ALGASA

ALGASA
Chapter 22


__ADS_3

"Setiap orang pasti mempunyai masalalu masing-masing. Tapi! Ketika masalalu itu datang menghampiri kehidupan kita sekarang bagaimana? Apakah, kita akan siap menerimanya? Atau malah memilih ke masalalu lagi?"


...•••••••...


Pagi ini adalah sebuah saksi untuk kedua kejora yang berlain jenis. Masing-masing mereka mempunyai perasaan sendiri, yang disatu sisi masih bingung dengan perasaannya dan yang satu kini sedang mengamati seseorang yang dirinya cintai dibalik kaca spion.


Alga yang menyadari dirinya dilihat dari tadi oleh gadis yang kini terdiam dengan pelukan erat yang melingkar di pinggangnya.


"Jangan curi pandang sama gue, beribu cara lu mencuri pandang lewat spion percuma saja, Sa!" Jelasnya dengan datar, sambil teriak sedikit karena jalanan mulai terasa ramai.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menatap ke arah lain.


"Asa cuma heran saja. Kenapa? Kak Alga malah bersikap tidak seperti biasanya ke Asa?" Tanya Asa yang mulai merasa penasaran dengan lelaki di hadapannya.


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai menatap ke arah spion untuk menatap wajah Asa yang sedang intimidasi dirinya.


"Ntahlah, Sa! Gue juga nggak tahu perasaan gue ini seperti apa? Tapi! Gue hanya tahu satu hal, gue nggak mau lu pergi dari kehidupan gue!"


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.


"Terus ... Kak Alga menganggap Asa seperti apa?Kekasih? Atau apa?" Tanya Asa sekali lagi.


"Nggak semuanya, Sa!"


"Terus, Asa dianggap apa oleh Kak Alga? Asa emang suka sama Kak Alga. Tapi! Kalau Kak Alga caranya kayak gini, lebih baik Asa saja yang berjuang dan Kak Alga bersikap biasanya saja!"


"Asa juga nggak apa-apa kok. Asa hanya ingin biar Kak Alga merasakan apa yang Asa rasakan, bukannya seperti ini Kak! Asa nggak perlu kasihan dari Kak Alga ..." Jelas Asa yang mulai melonggarkan pelukannya kepada Alga, dan mulai menatap ke arah lain lagi.


Sedangkan, Alga yang mendengar semua penjelasan yang dilontarkan oleh Asa. Dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.


"Maafin gue, Sa–"


"Kak Alga nggak perlu minta maaf kok! Asa yang salah disini, nggak seharusnya Asa merasakan kebahagiaan atas semua perbuatan hangat Kak Alga ..."


"Asa yang bodoh disini, seharusnya Asa mengerti satu hal tentang perasaan Kak Alga. Kalau, Kak Alga sama sekali tidak pernah merasakan apa yang Asa rasakan selama ini!"


"Bukan itu, Sa–"


"Kak Alga turunin Asa disini saja, jarak sekolah juga mau dekat kok! Nggak enak sama teman satu sekolah, nanti mereka mikir-mikir kalau Asa ada hubungan lagi sama Kak Alga–"

__ADS_1


"Biarin, Sa! Biar semuanya tahu kalau gue sudah ada rasa sama lu!"


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai terdiam sebentar. Sesak sekali rasanya bila orang yang kita sayangi tidak pernah mengakui diri kita, sebenarnya laki-laki di depannya ini mempunyai rasa yang sama nggak sih?


"Tapi! Gue butuh waktu, Sa! Gue nggak mau mengambil keputusan yang mampu membuat lu sedih, Sa!" Ujarnya dengan datar.


"Jadi, gue mohon sama lu. Kasih gue waktu, Sa!"


"Asa akan tunggu Kak Alga selalu kok. Tapi! Asa berharap supaya Kak Alga tidak memberikan sebuah jawaban yang bisa menyakiti perasaan Asa!" Ucap Asa dengan lirih.


Deg!


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai melamun sebentar. Kini, pikirannya dan perasaannya mulai berjalan ke masalalu yang dimana dirinya bersama dengan seseorang yang sangat dia cintai.


"Apakah gue harus menggantikan posisinya? Gue harap, gue nggak akan menyakiti perasaan diantara mereka berdua nantinya!" Batin Alga dengan lirih.


Asa yang melihat tingkah laki-laki di hadapannya, dirinya menghela nafasnya dengan berat, dan tersenyum kecil.


"Asa tahu Kak ... sampai kapan pun, Asa tidak akan pernah bisa menggantikan posisi yang ada di masalalu Kak Alga. Seberapa pun usaha Asa untuk mendapatkan Kak Alga!" Batin Asa yang mulai terasa kedua matanya terasa panas.


Kini, kedua kejora tersebut sama sekali tidak membuka suaranya sama sekali. Hanya sebuah angin yang menemani keheningan diantara mereka berdua.


Motor sport mulai berhenti dikalangan area parkiran sekolah, Alga mulai memakirkan motornya dengan rapih, dan membuka helm full facenya.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai mengikuti perkataan dari Alga.


"Makasih, Kak Alga!" Ucapnya dengan senyuman manis, sambil memberikan semua barang yang bukan miliknya kepada Alga.


Alga hanya menatap wajah Asa dengan datar, tanpa senyuman sedikit pun.


"Gue akan usahakan, Sa!" Ucapnya dengan datar, setelah itu dirinya mulai meninggalkan Asa sendirian di area parkiran.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya hanya mematung di tempatnya, dan tersenyum kecil.


"Asa tunggu, Kak!" Gumamnya dengan pelan.


......••••••......


Disatu sisi ... sebuah ruangan yang dipenuhi oleh warna putih, dan bau obat yang sangat melekat di ruangan rawat seorang gadis cantik yang selalu berusaha untuk mengatasi semua penyakit kanker yang dialaminya beberapa bulan ini.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana dengan keadaan anak perempuan saya Dok. Hendri?" Tanya seorang wanita paruh baya bernama Lusi.


Dok. Hendri mulai menatap ke arah seorang gadis yang kini sedang menikmati keindahan dan hembusan di pagi hari yang mampu membuat perasaannya sangat lega.


Dengan Angin yang menghembuskan setiap helaian rambutnya, mampu membuat gadis cantik itu tersenyum dengan keindahan yang diberikan oleh tuhan.


"Alhamdulillah, setelah saya mengamati lagi. Kondisi anak perempuan ibu saat ini sangat normal dan stabil. Bahkan, anak ibu bisa seperti seorang gadis pada umumnya, yang mengikuti kegiatan sekolah." Jelasnya dengan tegas.


"Alhamdulillah, makasih yah Dok. Hendri." Ucap Lusi dengan sangat bahagia atas kabarnya.


"Asal kondisi tubuhnya jangan terlalu lelah ataupun melakukan kegiatan yang sangat besar!" Tegasnya.


"Baik, sekali lagi saya sangat terimakasih kepada Dok. Hendri!" Ucap Lusi sekali lagi.


"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi untuk periksa keadaan pasien lainnya!" Ucap Dok. Hendri dengan ramah, setelah itu dirinya mulai meninggalkan ruangan tersebut.


Lusi pun mulai mendekati anak perempuan kesayangannya, dirinya mulai berdiri di samping gadis itu, dan mengelus rambutnya dengan pelan.


"Kamu dengarkan, Nak? Kata dokter kamu boleh melakukan kegiatan apapun itu, asal jangan sampai membuat kondisi kamu lemah!" Jelas Lusi kepada anak gadisnya.


Gadis tersebut mengangguk'kan kepalanya, "Berarti, aku boleh minta sesuatu ke mama?" Ujarnya dengan senyuman pucat yang terukir diwajahnya.


"Apa itu, Nak? Pasti mama akan menuruti keinginan kamu!" Tanya Lusi yang mulai merasa penasaran apa yang diinginkan oleh anaknya.


"Aku hanya ingin minta, supaya aku sekolah bareng dengan Alga lagi mah!" Ucapnya dengan pelan.


"Kamu nggak salah? Selama kamu sakit, apakah dia ada disisi kamu? Dan menemani setiap perjuangan kamu itu? Nggak'kan?"


"Tapi! Alga waktu itu tidak mengerti apa-apa tentang apa yang dirasakan oleh Dasa! Dada yang salah disini, bukannya Alga!" Jelas Dasa dengan lirih.


"Pokoknya, Dasa hanya ingin melihat seseorang yang Dasa cintai! Dasa ingin bertemu dengan Alga, Dasa tidak ingin disaat nafas terakhir Dasa. Dasa tidak bisa melihat orang yang Dasa cintai!" Jelasnya yang mulai menatap kedua mata Lusi dengan penuh berharap.


"Baik, mama akan mengabulkan permintaan kamu. Asal, kamu harus berusaha sembuh!" Jelas Lusi dengan senyuman, yang dianggukin oleh Dasa dengan cepat.


"Iyaudah, mama akan minta surat untuk mengeluarkan kamu dari rumah sakit dulu." Jelasnya lagi dengan senyuman, dan mulai meninggalkan ruangan tersebut.


Dasa tersenyum, sambil menatap langit-langit dengan tatapan lembut.


"Dasa harap, Alga menepati semua janji-janji yang pernah Alga buat yah! Dasa akan berusaha disini untuk mengalahkan semua penyakit yang Dasa alami selama ini!"

__ADS_1


"Tunggu Dasa yah, karena Dasa tidak ingin nama ALGASA tidak sempurna tanpa kehadiran Dasa!" Gumamnya dengan lirih.


Next Selanjutnya ...


__ADS_2