
Sebuah kenangan yang mulai terlintas kembali di dalam kehidupan seorang lelaki yang masih setia memejamkan kedua matanya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan panjang, dan mulai menatap sebuah langit malam yang terlihat buram di pandangannya.
"Lang, gue tahu, gue salah. Gue nggak pernah menganggap kehadiran lu, berulang kali gue berbohong di depan mereka semua. Walaupun pada kenyataannya, lu selalu mengutamakan gue daripada yang lain, mungkin benar kata mereka semua, kalau gue terlalu egois dan memikirkan perasaan gue sendiri." Lirih Alga.
Alga yang merasa seluruh tubuhnya mati rasa, dirinya pun berusaha untuk meraih sebuah benda pipih yang sangat jauh dari pandangannya. Ntah kenapa, dirinya merasa ada yang tidak beres dengan kedua kakinya, berulangkali dirinya menggerakkan kedua kakinya, berulangkali rasanya sangat hampa dan mati rasa.
Alga yang selau berfikir positif, dirinya pun mulai menuntun tubuhnya untuk meraih benda pipih yang berada di dekat motornya, dan dirinya pun mulai mengetik sebuah nomor di ujung sana.
"Selamat malam, ada kecelakaan di jalan ×××"
Panggilan pun mulai berakhir dengan secara sepihak, tanpa menghubungi satupun orang, Alga hanya menghela nafasnya dengan panjang.
Karena tidak mungkin, dirinya menelpon para sahabatnya dengan keadaan saat ini. Apalagi orangtuanya, dia tidak ingin membuat Bunda tercintanya khawatir atas kondisinya saat ini. Asa? Alga yang mengingat nama gadisnya, dirinya mulai tersenyum kecil, dan menelpon gadisnya saat ini. Walaupun dirinya tahu, mungkin gadisnya saat ini akan terganggu olehnya, karena dirinya menelpon Asa ditengah malam seperti ini.
Truuth ... Truuth ...
'Halo Kak? Ada apa Kak Alga telepon Asa di tengah malam begini?'
Alga yang mendengar suara dari seberang sana, dirinya mulai mengatur nafasnya dan mulai membuka suaranya dengan berat :
^^^"Nggak ada apa-apa. Emangnya, kalau gue ingin menelpon diri lu harus ada alasan dulu, begitu?"^^^
'Bu-bukan itu maksud Asa, takutnya nanti Kak Alga malah terganggu kalau Asa angkat telepon dari Kakak.'
^^^"Lu itu bodoh atau gimana, sih, Sa? Gue yang nelpon lu, ngapain gue merasa terganggu oleh panggilan dari lu coba?"^^^
'Hm ... Kak Alga bisa nggak, jangan selalu bilang Asa bodoh mulu! Romantis dikit kek.'
Alga pun mulai menghela nafasnya dengan berat, sesekali dirinya mulai menatap seluruh langit malam dengan tatapan nanar.
^^^"Sa?"^^^
'Iya, Kak? Ada apa?'
__ADS_1
^^^"Apa lu pernah merasa kecewa sama semua sikap gue waktu itu ke lu?"^^^
'Nggak, Asa nggak akan pernah kecewa dengan semua sikap yang Kak Alga berikan kepada Asa, dan pada akhirnya Asa mendapatkan Kak Alga.'
^^^"Gitu?"^^^
'Yah, emang ada apaan, sih, Kak?'
^^^"Apa lu mau mendengarkan semua perkataan jujur gue hari ini? Tapi gue ingin lu janji satu hal sama gue, jangan pernah membenci diri gue sedikit pun."^^^
'Kak Alga emangnya mau jujur apaan ke Asa? Sampai-sampai, Kak Alga malah bilang seperti itu ke Asa?'
^^^"Gue hanya ingin lu berjanji kepada gue satu hal itu. Apakah lu bisa menurutin semua perkataan gue barusan?"^^^
'Asa janji, semua lontaran Kak Alga nanti. Itu tidak akan pernah membuat Asa membenci Kak Alga.'
Alga yang mendengar semua lontaran kalimat dari Asa, dirinya mulai menghela nafasnya dengan panjang, dan tersenyum kecil.
^^^"Kayaknya, kita udahan aja hubungan kita saat ini."^^^
'Ke-kenapa? Kenapa Kak Alga bilang seperti itu ke Asa? Kak Alga pasti sedang becanda sama Asa, kan?'
^^^"Saat ini gue lagi nggak becanda, kayaknya perasaan gue ini sudah bukan milik lu lagi. Gue udah nggak suka sama lu lagi, Sa."^^^
^^^"Jadi, gue hanya berharap, lu bisa menjauhi gue dan mendapatkan yang lebih terbaik lagi selain gue. Karena gue nggak ingin berpisah dengan seseorang yang sangat gue sayangi dulu sampai sekarang."^^^
Asa yang mendengar lontaran kalimat dari Alga, dirinya mulai menahan suara isakan nangisnya. Ntahlah, semua lontaran Alga barusan mampu membuatnya sangat terluka.
Selama sebulan dirinya memperjuangkan Alga dan mencintainya. Asa kira, setelah mendapatkan seorang Alga selama dua bulan lebih, dirinya telah berhasil membuat perasaan lelaki itu untuknya juga. Tapi ternyata dirinya salah, dirinya yang terlalu berharap dan bermimpi indah. Padahal kenyataannya, itu tidak akan mungkin terjadi selamanya.
Asa pun menghela nafasnya dengan panjang dan menahan suara tangisnya, dirinya pun mulai berusaha menunjukkan sebuah senyuman manis dan membuka suaranya :
'Asa tahu, Kak Alga pasti sedang becanda sama Asa sekarang. Atau, pasti Asa sedang bermimpi buruk sekarang, kan?'
__ADS_1
^^^"Sa, gue nggak becanda! Dan ini juga bukan mimpi—"^^^
'Kak Alga, selamat malam. Kayaknya Asa harus menyudahi mimpi buruk ini, semoga Kak Alga mimpi indah.'
^^^"Sa!? Dengerin penjelasan gue dulu—"^^^
Tut ...
Panggilan pun mulai dimatikan secara sepihak, Alga yang melihat layar benda pipihnya, dirinya mulai melemparkan sembarangan teleponnya, dan dirinya mulai mengusap wajahnya dengan kasar.
'Gue nggak tahu, apakah cara yang gue pilih adalah jalan yang terbaik buat semuanya, atau malah tidak untuknya.' Batin Alga.
Sebuah Ambulance pun mulai datang menjemput seorang lelaki remaja, dengan beberapa perawat yang membantu memindahkan tubuh Alga ke kasur pasien, dirinya mulai memasuki mobil Ambulance dan membawa dirinya ke rumah sakit besar Ibu Kota Jakarta.
...***...
Alga pun mulai di periksa oleh salah satu dokter magang saat ini. Ntahlah, setiap pemeriksaan kepadanya, dirinya merasa seluruh tubuhnya sangat hampa saat ini.
"Apa yang anda rasakan di kedua kaki anda saat ini? Apakah ada rasa nyeri?" Tanya Dok. Selly— yang memeriksa keadaan kedua kaki Alga saat ini.
Alga pun mulai menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Saya tidak merasakan apapun di kedua kaki saya, Dok!?" Jawab Alga yang masih datar.
Selly menganggukkan kepalanya dengan berat, sesekali dirinya mulai memeriksa seluruh bagian tubuh Alga yang terluka, sambil menunggu hasil tes dari perawat yang dipercayakan olehnya.
"Dokter, ini hasil tesnya sudah keluar." Ujar seorang perawat sambil memberikan hasil laporan kepada Selly.
Selly pun membuka hasilnya dan dirinya mulai menatap ke arah Alga dengan tatapan berat.
"Apa anda bisa menghubungi keluarga anda saat ini?" Tanya Selly dengan tatapan mata kosongnya saat ini.
Alga yang melihat raut wajah dari dokter magang saat ini, dirinya mulai memberikan tatapan heran, dan menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak ingin membuat Bunda saya khawatir dengan kondisi saya saat ini. Apalagi, semua luka di seluruh tubuh saya tidak begitu parah—" Lontaran Alga mulai terpotong oleh perkataan seorang dokter magang saat ini.
__ADS_1
Bagaikan sebuah pisau yang mulai menusuk bagian belakang punggungnya, dan menusuk mengenai jantungnya dengan begitu cepat berdebar.
"Kedua kakimu lumpuh dengan permanen dan—"