ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 64


__ADS_3

Angin malam yang berhembus kencang, mampu menampar helaian rambut seorang lelaki saat ini, semua kenangan yang sangat menyakitkan pun mulai terlintas kembali di dalam benak kepala Alga.


"Kalau bukan karena lu egois waktu itu! Langit nggak mungkin meninggalkan kita, karena persahabatan kita di bangun oleh Langit. Mungkin kalau tidak ada Langit, kita semua tidak akan pernah berkumpul selama 5 Tahun!"


"Jika gue harus memilih antara Lu atau Dilan? Gue lebih baik memilih Dilan, daripada gue harus memilih seseorang yang egois seperti lu, Ga!"


"Gue nggak ingin, selama 5 Tahun persahabatan kita bertahan sampai detik ini. Itu semua akan hancur sekali lagi, karena lu yang terlalu egois, dan memikirkan diri lu sendiri dari dulu sampai sekarang! Apa lu pernah dengerin semua perkataan gue? Langit mempercayai lu untuk mempertahankan persahabatan kita, tapi apa yang lu lakukan? Lu malah melemparkan semua pertanggung jawaban itu ke gue, padahal lu yang ketua disini, bukannya gue!"


Semua perkataan Wisnu seakan membuat seluruh bagian kepala Alga merasa sakit berdenyut. Jujur, apakah selama ini dirinya selalu egois? Apakah dirinya benar-benar tidak pantas untuk menjadi seorang ketua sekaligus mempertahankan persahabatannya? Apakah ada satu cara, untuk mempertahankan persahabatannya selama ini? Walaupun cara itu bukan untuk mengorbankan masa depannya.


'Kenapa lu semua harus menyalahkan gue? Gue juga nggak mau seperti ini, gue juga ingin mempertahankan persahabatan kita. Tapi, apa yang harus gue lakukan sekarang?' Batin Alga.


Alga yang tidak fokus mengendarai sepeda motornya, dirinya mulai membanting setir untuk tidak menabrak sebuah truk di hadapannya. Sepeda motor pun mulai menabrak sebuah pohon besar, dan Alga pun terlempar ke tanah aspal jalanan yang kasar.


Alga yang melihat langit malam saat ini, dirinya mulai tersenyum kecil menatap sebuah rembulan yang kini menjadi saksi dirinya sekarang. Helm full face yang masih terpasang setia di kepala Alga, dengan kaca helm yang sudah terpecah belah, mampu menusuk seluruh bagian wajah datar Alga dengan sangat sempurna.


Alga yang merasa ada yang kental di bagian seluruh kepalanya, dirinya mulai membuka helm full facenya tanpa merasa sedikit meringis sama sekali. Alga pun mulai meraih belakang kepalanya, yang dimana ada sebuah darah yang sangat kental yang masih mengalir dengan sangat derasnya.


Alga pun mulai memejamkan matanya, tanpa bergerak sedikitpun, karena seluruh tubuhnya saat ini sulit sekali untuk dirinya bergerak. Ntah kenapa, dirinya mulai mengingat semua memori yang bikin penyesalan bagi kehidupannya mulai menerjang kembali, yaitu, memori yang sangat indah sekaligus pahit :


"Nama gue Langit Alderbara, kalian harus selalu mengingat siapa nama gue sampai kapanpun itu. Karena tanpa gue, mungkin kita semua tidak akan pernah berkumpul seperti ini."


"ALGASA itulah nama persahabatan kita saat ini, gue harap, nama itu akan selalu terkenal dan sempurna di seluruh kalangan Ibu Kota Jakarta."


"Jika suatu saat gue tidak ada lagi di dunia ini, maka gue percayakan semua  tanggung jawab gue ini ke Alga. Karena gue yakin, dia akan berusaha untuk mempertahankan persahabatan kita sampai kapan itu."


"Lu nggak salah, Lang? Gue lihat bagian bocah itu dari atas sampai bawah, semua penampilan dia sangat kuno dan culun banget."


Langit tersenyum kecil, mendengar lelaki yang memiliki rambut panjang sepundak, dan memakai anting di salah satu telinga kirinya.


"Gue paham, apa maksud lu semua. Tapi, apa lu nggak lihat dirinya sekarang? Penampilan kuno dia sekarang, itu semua mirip kayak penampilan dulu lu pada. Walaupun sekarang, lu semua berubah secara cepat. Dari fisik yang tadinya lemah, sekarang lu semua tahu bagaimana caranya untuk melindungi diri kalian? Dari awal penampilan kalian kayak anak remaja kutu buku, kini kalian memilih style yang kalian sukai."

__ADS_1


"Jadi buat lu, Wis. Tolong bimbing semua anggota ALGASA."


Jalanan yang terlihat sangat sepi sekali, tanpa ada satu kendaraan yang lewat satu pun. Alga pun masih memejamkan kedua matanya, ntah kenapa, kedua matanya kini terasa sangat berat sekali, dan seluruh tubuhnya mulai terasa sangat lemah.


Semua memori pun yang tidak ingin Alga ingat kembali, kini dirinya memori yang membuat Alga sangat menyesal sampai sekarang. Dirinya harus menerima kenyataan yang sangat pahit lagi, bahwa dirinya yang telah membuat Langit pergi sangat jauh dari mereka semua, dan yang dikatakan oleh Wisnu itu benar semua, bahwa dirinya yang telah membunuh Langit. Memori itu pun seperti kaset yang kini sedang berputar di seluruh benak kepala Alga :


"Ga! Lu jangan mencari bahaya, lu nggak lihat? Api sudah menyebar ke seluruh koridor kelas."


"Lepasin gue, Lang! Walaupun gue harus menyerahkan nyawa gue sekaligus, gue akan tetap harus menyelamatkan, Dasa!"


Alga yang mulai melepaskan cengkraman tangan kokoh Langit, dirinya mulai memasuki setiap koridor untuk mencari keberadaan Dasa. Sedangkan, Langit yang melihat Alga memasuki halaman SMP ARWANA. Dirinya pun berlari memasuki halaman SMP ARWANA, tapi niatnya saat ini di cegah oleh cengkeraman tangan kokoh Wisnu.


"Lu mau ngapain? Lu nggak lihat seluruh koridor sudah terbakar semuanya? Jika lu menyelamatkan Alga, maka penyakit lu akan kambuh kembali!" Ujar Wisnu dengan murka.


Langit pun mulai tersenyum manis. "Terus, gue harus melihat sahabat gue begitu saja? Gue nggak ingin terlihat lemah di hadapan yang lain, mungkin hanya lu seorang yang tahu, Wis. Gue hanya ingin terlihat kuat, gue nggak ingin menyerah begitu saja dengan penyakit kelainan ginjal gue saat ini." Jelas Langit yang mulai menerobos seluruh asap tebal.


Langit yang melihat Alga sedang menggendong seorang gadis cantik di pundak belakangnya, dirinya hanya tersenyum kecil. Bahwa, dirinya tidak pernah salah untuk mengenal seseorang yang ke detik ini. Seorang lelaki remaja yang rela mengorbankan nyawanya, untuk melindungi seorang yang sangat dirinya sayangi.


Langit pun mulai berlari mendekati Alga. "Ga?" Panggilnya dengan suara pelan, ntah kenapa, di bagian dadanya terasa sangat sakit.


Alga pun menatap Langit dengan heran. "Lu ngapain disini? Disini terlalu bahaya buat lu, gue nggak mungkin bisa menolong dua orang sekaligus—Bugh." Perkataan Alga mulai terpotong, karena dirinya tidak seimbang antara kakinya dan berat yang ada di belakang punggungnya.


Alga yang melihat seorang lelaki remaja yang kini berada di bawah papan pengumuman SMP ARWANA. Dirinya mulai membuka matanya dengan lebar, karena wajah lelaki di hadapannya terlihat sangat pucat sekali, dan selalu memegang bagian dadanya.


"Lang? Lu nggak apa-apa, kan?" Tanya Alga dengan khawatir.


Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari lelaki di hadapannya. "Sial, lu ngapain coba masuk ke dalam, hah? Kalau kenyataannya lu punya penyakit!" Ujar Alga dengan suara meninggikan.


Sedangkan di satu sisi, Dasa pun mulai memberi tanda-tanda yang sangat bikin Alga tambah sangat khawatir. Khawatir karena dirinya akan kehilangan seorang yang sangat dirinya sayangi, untuk selamanya.


Alga pun dengan helaan beratnya, dirinya pun mulai kembali menggendong tubuh kecil Dasa dengan sangat sempurna, dan menatap tubuh Langit yang sudah sangat tidak berdaya.

__ADS_1


"Maafin gue, Lang. Walaupun dirinya menyakiti perasaan gue, tapi gue tetap nggak bisa melihatnya menderita." Batin Alga.


Alga pun meninggalkan Langit sendirian di dalam kabut asap tebal tersebut, dengan langkah yang sangat besar, dirinya berhasil menyelamatkan nyawa Dasa keluar dari kabut asap tebal tersebut. Walaupun ada nyawa lain di dalam sana.


"Ga? Dimana Langit, hah?" Tanya Wisnu dengan raut wajah khawatir.


"Gue nggak lihat dia, apa dia nyusul gue ke dalam?" Jawab Alga dengan raut wajah datarnya, dirinya sedang berbohong saat ini.


Wisnu yang mendengar lontaran dari Alga, dirinya mulai mundur beberapa langkah. Sedangkan seorang lelaki remaja yang lainnya, kini dirinya tersenyum kecil, dan mulai menerobos asap tebal tersebut untuk menyelamatkan Langit yang masih di dalam sana.


Lelaki itu mulai melihat Langit yang masih mengatur semua nafasnya, dan masih bertahan di asap tebal tersebut.


"Gue kira lu sudah mati disini?"


Langit yang mendengar suara familiar di kedua telinganya, dirinya tersenyum kecil. "Nggak semudah itu, Tuhan mengambil nyawa gue." Ujar Langit dengan datar.


Lelaki itu pun mulai memindahkan papan pengumuman dari tubuhnya Langit, dan mulai membantu langit berdiri.


"Gue nggak menyangka, mulai hari ini, lu bisa salah mengenal seseorang, dan seseorang tersebut malah melarikan diri dari kenyataan. Lu mau tahu apa yang terjadi di depan sana? Lelaki yang bernama Alga, dia bilang, dia tidak melihat dirimu, padahal yang gue tahu, kalian berdua sudah bertemu satu sama lain." Jelasnya dengan tersenyum kecil.


Langit yang mendengar lontaran kalimat dari lelaki di sampingnya, dirinya mulai terdiam membisu. Dirinya mengira, selama dirinya masih bertahan di dalam sana, sambil menunggu kedatangan seorang Alga, dia akan bisa menghirup udara segar kembali. Ternyata, Alga malah tidak ingin menolongnya, walaupun Langit sudah mengorbankan nyawanya untuk tidak mempedulikan penyakitnya ini, supaya dirinya bisa menyelamatkan sahabat yang dirinya kenal.


Ternyata beginilah rasanya, ketika kita sudah menganggap mereka sebagai sahabat terbaik kita, dirinya malah meninggalkan kita seorang diri. Walaupun, kita sudah mempertaruhkan semua yang kita punya untuknya. Langit yang merasa gagal memahami perasaan para sahabatnya, dirinya pun mulai bersumpah, untuk tidak mempercayai orang lain lagi, selain dirinya sendiri.


Langit pun akhirnya bisa kembali bernafas dengan sangat lega, dan menatap langit yang sangat cerah di campur oleh kabut asap tebal itu yang menyebar ke seluruh udara.


"Gue cuma bisa anterin lu ke perawat, setelah itu kita berpisah sampai disini. Kalau lu butuh bantuan gue, gue akan selalu ada untuk lu."


Langit yang melihat lelaki itu pergi dari hadapannya, dirinya mulai menatap kedua perawat yang sedang mengobati seluruh wajahnya yang terkena terbakar. Sakit? Tentu saja tidak, karena bagi Langit itu sudah sangat terbiasa bagi kehidupannya selama ini. Makanya itu, Langit selalu terlihat kuat dan tidak menunjukkan ekspresi wajah terlihat meringis sedikit pun.


Semua murid yang terlihat sangat lemah, dan tidak bisa melindungi diri mereka dari para perundingan. Langit adalah orang pertama yang membantu semua murid lemah tersebut, dan mengubah mereka menjadi yang paling terkuat. Sejak kejadian itu, Langit pun mulai menjadi pahlawan bagi para siswa culun, dan akhirnya Langit membuat anggota ALGASA sampai detik ini.

__ADS_1


Langit pun dibawa ke rumah sakit, karena seluruh fisiknya sangat lemah, apalagi ketika para dokter memeriksa keadaan Langit, mereka semua mengetahui satu hal, kalau Langit bukan seperti anak lelaki remaja seperti biasanya, yang biasanya akan meringis ataupun kesakitan.


Wisnu dan yang lain pun pada mengikuti mobil Ambulance yang membawa Langit dari belakang. Berbeda dengan Alga, dirinya tetap bersama Dasa sampai detik ini, walaupun keadaan Dasa tidak separah yang menimpa Langit saat ini.


__ADS_2