
"Gue monster, Sa. Lu pasti terkejut melihat wujud rupa gue yang kayak gini? Berbeda dengan seorang lelaki seperti Alga yang selalu lu perjuangkan sampai detik ini."
"Mungkin, nama gue memang sangat indah. Tapi kalau lu melihat kondisi gue saat ini, lu mungkin akan menarik semua perkataan indah yang lu lontarkan barusan tentang gue." Jelasnya dengan senyuman kecil di wajahnya.
Asa yang mendengar perkataan dari seorang lelaki di hadapannya saat ini. Dirinya tersenyum lirih saat mendengar sebuah kalimat nama seorang lelaki yang telah dirinya sakiti saat ini.
"Asa menyukai Kak Alga bukan karena popularitasnya, maupun dengan ketampanan yang di miliki olehnya." Ujar Asa dengan helaan nafas yang berat.
Asa pun mulai beralih menatap seorang lelaki di hadapannya, Sky.
"Asa memperjuangkan Kak Alga sampai detik ini, itu semua karena Asa sangat ingin selalu bersamanya–"
"Sekali pun orang yang Asa sayangi tidak sempurna. Asa akan mengisi kehidupannya, dan menyempurnakan seluruh kehidupannya." Jelas Asa dengan senyuman manisnya.
Sky yang mendengar setiap lontaran tersebut, dirinya mulai tersenyum.
"Terkadang, seseorang pasti bakalan iri dengan kesempurnaan yang di dapatkan oleh orang lain." Ujar Sky dengan helaan berat.
Sky pun mulai menutupi kembali wajahnya dengan masker. "Sayangnya, pertemuan kita saat ini akan berakhir sampai disini." Ucapnya dengan senyuman, dan mulai mengusap puncak rambut Asa.
Sedangkan, disatu sisi ada seorang lelaki yang sedari tadi memperhatikan setiap pemandangan di hadapannya saat ini.
Tok! Tok!
Kedua kejora yang sedari tadi fokus dengan alamnya, mereka pun di kagetkan oleh kedatangan seseorang di balik pintu.
"Kayaknya gue ganggu kalian berdua, yah?" Tanyanya dengan senyuman sinis.
Asa yang mendengar perkataan dari lelaki di hadapannya. Ntah kenapa, bibirnya mulai membisu.
Sky yang melihat hal itu, dirinya mulai berjalan meninggalkan UKS dengan langkah besar.
"Urusan gue sudah selesai, kalau lu mau bicara sama dia, silahkan." Jelas Sky dengan datar.
__ADS_1
Alga yang sudah memastikan hanya ada mereka berdua, dirinya mulai mendekati dimana seorang gadis yang sudah sangat berarti bagi kehidupannya.
"Masih marah, hmm?" Tanya Alga dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari seorang lelaki di sampingnya sekarang. Ntah kenapa, hatinya mulai berdegup dengan sangat cepat.
"Sebenarnya, salah gue apa? Sampai-sampai, lu mulai menjauh dari gue?" Tanya Alga dengan berat.
"Kak Alga nggak salah apa-apa, kok!"
Alga tersenyum kecil. "Lu bilang nggak salah apa-apa? Terus kenapa lu malah menjauh dari gue? Apa karena lu sudah berhasil membuat perasaan gue ini untuk lu seorang?" Tanya Alga sekali lagi.
Alga yang melihat Asa terdiam membisu. Dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan tersenyum kecil.
"Kalau ini yang lu mau, gue akan kabulkan semua permintaan lu, karena gue nggak mau memaksakan seseorang untuk mencintai diri gue."
"Gue akan kabulkan semua permintaan lu! Seperti yang gue pernah bilang ke lu, gue akan lakukan apa pun itu untuk seorang yang gue sayangi, walaupun itu sangat berat untuk gue. Tapi demi kebahagiaan lu, gue akan berusaha untuk melupakan diri lu mulai detik ini." Ucap Alga dengan helaan nafas berat.
Alga pun menatap wajah gadis di hadapannya, dan dirinya pun mulai mengusap puncak rambut Asa dengan lembut.
Asa yang mendengar setiap lontaran kalimat tersebut, ntah kenapa, ada sesuatu yang sangat sakit menusuk belahan jantungnya.
Ntah kenapa, kini kedua bibirnya mulai mengucapkan sebuah kalimat bodoh di hadapan seorang lelaki yang sangat dirinya cintai.
"Kenapa? Kenapa, Kak Alga nggak berjuang untuk mendapatkan perasaan Asa kembali?" Ucap Asa dengan bodohnya.
Alga yang mendengar lontaran kalimat tersebut, dirinya mulai terlihat heran.
"Hah? Maksudnya gimana?" Tanya Alga dengan heran.
"Sebenarnya, Kak Alga itu sayang nggak, sih, sama Asa?" Tanya Asa dengan kesal, dan menatap kedua manik mata tajam seorang lelaki di hadapannya sekarang.
Alga pun mulai berfikir sejenak, dan mulai mencubit kedua pipi Asa dengan gemas.
__ADS_1
"Berapa kali gue bilang ke lu, disaat gue mulai sayang sama lu, disaat itu pula gue akan memberi tahu lu, dan perasaan gue, waktu itu gue sudah pernah bilang ke lu tentang perasaan gue." Jelas Alga dengan senyuman kecil.
"Perasaan nggak tuh, Asa sudah lupa."
"Lupa atau nggak sengaja dilupain? Biar gue ngungkapin perasaan ini sekali lagi ke lu?" Ujar Alga dengan tertawa lebar.
Jujur, baru pertama kalinya Asa melihat Alga tertawa lebar seperti ini di hadapannya. Asa pun mulai tersenyum kecil.
"Buat seorang gadis yang gue sayangi saat ini. Mungkin dulu gue memang selalu berperilaku kasar ke lu, tapi ntah kenapa, perasaan gue ini hanya untuk lu seorang–"
"Gue sadar, hidup gue tanpa kehadiranmu itu berasa ada yang kurang, bahkan gue nggak ingin menjauh dari diri lu. Ada satu hal yang ingin gue minta dari lu, Sa?" Jelas Alga dengan menatap kedua manik mata Asa dengan hangat.
"Apa?"
Alga tersenyum kecil, "Gue ingin, lu selalu ada di setiap langkah yang gue ambil, kalau bisa sampai maut memisahkan kita." Jelas Alga dengan suara tegasnya.
"Sumpah, dialog Kak Alga bagus banget, Asa sampai terharu dan baper." Ujar Asa dengan tertawa kecil.
"Gue nggak bercanda, Sa! Gue lagi serius saat ini, jika lu ingin gue memperjuangkan kembali lu, gue akan lakukan itu-"
"Tapi! Kalau lu sudah mulai nggak ada rasa sama gue, gue mohon lu bilang jujur ke gue. Karena, gue nggak mau orang yang sangat gue sayangi tidak bahagia bila bersama gue." Jelas Alga dengan helaan berat.
Asa yang mendengar setiap kalimat lontaran tersebut, dirinya mulai mengingat semua kejadian saat dimana dia tekad ingin menjauh dari lelaki di hadapannya kini.
"Apa lu marah, karena gue pergi tanpa kasih kabar ke lu? Gue pergi karena Dasa harus di rawat ke Singapore, makanya itu gue nggak pernah ada bersama lu–"
"Tapi! Kalau boleh jujur, selama gue pergi menemani setiap perawatan Dasa, hanya lu seorang yang gue rindukan. Akhirnya, gue pun mulai kembali ke Jakarta, dan gue nggak paham, tiba-tiba lu malah menjauh dari gue." Jelasnya dengan suara rendah.
"Terus, kenapa di mobil Kak Alga ada sebuah anting, gelang couple, bahkan yang lainnya?" Tanya Asa dengan berat.
"Gelang couple itu buat lu, Sa! Anting dan yang lainnya itu milik Bunda gue, karena waktu itu gue nganterin dia. Segitunya 'kah? lu nggak percaya sama gue? Gue nggak akan melakukan sesuatu yang bikin perasaan orang yang gue sayangi terluka." Jelas Alga dengan penekanan.
Asa yang mendengar setiap lontaran tersebut, dirinya mulai merasa bersalah.
__ADS_1
"Sekarang gue sudah jujur ke lu, apa lu masih marah sama gue? Apa lu masih ingin menjauhi gue?" Tanya Alga dengan tatapan tajam.
"Maafin Asa, Kak."