
"Ternyata cinta itu seperti angin iya ... tanpa kita sadari cinta itu masuk ke dalam perasaan kita, tanpa harus bilang permisi."
......~Algasa Adistia Renanda~......
...••••••...
Semua tatapan satu meja mulai menatap seorang lelaki yang kini sedang merasa kelelahan atas semua yang barusan terjadi menimpanya.
"Ga! Lu nggak lagi kesurupan kan?" Tanya Putra dengan heran, sambil sesekali tangannya menyentuh wajahnya untuk memastikan.
Alga yang diperlakukan seperti itu, dirinya hanya mendengus dengan kesal, sambil menepis semua tangan yang menganggap dirinya terlihat seperti orang lain. Tidak! Dirinya adalah satu orang yang sama kok, tapi perasaannya yang mulai berbeda pada satu wanita yang selalu menganggap di kehidupan dirinya sebagai sebuah horor.
"Gue nggak apa-apa! Gue hanya ingin bersikap amal saja!" Ujarnya dengan kesal.
Semua sahabatnya mulai menatap satu sama lain, dan tersenyum kecil.
"Bukan amal, tapi lu sedang jatuh cinta!" Ujar Putra dan BomBom serempak, sambil membentuk sebuah hati di kedua tangannya.
"Gue nggak sedang jatuh cinta, tapi ingin selalu bersamanya!" Jelas Alga yang tidak mau dianggap lebay.
"Sama aja dodol! Lu itu sedang jatuh cinta kepadanya, makanya lu ingin sekali bersamanya!" Jelas Wisnu sambil menepuk kepala Alga dengan kencang.
"Yaudah ... nggak usah main pakai kepala bisa'kan?" Ujarnya dengan sinis sambil menatap Wisnu dengan datar.
Wisnu yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya hanya menunjukkan cengiran disetiap deretan giginya.
"Sorry, you're the stupid one anyways." Ucapnya dengan senyuman, sambil fokus kembali kepada handphonenya.
"Terus ... lu mau sudah nembak dia?" Tanya David yang baru membuka suaranya.
__ADS_1
Alga yang mendengar perkataan dari David, dirinya hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanyanya sekali lagi dengan heran.
"Kayak anak kecil, bukan selera gue!" Jelasnya dengan datar.
David mulai menatap ke arah Alga dengan tajam, "Ini bukan masalah layaknya anak kecil, tapi ini tentang status hubungan lu dan dia!" Jelasnya yang mulai tegas.
"Pacaran dosa! Makanya itu, gue nggak mau nembak dia!" Ujarnya datar.
"Terus? Lu mau ngajak dia nikah?"
"Dia yang minta! Bukan gue yang minta nikah!" Ujarnya dengan datar lagi.
"Terus lu setuju?"
Alga yang sedari tadi ditanya mulu, dirinya mulai mendengus dengan kasar.
"Kita bukan kepo, Ga! Kita hanya mau tahu apa tentang lu, gue nggak mau nanti lu akan salah ambil jalan!" Ujarnya dengan datar.
"Karena, kita semua sahabat lu! Buat apa kita disini kalau lu nggak mau curhat apa-apa ke kita?" Jelas Wisnu yang ikut nimbrung.
"Yah, gue masih butuh waktu untuk siapa perasaan gue ini?!" Ucapnya dengan datar.
"Gue yakin, lu pasti bisa melupakan semua kenangan bersama dengannya!" Ucap David yang memberikan semangat kepada Alga.
Berbeda dengan seorang lelaki, dirinya hanya bisa mendengarkan semua dukungan para sahabatnya kepada Alga untuk mendekati Asa, sedangkan mereka semua sama sekali tidak memikirkan tentang perasaannya yang sekarang seperti ditusuk beribu pisau.
Ternyata, seperti ini yah ... kalau menyimpan perasaan kita untuk seseorang dalam diam, harus menerima resiko sesakit sebesar ini.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum kecut, sambil fokus kembali kepada handphonenya. Dunia hari ini mulai terasa hampa untuk dirinya.
'Lu semua bisa mengatakan semua itu kepada Alga. Tapi! Lu semua tidak tahu apa-apa tentang perasaan sahabat lu yang lain.' Batinnya dengan heran.
Iya, dia adalah Dilan Yesaya Abraham. Laki-laki yang selalu diam diantara sahabat yang lain, bahkan semua perasaannya saja tidak dapat diketahui oleh semua sahabatnya. Karena, dirinya selalu jarang membuka suaranya, bagaimana sahabatnya akan mengetahui semua perasaannya. Kalau, Dilan ditanya selalu acuh tak acuh.
Karena, bagi Dilan itu percuma saja kalau dirinya mengungkapkan semua perasaannya kepada orang lain. Lagipula, hidupnya memang sudah menderita dan hanya seorang diri. Dilan malah bersyukur kalau masih ada para sahabatnya yang selalu ada untuknya.
"Dil, ngomong apa lu! Mulut sudah kayak bisu aja, jarang banget buka suara!" Ketus Putra dengan gemash.
"Capek mulut gue!" Ucap Dilan dengan datar.
"Yaelah, kayak ngomong nggak ada jeda aja lu!" Ujar Alga yang ikut nimbrung.
Dilan mulai menatap wajah Alga dengan tajam, "Gue harap lu bisa jagain dia dengan baik, kalau lu nggak bisa jagain dia! Yah, lu lepaskan dia!" Ujarnya dengan datar, sambil berdiri dari bangkunya.
Semua sahabatnya yang melihat Dilan mulai meninggalkan kelas dengan membawa tasnya, mereka semua pada bertanya.
"Mau kemana lu?" Tanya Putra dengan heran.
"Bolos!" Jawabnya dengan datar.
Putra yang mendengar perkataan dari Dilan dirinya hanya menggelengkan kepalanya, "Gila itu anak!" Ujarnya sambil mengusap bidang dadanya.
Berbeda dengan Alga, dirinya mengerti benar maksud dan tingkah dari sahabatnya yang seperti itu.
'Apakah perasaan gue ini salah untuk mulai mencintai dirinya? Sampai-sampai perasaan gue ini bisa menyakiti orang terdekat gue?!' Batinnya dengan datar, sambil sesekali menghela nafasnya dengan datar.
Iya, dirinya sangat peka atas semua setiap perkataan yang dilontarkan kepadanya, makanya itu dia bisa menjadi pemimpin yang terlihat tegas dan adil. Tapi! Dirinya tidak menyangka, kalau perasaan yang dirinya rasakan bisa membuat perasaan salah satu sahabatnya menjadi hancur.
__ADS_1
Mungkin ... memang seharusnya kita tidak ditakdirkan bersama oleh tuhan, karena kau hanya untuk dirinya.