ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 47


__ADS_3

Putra yang melihat Asa bersama dengan lelaki lain, dirinya pun mulai mendekati mereka berdua, dan mulai menarik tubuh Asa ke belakangnya.


Tatapan saling tidak suka satu sama lain, terdapat benar bagi tatapan kedua laki-laki tersebut. Laki-laki yang merasa heran atas apa yang terjadi saat ini, dirinya mulai tertawa dengan terbahak-bahak.


Laki-laki itu pun mulai menarik lengan Asa dengan sangat cepat Putra mulai menahan lengan Asa satunya, bagaikan sebuah barang Asa ditarik-tarik begitu saja oleh kedua lelaki tersebut.


"Lepasin lengannya!" Ucap laki-laki tersebut dengan penekanan.


Putra pun mulai tersenyum sinis, "Kalau gue nggak mau melepaskan dirinya bagaimana?" Tanya Putra dengan tatapan mematikan.


Laki-laki itu pun mulai menatap ke arah Asa dengan bertanya. "Dia siapa lu, Sa?" Tanyanya dengan nada datar.


"Hah, Kak Putra hanya—"


Putra dengan cepat langsung memotong perkataan dari Asa, dan dirinya mulai menarik Asa kembali ke belakang tubuhnya.


"Kalau gue pacarnya bagaimana? Nggak ada hubungannya sama lu juga, lebih baik lu mundur alun-alun deh." Jelasnya dengan senyuman kemenangan.


Sedangkan, Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya hanya tercengang tidak percaya atas apa yang Putra lontarkan saat ini. Karena, Alga saja tidak pernah berkata seperti itu kepada keluarganya, ini malah sebaliknya.


Laki-laki itu mulai tertawa lagi. "Cuma pacar doang? Cepat atau lambat juga akan putus kok, hanya sebuah cinta monyet anak remaja kayak kalian nggak akan pernah bertahan lama. Lagi pula, kehidupan Asa itu urusan gue! Sampai kapan pun gue akan selalu bersamanya!" Jelasnya dengan penekanan.


Putra yang melihat laki-laki itu memasuki rumah Asa, dirinya pun mulai menarik laki-laki itu dan menghajarnya.


"Kalau lu nggak mau pergi dari kehidupan Asa, maka gue sendiri yang akan menyuruh lu untuk pergi!" Ujar Putra yang mulai mengepalkan tangannya dengan erat.


Asa yang melihat kejadian tersebut, dirinya mulai merasakan takut terjadi sesuatu kepada kedua lelaki tersebut.


Laki-laki itu tersenyum datar. "Gitu? Apa salahnya, kalau seorang Abang ingin selalu bersama adiknya?" Tanya laki-laki tersebut dengan tatapan datarnya.


Putra yang di dorong begitu saja, dirinya hanya mencerna semua perkataan dari laki-laki di sampingnya.


"Nama gue Raka Bramasta dan gue Abangnya dari cewek lu!" Jelasnya dengan penekanan.


Putra yang mendengar perkataan dari Raka, dirinya mulai menatap ke arah Asa. "Sejak kapan lu punya Abang?" Tanya Putra dengan pelan.


Asa hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Sejak ... Bunda melahirkan Mas Raka." Jelasnya dengan cengiran.

__ADS_1


Putra yang mendengar perkataan dari Asa. Dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat dan tersenyum kikuk.


"Maaf bang, saya kira tadi Abang orang jahat yang macam-macam sama gadis bodoh ini!" Ujarnya dengan cengiran.


"Asa nggak bodoh—"


"Yah, lu ceroboh!" Ucap Putra dengan cepat memotong perkataan dari Asa.


Raka yang melihat kejadian tersebut, dirinya hanya bisa tertawa kecil. "Orang ganteng kayak gini, malah di sangka orang jahat, haish!" Ucapnya dengan helaan berat.


"Abang jangan salah, sekarang jamannya modern, Bang. Orang ganteng saja bisa jadi orang jahat, bahkan orang jelek saja bisa jadi presiden." Jelas Putra dengan datar.


Raka yang mendengar perkataan dari Putra, dirinya tertawa lebar. "Kalau gitu, gue yang seharusnya lebih hati-hati dengan lu! Karena bisa jadi lu-lah orang jahatnya, yang sedang mengumpat dibalik wajah tampan lu itu!" Ujarnya dengan sinis dan penekanan.


Putra yang mendengar perkataan tersebut, dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.


'Adik sama Abang ternyata nggak beda jauh sifatnya, sama-sama bisa bikin orang darah tinggi.' Batin Putra yang jengah atas perlakuan keluarga satu ini kepada sang tamunya.


"Sudahlah, gue ke dalam dulu! Kalian bisa mengobrol satu sama lain sekarang!" Jelasnya yang mulai meninggalkan Putra dan Asa berduaan.


"Ma-maksudnya ini apaan?" Tanya Asa terbata-bata.


"Di rumah lu nggak ada bahan, kan? Jadi gue beliin lah!" Jelas Putra dengan datar.


"Berarti, Kak Putra keluar bukan untuk pulang?" Tanya Asa sekali lagi.


Putra menggelengkan kepalanya. "Nggak, karena gue ini tamu! Tapi gue malah diperlakukan seperti ini sama keluarga lu!" Jawabnya dengan menekan semua kalimatnya.


Asa yang mendengar perkataan dari Putra, dirinya merasa bersalah. "Maaf Kak, tapi seharusnya Kak Putra jangan bilang kalau—" Asa yang sebal perkataannya dipotong, dirinya hanya menatap laki-laki di hadapannya dengan nafas memburu.


"Karena nggak ada Alga sekarang, jadi biarkan gue yang menjaga lu sekarang."


"Yah, tapi nggak usah pakai—"


"Nggak ada penolakan buat gue, Sa! Lu ikutin saja permainan gue, atau gue bakalan kasih tahu ke Alga tentang lu yang nggak mau menuruti perintah gue?" Ujarnya dengan senyuman sinis.


Asa hanya mendengus sebal dan berjalan memasuki rumahnya begitu saja tanpa harus menunggu Putra.

__ADS_1


Putra yang melihat tingkah dari gadis di hadapannya, dirinya mulai tersenyum kecil.


"Ternyata gadis yang di pilih Alga lucu juga, yah? Pantas Alga langsung kepicut sama itu gadis." Gumamnya dengan pelan.


Putra yang mulai berjalan memasuki rumah Asa, sambil dengan siulan di bibirnya dengan merdu dan lembut. Mampu membuat malam ini terasa begitu sangat sempurna untuk kehidupannya sekarang.


***


Bulan yang mulai terlihat sangat menampakkan dirinya di malam hari ini, mampu membuat malam ini begitu sangat indah dengan sebuah sinar yang diberikan oleh rembulan dan bintang di langit-langit malam ini.


Dengan hembusan angin yang menampar helaian rambut seorang laki-laki di sebuah taman rumah sakit, dirinya mulai menatap ke arah langit-langit yang sedang tersenyum kepada dirinya.


Beberapa kali, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat sambil melihat benda pipih di genggaman tangannya sekarang. Sungguh, saat ini dirinya sedang merasa rindu yang sangat berat untuk seorang gadis yang sedang dirinya rindukan saat ini.


Ingin rasanya laki-laki itu menanyakan kabar dan semua tentang gadis yang sangat dirinya sayangi, dan ingin sekali dirinya bertemu dengan orang yang sangat dirinya rindukan sekaligus dirinya sayangi.


"GA! DASA!?—" Teriak seorang laki-laki yang mulai berlari ke arah taman dan berteriak ke sahabatnya.


Alga yang mendengar teriakkan tersebut, dirinya mulai berlari kecil menuju ruangan Dasa yang mulai terdapat begitu banyak perawat dan dokter.


"Dok! Bagaimana dengan kondisi Dasa?" Tanya Alga.


Semua perawat dan Dokter pun tidak menjawab pertanyaan Alga barusan, mereka semua mulai melangkahkan kakinya dengan langkah yang sangat besar keruangan Operasi.


Alga dan Dilan pun tidak bisa untuk memasuki ruangan Operasi. Kedua lelaki tersebut hanya bisa menunggu kabar baik maupun kabar buruk yang tidak ingin mereka dengar nantinya.


Alga yang hanya mondar-mandir di depan pintu Operasi, dirinya tidak bisa menyembunyikan lagi semua perasaannya saat ini, sungguh dirinya sangat khawatir sekali.


'Gue berharap, lu kuat di dalam sana. Gue nggak bisa kehilangan lu, Da! Gue nggak mau kehilangan seseorang yang sangat gue sayangi, sekaligus sahabat terbaik gue saat ini.' Batin Alga dengan lirih.


Sedangkan, Dilan hanya bisa menatap pintu operasi tersebut dengan tatapan nanar.


'Gue harap, tuhan bisa mengabulkan semua keinginan gue untuk membuat lu bahagia bagaikan layaknya seorang Putri di dunia ini.' Batin Dilan dengan lirih.


Di sebuah negara yang berbeda dan dengan situasi yang berbeda saat ini. Sama halnya, dengan kedua kejora yang sedang menahan rindu satu sama lain, dan dengan kedua pasangan yang sedang berjuang untuk mendapatkan kesempatan kedua kepada Tuhan.


Malam yang terlihat indah, ternyata tidak seindah yang selama ini kita bayangkan ketika menatap langit-langit di malam hari. Karena keindahan itu hanyalah sebuah topeng belaka, sebuah topeng yang hanya untuk menyembunyikan begitu banyaknya cerita dari seluruh alam semesta dan langit.

__ADS_1


__ADS_2