ALGASA

ALGASA
Chapter 37


__ADS_3

"Gue bahagia bila melihatmu selalu tersenyum, gue bahagia bila engkau selalu tertawa, bahkan diriku bahagia bila melihatmu selalu bersamaku disini."


"Gue pun bahagia, memiliki seorang matahari yang sangat indah seperti dirimu. Mungkin, engkau adalah seorang matahari yang diutuskan oleh tuhan untuk seorang pangeran balok es sepertiku."


...~Algasa Adistia Renanda~...


...•••••...


Matahari yang mulai bersembunyi dibalik awan hitam yang menandakan hari sudah menjelang malam. Seorang lelaki yang sangat fokus kepada pengemudinya, dirinya hanya terdiam membisu tanpa harus membuka suaranya.


Hanya sebuah keheningan yang berada di dalam mobil tersebut, sama halnya dengan kedua gadis yang tidak membuka suaranya sama sekali.


Di sebuah rumah yang terbilang cukup besar, Alga mulai memberhentikan mobilnya di halaman pakiran yang sangat luas. Alga pun mulai membuka kursi penumpang depan yang ditempati oleh Dasa.


Dirinya mulai menggendong gadis tersebut, dan menaruhnya di atas kursi roda dengan sangat pelan dan lembut. Alga pun mulai mendorong kursi roda tersebut, dan mengetuk pintu rumah yang berwarna putih.


Tok! Tok!


Seorang wanita paruh baya mulai membuka pintu rumah tersebut dengan wajah yang sangat ramah, dirinya mulai tersenyum manis kepada Alga.


"Makasih yah, Ga! Sudah nganterin Dasa pulang dengan selamat, mau mampir dulu?" Tanya Lusi dengan lembut.


Alga dengan cepat langsung menolaknya, "Nggak usah Tan, sudah malam lagi pula. Dan, Alga juga harus nganterin Asa pulang ke rumah." Jelas Alga dengan lembut.


Lusi yang melihat mobil Alga termaksud salah satu sahabatnya, dirinya mulai mengangguk'kan kepalanya dengan cepat.


"Yaudah kalau gitu,"


Alga tersenyum kecil, "Yaudah, Alga permisi dulu Tan." Pamitnya dengan ramah.


Dirinya pun mulai memasuki mobilnya, dan menatap seorang gadis di belakang dibalik kaca spion mobil.


"Lu nggak mau duduk depan?" Tanya Alga dengan heran.


Asa yang dipanggil, dirinya hanya menggelengkan kepalanya.


"Asa nggak mau disitu! Itu bukan tempat Asa lagi pula." Jawabnya dengan ketus.


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.

__ADS_1


"Jangan kayak anak kecil, Sa! Cepatan, pindah ke depan!"" Ujarnya dengan datar dan penekanan.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan menggelengkan kepalanya.


"Asa itu lagi ngambek sama Kak Alga, harusnya Kak Alga ngelakuin apa kek biar Asa bahagia lagi." Jelasnya dengan senyuman sambil melipatkan kedua tangannya di dekat bidang dadanya.


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai turun dari mobilnya, dan berjalan mendekati motornya Putra bersama dengan Nanda.


"Put, gue boleh pakai motor lu?" Tanyanya dengan datar.


"Lah, emang kenapa sama mobilnya David?" Tanya Putra dengan heran.


Alga menggelengkan kepalanya, "Nggak ada masalah, yang masalah itu cuma penumpang spesial gue saja." Jelasnya dengan datar.


Putra yang mengerti maksud Alga, dirinya mulai turun dari motornya yang diikuti oleh Nanda.


Alga mulai menaiki motornya, dan menyalakan mesin motornya.


"Oi! Matahari gue yang lagi ngambek, jangan pasang muka cemberutnya dong." Teriaknya dengan datar sambil menatap ke arah mobil berwarna hitam tersebut.


Asa yang mendengar teriakkan dari seorang lelaki yang sangat dirinya kenal, dirinya mulai tertawa kecil.


Asa pun mulai membuka pintu mobilnya, dan berjalan mendekati laki-laki yang sudah duduk dengan sangat sempurna di sebuah motor sport ninja.


"Nggak mau naik?"


Asa menggelengkan kepalanya, "Asa mau digendong kayak Kak Dasa barusan," jelasnya dengan lembut.


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai memberikan tangannya kepada Asa.


"Pegang tangan gue, ini bukan mobil melainkan motor." Jelasnya dengan datar.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.


"Terus, Asa nggak pakai helm gitu? Jadi, kalau Asa kenapa-napa Kak Alga bakalan diam saja gitu?" Cerutusnya dengan sebal.


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai memberikan helm dan jaket kulitnya.


"Gue mana berani membiarkan matahari gue sakit, bahkan gue nggak ingin kalau ada sebuah debu yang menempel di tubuh lu dan wajah lu." Ujarnya dengan senyuman kecil, dan mulai memasangkan helm di kepalanya Asa.

__ADS_1


Asa tersenyum kecil, "Kenapa? Kenapa, Kak Alga malah cemburu sama debu?" Tanya Asa dengan heran.


"Karena, lu hanya untuk gue bukannya sekotoran debu yang tidak berarti dan sangat murah. Gue nggak mau seorang yang gue anggap murah, malah jatuh cinta sama yang murah juga." Jelasnya dengan cengiran.


"Kak Alga?"


"Hmm?" Deham Alga datar.


"Yaudah, ayok pulang! Kasian Putra sama Nanda nungguin kita sebagai nyamuk." Jelas Asa dengan senyuman kecil.


Alga hanya menatap sahabatnya dibalik kaca mobil yang memperhatikan dirinya, sungguh dirinya lupa kalau masih ada orang lain disini.


"Yaudah, naik!" Ujarnya dengan datar, Asa hanya menganggukkan kepalanya dan menaiki motor sport itu.


Malam yang sangat indah untuk kedua kejora yang kini sedang menikmati keindahan malam tersebut, yang ditemani oleh bintang, bulan, dan angin yang mulai menampar dengan sangat sempurna di wajah seorang lelaki yang kini sedang fokus ke arah depan.


Sesekali, dirinya tersenyum kecil melihat tingkah laku seorang gadis yang kini sedang menghitung semua bintang di langit, dan dengan pelukan erat yang melingkar di pinggangnya.


'Gue bahagia bila melihatmu selalu tersenyum manis seperti ini di hadapan gue. Bahkan, gue nggak ingin melihat lu bersedih lagi karena ulah gue.' Batinnya dengan senyuman kecil.


Terkadang, kita tidak tahu apa-apa tentang semuanya yang akan terjadi di masa depan. Seorang yang dulu kita tidak pernah menganggap dirinya, yang selalu kita memperlakukan kasar kepadanya, dirinya selalu mencintai kita dan memperjuangkan kita.


Dulu, kita selalu menganggap dirinya tidak berarti di dalam kehidupan kita. Tapi, ternyata seiringnya berjalan waktu dan takdir. Tuhan pun mulai menyatukan dua hati dan insan satu sama lain untuk mengerti dan mengisi setiap perasaan yang mereka miliki nantinya.


Percayalah, bahwa sebuah kata cinta itu memang ada. Tapi! Di dalam kata cinta, ada makna yang sangat besar, yaitu perjuangan dan pengorbanan seorang yang sangat tulus mencintai kita.


Sama halnya dengan perjalanan sebuah nama ALGASA, yang terdapat begitu banyak pelajaran dan makna di ceritanya.


...••••••...


Sebuah motor dan mobil pun mulai berhenti disebuah halaman pakiran yang sangat sederhana, yang disambut sebuah angin yang mulai menemani mereka berempat disana.


Asa mulai turun dari motornya, yang diikuti oleh Nanda yang mulai turun dari mobil ditempatinya.


"Kalian berdua nggak mau mampir dulu?" Tanya kedua gadis tersebut dengan lembut.


"Nggak gue langsung pulang, lagi pula nggak muhrim kalau seorang laki-laki memasuki rumah yang hanya ditempati oleh kedua gadis saja." Jelas Alga dengan datar, yang dianggukin oleh Putra.


"Yaudah, hati-hati dijalan." Ucap Asa dengan lembut.

__ADS_1


Alga menganggukkan kepalanya, dan mulai tukar kendaraan lagi oleh Putra. Dirinya pun mulai memasuki mobilnya, dan mulai pergi dari kalangan halaman rumah seorang gadis yang sangat dirinya sayangi.


__ADS_2