
Tiga Minggu sudah berlalu, pukul 05.00 pagi saat ini. Seorang lelaki remaja yang memiliki ukiran wajah yang sempurna, dirinya masih menunggu seorang gadis di depan gerbang rumahnya.
"Itu gadis lupa atau gimana, sih? Sudah gue bilang, gue akan menggantikan posisi Alga untuk menjemput dia, disaat Alga tidak ada disini." Murkanya.
Lelaki yang memiliki wajah campuran tersebut, seluruh tubuhnya sudah mulai dikelilingi oleh para nyamuk centil untuk menjadi makanan mereka. Yah, lelaki campuran itu adalah Putra Mualan yang kini sedang menunggu seorang gadis, yang tidak kunjung datang menghampiri dirinya.
Putra pun mulai memasuki mobilnya, karena seluruh tubuhnya sudah tidak tahan menjadi makanan para nyamuk diluar sana. Sesekali, dirinya mulai menghela nafas beratnya, dan menatap rumah di hadapannya, yang masih terlihat sepi.
"Menyebalkan! Dikira gue supir pribadinya apa? Sampai-sampai, gue harus menunggu itu gadis beribuan Tahun?" Gumamnya.
Putra yang tidak sabaran atas perlakuan sang 'Matahari Kecil' milik sahabatnya, tidak kunjung datang menghampirinya sedari tadi. Dirinya mulai meraih handphonenya, dan meletakkan di dekat daun telinganya.
Truut ... Truut ...
Suara deringan ponsel masih terdengar dengan sangat setia diseberang sana. Tapi, tidak ada sebuah tanda-tanda panggilan tersebut akan diangkat sedari tadi. Putra pun mulai mengakhiri panggilan yang tidak ada gunanya itu, dan melemparkan benda pipih tersebut, ke arah tempat duduk penumpang di sampingnya.
Putra pun mulai melihat jam tangannya, pukul 6.30 dirinya menunggu seorang gadis sedari tadi. Sungguh, dirinya masih setia menunggu seorang gadis yang telah mempermainkan dirinya satu jam lebih.
Putra pun mulai memijit pelipisnya yang mulai terasa berat, ternyata seperti ini, kalau seorang lelaki menunggu sang gadis. Sangat membosankan! Pantas para lelaki selalu datang terlambat, dan para gadis yang menunggu kehadiran para lelakinya. Walaupun semua lelaki tidak seperti itu, sama halnya dengan Putra, dirinya tidak ingin melihat seorang gadis menunggu kehadirannya begitu lama, ataupun hanya semenit saja.
Seketika, sebuah ketukan mulai terdengar di kedua daun telinga Putra, dirinya pun mulai menurunkan kaca mobilnya, dan menatap seorang gadis manis yang sedang tersenyum sumringah ke arahnya.
"Kak Putra nungguin lama, yah?" Tanya Asa dengan antusias dan merasa bersalah.
Putra pun mulai menghela nafasnya dengan berat, dan menahan semua emosinya di hadapan seorang gadis yang masih berdiri di luar.
"Masuk!" Ujarnya dingin.
Asa yang mendengar perkataan dari Putra. Dirinya pun mulai memutari bagian mobilnya, dan mulai memasukinya dengan sangat sempurna.
Asa pun mulai menatap wajah datar lelaki disampingnya. "Kak Putra tumben terlihat ganteng hari ini, ada acara apaan?" Tanya Asa yang melihat penampilan Putra saat ini.
Putra pun menatap sekilas wajah Asa. "Perasaan, penampilan gue seperti biasa saja. Mungkin, lu baru menyadari bahwa gue lebih ganteng dari Alga." Jelasnya yang masih fokus ke depan.
Asa menghela nafasnya dengan berat. Sungguh baru juga di kasih kata manis, laki-laki di sampingnya langsung sudah percaya diri sekali.
__ADS_1
Putra yang melihat seorang gadis di sampingnya mulai terdiam membisu. Dirinya hanya tersenyum kecil, dan langsung fokus ke depan.
"Sa?" Panggil Putra.
"Hmm?"
"Kalau, misalnya ...." Putra pun mulai terdiam membisu, dan merutuki atas semua kebodohannya.
"Misalnya, apa?" Tanya Asa yang mendengar perkataan dari Putra.
Putra pun terdiam sejenak, mencerna semua perkataan sekaligus perasaannya, yang saat ini sedang tidak ingin berkerja sama sedikit pun olehnya.
"Misalnya ... kalau sebuah pertemuan yang sering berjumpa dengan seorang yang sama. Apakah, semua pertemuan itu, tidak akan ada perasaan yang lain?" Jelasnya dengan panjang lebar.
Asa yang mendengar perkataan dari Putra. Dirinya menggaruk bagian belakang kepalanya, yang sama sekali tidak gatal sedikit pun.
"Maksudnya, Kak Putra?" Tanya Asa yang sama sekali tidak paham.
Putra pun mulai menghela nafasnya dengan berat. "Kalau misalnya gue sudah mulai ada rasa sama lu, bagaimana?" Tanya Putra dengan datar sambil menatap wajah Asa yang terlihat heran.
"Hahaha, reaksi dari wajah lu itu kocak banget, Sa! Ngakak gue lihatnya!" jelasnya yang masih tertawa lebar.
Asa yang melihat laki-laki di hadapannya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Jadi, barusan Kak Putra cuma becanda, doang?" Tanya Asa.
"Ya-Iyalah. Berapa kali gue bilang, lu itu bukan tipe seorang gadis yang gue sukai. Emang lu pikir apaan?" Tanyanya balik.
"Yah ... Asa pikir, Kak Putra benaran ada rasa sama Asa?" Jawabnya dengan polos.
"Nggaklah, mana ada seperti itu!" Jelasnya dengan tegas.
Asa pun hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat, dan dirinya pun mulai beralih fokus menatap seluruh jalanan dari balik kaca mobil.
Putra yang merasa bisa bernafas lega. Dirinya pun mulai merutuki atas kebodohannya barusan.
__ADS_1
'Bodoh! Kenapa gue bisa bodoh banget, sih? Masa, iya? Gue harus merebut seorang gadis dari sahabat gue sendiri.' Batin Putra.
***
Sebuah mobil sport mewah mulai terparkir, memenuhi halaman pakiran SMA Universitas Bakti Nusa dengan sangat sempurna. Terdapat kedua sepasang insan yang kini keluar dari dalam mobil sport hitam tersebut.
Semua mata yang berada di area parkiran. Kini mereka semua menatap kedua insan tersebut, ada yang merasa iri atas perlakuan para lelaki yang terkenal di kalangan sekolahnya, dan ada juga yang muak atas sikap caper seorang gadis yang kini mereka lihat.
"Itu gadis, bukannya Asa, kan? Bukannya dia dekat sama Alga? Sekarang kok, malah bareng sama Putra, sih?"
"Ntahlah, mentang-mentang punya wajah cantik, jadi seenak jidat mau nempel kemana aja."
"Haish ... kalau gue jadi Alga atau yang lain, gue pasti akan juga suka sama itu gadis." Ujar Siswa yang ikut nimbrung.
Sebuah deruman motor sport ninja pun mulai terdengar saling bersautan satu sama lain. Putra yang melihat para sahabatnya, yang sedang memakirkan motornya dengan sempurna, dirinya mulai menghampiri para sahabatnya.
"Lu semua kapan balik? Kangen banget gue sumpah, sama lu pada!" Jelas Putra dengan cengiran kudanya.
Wisnu pun mulai menatap ke arah seorang gadis–Asa yang masih setia menunggu Putra. "Alga masih belum balik ke Indonesia?" Tanya Wisnu berbisik pelan.
Putra hanya menganggukkan kepalanya. "Begitulah? Sekarang gue yang harus menjadi supir pribadinya seorang gadis–Asalina Hyena." Jelasnya helaan berat.
BomBom pun hanya menganggukkan kepalanya. "Awas! Nanti lu malah naksir lagi sama itu gadis." Canda BomBom dengan cengiran.
"Yah, nggaklah—"
David pun mulai menepuk pundak sahabatnya dengan pelan. "Kita mana tahu cinta itu akan datang di dalam kehidupan kita? Mungkin saat ini belum, tapi kalau nanti? Kita nggak akan tahu, kapan cinta itu akan datang. Tapi gue harap, lu jangan ngambil jalan yang salah." Jelasnya datar, menatap ke arah Asa, dan pergi meninggalkan para sahabatnya ke arah kelas.
Wisnu yang melihat tingkah David barusan, dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. "Saran dari David benar juga. Sebisa mungkin, lu jangan sampai membuka perasaan lu untuk Asa!" Jelas Wisnu penekanan.
Putra yang ditinggal oleh para sahabatnya, berduaan dengan seorang gadis yang masih menunggunya, dirinya pun hanya terdiam membisu.
'Gue paham maksud lu pada. Karena ... lu pada tidak ingin gue seperti Dilan, yang menyukai satu orang yang sama, dan perasaan itu takutnya tidak akan pernah terbalas sampai kapan pun.' Batin Putra.
Putra menghela nafasnya panjang, menatap ke arah wajah Asa yang terlihat heran, dan dirinya mulai membuka langkahnya dengan langkah besar. Asa pun hanya mengikuti langkah Putra dengan setia di belakangnya, dan meninggalkan tempat parkiran.
__ADS_1