ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 51


__ADS_3

Semua dokter maupun perawat yang mulai berjalan keluar dari ruangan UGD, mereka pun mulai di sambut oleh beberapa keluarga dari pasien yang di tanganin mereka saat ini.


"Dokter, bagaimana dengan keadaan anak saya, Dasa?" Tanya Lusi yang khawatir kondisi Dasa.


Dr. Wahyudi pun mulai tersenyum kepada keluarga pasien. "Selamat? Penyakit kanker yang tadinya sudah tersebar luas di bagian syaraf kepala Dasa. Kini, semua kanker di bagian syaraf kepalanya berubah menjadi sebuah biji stroberi." Jelasnya.


Dokter Singapore pun mulai menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat. "That's right, I never expected to see this incident in person in front of me. 'Itu benar, saya tidak pernah menyangka untuk melihat kejadian ini secara langsung di depan saya.' Jelasnya.


Semua orang yang mendengar perkataan dari para dokter. Kini, seluruh ruangan yang tadinya terasa sesak, akhirnya mereka semua pun mulai kembali bernafas dengan sangat lega.


"Apakah, saya boleh bertemu dengan pasien?" Tanya Dilan.


Dr. Wahyudi pun menatap wajah Dilan. "Kalian bisa bertemu dengan pasien, tapi secara bergantian. Supaya istirahat pasien tidak terasa terganggu, karena kondisi tubuhnya masih terlalu lemah saat ini." Jelas Wahyudi ramah.


Dilan yang mendengar perkataan dari Dr. Wahyudi, dirinya pun mulai memasuki ruangan UGD. Pandangan pertama, ketika dirinya telah memasuki ruangan tersebut. Dirinya melihat seorang gadis kecil yang kini sedang menutup kedua matanya dengan sangat terlelap, dan berbagai seluruh infusan disekitar tubuhnya.


Dilan pun mulai mendekati gadis itu dengan senyuman lirihnya. Sesekali dirinya mulai menghela nafasnya dengan sangat berat, dan mulai mengusap kedua pipi gadis itu dengan penuh kasih sayangnya.


"Da, lu tau tidak? Gue sangat takut, kalau lu akan meninggalkan gue sendirian. Bahkan, gue takut belum bisa membuat lu bahagia bagaikan layaknya seorang 'Putri." Dilan yang menatap wajah gadis di hadapannya, dirinya tersenyum manis. "Tapi, semua ketakutan gue barusan, hilang karena pengorbanan lu saat ini. Apakah, lu tau apa yang gue rasakan? Makanya, lu memilih untuk tetap bertahan di dunia ini." Lirihnya.


Hanya sebuah suara alat-alat rumah sakit, detikan jarum jam, dan sebuah aroma khas di dalam ruangan itu yang menyergap. Mampu menyempurnakan keheningan di dalam ruangan tersebut.


Sebuah ukiran yang sangat sempurna untuk sebuah wajah seorang gadis yang sangat indah di hadapannya, walaupun dirinya terlihat pucat dan tidak berdaya saat ini. Tapi, bagi tatapan seorang laki-laki di hadapannya, dirinya adalah seorang gadis yang sangat cantik dan istimewa.

__ADS_1


Dilan yang sedari tadi melihat ukiran sempurna tersebut. Dirinya mulai melihat pergerakan dari gadis kecil yang masih memejamkan kedua matanya, dirinya pun berusaha untuk mendengarkan semua kalimat yang ingin dilontarkan oleh gadis di hadapannya dengan seksama.


Dilan pun mulai mendekatkan daun telinganya kepada bibir manis di hadapannya. Walaupun dirinya mendekatkan wajahnya ke arah gadis di hadapannya, Dilan masih tidak bisa mendengarkan suaranya yang sangat terlalu kecil.


Dilan pun mulai menghela nafasnya dengan berat, dan menatap gadis di hadapannya dengan tajam. "Lu mau ngomong apa, Da? Kalau lu dengar suara gue saat ini, bisakah lu memperjelas semua yang ingin lu sampaikan?" Bisiknya, supaya Dasa bisa mendengarkan suaranya.


Dilan pun mulai mendekatkan wajahnya kembali, untuk mendengarkan kalimat yang ingin disampaikan oleh Dasa. Dirinya pun mulai mendengar suara Dasa dengan perlahan, dirinya mendengarkan semua lontaran tersebut dengan sangat setia.


"Al–ga?" Ujar Dilan dengan helaan berat. "Walaupun lu masih dalam keadaan koma seperti ini? Lu masih memikirkan dirinya, dan gue nggak pernah menyangka, bahkan lu masih bisa untuk memanggil namanya?" Jelas Dilan sambil tersenyum kecil.


Ntah kenapa, itu mampu membuat dadanya terasa sangat sesak, bahkan untuk bernafas pun terasa sangat sulit. Kini, dirinya pun mengetahui satu hal, walaupun Dilan telah melakukan berbagai cara apapun untuk mendapatkan sebuah perasaan di dalam kehidupan Dasa, itu semua akan menjadi sia-sia untuknya.


Karena, Dasa sangat mencintai Alga, walaupun semua lelaki memperjuangkan dirinya, cinta Dasa kepada Alga tidak akan pernah hilang. Walaupun sampai nyawa terakhir Dasa, bahkan seluruh alam sadarnya hanya dipenuhi oleh memori tentang kebersamaan dirinya dan Alga.


"Apakah ini adalah jawaban dari lu untuk gue? Bahwa, sampai kapan pun perasaan lu itu hanya untuk seorang lelaki bernama Algasa Adistia Renanda? Apakah, lu menyuruh gue menyerah untuk memperjuangkan lu? Karena seberapa gue ingin berjuang untuk mendapatkan perasaan lu, seberapa itu juga perasaan lu hanya untuk dia seorang?"


"Apakah lu masih belum tahu juga, Da? Cinta itu mungkin bisa terganti, tapi yang paling sulit adalah untuk melepaskan rasa sayang kita kepadanya. Walaupun lu telah memberikan semua jawaban lu ke gue. Tapi, semua jawaban lu tidak akan pernah membuat gue menyerah begitu saja. Karena gue masih belum bisa melupakan lu, Da!" Lirih Dilan.


Dilan pun menatap wajah Dasa, dan dengan helaan nafas panjangnya. Dirinya mulai melangkahkan kedua kakinya dengan langkah yang sangat berat, untuk meninggalkan ruangan peristirahatan Dasa.


Sakit dan sesak yang dirasakan oleh Dilan sekarang. Sakit karena dirinya harus mengetahui, siapa seseorang yang sangat berarti bagi kehidupan Dasa? Dan sesak, karena seseorang yang berarti di dalam kehidupan Dasa bukan dirinya.


Diluar ruangan, arah pandang kedua matanya pun mulai menatap tajam ke arah seorang lelaki remaja, yang kini masih setia duduk di bangkunya. Dirinya pun mulai mendekati lelaki remaja itu, dan mulai duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Lu nggak ingin melihat kondisi dia, Ga?" Tanya Dilan.


Alga pun menggelengkan kepalanya. "Gue masih belum siap, Dil. Bagaimana kondisinya? Apakah, kondisinya sudah lebih membaik?" Tanya Alga.


"Ntahlah, gue harap, dia bisa kembali seperti dulu lagi. Karena gue rindu dengan semua kenangan tentang kebersamaan kita dulu."


Alga yang mendengar lontaran tersebut, dirinya mulai tersenyum kecil. "Gue juga kangen dengan semua kenangan indah itu." Gumamnya dengan lirih.


Dilan pun menatap ke arah Alga. "Yah, karena kenangan dulu. Lu dengan sangat setianya akan selalu menjaga Dasa, dan akan membuatnya selalu tersenyum. Gue percaya sama lu, Ga. Mungkin dari dulu sampai sekarang, gue akan mengalah dengan perasaan gue ini untuknya." Jelasnya.


Alga yang mendengar semua lontaran tersebut, dirinya mulai menghela nafasnya dengan panjang, dan dirinya mulai bangkit dari tempat duduknya, untuk mencari udara segar di taman.


'Mungkin, jika dia berterus terang kepada gue waktu itu, gue akan selalu menunggu dirinya dengan setia, dan berjuang bersamanya. Tapi, gue nggak bisa. Karena ada perasaan, yang harus gue jaga saat ini.' Batin Alga.


...***...


Mungkin saat ini terlihat sangat gelap gulita di langit, karena hari mulai menjadi malam. Cuaca malam yang terlihat akan turun rintihan hujan saat ini, keindahan malam hari ini terlihat sangat sempurna yang ditemanin oleh beberapa bintang di langit. Angin yang mulai berhembus kencang saat ini, mampu menusuk kulit putih seorang gadis yang kini berada di balkon kamarnya.


"Kak Alga sebenarnya ada dimana, sih? Apakah, Kak Alga baik-baik saja disana? Asa sangat merindukan Kak Alga, Asa hanya ingin Kak Alga selalu bersama Asa saat ini." Gumamnya kepada bintang di langit.


Asa yang selalu menunggu kehadiran Alga di bawah rembulan maupun bintang di malam hari. Dirinya tidak pernah berhenti untuk mencurahkan segala isi hatinya kepada para saksi di malam hari, sebuah curahan hati seorang gadis yang selalu bertanya-tanya tentang lelaki seperti Alga. Apakah, lelaki itu akan selalu bersamanya? Atau, apakah lelaki itu akan menepati semua janji yang dibuat olehnya?


"Asa harap, Kak Alga disana baik-baik saja, yah? Cepat pulang Kak Alga. kayaknya, kangen Asa ke Kak Alga sudah sampai stadium akhir."

__ADS_1


__ADS_2