan kalah kalau berdebat sama gue nantinya, apalagi kita bahas tentang seseorang dari masalalu lu!" Jelas Putra dengan senyuman sinis.


"Bukannya gue nggak mau mengungkit masalalu gue lagi, buat apa gue berdebat sama seseorang yang nggak akan ada pahamnya?" Ujar Alga dengan penekanan.


"Udah-udah! Lu berdua kenapa jadi ribut, sih?" Ucap Wisnu yang mulai berdiri dari duduknya.


"Gue cuma tanya tentang Dilan aja, lu berdua malah berdebat nggak jelas kayak gini! Gue hanya takut tuh anak bakalan dikeluarin dari sekolah, gara-gara terlalu banyak absen dengan alasan nggak jelas." Jelas Wisnu dengan berat.


Wisnu pun mulai menatap Alga dengan tajam. "Kalau dia udah baikan, suruh Dilan kembali ke Jakarta. Tapi kalau gadis itu belum sembuh juga, gue minta lu yang urusin tuh gadis." Pinta Wisnu dengan helaan berat.


Alga yang mendengar perkataan dari Wisnu, dirinya hanya menatap punggung Wisnu dengan datar.


"Kenapa harus gue?"


"Karena lu adalah seorang yang paling penting buat tuh gadis—"


"Tapi gue nggak bisa ninggalin dia begitu saja, lu tahu sendiri gue sama dia baru balikan!"


"Gue lakuin hal ini, buat kebaikan di antara hubungan lu dan dia." Jelas Wisnu dengan tatapan datarnya.


Alga tersenyum sinis. "Kebaikan gue? Lu ngelakuin hal ini, sama saja gue ngasih harapan ke Dasa!" Ujar Alga dengan emosi.


"Bukan Dasa yang gue omongin, tapi persahabatan kita yang gue maksud." Jelas Wisnu yang masih menatap Alga dengan tajam.


"Lu merelakan kebahagiaan gue, hanya demi mempertahankan seseorang yang egois?" Ujar Alga dengan tajam.


Wisnu yang mendengar perkataan dari Alga. Dirinya mulai membisu karena kedatangan seorang gadis yang berdiri di belakang Alga.


"Gue harap lu dengerin perkataan gue, gue cabut duluan!" Pamit Wisnu yang mulai meninggalkan pakiran bersama dengan motornya.

__ADS_1


__ADS_2