ALGASA

ALGASA
Chapter 17


__ADS_3

"Jika memang seharusnya gue menyerah sampai disini! Apakah, gue akan siap untuk menerima kenyataan bahwa gue akan melepaskan dirimu dalam kehidupan gue ini?"


......~Dilan Yesaya Abraham~......


...••••••••...


Putra yang melihat seorang gadis kini sedang memasuki ke arah kantin, dirinya mulai mengucek-ucek matanya dengan heran.


"Ini mata gue yang salah, atau benaran itu gadis ada disini!" Gumamnya kepada dirinya sendiri yang masih mengucek-ucek kedua matanya.


Wisnu yang mendengar perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya mulai mengikuti arahan dari tatapan mata sahabatnya.


"Itu gadis sudah selesai di hukumnya?" Tanya Wisnu kepada para sahabatnya yang lain.


"Ntahlah, gue juga nggak tahu!" Jawab David datar, sambil fokus kembali ke arah handphonenya.


"Yah, lu tanyalah Dav!" Ujar BomBom yang ikut nimbrung.


David yang mendengar perkataan dari laki-laki di sampingnya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.


"Lu kira gue pacarnya? Gue bukan siapa-siapa dia!" Ucapnya dengan penekanan.


BomBom hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan, sambil fokus ke mangkok bakso yang sudah habis beberapa kali dirinya makan.


Putra yang baru menyadari sahabat curutnya nggak ada, dirinya mulai menatap ke sekeliling kantin.


"Anak curut dimana? Bukannya tadi dia duluan ke kantin, yah?" Tanya Putra sekali dengan heboh.


BomBom yang baru menyadari bahwa sahabatnya hilang, dirinya mulai melihat ke arah bawah meja, dan sekeliling kantin juga.


"Bom! Lu ngapain malah melihat ke bawah meja?" Tanya Putra dengan heran.


BomBom yang di panggil dirinya mulai menoleh kearah Putra, "Biar ketemu itu anak, soalnya dia sudah janji sama gue kalau yang bayarin makanan gue sampai sebulan iya dia!" Jelasnya dengan datar.


"Iya! Nggak usah sampai segitunya kali BomBom!" Ujar Wisnu dengan gemas.


Dilan yang sudah memasuki ke arah kantin, dirinya mulai berpapasan dengan seorang gadis manis di hadapannya. Tapi! Dirinya mengabaikan gadis itu dan mulai menghindar darinya.


"Maaf Sa! Emang seharusnya seperti ini yang terbaik untuk kita berdua, gue nggak mau perasaan gue ini ke lu semakin besar!" Batinnya dengan lirih.


Asa yang diperlakukan seperti itu, dirinya mulai menatap punggung Dilan dengan heran, dan menghela nafasnya dengan berat.

__ADS_1


"Kak Dilan kenapa? Kenapa, Kak Dilan malah bersikap dingin sama Asa hari ini?" Gumam Asa dengan lirih.


Asa yang mulai mengingat bahwa ada seseorang yang menunggu dirinya di lapangan, dirinya mulai meninggalkan kantin dan berjalan kearah lapangan.


Asa yang melihat seorang laki-laki masih setia berdiri di lapangan, dirinya mulai berdiri di samping laki-laki itu.


"Kak Alga haus?" Tanya Asa kepada laki-laki di sampingnya.


Alga yang mendengarkan perkataan dari gadis yang dirinya kenal, dirinya mulai menatap ke arah gadis itu dengan tatapan lembut.


"Bukain! Tangan gue nggak bisa buat buka tutup itu botol!" Ujarnya dengan datar.


"Kak Alga–"


Alga yang mendengus dengan kesal, "Biar romantis, Sa! Peka dikit napa lu!" Ujarnya sekali lagi dengan kesal.


"Bilang dari tadi, kalau Kak Alga ingin manja sama Asa!" Ucap Asa yang mulai membuka tutup botol itu dengan susah.


"Kak Alga susah bukanya!" Ucap Asa yang masih berusaha dengan keras untuk membuka tutup botol itu.


Alga yang mulai kesal sendiri, dirinya mulai mengambil alih botol plastik dari genggaman tangan Asa.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menatap wajah Alga yang mulai bercucuran air keringat. Asa mulai mengambil tisu dengan cepat dirinya mulai mengelap semua keringat itu dengan lembut.


Alga yang diperlakukan seperti itu, dirinya hanya bisa menatap kedua mata Asa dengan tajam dan senyuman manis dimatanya.


Deg!


Perasaannya untuk Asa sudah berdetak dengan sangat hebat, dengan hembusan angin yang mulai menutupi wajahnya dengan beberapa helaian rambut hitamnya, Alga mulai memiringkan kepalanya untuk lebih teliti lagi melihat wajah itu dengan seksama.


"Cantik,"


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai tersenyum manis dan menatap ke arah Alga. Tatapan mata mereka berdua saling bertemu satu sama lain, tidak ada yang bisa mengganggu keromantisan mereka satu sama lain.


Walaupun, ada seseorang yang memanggil nama mereka berdua, berasa dunia ini hanyalah untuk mereka berdua dan tidak bisa mengganggu mereka berdua.


"Sudah-sudah, mau pacaran jangan di sekolah! Mending diluar sekolah, kalau sekolah itu bukan untuk pacaran tapi menggapai ilmu dan cita-cita kalian!" Jelas seorang guru yang sudah paruh baya, sambil menjewer telinga Alga dengan kencang.


"Ah ... Ibu-ibu sakit telinga Alga!" Pekik Alga yang mulai merasa panas di salah satu telinga nya.


"Kamu ngapain disini? Bukannya istirahat, malah temanin pacarnya disini!" Ujar Bu Saskia dengan tegas.

__ADS_1


"Ampun Bu! Saya terima jika saya yang harus menderita kok Bu–"


"Jadi kamu terima kalau Asa dihukum, kamu yang akan menerima konsekuensi nya?" Jelas Bu Saskia sekali lagi.


"Iya, Alga terima!"


"Okay, kalau gitu silahkan kamu lari lapangan 50kali dan cuci piring di area kantin!" Jelasnya dengan tegas.


"Tapi–"


"Kamu sendiri yang minta, cepatan mulai!" Jelasnya sekali lagi, sambil melototkan matanya.


Alga yang mendengar perkataan dari Bu Saskia, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat. Alga mulai menatap ke arah Asa sambil tersenyum kecil, Asa yang mendengar semua perkataan dari Bu Saskia dirinya merasa tidak enak kepada Alga.


"Gue sendiri kok yang maju, jadi nggak usah merasa nggak enak, Okay?" Jelasnya dengan senyuman, sambil mengusap kepalanya dengan lembut.


Asa yang diperlakukan seperti itu, dirinya hanya bisa mematung di tempatnya, sambil memperhatikan Alga yang sudah mulai berlari ke arah lapangan.


Sesekali, Alga menatap Asa dengan senyuman dan tatapan lembut.


'Sa! Mungkin hanya ini yang bisa gue lakukan untuk lu, dengan cara ini gue bisa membuat lu seperti layaknya seorang tuan Putri yang sangat bahagia. Gue rela, kalau hanya gue yang menderita Sa!' Batinnya dengan tulus.


Semua orang yang melihat kejadian tersebut, mulai merasa heran atas apa yang diperbuat oleh laki-laki yang selalu memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Kini, Alga mulai menerima semua hukuman yang seharusnya diterima oleh Asa.


"Itu Alga kan?" Ujar Wisnu dengan heran.


"Iya! Itu Alga woiii!" Heboh Putra dengan heran atas apa yang terjadi hari ini.


David yang melihat kejadian tersebut, dirinya mulai menatap sahabatnya itu dengan datar.


"Dasar munafik! Untung waktu itu gue nggak melakukan hal begituan sama itu gadis, mampus gue nanti!" Gumam David dengan pelan.


"Kenapa lu, Dav?" Tanya BomBom dengan heran.


David menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Nggak ada!" Ucapnya dengan datar, sambil fokus kembali kepada handphonenya.


berbeda dengan Dilan, dirinya tidak bisa tersenyum apalagi merasa heran. Karena, perasaannya yang merasa terluka disini tanpa semua orang tahu apa yang dirinya rasakan.


Dilan yang melihat kejadian itu, dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, dan meninggalkan tempat tersebut dengan perasaannya yang mulai merasa ditusuk oleh beribu pisau.


'Gue akan menyerah sampai disini, Ga. Tapi! Kalau lu membuangnya lagi seperti dulu, mungkin gue nggak akan pernah melepaskan dirinya buat lu, Ga!' Batinnya.

__ADS_1


__ADS_2