
Kantin yang mulai terlihat begitu sangat ramai, kini semua mata mulai pada tertuju kepada kedua orang yang berbeda jenis saat ini. Siapa lagi kalau bukan Asa dan Alga.
Asa yang masih sangat setia menatap wajah lelaki di hadapannya, dengan sebuah senyuman manis yang terukir di wajahnya saat ini, dan dengan sebuah perasaan yang mulai terasa sesak dirinya sembunyikan dari semua orang.
"Berapa kali gue bilang sama lu! Jauhin gue!" Ujar lelaki yang kini sedang memandang seorang gadis di hadapannya.
Asa yang mendengar perkataan Alga yang kini mulai meninggikan pita suaranya, dirinya mulai menatap wajah lelaki di hadapannya dengan tatapan nanar.
"Asa hanya ingin ... Kak Alga mengetahui semua perasaan Asa." lirihnya dengan pelan.
Alga tersenyum kecil. "Gue sudah tahu perasaan lu, sekarang lu boleh pergi dari hadapan gue?" pintanya dengan datar.
Wisnu, Dilan, Putra, dan David. Mereka semua hanya bisa menonton atas perilaku Alga saat ini dengan sangat tajam. Karena mereka semua mempunyai tugas untuk menjadi seorang mata-matanya Anisa.
"Gue heran sama itu gadis ... sebenarnya dia itu manusia apa besi, sih? Keras banget perasaannya." Ujar Putra dengan gemas.
David yang mendengar perkataan Putra, dirinya mulai menatap kembali ke arah depan yang mulai menjadi tontonan.
David tersenyum kecil. "Lu nggak paham, Put. Karena gadis itu terlalu sangat cinta sama Alga. Sayangnya Alga yang bodoh dan nggak paham." Ucap David dengan datar.
Wisnu yang mendengar perkataan David, dirinya mulai merasa heran dengan sahabat satunya itu.
"Tumben otak lu beres? Biasanya juga, lu akan selalu mengikuti semua permainan Alga?" sindirnya.
David menghela nafasnya. "Gue mengikuti semua permainan Alga. Karena gue sebagai seorang lelaki yang normal. Mana ada lelaki normal yang akan menolak hal begituan?" jelasnya dengan datar.
Wisnu menganggukkan kepalanya dengan pelan dan mulai menatap sebuah kejadian yang sangat menarik untuk semua orang saat ini.
"Lu sayangkan sama gue?" Tanya Alga dengan datar.
Asa menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Seberapa besar sayang lu sama gue?"
"Sebesar ... seperti Asa menyayangi nyawa Asa sendiri." jelasnya.
Alga menganggukkan kepalanya. "Apa lu bisa mengabulkan permintaan gue?" tanya Alga sekali lagi.
Asa menganggukkan kepalanya. "Asa akan mengabulkan permintaan Kak Alga. Emang apa permintaan Kak Alga?" Tanya Asa balik dengan senyuman manisnya.
"Jauhin gue! Itu saja permintaan gue!" pintanya dengan datar.
Deg!
Seketika, perasaan Asa mulai merasakan sesuatu sebuah musibah yang sangat besar untuknya, dan itu mampu membuat hatinya berdebar-debar dengan sangat cepat.
"Kenapa?"
"Kenapa? Yah, karena itu permintaan gue. Bukannya, lu sendiri yang akan mengabulkan permintaan gue?" Jelasnya dengan senyuman sinisnya.
"Tapi— Asa nggak bisa untuk melepaskan Kak Alga dan melupakan Kak Alga." gumamnya dengan lirih.
Alga yang mendengar perkataan gadis di hadapannya, dirinya mulai memberikan sebuah senyuman meremehkan.
"Kalau begitu caranya ... apa lu bisa akhiri hidup lu? Biar gue nggak akan pernah melihat lu di hadapan gue." Alga mulai menatap wajah Asa dengan sangat intimidasi dan mampu membuat Asa takut atas tatapan tajamnya saat ini. "Berapa kali gue bilang sama lu selama ini? Gue nggak suka sama barang yang murah dan seorang gadis yang pernah gue tolak berkali-kali seperti lu!" jelasnya.
Asa yang mendengar perkataan Alga, dirinya mulai mengangkat senyuman manisnya kembali, walaupun saat ini dirinya merasakan sebuah sakit yang sangat mendalam.
"Kak Alga ingin Asa pergi?" Tanya Asa dengan tekat yang di milikinya saat ini.
"Yah, karena gue muak sama lu. Mungkin di saat lu pergi, hidup gue akan bahagia dan tanpa ada seorang yang menjadi perusak kedamaian gue!" jelasnya dengan penekanan.
Asa yang mendengar semua lontaran perkataan dari orang yang sangat dirinya cintai, itu mampu membuat perasaannya berdegup dengan sangat kencang, sakit, itu yang dirinya rasakan saat ini.
"Gue harap, lu bisa mengabulkan permintaan gue. Sebisa mungkin, lu jangan pernah ada di hadapan gue!" ujarnya dengan pelan.
Alga pun mulai pergi dari tempatnya, dirinya meninggalkan Asa yang masih setia berdiri di tempatnya dan menatap kepergiannya dengan tatapan nanar.
'Apa benar? Jika Asa pergi itu mampu membuat hidup Kak Alga bahagia? Tapi jika Asa pergi, bagaimana dengan perasaan Asa nantinya?' batin Asa dengan lirih.
Sebuah tepukan di pundak mampu membuat Asa kembali ke alam sadarnya, dan terdapat seorang lelaki remaja yang kini sedang tersenyum ramah ke arahnya.
__ADS_1
"Nggak usah dimasukin ke hati. Alga orangnya emang kayak gitu, masih syukur dia saat ini bisa menahan emosinya di dekat lu sekarang, artinya, lu masih ada kesempatan untuk memperjuangkan dirinya." Jelas Dilan dengan memberikan sebuah senyuman di wajahnya.
"Makasih, Kak." ucap Asa.
Dilan mulai menatap wajah Asa dengan sebuah tatapan yang tidak dapat di artikan. "Lu cantik jika selalu tersenyum dan gue ingin melihat lu selalu seperti ini." ucapnya dengan nada yang tidak dapat diartikan.
Asa yang mendengar perkataan lelaki di hadapannya, itu mampu membuat perasaannya menjadi tenang.
Seandainya saja, orang yang dia cintai seperti lelaki yang berdiri di hadapannya saat ini. Pasti Asa akan sangat beruntung sebagai seorang wanita dimuka bumi saat ini.
"Kak Dilan baik dan ganteng. Pasti bakalan banyak yang suka sama Kak Dilan." ucap Asa.
Dilan tersenyum kecil. "Mungkin, tapi gue lagi menunggu Milea gue terlebih dahulu, seperti sebuah Novel Fiksi Dilan 1990." Jelas Dilan dengan sikap konyolnya.
Asa tertawa kecil. "Ternyata, Kak Dilan suka baca novel Romance, yah? Pantes sifat Kak Dilan bagaikan sebuah buku kosong yang harus ditulis dengan sebuah cerita indah." ucapnya.
"Yang lu bilang benar semua, dan gue hanya mau buku kosong itu dituliskan oleh sang Milea gue nantinya." Dilan pun menatap setiap inci wajah Asa dan tersenyum kecil. "Iyaudah, gue nyusul mereka dulu, gue harap senyuman lu selalu ada seperti ini." Ujar Dilan sambil mengusap kepala Asa.
Asa yang di perlakukan seperti itu, dirinya hanya tersenyum manis. Sedangkan, Dilan yang melihat senyuman itu mampu membuat perasaannya berdegup dengan sangat kencang.
Sial!
Dilan yang mendapatkan sebuah senyuman manis dari seorang gadis di hadapannya, dirinya mulai pergi meninggalkan Asa di kantin seorang diri.
'Seandainya, orang yang lu cintai itu adalah gue. Gue janji, Sa. Gue akan selalu membuat lu bahagia, seperti layaknya seorang Putri kerajaan.' Batin seorang lelaki yang mengamati semua kejadian di hadapannya saat ini.
Terkadang, kita tidak bisa melihat apa yang ada di sekitar kita. Bahwa masih ada yang benar-benar menyayangi kita dengan caranya sendiri.
"Kak Dilan itu baik dan ganteng. Asa berharap, semoga Kak Dilan mendapatkan seorang gadis yang dia sayang."
Asa pun mulai mendekati sebuah meja yang terdapat seorang gadis, seorang gadis yang sedari tadi menatap kejadian itu dari kejauhan. Siapa lagi kalau bukan Nanda sahabat satunya.
"Lu nggak apa-apa, kan?" tanya Nanda khawatir.
Asa menggelengkan kepalanya. "Asa nggak apa-apa kok." jawabnya.
...***...
Yah, sesosok lelaki remaja yang mampu membuat debaran jantungnya berdetak dengan sangat cepat, dan mampu membuat tekadnya untuk mendapatkan perasaan lelaki itu untuknya. Lelaki itu adalah Algasa Adistia Renanda, yang mampu membuat seorang Asalina Hyena menjadi budak cinta hanya untuknya seorang.
Dengan tekad yang sangat besar, Asa pun mulai melangkahkan kakinya untuk mendekati sekumpulan para anggota basket di area parkiran. Semua anggota basket yang sedari tadi sedang bercanda-gurau tanpa beban pikiran, kini mereka semua menatap seorang gadis yang sedang berdiri di hadapan mereka semua.
Alga yang sedari tadi fokus dengan benda pipihnya, dirinya mulai menatap sepasang sepatu yang tertangkap di pandangannya saat ini. Alga pun mendongakkan kepalanya dan menatap sebuah ukiran wajah yang mampu membuat hidupnya menjadi horor.
Alga pun mulai memasuki semua barangnya dengan cepat, memakai jaket sekaligus helmnya, dan dirinya pun mulai menaiki motor sportnya.
"Gue cabut duluan."
Asa yang melihat hal itu, dirinya mulai merenggangkan kedua tangannya, dan menghadang motornya Alga dengan cepat.
"Kak Alga, anterin Asa pulang, yah?" Pinta Asa dengan wajah memelas.
Alga pun mulai mendengus kasar. "Lu kira gue siapa lu? Supir aja bukan, apalagi pacar, ogah banget gue!" ujar Alga.
Asa yang mendengar lontaran Alga, dirinya mulai tersenyum kecil.
"Kalau begitu, mulai hari ini, Kak Alga jadi pacar Asa."
"Ogah!"
"Kak!!"
"Gue bilang awas! Gue mau pulang, capek gue!"
"Kak Alga benaran tega sama Asa? Asa udah nggak ada uang, karena Asa habis beli susu coklat dan roti coklat buat Kak Alga. Tapi Kak Alga malah buang semua pemberian Asa." lirih Asa dengan pelan.
"Itu bukan urusan gue! Karena gue nggak pernah minta ke lu!"
"Kak Alga emang nggak pernah minta ke Asa. Tapi yang Asa lakukan itu, karena semua itu adalah perhatian Asa ke Kak Alga." jelas Asa.
"Masa?"
__ADS_1
"Yah."
Alga tersenyum kecil. "Dan, gue bodoamat! Mau itu perhatian lu kek, mau itu cinta lu kek, mau itu nyawa lu kek, gue tetap bodoamat sama semua tentang lu!" ujar Alga.
"Tapi—"
Wisnu yang mulai kesal mendengar semua lontaran dari kedua kejora tersebut, dirinya mulai mendekati Alga dan menepuk pundaknya dengan pelan.
"Lu anterin dia, lu nggak dengar semua lontaran dia barusan? Itu gadis nggak ada ongkos sama sekali dan itu semua gara-gara lu!" bisik Wisnu pelan.
"Gue nggak mau! Bahkan, itu bukan urusan gue!" jelas Alga dengan penekanan.
Wisnu yang mengenal betul sifat kepala batunya Alga. Dirinya mulai mengeluarkan sebuah benda pipihnya, dan mulai mencari nama panggilan seorang yang di sayangi oleh Alga saat ini.
"Kalau begitu ... gue sebagai sahabat baik lu, gue akan jelasin semuanya ke Bunda lu, kalau lu masih tetap belum berubah di belakang Bunda tercinta lu."
Alga yang mendengar ancaman Wisnu, dirinya mulai menatap wajah Wisnu dengan tajam. Alga bukannya takut dengan ancaman Wisnu, tapi dirinya takut menjadi anak durhaka kepada Bundanya.
"Naik!" Pinta Alga sambil menyalakan mesin motornya.
Asa yang mendengar perkataan dari lelaki di hadapannya, dirinya mulai tersenyum lebar, dan dirinya masih menatap Alga tanpa bergerak sedikitpun.
Alga yang merasa heran, dirinya mulai menatap ke arah seorang gadis di hadapannya saat ini. Seorang gadis yang saat ini masih setia berdiri di sampingnya dan menatap ke arahnya.
"Gue bilang naik! Lu nggak denger apa?" Tanya Alga dengan mata yang disipitkan.
Asa masih diam sejenak, dan sesekali dirinya mulai menatap bagian roknya yang sangat pendek di atas lutut.
"Tapi— rok Asa pendek, bagaimana Asa naik?" jelas Asa.
Alga yang mendengar lontaran lirih Asa. Dirinya mulai melepaskan jaketnya dan melempar begitu saja dengan kasar.
"Pakai jaket gue!"
Asa yang menerima perlakuan Alga saat ini, itu mampu membuatnya sangat bahagia, walaupun perlakuan Alga sangat kasar kepadanya. Tapi ntah kenapa, itu mampu membuatnya sangat bahagia.
Asa pun mulai menaiki motor Alga, karena jaket Alga terbilang cukup sangat besar di badan kecilnya saat ini, dan itu mampu menutupi dirinya sampai di bawah lutut.
Asa pun menatap Alga kembali. "Kak Alga, helm buat Asa mana?" tanya Asa.
Alga pun mulai mengernyitkan keningnya.
"Hah?"
"Kata Bunda, kalau kita mau menaiki kendaraan bermotor, kita harus memakai helm untuk melindungi kepala dari hal yang tidak diinginkan."
Alga yang mendengar celotehan Asa, mampu membuat kepalanya ingin meledak saat ini. Alga pun mulai membuka helmnya dan memberikannya kepada Asa saat ini dengan kasar.
"Lu pakai helm gue aja! Semoga aja, nggak ada yang tuan putri minta lagi saat ini!" jelas Alga dengan datar.
Asa yang mendengar lontaran Alga barusan, mampu membuat jantungnya saat ini berdetak tidak karuan.
"Apa Asa boleh minta satu lagi?" Tanya Asa dengan hati-hati.
"Apaan?"
"Apa Asa boleh meluk pinggang Kak Alga?" tanya Asa.
"Terserah lu."
Asa yang mendapat persetujuan dari seorang Alga, dirinya mulai membenamkan wajahnya di punggung belakang Alga, dan memeluknya dengan sangat erat. Karena baru pertama kalinya, seorang Asalina Hyena sedekat ini dengan seorang lelaki yang selalu kasar kepadanya. Dan mungkin, kejadian saat ini harus ada di Monumen Nasional Indonesia, untuk menjadi sebuah kenangan yang sangat terbilang langka di kehidupannya.
Alga yang tidak mendengar lontaran kalimat lagi dari seorang gadis di belakangnya, dirinya mulai menatap para sahabatnya.
"Gue cabut duluan!" Pamit Alga yang dianggukin oleh para sahabatnya dengan serempak.
Sebuah angin yang mampu berhembus dengan sangat sempurna menampar helaian rambut Alga saat sore ini. Ntah kenapa, hari ini dirinya mulai menatap seorang gadis yang sedang memeluk pinggangnya dengan sangat erat dan membenamkan wajahnya dibalik belakang punggungnya saat ini. Yah, saat ini Alga sedang menatap Asa melalui kaca spion motornya dan tersenyum kecil.
"Gue harap, lu jangan terlalu banyak berharap ke gue saat ini. Karena gue anterin lu hari ini juga karena terpaksa, bukan karena keinginan gue!" Ujar Alga yang mulai fokus dengan jalanan Jakarta yang selalu ramai tanpa hentinya.
Sedangkan, Asa yang mendengar lontaran kalimat Alga barusan, dirinya mulai tersenyum kecil, dan mulai memejamkan kedua matanya kembali tanpa harus membalas lontaran Alga barusan. Karena hari ini adalah kesempatan untuk dirinya, berdekatan seperti ini dengan orang yang sangat dirinya sayangi.
__ADS_1
...*NEXT PART 07*...