ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 40


__ADS_3

Matahari yang kini sudah sangat sempurna memberikan sebuah kehangatannya di seluruh permukaan bumi. Mungkin saat ini, matahari, langit, dan bumi mereka semua mulai menjadi saksi di antara kedua kejora saat ini.


Asa yang masih setia menundukkan kepalanya, dan mendengar semua lontaran kalimat dari para mahluk hidup yang berada di koridor saat ini, sebuah kalimat yang selalu merendahkan dirinya.


"Makanya, Sa! Jadi cewek itu sadar diri, banyak lelaki yang suka sama lu, tapi lu malah menolaknya." Jelas salah satu siswa yang pernah di tolak oleh Asa.


Berbeda, dengan seorang lelaki yang kini memakai masker dan sebuah hodie di kepalanya. Lelaki itu melihat kejadian di hadapannya dari awal sampai akhir. Dirinya pun mulai melempar sebuah botol di tangannya, dan melempar ke arah seorang gadis yang masih menundukkan kepalanya.


Alga yang memiliki tatapan tajam bagaikan seekor burung elang, dirinya mulai memeluk tubuh kecil Asa di dalam bidang dada besarnya dengan gerakan yang sangat cepat.


Bugh ...


Asa yang mendengar suara yang sangat nyaring di hadapannya, dirinya mulai menatap sebuah botol air mineral yang masih terisi penuh berguling ke arahnya, dan dirinya mulai beralih menatap seorang lelaki di hadapannya saat ini.


"K-Kak Alga?" Panggilnya dengan lirih.


Alga yang mendengar suara lirih dari seorang gadis di hadapannya, dirinya mulai tersenyum kecil, dan mulai menghapus setiap jejak disudut wajah Asa saat ini.


"Maafin gue, gue nggak bermaksud membuat lu terluka seperti ini. Gue nggak bermaksud membuat lu menangis seperti ini." Ujar Alga yang masih setia menghapus jejak air mata disudut wajah Asa.


Asa yang mendengar lontaran kalimat


Alga, dirinya mulai mengeluarkan semua tangisan yang sedari tadi ditahan olehnya.


"Kak Alga! Sakit! Rasanya sakit banget!" Rengek Asa dengan kencang.


Alga yang mendengar lontaran kalimat Asa, dirinya mulai memeriksa seluruh tubuh Asa dengan sangat khawatir. "Apa barusan gue dorong lu terlalu kencang? Bagian mana yang terluka? Jawab, Sa! Jangan diam dan nangis terus!?" Tanya Alga penekanan.


Asa pun mulai menggelengkan kepalanya. "Yang sakit bukan fisik Asa, tapi perasaan Asa yang terluka. Sakit banget rasanya, padahal nggak berdarah sama sekali." Jawab Asa dengan bodohnya.


Alga yang mendengar lontaran kalimat dari Asa, dirinya mulai tertawa kecil, dan dirinya mulai menatap wajah gadis di hadapannya yang terlihat sangat merah padam, karena habis menangis.


Sedangkan, semua yang tadi memberi komentar buruk tentang Asa, mereka semua kini melihat sebuah kejadian, yang dimana seorang gadis murahan telah memenangkan perasaan seorang lelaki bernama Alga. Semua kejadian di hadapannya, bagaikan sebuah drama romantis yang bikin mereka bawa perasaan.


"Gue minta maaf, kalau bukan karena gue waktu itu merendahkan lu di depan umum. Mungkin mereka semua nggak akan pernah menganggap lu sebagai seorang gadis yang tidak punya harga diri dan murahan. Tapi gue nggak pernah menyesali semua perbuatan gue dulu, karena akhirnya gue bisa memiliki diri lu sepenuhnya."


Alga pun menatap seluruh penjuru koridor dengan tatapan tajam. "Seorang gadis yang selalu gue anggap murahan, kini dirinya berhasil membuat gue menyukai perasaan tulusnya. Seorang gadis yang selalu gue anggap bagaikan sebuah musibah, kini dirinya malah membuat gue takut untuk merasakan kehilangan kesekian kalinya. Mulai detik ini dan seterusnya, lu semua yang akan menjadi saksi di antara kita berdua."


"Kalau seorang gadis bernama Asalina Hyena. Mampu membuat seorang lelaki seperti gue tunduk kepadanya. Bahkan, semua kalimat yang pernah gue lontarkan dulu, mampu membuat tekad gue kalah dengan tekad tulusnya kepada gue waktu itu dan sampai detik ini!" Jelas Alga dengan menekan semua kalimatnya.


Asa yang mendengar semua kalimat penjelasan dari lelaki di hadapannya sekarang, sebuah tamparan mulai melayang hebat di pipi kanan Alga saat ini.


"Lu nampar gue, Sa!?—" perkataan Alga mulai terpotong atas perbuatan seorang gadis di hadapannya, dan itu mampu membuat semua orang yang berada disana tercengang melihatnya.


Sekali lagi, Asa mulai memberikan jejak lima jarinya di wajah kiri Alga dengan sangat sempurna, dan itu mampu membuat tulang bibir Alga mengeras menahan emosinya.


"Sa!?—"

__ADS_1


"Tamparan itu nggak sebanding dengan perbuatan Kak Alga ke Asa saat ini! Kalau Kak Alga memang ingin main drama, tapi jangan pernah mempermainkan perasaan Asa sebagai lelucon! Kak Alga kira, itu akan membuat Asa terharu atau tersenyum, gitu? Itu malah membuat perasaan Asa terluka barusan, sakit Kak rasanya!" Jelas Asa dengan penekanan.


Alga yang mendengar lontaran kalimat di hadapannya, dirinya mulai menundukkan kepalanya. "Gue minta maaf, Sa! Gue janji, nggak akan melakukan hal yang membuat lu terluka. Maafin gue, yah?" Ujar Alga dengan memelas.


Asa yang mendengar lontaran Alga, dirinya berusaha untuk tidak tertawa di hadapannya. "Kayaknya Asa nggak bisa maafin Kak Alga, Asa sudah terlanjur terluka." Lirihnya.


Alga yang mendengar lontaran kalimat dari Asa, dirinya mulai menatap wajah gadis di hadapannya. "Lu seriusan? Setelah lu menaruh perasaan ini ke gue, lu malah ingin pergi dari kehidupan gue?" Jelas Alga dengan berat.


"Kak Alga sendiri yang menginginkan Asa pergi, kan? Tapi saat ini Asa tidak bisa pergi dari hadapan Kak Alga, karena ulah Kak Alga, kaki Asa jadi sakit."


Alga yang mendengar lontaran Asa, dirinya mulai tertawa kecil. "Lu ngerjain gue barusan, hah?" Tanya Alga dengan suara beratnya.


"Kak Alga saja boleh main drama, masa Asa nggak boleh?" Jawab Asa dengan cengiran kudanya.


"Gue malas gendong lu, berat badan lu soalnya, Sa!"


Asa mendengus berat. "Bukan Asa saja yang berat, tapi Kak Alga juga lebih berat dari Asa!?" Ujarnya dengan emosi yang membara.


Alga yang mendengar lontaran kalimat Asa, dirinya mulai memberikan punggung belakangnya dengan sangat sempurna.


"Naik! Gue anterin lu ke kelas." Jelas Alga.


Asa menatap pundak kokoh lelaki di hadapannya. "Kak Alga nggak akan jatuhin Asa lagi, kan?" Tanya Asa yang masih setia di tempatnya.


"Yah, Asa! Gue nggak jatuhin lu lagi, kecuali kalau lu diam tanpa membuat keseimbangan gue terganggu." Jelas Alga.


"Kak Alga benaran sudah sayang sama Asa?" Tanya Asa.


Asa menganggukkan kepalanya. "Seberapa besar rasa sayang Kak Alga buat Asa?" Tanya Asa kembali.


"Sebesar gue menyayangi seseorang yang gue sayangi, dan sebesar gue ingin melindungi nyawa gue sendiri."


Asa menganggukkan kepalanya. "Kak Alga mau janji sesuatu hal buat Asa?" Tanya Asa dengan harapan kecilnya.


"Lu mau gue janji apaan ke lu?" Tanya Alga balik.


"Yah, terserah Kak Alga. Yang penting Kak Alga sanggup dan menempati semua janji Kak Alga kepada Asa." Jelas Asa dengan senyuman manisnya.


"Hmm." Deham Alga dengan singkat.


"Cuman berdeham doang? Berarti Kak Alga benaran belum sayang sama Asa, karena jawaban Kak Alga seperti itu!" Jelas Asa dengan lirih.


"Gue harus bilang sampai berapa kali, Sa? Capek mulut gue menjelaskan kalimat yang panjang—"


"Kalimat panjang aja Kak Alga sudah lelah, apalagi untuk membuat Asa bahagia selalu kali, yah? Paling Kak Alga sudah menyerah begitu saja."


Alga yang mendengar lontaran kalimat dari seorang gadis saat ini, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat. "Lu mau naik nggak? Lelah gue jongkok mulu nungguin lu!" Jelas Alga dengan menekan kalimat 'Lelah.'

__ADS_1


Asa pun mulai memanjakan tubuhnya di bidang punggung belakang kokoh seorang Alga saat ini. Semua orang yang melihat ke arah kedua kejora saat ini, itu mampu membuat mereka berteriak dengan secara histeris, dan mulai baper atas semua drama di hadapannya saat ini. Beruntung? Yah, menurut mereka, Asa sangat beruntung memiliki seorang Alga yang sangat terkenal dikalangan remaja, dan bahkan para guru.


Langit, Bumi, dan bahkan matahari yang saat ini masih setia memberikan kehangatannya ke seluruh permukaan bumi. Sama halnya dengan seorang Alga, dirinya kini memberikan kehangatannya kepada seorang gadis yang kini sedang membenamkan wajah kecilnya dipunggung belakangnya.


Ternyata, perjuangan yang sangat tulus sampai detik ini, dan permohonan seorang gadis pada para bintang sekaligus rembulan di malam hari waktu itu. Kini semua permohonan dan perjuangannya mulai membuahkan hasil, karena dirinya telah memiliki seseorang yang sangat dirinya sayangi mulai detik ini.


...***...


Alga yang masih setia menggendong tubuh seorang gadis di belakang punggungnya, dirinya mulai tersenyum atas tingkah bodoh seorang gadis kecil yang merenggangkan kedua tangannya bagaikan sebuah pesawat terbang.


"Kak Alga tahu tidak? Perasaan Asa itu sama seperti sebuah pesawat terbang, jika pesawat terbang mulai melayang ke angkasa maka dirinya akan merasa sangat bahagia. Tapi, kalau pesawat terbang itu mendarat ke permukaan bumi, dirinya akan merasa sangat terluka dan sakit."


"Jadi ... Kak Alga jangan sampai membuat perasaan Asa ini mendarat ke permukaan bumi, karena Asa belum siap untuk menerima semua luka nantinya." Jelas Asa dengan lirih.


"Gue ... Algasa Adistia Renanda, nggak akan pernah membiarkan bidadari gue ini tersungkur ke tanah."


Asa yang mendengar lontaran dari lelaki di hadapannya, dirinya mulai kembali memeluk erat leher Alga dengan sangat penuh kasih.


"Kak Alga? Asa boleh tanya sesuatu?" Tanya Asa dengan hati-hati.


"Apa?"


"Apakah, perasaan Kak Alga itu sudah sepenuhnya untuk Asa?" Tanya Asa dengan sangat pelan.


"Gue butuh waktu, Sa! Tapi satu hal yang harus lu tahu, perasaan gue setengahnya sudah menjadi milik lu." Jelasnya dengan datar.


"Maksudnya Kak Alga, perasaan Kak Alga mulai menjadi dua? Yang satu untuk Asa, dan yang satu untuk Kak Dasa?" Tanya Asa sekali lagi.


"Mungkin, yang lu pikirkan emang benar, itu hanya perumpamaan saja. Tapi, gue akan memberikan nyawa gue ini untuk lu seorang." Jelasnya dengan lembut.


Alga pun mulai memasuki kelas tempatnya Asa, terdapat seluruh siswa-siswi yang menatap ke arah dirinya dengan heran dan bertanya.


Berbeda dengan Nanda, dirinya mulai merasa ingin sekali memiliki seorang pacar disisinya. Apalah dayanya, yang hanya bisa melihat orang pacaran di hadapannya, apalagi sahabatnya yang selalu menceritakan tentang romantisnya antara hubungannya dengan Alga.


"Yaudah, gue balik ke kelas dulu." Pamitnya yang mulai berjalan meninggalkan Asa.


Asa yang melihat Alga benaran meninggalkan dirinya. Kini, sebuah tangan mulai memegang lengan kokoh Alga dengan sangat cepat.


"Kak Alga nggak mau cium kening Asa?" Tanyanya dengan senyuman manisnya, dan sambil menunjukkan ke arah keningnya.


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai menatap sekeliling kelas Asa. Yah, terdapat kenangan pahit ketika dirinya bersama dengan Asa.


Disaat dimana, dirinya memaki Asa karena ban motornya dikempeskan oleh gadis di hadapannya, dan ketika gadis tersebut meneriaki dirinya di depan umum sebagai kekasihnya.


Dengan helaan nafas yang sangat berat, dirinya masih mengingat semua kejadian yang di saat dimana Alga sangat-sangat membenci Asa. Kini dirinya hanya ingin mengubah semuanya itu dengan kenangan manis sekarang, dirinya pun mulai mendekati Asa, dan mencium kening gadis itu dengan sangat lembut.


"Yaudah, lu belajar yang rajin. Gue nggak mau nanti punya istri bodoh kayak lu, dan mencotohkan anak-anak kita nantinya." Jelas Alga dengan tertawa kecil, dan sambil mengusap kepala Asa dengan pelan.

__ADS_1


Semua siswa-siswi yang melihat kejadian tersebut, hanya bisa menatapnya dengan perasaan iri dan bercampur aduk.


Sedangkan, disatu sisi Asa yang melihat laki-laki itu mulai pergi dari hadapannya, dirinya hanya tersenyum kecil sambil memegangi keningnya dengan perasaan bahagia.


__ADS_2