ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 57


__ADS_3

Sedangkan di satu sisi. Seorang laki-laki yang kini sedang menerobos setiap angin yang menampar kencang di wajahnya, dirinya masih tetap fokus mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.


Ntah kenapa, setiap kalimat yang barusan dilontarkan oleh seorang gadis kepadanya, mampu membuat perasaannya bercampur sakit dan sesak. Seberapa besar Alga ingin menghempaskan semua lintasan di kepalanya, sebesar itu pula semua memori mulai melintas di kepalanya, semua memori yang dimana dirinya dan Asa bertemu.


Senyuman manis yang kini sedang bersembunyi dibalik helm full facenya. Alga yang merasa seperti lelaki bodoh, yang dengan gampangnya untuk membuka perasaannya kembali kepada seorang gadis. Seorang gadis yang selalu memperjuangkan dirinya, sekarang gadis tersebut malah menyuruhnya pergi dari hadapannya.


Sebuah gerbang hitam yang menjulang tinggi, gerbang tersebut pun ingin ditutup oleh sang satpam penjaga. Alga yang merasa fikirannya sangat kacau, dirinya pun mulai menancapkan seluruh gasnya, satpam penjaga yang melihat hal tersebut, dirinya mulai membuka gerbangnya kembali, dan motor sport itu pun dengan sempurna memberikan suara yang sangat nyaring.


Ckiiiit ...


Suara nyaring ban yang mendadak di rem dengan sangat sempurna, dan itu mampu membuat semua siswa-siswi menatap ke arah laki-laki yang masih belum meranjak dari sepeda motornya. Sebuah helm full face mulai dilepaskan, terdapat sepasang mata yang sangat dingin, dan wajah yang terlihat sangat datar.


Asa yang melihat kejadian tersebut, dirinya mulai menatap Alga dengan khawatir. Asa yang merasa kalau perubahan Alga saat ini adalah karena dirinya. Dirinya merasa, apakah keputusan yang Asa ambil adalah benar, atau tidak?


Asa yang merasa sangat canggung dengan situasi sekarang, dirinya merasa seperti memasuki sebuah tatapan mata di hadapannya, sebuah tatapan yang sangat kecewa atas semua yang dirinya lakukan kepada lelaki di hadapannya. Alga yang melihat tatapan Asa sedari tadi kepadanya, dirinya tersenyum manis, sebuah senyuman yang sangat kecewa kepada Asa.


Alga pun mulai beralih menatap yang lain, dengan helaan nafas panjang, Alga pun mulai turun dari sepeda motornya, dan mulai berjalan menghampiri Asa dengan langkah yang besar.


Asa yang melihat Alga mendekatinya, dirinya mulai menundukkan kepalanya untuk tidak bertemu dengan tatapan mata lelaki di hadapannya. Sedangkan, tatapan mata Alga yang sedari tadi tidak pernah lepas dari Asa. Dirinya melihat semua tingkah bodoh Asa di hadapannya, mampu membuatnya tersenyum kecil.


"Manis." Bisiknya dengan datar.


Asa yang mendengar lontaran tersebut, dirinya mulai mendongakkan kepalanya, dan kedua mata mereka pun bertemu satu sama lain.


"Sayangnya, lebih manisan gula daripada lu." Lanjut Alga dengan senyuman kecilnya, dan mulai meninggalkan Asa dengan langkah besar.


Asa yang mendengar hal tersebut, dirinya mulai mendengus kesal. "Emangnya, siapa yang mau dibilang manis sama Kak Alga? Ganteng doang, tapi wajahnya kayak papan tripleks." Ujar Asa dengan sebal, dan mulai berjalan ke arah kelasnya.


'Walaupun seluruh dunia ini menyuruh gue jauh dari hadapan lu, gue akan selalu tetap bersama lu, Sa. Mungkin, memang saatnya gue yang harus melakukan berbagai cara apapun untuk mendapatkan lu kembali, Sa.'


Alga yang sudah sedari tadi membalikkan badannya, dirinya mulai menatap kepergian Asa di hadapannya. Alga pun mulai menghela nafasnya dengan berat, berjalan ke tempat para sahabatnya pada berkumpul, dan dirinya mulai meraih sebatang rokok di dalam kantung celananya.


"Ngomong-ngomong, malam ini lu pada mau temanin gue tawuran balapan liar, nggak?" Saran Alga dengan helaan nafas berat.


Wisnu yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai melebarkan kedua matanya. "Lu gila? Lu tahu sendiri, sejak kejadian tersebut kita kehilangan sahabat satu kita." Jelas Wisnu yang mulai menggelengkan kepalanya.


Alga menganggukkan kepalanya. "Gue tahu jawaban lu pada, kalau lu semua pada nggak mau? Maka gue aja yang ikutin balap liar itu sendiri." Alga pun yang mulai meninggalkan tempat kerumunan para sahabatnya.

__ADS_1


"Itu anak kenapa, sih? Gue bingung sama jalan pikir anak itu, dia sendiri yang membubarkan balapan liar itu sendirian." Heran Wisnu.


David mulai berdiri dari tempat duduknya. "Walaupun begitu, dia tetap sahabat kita. Mungkin dia lagi ada masalah, dan ingin mencari suasana baru. Kalau lu semua pada nggak mau mendukungnya, maka gue saja yang akan mengikutinya—"


Perkataan David mulai terpotong karena tepukan dari Wisnu, dan para sahabatnya yang lain.


"Dia bukan sahabat lu saja, tapi dia juga sahabat kita! Jika dia ingin seperti dulu lagi, maka gue sebagai sahabat dia yang dulu akan mengikuti dirinya." Jelas Wisnu yang mulai disetujui oleh para sahabatnya yang lain.


Dengan langkah yang sangat besar, mereka semua mulai mengejar Alga, dan merangkul pundak sahabatnya itu dengan erat.


"Kita semua akan selalu ada disetiap langkah lu, Ga!" Ujar David dan yang lain dengan senyuman kecil.


"Thanks."


Sahabat sejati? Mungkin itu akan sangat indah ketika kita memilikinya di dunia nyata, dan bahkan kita juga akan memiliki sahabat yang akan menusuk kita dari belakang.


Dengan waktu yang terus-menerus berjalan tanpa hentinya, cuaca di Jakarta mulai terlihat tidak mendukung sama sekali. Ntahlah, kenapa sekarang cuaca di Jakarta tidak pernah menentu.


Bel yang mulai berbunyi, dan menandakan pelajaran pertama akan dimulai segera. Semua siswa-siswi mulai berlarian memasuki kelas masing-masing mereka.


***


"Asa?" Panggil seorang wanita paruh baya yang berulang kali memanggil namanya.


"Asalina Hyena!" Teriak seorang guru yang mulai menjewer telinga Asa dengan sangat sempurna sakitnya.


Asa pun mulai terbangun dari lamunannya, dan mulai terasa ada rasa nyeri di salah satu daun telinganya. Asa pun mulai melihat ke arah sampingnya, dan terdapat seorang wanita paruh baya yang kini menjadi wali kelasnya. Bu Saskia.


"Hah, I-ibu sakit telinga Asa mau copot." Teriak Asa dengan heboh.


"Lagian, beraninya kamu melamun disaat jam pelajaran saya dimulai!" Ujar Bu Saskia dengan tegas.


"Maaf, Bu."


"Nggak ada kata maaf! Kamu berdiri di depan pintu kelas sekarang!" Perintahnya yang mulai menunjukkan ke arah pintu kelas.


Asa yang mendengar perkataan dari Bu Saskia. Dirinya hanya menghela nafasnya dengan berat, dan mulai melangkahkan kakinya dengan langkah besar.

__ADS_1


Di depan kelas. Asa mulai melihat cuaca yang mulai terlihat mendung diluar sana, dan sesekali dirinya menatap kelas Alga yang berada di koridor dekat ruang guru.


Asa pun mulai menundukkan kepalanya, menatap ke arah kedua sepasang sepatunya, dan mengangkat satu persatu kakinya dengan gusar, walaupun kedua tali sepatu itu tidak terikat dengan sempurna.


"Apakah, Kak Alga bakalan memperjuangkan Asa juga? Seperti ... Asa memperjuangkan Kak Alga waktu itu?" Ujar Asa sambil menutup kedua matanya, dan menghela nafasnya dengan berat.


"Tapi, bagaimana kalau Kak Alga sama sekali tidak memperjuangkan Asa? Masa, iya? Asa yang menyuruh Kak Alga pergi, malah ingin bersamanya kembali, sih? Apa kata orang nantinya—" Lontaran Asa pun mulai terhenti.


Asa yang membuka kembali kedua matanya, dengan kepala yang masih menunduk, dirinya melihat sepasang sepatu futsal di hadapannya, dengan alihnya lelaki itu membenarkan tali sepatunya. Ntah sejak kapan, lelaki itu ada di hadapannya, kedua sepasang kepala pun mulai mendongakkan kepalanya secara bersama, tatapan kedua mata mereka pun mulai bertemu satu sama lain.


"Lu itu nggak pernah berubah, yah? Padahal dikelas rangking lu selalu yang pertama, tapi menurut gue, lu selalu bodoh di hadapan gue." Ujar Alga dengan tertawa kecilnya, dan dirinya mulai mengusap puncuk kepala Asa dengan lembut.


Asa yang menerima perlakuan dari Alga, dirinya masih menatap wajah Alga tanpa berkedip sama sekali. Jika boleh jujur, hatinya saat ini sedang berbunga-bunga, dan rasanya Asa ingin melompat ke dalam pelukan Alga. Tapi, niatnya dia urungkan.


Alga yang melihat diamnya Asa. Dirinya mulai memberikan tas yang berisi sebotol susu coklat kesukaan Asa, dan sebuah kotak makan.


"Selama gue pergi, mungkin tubuh kecil lu ini tidak ada yang merawatnya. Tapi, sekarang gue sudah kembali buat lu. Maka, biarlah gue untuk merawat tubuh kecil lu." Alga pun mulai pergi dari hadapan Asa dengan langkah besarnya.


Asa yang melihat Alga sudah pergi dari hadapannya. Dirinya mulai menatap tas kecil di tangannya, dengan perasaan yang senang, dirinya mulai penasaran apa isinya. Terdapat sebuah kotak makan, sebotol susu kesukaannya, dan ada tiga buah surat yang tertulis :


'Gue nggak tau harus buat kata indah atau romantis seperti apa ke lu? Karena itu bukan kebiasaan gue, jadi gue hanya bisa menyuruh sahabat gue David untuk membuat kata romantis buat lu. ~Alga'


Asa pun mulai kembali meraih surat keduanya dengan senyuman kecilnya, dan dirinya pun mulai membuka kembali surat kedua yang tertulis :


'Lu tahu? Mungkin memang dulu gue dan Alga selalu bersikap kasar ke lu. Tapi percayalah, gue nggak akan pernah menyesal, kalau semua perbuatan gue ini selalu dihalangi. Mungkin gue nggak boleh menyentuh diri lu, karena lu adalah jodoh sahabat gue. Karena gue percaya, kalau jodoh tidak akan pernah kemana, dan lu adalah jodohnya dia. ~DavidGanteng'


Asa pun mulai mengingat semua lintasan yang dimana waktu itu Alga dan David memperlakukan dirinya yang tidak pantas. Yah, masa-masa itu adalah yang paling sakit untuk Asa, atau sebuah kenangan yang indah.


Asa pun mulai meraih kembali surat ketiga, dan membaca surat tersebut, yang tertulis :


'Gue seharusnya nggak perlu terlalu percaya sama kata-kata David. Lu harus tahu satu hal saja, hanya lu seorang gadis yang akan selalu menjadi matahari kecil gue.'


'Gue paham lu marah sama gue karena hal apa? Jadi, gue akan berusaha untuk membuat lu tidak marah lagi ke gue, dan saatnya gue menunjukkan kehebatan lelaki gue ke lu. ~Alga.'


Asa yang melihat semua ketiga surat tersebut, dirinya mulai tertawa kecil, dengan helaan nafas panjang, dirinya mulai menatap kepergian Alga, yang sudah menghilang sedari tadi.


"Apakah benar, Kak Alga akan memperjuangkan Asa?" Gumam Asa yang mulai memandangi surat terakhir di genggaman tangannya.

__ADS_1


"Tapi, apakah Kak Alga mendengar semua celotehan Asa barusan?" Tanyanya kepada dirinya sendiri.


__ADS_2