ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 41


__ADS_3

Alga yang mulai berjalan memasuki kelasnya, senyuman mulai terukir dengan sangat sempurna di wajahnya saat ini, dan beberapa kali dirinya mulai melompat sekaligus tertawa.


Semua mahluk hidup yang berada di kelas Alga saat ini, mereka terlihat sangat heran atas sikap Alga barusan. Sama halnya dengan David, dirinya merasa sahabat satunya itu, telah kehilangan sebagian kewarasan yang di miliki olehnya karena cinta.


"Bagaimana hasilnya? Berhasil?"


Alga mulai merenggangkan kedua tangannya dan dengan helaan nafas yang sangat berat. Dirinya tersenyum kecil. "Begitulah." Jawabnya.


"Maksudnya, lu belum berhasil?" Tanya David sekali lagi.


Alga menatap wajah David dengan tajam. "Gue—" Perkataan Alga mulai terpotong karena seorang mahasiswa yang berlari kecil ke kelasnya.


"Ga! Dasa! Dia—" Ujar siswa itu dengan nafas yang tersengal-sengal.


Alga yang mendengar perkataan dari siswa tersebut, dirinya mulai berdiri dari bangkunya dengan khawatir.


"Kenapa dengan Dasa? Cepat jawab, Al!?" Tanya Alga heran.


"Da--Dasa dia dituding sama Citra dan Diana." Jawab Aldi dengan terbata-bata.


"Kok bisa? Lu pada emang pada kemana, hah? Kan gue udah bilang jaga Dasa!?" Ujar Alga murka.


"Gue dan yang lain sedang ke kantin untuk beli makanan. Tapi pas gue datang, Dasa sudah terkapar lemah di kelas."


"Terus dia sekarang ada dimana?" Tanya Alga.


Aldi pun mulai berjalan keluar kelas dan berlari menuju ke tempat dimana Dasa berada. Alga dan David mengikuti langkah besar Aldi untuk membawa mereka ke tempat seorang gadis saat ini.


Alga yang melihat kejadian di hadapannya, seorang gadis yang tertidur lemah dengan wajah pucatnya di sebuah brankar pasien. Alga yang melihat kondisi tubuh Dasa saat ini, dirinya mulai mengepalkan kedua tangannya.


...***...

__ADS_1


Dasa yang berada di kelas bersama dengan Putra, Wisnu, Aldi, dan Dilan. Dirinya hanya terdiam membisu, walaupun para sahabatnya Alga memperlakukan dirinya sangat baik.


"Lu mau ikut kita bertiga ke kantin nggak?" Tanya Putra sambil menatap wajah Dasa saat ini.


Dasa hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. "Nggak, Dasa di kelas aja." Tolak Dasa dengan sangat ramah.


"Yaudah, nanti gue bawain cemilan buat lu. Kalau ada apa-apa, lu bisa telepon gue atau Alga." Jelas Putra yang di anggukin oleh Dasa.


Dasa yang ditinggal berdua dengan Dilan. Dirinya hanya menundukkan kepalanya dan membisu tanpa harus membuka suaranya.


Sedangkan, Dilan hanya mengamati semua tingkah gadis yang sangat dirinya sayangi dari dulu sampai sekarang. Dirinya tersenyum kecil dan menghela nafasnya dengan berat.


"Gue nyusul mereka semua, yah?" Pamit Dilan juga yang mulai meninggalkan Dasa sendirian.


Di balik sebuah pintu, seorang lelaki remaja yang sama persis memakai sebuah jaket Hodienya, seorang lelaki remaja yang barusan saja melemparkan sebuah botol minum ke arah Asa pas di koridor. Kini lelaki itu mulai tersenyum kecil, disaat dirinya menatap seorang gadis yang sedang duduk di kursi rodanya dengan sangat setia.


Laki-laki itu pun mulai memberhentikan kedua siswi yang ingin memasuki kelasnya Dasa. Sebuah rencana licik mulai terlintas di benaknya saat ini dan dirinya mulai berbisik kepada kedua gadis itu dengan sangat detail.


Kedua gadis itu menganggukkan kepalanya. "Bisa, Kak." Jawab kedua siswi tersebut dengan cepat.


"Lu bisa kasih pelajaran sama gadis yang duduk di kursi roda? Gue akan melakukan apapun itu, kalau lu berdua bisa bantuin gue buat beri pelajaran kepada gadis itu." Jelas lelaki itu sambil menunjuk ke arah Dasa.


"Itu gampang, Kak! Karena kerjaan kita saat ini, yaitu merundung seseorang. Kebetulan Kakak kasih kita mangsa saat ini." Ujar Citra— siswi yang memiliki wajah campuran dan cantik bagaikan seorang aktor.


"Tapi, kakak harus mendukung kami berdua. Supaya kita berdua tidak dapat hukuman apapun itu." Jelas Diana—Siswi yang memiliki kulit sawo dan rambut sepanjang pundak.


"Tenang, itu sudah gue atur semuanya. Gue akan mendukung lu berdua sebagai seorang penting di belakang kalian, yang pasti gue ingin lu berdua kasih dia pelajaran yang tidak pernah gadis itu lupakan seumur hidupnya." Ucap laki-laki itu dengan senyuman kecil.


Citra dan Diana mulai menganggukkan kepalanya dengan serempak. Mereka bertiga mulai menatap seorang gadis yang kini duduk di sebuah kursi roda dengan senyuman yang sangat licik.


'Permainan baru di mulai sekarang. Gue akan pastikan, bahwa disinilah seorang pemenang yang akan menjadi sang pemimpin.' Batin laki-laki itu dengan senyuman sadisnya dibalik maskernya.

__ADS_1


Sebenarnya, siapakah laki-laki itu? Kenapa dirinya ingin sekali, menghancurkan kedua gadis yang tidak melakukan kesalahan apapun kepadanya?


Dengan pakaian jaket Hoodie, dirinya mulai menutupi wajahnya dibalik topi tudungnya, dengan tatapan yang sangat sadis dan dengan senyuman yang mematikan dibalik maskernya. Tanpa wajah yang tidak terlihat jelas, karena dirinya sedang mengumpat dibalik topi tudungnya.


Laki-laki itu pun mulai meninggalkan kelas Dasa dengan langkah yang sangat besar, dan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantong jaketnya.


Dirinya pun mulai melihat beberapa lelaki yang sedang tertawa dan bercanda gurau satu sama lain. Yah, siapa lagi kalau bukan Putra, Wisnu, Aldi, dan Dilan yang mulai berjalan mendekati kelasnya Dasa.


Laki-laki itu pun mulai memasuki ruang kelas lain, mulai bersembunyi dibalik pintu kelas tersebut, dan menatap berempat laki-laki itu dengan senyuman kecil.


"Lu semua boleh tertawa dengan sangat lebar dan terus bersama. Tapi gue nggak akan membiarkan lu semua bahagia di hadapan gue, dan permainan ini pun baru akan dimulai."


"Gue ingin tahu, apakah persahabatan lu semua akan bertahan lama atau bahkan tidak? Dan, akan gue pastikan persahabatan yang selama ini akan hancur di tangan gue sendiri." Ujarnya.


Sebuah panggilan masuk mulai berbunyi di benda pipih tersebut dengan sangat nyaring, dengan sangat cepat dirinya mulai mengangkat panggilan tersebut.


"Bagaimana hasilnya? Apakah rencana kita akan berhasil?"


Sebuah panggilan dari seorang lelaki dibalik panggilan tersebut dengan datar, sambil menatap sebuah foto di dinding kamarnya.


"Lu nggak perlu khawatir, karena permainan ini baru saja di mulai dan gue ingin tahu siapa yang akan cepat menyudahi permainan ini. Gue nggak akan pernah tinggal diam saja melihat mereka semua selalu tertawa di atas penderitaan gue."


"Bagus kalau gitu, gue nggak sabar melihat kejadian yang ingin gue lihat nantinya, dan mengalahkan mereka semua dengan tangan gue sendiri."


Panggilan pun mulai terputus dan dengan senyuman kecil di wajahnya, lelaki itu mulai berjalan mendekati kamar mandi pria. Dirinya pun mulai menatap dirinya dibalik sebuah cermin tersebut, dengan wajah yang selalu terukir dengan sangat sempurna dan sebuah senyuman yang sangat mematikan mampu membuat para kaum hawa menyukainya.


"Gue nggak tahu, jika dimana lu semua tahu siapa gue sebenernya. Gue akan pastikan bahwa disaat itu belum terjadi, gue sudah mulai menghancurkan persahabatan kalian semua."


"Dan, disaat itu pula kalian hanya bagaikan debu, gue ingin tahu apakah lu semua akan selalu bersama disaat dimana salah satu sahabat kalian saling menyalahkan satu sama lain."


"Apakah, sebuah nama ALGASA akan selalu terlihat sempurna, atau malah menjadi sebuah bom waktu yang akan meledak kapan pun gue mau menyalakan bom tersebut." Gumamnya, sambil menatap seluruh wajahnya di balik cermin saat ini.

__ADS_1


__ADS_2