
..."Mungkin.. sekarang dirinya belum mengetahui tentang seberapa pentingnya, diri kita di dalam ke hidupanya."...
..."Tapi! Percayalah... Dirinya juga belum mengetahui siapa yang ada di hatinya? Karena, dirinya masih belum peka terhadap apa yang ada didalam hatinya."...
...~Ezracristy Harahap.~...
...••••••••...
Di sebuah kamar yang sangat luas, terdapat seorang lelaki yang kini sedang berdiri dengan setia di balkon kamarnya. Sambil... menatap langit-langit di malam hari, dengan sangat indah dan tersenyum.
Lelaki itu tersenyum kecil, sambil mengingat semua perlakuan seorang gadis yang tidak pernah menyerah atas semua perlakuan kasar dari dirinya.
"Lu tahu? Lu adalah seorang gadis yang kedua untuk ingin sekali mendapatkan perasaan gue ini, selain Dasa."
Tiba-tiba, senyuman kecil itu berubah dengan senyuman lirih. "Mungkin benar, perlakuan gue terhadap lu terlalu kasar. Tapi! Gue lakuin hal itu untuk kebaikan lu juga, karena gue masih belum bisa melupakannya." Gumamnya dengan lirih.
Dengan sangat sempurna... angin yang berhembus kencang, mampu membuat rambut hitam lekat itu tersentuh oleh hembusan angin di malam hari.
Rembulan yang menjadi saksi mata seorang lelaki yang selalu bersikap kasar, dan dingin di depan semua orang. Kini... Lelaki itu dengan senang hati menunjukkan dirinya yang lemah, terhadap sebuah rembulan dan bintang-bintang yang menjadi saksi. Kalau, lelaki itu sangat-sangat lemah.
Lelaki itu mulai berjalan ke arah kamarnya, dan membuka sebuah laci yang di penuhi dengan cokelat, surat, permen, kaos kaki, kue cokelat, sapu tangan, gantungan kunci, dll. Itu semua adalah sebuah barang yang dia tolak dan dia ambil kembali ke dalam sampah.
Dirinya tersenyum sinis, sambil membaca semua surat yang ada tulisan :
Untuk seorang pangeran balok es yang Asa sayangi.
^^^"Mungkin, ini adalah pertama kalinya Asa menulis surat cinta untuk seseorang lelaki, dan Kak Alga harus bersyukur itu.^^^
^^^Karena ... Perasaan Asa hanya untuk kak **Alga seorang**, sampai kapan pun itu tidak akan pernah berubah untuk selamanya."^^^
^^^Dari bidadari cantik untuk pangeran Alga.^^^
Yah, surat itu adalah dari seorang gadis manis yang selalu tersenyum. Walaupun dirinya selalu di perlakukan kasar oleh seorang lelaki bernama Algasa Adistia Renanda. Dirinya tidak pernah menyerah untuk selalu memperjuangkan seorang yang sangat Asa sayangi.
"Da, lu tahu nggak? Ternyata, masih ada gadis yang polos seperti lu, untuk mendapatkan perasaan laki-laki yang lemah seperti gue." Gumamnya dengan lirih, sambil menatap seluruh isi di dalam lacinya yang penuh.
Apa yang kalian pikirkan tentang Alga? Apakah, kalian salah memikirkan dirinya selama ini? Karena, Alga bukanlah seorang lelaki yang kasar, seperti yang kalian pikirkan? Kalian tertipu ternyata, karena tidak semua orang itu jahat atas semua perilakunya selama ini.
Kini, Alga mulai meletakkan kembali semua surat ke dalam laci dan mulai menguncinya dengan kunci yang tanpa harus dikasih ke orang lain.
Alga mulai menghela nafasnya dengan berat, "Kalau, misalnya, janji yang pernah gue buat bersama lu, dan janji itu gue melanggarnya bagaimana? Apakah, lu akan marah sama gue?" Tanyanya kepada sebuah foto di galeri handphonenya.
__ADS_1
Seorang gadis yang sedang tersenyum manis, sambil memeluk erat sebuah boneka badut di dekatnya. Mungkin, itu adalah masalalu yang sangat indah bagi Alga dengan'nya.
Janji? Kita boleh melanggarnya kok. Kalau, dianya aja tidak menempati semua janjinya kepada kita. Masih berharap? Dia udah ada yang punya say ....
Berbeda dengan seorang gadis manis yang masih setia berada di balkon kamarnya, Asa mulai duduk di salah satu sebuah bangku berwarna hitam di dekat balkon kamarnya, ditemanin oleh sebuah boneka panda ke sayangan'nya.
Asa tersenyum lirih, "Bulan, kapan? Pangeran yang Asa sayangi mulai menyayangi Asa juga? Apakah, Asa harus menunggu dirinya sampai Asa menjadi nenek? Atau sampai akhir hembusan nafas Asa di dunia ini, baru Kak Alga akan sadar?" Gumamnya, sambil menatap wajah rembulan dengan nanar.
"Bulan tahu nggak? Kata orang, Asa itu hatinya seperti besi yang tidak pernah sakit mendengar, dan menghadapi perlakuan kasar dari Kak Alga,"
"Padahal, di dalam perasaan Asa yang paling dalam. Perasaan, Asa sangat terluka dan ingin menangis. Tapi, itu semua Asa tahan seorang diri," curhatnya kepada sebuah rembulan, dan bintang-bintang.
Malam ini, sebuah rembulan dan bintang mulai menjadi saksi perjuangan seorang gadis, yang sama sekali tidak terbalas perasaannya.
Tapi! Padahal perasaan seorang lelaki yang kini dirinya perjuangan saja masih belum peka. Sebenarnya hatinya itu untuk siapa? Apakah, untuk masalalunya? Atau masa sekarangnya?
Asa yang mulai berat matanya, dirinya mulai berjalan memasuki kamarnya, dan tersenyum hangat terakhir kalinya kepada rembulan.
"Semangat! Besok adalah hari dimana Asa, harus memperjuangkan perasaan Asa lagi!" Ucapnya dengan semangat.
...•••••••••...
Pagi hari yang sangat tidak mendukung untuk seorang gadis bernama Asalina Hyena. Kini, dirinya harus terjebak di antara sebuah tetesan air hujan yang turun dengan sangat derasnya.
Asa hanya bisa mengamati jalan raya yang banyak dilalui lalang. Ntah, kenapa ada seseorang yang mulai mendekati dirinya, dengan sangat bikin Asa tidak nyaman. Tapi! Asa hanya berfikiran positif thinking saja, karena ini tempat umum apalagi sekarang hujan turun dengan deras, pasti semua orang pada menumpang teduh.
Seketika, ada suara bisikan dari seorang lelaki yang berdiri di belakangnya. "Lu bodoh, yah? Apa, lu nggak tahu kalau seperti ini kebanyakan orang yang ingin mencari kesempatan dalam kesempitan." Bisiknya dengan dingin.
Asa mulai mendongakkan kepalanya, dan menatap seorang lelaki yang dirinya sangat kenal. Tidak sengaja, tatapan mereka berdua pun bertemu satu sama lain.
"Kalau hujan kayak gini, lebih baik lu naik angkot yang lewat, daripada harus menunggu disini." ujarnya dengan datar.
Kini, dirinya mulai melepaskan jaketnya, dan menaruhnya untuk menutupi kepalanya Asa.
"Ikut gue," pintanya dingin.
Asa yang di tarik begitu saja, dirinya hanya bisa mengikuti langkah lelaki itu, hari ini dirinya bisa mensejajarkan langkahnya di belakang seorang lelaki yang menariknya.
Lelaki itu mulai membuka pintu penumpang mobilnya, dan menyuruh Asa masuk ke dalamnya. Dirinya, tidak peduli dengan keadaannya sekarang yang sudah basah kuyup banget.
"Masuk," suruhnya dengan datar.
__ADS_1
Asa menatap wajah lelaki itu dengan heran. Karena, tidak biasanya lelaki itu bersikap seperti ini! Yah, laki-laki itu adalah Algasa Adistia Renanda.
"Tenang, nggak akan gue makan, kok!" ujarnya dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan Alga, dirinya mulai memasuki mobil, dengan aroma yang sangat sejuk dikedua hidungnya, mampu membuat suasana Asa mulai menjadi tenang.
Alga yang melihat gadis itu telah masuk ke dalam mobilnya, dirinya mulai memutari depan mobilnya, dan masuk ke dalamnya.
Alga mulai membuka bajunya, dan itu mampu membuat Asa berteriak dengan histeris.
"ARRRGGGHHH! KAK ALGA MAU NGAPAIN? JANGAN MACAM-MACAM SAMA ASA!" Teriak Asa dengan kencang, sambil menutupi kedua matanya, dengan menggunakan kedua tangannya.
Alga yang mendengar teriakkan gadis di hadapannya, kini dirinya tersenyum sinis.
Alga mulai mendekati Asa. Mungkin, suara detak jantung lelaki itu sangat terdengar jelas oleh kedua telinga Asa.
"Kak Alga! Jangan dekatin Asa," pinta'nya sekali lagi memohon.
Alga mulai menggelengkan kepalanya, dirinya tersenyum kecil, karena melihat tingkah gadis di hadapannya.
"Lu belum pernah naik mobil? Gue cuma mau bantuin lu aja, pasang sabuk pengaman buat lu." Jelasnya dengan tegas, sambil memasangkan sabuk pengaman kepada Asa.
Asa yang mendengar itu, dirinya langsung mendorong tubuh Alga dengan kasar.
"Lu berani dorong–"
"Terus! Kenapa, Kak Alga malah buka baju?" Tanya Asa pelan, sambil masih menutupi kedua matanya.
Alga mulai memberi sebuah baju kering di hadapan Asa, "Gue mau ganti baju! Nggak mungkin gue ke sekolah pakai baju yang basah, yang ada nanti gue di sangka, habis nyebur dimana lu, Ga?" Ujarnya, sambil mengikuti gaya bahasa temannya.
Asa yang mendengar penjelasan Alga, dirinya mulai malu sendiri. Karena, dirinya telah salah paham dengan lelaki di sampingnya.
Alga yang masih melihat tingkah gadis di hadapannya kini, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan menyalakan mesin mobilnya.
"Gue sudah selesai! Nggak usah di tutup juga kali. Tenang, gue nggak akan pernah suka sama model tubuh seperti lu, yang kurang gizi dan seperti triplek papan kayu. Ini gue bukan sindir lu, tapi muji lu." Ujarnya dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan lelaki di sampingnya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Muji kok kayak sindiran? Kalau mau muji itu kayak gini!" Ucapnya dengan terpotong, setelah itu dirinya mulai mengikuti gaya bicara lelaki di sampingnya. "Asa Lu cantik, yah? Mau nggak lu jadi pacar gue? Begitu muji!" Jelasnya dengan kesal.
Alga yang mendengarnya pun mulai merasa ingin muntah, "Itu kemauan lu, kalau gue bilang kayak gitu, lu malah langsung tambah nggak waras lagi." Jelasnya dengan emosi.
__ADS_1
Asa yang mendengar perkataan jelek mengarah kepada dirinya, Asa mulai menghela nafasnya dengan kesal, "Terserah, Kak Alga saja!" Ucapnya dengan pasrah.
Kini, di dalam mobil hanya sebuah ke heningan, yang hanya terdengar sebuah alunan musik yang menemani mereka berdua.