
Hari yang mulai terlihat sore, dengan matahari yang mulai terlihat menyembunyikan kehangatannya saat ini di balik sebuah awan yang mulai terlihat mendung.
Putra yang sedang mondar-mandir di depan pintu kelas seorang gadis yang kini dirinya tunggu sedari tadi, akhirnya pintu pun mulai terbuka lebar di hadapannya, dan terdapat seorang gadis yang sedang berjalan mengikuti wali kelasnya di belakang.
Nanda yang melihat seorang laki-laki di depan kelasnya, dirinya mulai menatap wajah Asa dengan bertanya.
"Sa? Lu sudah ganti cowok?" Tanya Nanda kepada Asa.
Asa yang mendengar perkataan dari Nanda, dirinya mulai menatap ke arah tatapan Nanda, dan dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Kagak, lagi pula Asa orangnya setia kok!" Jawab Asa dengan tegas dan melewati Putra begitu saja.
Putra yang melihat tingkah gadis sahabatnya, dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, dan mengikuti Asa dari belakang punggungnya.
Berbeda dengan kedua gadis tersebut, yang merasa risih di ikuti oleh lelaki di belakangnya. Asa yang tidak terima diperlakukan seperti layaknya seorang tawanan, dirinya mulai membalikkan badannya, dan menatap wajah lelaki di hadapannya dengan ketus.
"Kak Putra ngapain sih, ikutin Asa dan Nanda dari tadi?" Tanya Asa dengan kesal.
Tatapan mereka berdua pun bertemu satu sama lain, Putra hanya bisa menghela nafasnya dengan berat tanpa harus membuka suaranya, dirinya mulai memegang pergelangan tangan Asa dengan erat.
"Gue anterin lu pulang!" Ucapnya datar dan menarik Asa untuk mengikuti dirinya.
Asa yang ditarik begitu saja, dirinya hanya bisa memberontak atas apa yang dilakukan oleh Putra kepadanya, dan akhirnya cengkeraman pun mulai terlepas di area parkiran, yang dimana motornya Putra terpakir dengan rapih.
Asa yang melihat Putra sibuk dengan kegiatannya sendiri, dirinya mulai mengambil beberapa langkah besar untuk meninggalkan laki-laki itu sendirian. Tapi niatnya dihalangin oleh sebuah tangan yang menarik tasnya dengan kuat.
"Lu bisa menurut sedikit nggak? Dikasih tahu, gue yang bakalan antarin lu pulang!" Ujarnya dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari Putra, dirinya mulai membalikkan badannya, dan menatap wajah Putra dengan bengis.
"Asa mau pulang sendiri, lagi pula—"
"Asalina Hyena, ijinkan gue menjadi sebuah bayangan lu yang selalu mengikuti kemana langkah lu tersebut!" Ucap Putra dengan penekanan.
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya mulai tersenyum kecil.
"Asa nggak pernah menyangka, bahwa Kak Putra bakalan merebut Asa dari Kak Alga—"
__ADS_1
"Siapa yang mau rebut lu, Sa? Lu bukan selera gue dari atas sampai bawah sekali pun, tidak ada yang menarik dari tubuh lu!" Jelasnya dengan dingin.
"Kalau lu nggak mau naik, gue bakal tinggalin lu disini sendirian, dan bahkan memberi tahu kepada Alga bahwa lu menolak tawaran gue barusan!" Ancamnya dengan senyuman kecil.
Asa yang mendengar nama Alga dibawa-bawa, dirinya mulai menatap Putra dengan helaan nafas berat, dan dengan bendera merah yang sudah dikibarkan.
"Terus? Bagaimana cara Asa bisa naik motor Kak Putra?" Tanya Asa heran.
"Seperti biasa lu naik motornya Alga, jangan bilang lu mau gue gendong? Gue bukannya Alga yang bakalan mau saja mengabulkan semua keinginan lu!" Jelas Putra dengan datar.
"Lagi pula, siapa yang mau minta di gendong sama Kak Putra?" Ucap Asa dengan gemash.
"Terus maksud lu apaan, barusan?" Tanya Putra dengan perkataan Asa barusan.
Asa menghela nafasnya dengan berat. "Kak Putra nggak peka, beda sama Kak Alga!" Ucap Asa dengan menghentakkan kakinya.
Putra yang mendengar perkataan dari gadis di hadapannya, dirinya mulai menatap seluruh tubuh Asa dari atas sampai bawah, dan menghela nafasnya dengan berat.
"Nih! Dan satu lagi gue jelaskan ke lu, kalau gue bukannya Alga orang yang sangat lu cintai itu!" Jelasnya dengan datar.
Asa yang menerima lemparan jaket di wajahnya dengan kasar, dirinya hanya bisa mendengus apa yang dilakukan oleh lelaki di hadapannya sekarang.
"Kalau sudah selesai, buruan naik! Gue nggak ada waktu buat ngurusin lu seorang saja!" Jelasnya dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari Putra, dirinya pun mulai menaiki motor sport tersebut dengan helaan nafas yang memburu.
Asa yang melihat Putra memakai helm, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Terus, Asa nggak pakai helm gitu? Kata bunda kalau kita—"
Perkataan Asa pun terpotong dengan sangat cepat, oleh perkataan seorang laki-laki yang tidak ingin mendengarkan ceramah dari gadis di belakangnya sekarang.
"Ternyata seperti ini yah, ketika Alga bersama lu? Sungguh, gue sebentar saja bersama lu sudah bikin kepala gue sakit tujuh keliling." Ucap Putra dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari Putra, dirinya tersenyum kecil. "Biarin saja, yang penting Kak Putra jangan sampai suka sama Asa, seperti Kak Alga menyukai Asa saat ini." Jelasnya dengan senyuman kecil.
Putra yang mendengar perkataan dari gadis di belakangnya, dirinya mulai merinding sendiri.
__ADS_1
"Amit-amit gue suka sama lu, dah! Sekarang saja gue nggak tertahan sama bawel lu, apalagi setiap harinya? Bikin umur gue bakalan cepat pendek nantinya." Ucap Putra dengan datar.
"Kalau Kak Putra nggak mau Asa bawel, besok-besok Kak Putra bawa mobil jangan motor mulu!" Saran Asa dengan cepat dirinya memakai helm di kepalanya.
"Lu kira, gue supir lu? Atau kekasih lu gitu, yang akan selalu mendengarkan suara cempreng lu itu?" Ketus Putra.
"Yaudah kalau gitu mah, berarti Kak Putra harus mau mendengarkan suara cempreng Asa setiap hari, bukannya Kak Putra bilang akan selalu menjadi bayangan Asa?"
Putra yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Terserah lu dah, gue nyerah!"
"Secepat itukah? Kak Putra menyerah dengan Asa?" Tanya Asa sambil menatap wajah Putra dibalik spion.
"Lu mau pulang nggak, atau masih terus bicara disini?" Tanya Putra balik dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari Putra, dirinya mulai terdiam membisu, "Yaudah, jalan!" Ucap Asa dengan kesal.
Putra hanya diam, tanpa menyalakan mesin motornya. Sedangkan, Asa yang melihat tingkah laki-laki dihadapannya, dirinya hanya menatap dengan wajah heran dan bertanya.
"Katanya mau pulang, kok malah diam?" Tanya Asa dengan heran.
Putra menghela nafasnya dengan berat, "Peluk gue!" Ucapnya dengan penekanan.
Asa yang mendengar perkataan dari Putra, dirinya terlihat heran dan tersenyum jahil.
"Katanya, Asa bukan selera Kak Putra. Tapi, Kak Putra malah pengen Asa peluk Kak Putra?" Ucap Asa dengan tertawa kecil.
Putra yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan menyalakan mesin motornya.
"Terserah lu dah, gue hanya kasih tahu itu semua buat kebaikan lu doang, bukannya gue malah disangka mengambil kesempatan dalam kesempitan." Jelasnya dengan datar, dan dengan mesin motor yang mulai berjalan meninggalkan halaman sekolah.
Angin yang mulai berhembus dengan sangat sempurna, mampu menampar helaian rambut kedua kejora di sore hari ini.
Sedangkan, Asa yang tidak tertahan atas cara Putra mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, dirinya pun mulai memeluk Putra dengan sangat kencang.
Berbeda dengan seorang laki-laki yang sedang fokus pada jalanan, dirinya sekilas menatap sebuah pergelangan tangan yang memeluk lingkaran pinggangnya dengan sangat erat, sesekali dirinya mulai menatap wajah seorang gadis di belakangnya di balik spion motornya.
__ADS_1
Ntah kenapa, tanpa Putra ketahui, sebuah ukiran senyuman mulai terukir di wajahnya saat ini. Karena perlakuan seorang gadis yang sedang memeluk dirinya, itu mampu membuat perasaannya bergetar dengan sangat aneh.
Angin sore yang berhembus dengan sangat sempurna, mampu menampar kedua kejora saat ini. Kedua kejora yang memiliki sebuah pikiran dan perasaan masing-masing saat ini. Ntahlah, hanya mereka yang mengetahui apa yang mereka rasakan saat sore hari ini.