ALGASA

ALGASA
Chapter 35


__ADS_3

"Cinta itu terkadang indah seperti namanya, tapi dibalik kata cinta terdapat seribu makna yang sama sekali tidak pernah kita mengerti apa itu maksudnya."


...••••••...


Dilan yang melihat kejadian di taman, dirinya hanya tersenyum kecil dan mengepal kedua tangannya, dirinya mulai merasa tidak nyaman atas semua kejadian yang dirinya lihat.


"Lu tahu Ga, lu mungkin adalah sahabat paling sempurna yang kali ini gue temui. Karena, kesempurnaan lu itu-lah yang mampu membuat perasaan gue ini ingin mengambil semua kebahagiaan yang lu punya."


"Karena, gue juga ingin memiliki seseorang yang sangat gue sayangi berada di dekat gue. Jika lu tahu bagaimana sifat asli gue selama ini dibelakang lu, gue yakin lu akan membenci gue." Ujarnya dengan datar dan mulai meninggalkan tempat tersebut yang dipenuhi oleh kebahagiaan.


Dilan yang mulai berada di sebuah kantin bersama dengan para sahabatnya yang sedang menunggu pesanan mereka tiba.


"Kenapa lu? Raut wajah lu kucel benar kayak belum distrika," ucap Putra dengan heran.


Dilan yang ditanya hanya menghela nafasnya dengan berat, dan dirinya hanya menatap seorang lelaki yang sedang mendorong kursi roda seorang gadis dengan sangat sempurna, lelaki itu di temanin oleh gadis lainnya yang mensejajarkan langkahnya.


David yang mulai melihat sahabatnya telah mendapatkan meja di sudut kantin paling pojok, dirinya mulai berlari kecil dan mulai duduk disampingnya Wisnu.


Wisnu yang melihat kejadian tersebut, dirinya sangat-sangat mengerti situasi sekarang. Karena, David telah menceritakan semuanya kepada dirinya.


Putra yang menatap kedua gadis itu secara bergantian, dirinya hanya menghela nafasnya dengan berat.


"Ga, lu kalau mau cari ribut jangan disini deh! Bawa pergi tuh kedua gadis, malas gue ngeliat mereka berantam dan nggak akur." Jelasnya dengan datar.


Alga yang mendengar perkataan dari Putra, dirinya hanya menatap Putra dengan sinis.


"Apa salahnya, kalau pacar gue dan sahabat gue ingin duduk bersama kita semua disini?" Tanyanya dengan dingin.


"Nggak apa-apa sih, tapi gue menolaknya. Karena, kita nggak tahu apa-apa tentang perasaan seseorang diantara kita disini?" Jawabnya dengan datar.


Alga yang mengerti maksudnya Putra, dirinya hanya mengalah dan mencari meja lainnya.

__ADS_1


David yang melihat kejadian tersebut, dirinya mulai membangkitkan tubuhnya, dan berjalan mengikuti Alga.


"Gue heran sama jalan pikir lu, Put! Lu harusnya mendukung sahabat lu Alga, bukannya malah mengusirnya." Jelasnya dengan tidak suka atas semua perkataan yang dilontarkan oleh Putra barusan.


Wisnu, BomBom, dan Aldi mereka semua mulai meninggalkan meja tersebut dengan gelengan kepalanya.


Dilan yang ingin pergi juga dari meja yang hanya tersisa antara dirinya, dan Putra. Niatnya dicegah oleh perkataan seorang laki-laki yang mampu membuat dirinya terdiam terbisu.


"Lu ingin pergi juga ke meja mereka semua? Jangan lu kira gue nggak paham maksud semua permainan lu selama ini, Dil!" Jelasnya dengan datar, sambil fokus kepada gamenya.


Dilan hanya menatap Putra dengan heran, "Maksud lu apaan? Gue nggak paham sama sekali apa yang lu lontarkan barusan." Tanya David dengan datar kembali.


Putra tersenyum kecil, "Gue hanya menganggap lu sebagai sahabat kita disini, sama halnya dengan Alga yang selalu menganggap lu sebagai sahabatnya."


"Tapi! Karena, serakah lu itu dan ego lu. Kenapa lu malah menganggap kita disini sebagai musuh lu? Lu kira gue nggak paham apa-apa tentang perasaan lu itu?"


"Disaat di ruangan radio? Lu dengan sengaja memukul Alga padahal hati lu nggak terluka sama sekali karena seorang gadis bernama Asa'kan? Tapi, lu mencintai seorang gadis bernama Dasa?"


"Gue lihat semuanya kejadian itu dari akhir sampai selesai, yang dimana lu berani-beraninya menyakiti dan ingin menghancurkan semua persahabatan kita selama ini hanya tentang semua perasaan lu itu." Jelas Putra dengan datar.


"Gue kira lu bodoh, Put. Tapi, ternyata ... lu licik juga yah, tanpa semuanya tahu lu pintar dibalik sebuah sifat kebodohan lu itu." Ujarnya dengan sinis.


"Lagi pula, ini hidup gue bukan urusan lu. Jadi, gue harap lu nggak ikut campur dalam kehidupan gue." Jelasnya dengan penekanan.


Putra yang mendengar perkataan dari Dilan, dirinya tersenyum sinis.


"Gue emang bodoh kok! Tapi, kalau lu berani-beraninya merusak persahabatan kita selama ini, gue nggak akan segan-segan untuk menjadikan lu musuh gue."


"Karena, gue nggak butuh sahabat yang seperti lu, yang gue kira semua perlakuan lu baik, padahal lu seorang serigala yang siap menerkam mangsanya."


"Gue kasih tau lu satu hal, jangan pernah main-main dengan gue. Gue bukan orang yang bisa lu lawan, karena lu belum tahu siapa gue sebenernya." Jelasnya dengan senyuman meremehkan.

__ADS_1


Dilan yang melihat kepergian Putra, dirinya mulai mengepal kedua tangannya dengan sangat erat.


"Sial!" Ujarnya dengan kesal sambil menggebrak meja kantin dengan kencang.


"Gue juga nggak akan pernah menghancurkan persahabatan kita selama ini, tapi gue hanya menginginkan semua kebahagiaan yang dirasakan oleh Alga." Ucapnya dengan datar sambil mengusap-usap wajahnya dengan kasar.


Terkadang, kita tidak pernah mengetahui tentang semua apa yang disembunyikan oleh seseorang selama ini, terkadang kita pun tertipu atas semua sifatnya di hadapan kita selama ini.


Karena, bisa jadi semua sikap dan sifat di depan kita selama ini hanyalah sebuah topeng untuk membuat kehidupan kita hancur.


Dilan yang mulai berjalan keluar dari kantin dengan sangat kesal, dirinya tidak lagi untuk mengisi setiap cacingnya yang berada di dalam perutnya.


Alga yang melihat tingkah kedua sahabatnya, dirinya hanya bisa membangkitkan dirinya yang mulai terlihat terburu-buru.


Sedangkan, Asa yang melihat tingkah Alga barusan, dirinya mulai menatap Alga dengan berbagai pertanyaan.


"Kak Alga mau kemana?" Tanya Asa heran.


Alga yang ditanya, dirinya mulai menatap wajah Asa dengan sangat lembut.


"Dompet gue ketinggalan, Sa! Gue ke kelas dulu, lu sama mereka saja disini." Jelasnya dengan berbohong.


Asa hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat, dirinya pun mulai melanjutkan aktivitasnya.


Alga pun yang melihat Asa terdiam tanpa bertanya lagi, dirinya mulai meninggalkan kantin dengan langkah yang sangat besar.


"Gue tahu kenapa Putra seperti tadi barusan, gue hanya ingin tahu kenapa Dilan seperti itu." Gumamnya dengan pelan.


Di sebuah tempat yang sama sekali jarang dikunjungi oleh semua siswa-siswi SMA Swasta Nusa Bhakti, dirinya melihat seorang laki-laki kini sedang berdiri di koridor balkon sekolah.


Alga hanya mengamati semua perkataan yang dilontarkan oleh laki-laki di hadapannya sekarang tanpa harus membuka suaranya.

__ADS_1


Yah, dirinya hanya bisa terdiam mematung di dekat pintu masuk koridor.


Hanya sebuah angin yang berhembus kencang dan menampar helaian rambutnya.


__ADS_2