
Asa yang termenung di mejanya, dirinya berulang kali menghela nafasnya dengan berat dan memasang raut wajah kusutnya.
Semua perkataan yang dilontarkan oleh Alga waktu itu, seakan-akan mulai terulang kembali tanpa bisa dirinya pause.
^^^"Sa, kayaknya kita udahan aja hubungan kita saat ini."^^^
'Ke-kenapa? Kenapa Kak Alga bilang seperti itu ke Asa? Kak Alga pasti sedang becanda sama Asa, kan?'
^^^"Saat ini gue lagi nggak becanda, kayaknya perasaan gue ini sudah bukan milik lu lagi. Gue udah nggak suka sama lu lagi, Sa."^^^
^^^"Jadi, gue hanya berharap, lu bisa menjauhi gue dan mendapatkan yang lebih terbaik lagi selain gue. Karena gue nggak ingin berpisah dengan seseorang yang sangat gue sayangi dari dulu bahkan sampai sekarang."^^^
Asa pun mulai mengusap wajahnya dengan kasar dan beralih menatap ke arah benda pipihnya dengan nanar.
AsalinaHyena : "Apa Kak Alga baik-baik saja? Kenapa sebulan ini Kak Alga nggak pernah masuk ke sekolah? Bahkan, pas Asa ke kelas Kak Alga dan bertanya-tanya ke semua sahabat Kak Alga, mereka pada kagak tau dimana Kakak."
AsalinaHyena : "Kalau Kak Alga memang lagi sibuk dengan urusan Kakak, Asa akan selalu menunggu Kak Alga kok disini, sampai kapanpun itu."
AsalinaHyena : "Kak Alga jangan lupa makan yang teratur, yah? Walaupun Kak Alga lagi banyak kesibukan, Kak Alga harus menjaga kesehatan Kakak sendiri."
AsalinaHyena : "Kak Alga, Asa kangen:( Ini udah tiga bulan lebih Kak Alga tidak memberi kabar kepada Asa, bahkan ini juga udah tiga bulan lebih Asa tidak mendengarkan suara Kak Alga. Asa rindu semua tentang Kak Alga, tentang amarahnya Kak Alga kepada Asa waktu itu, dan tentang ceramahnya Kak Alga yang selalu bilang Asa seorang gadis yang bodoh."
AsalinaHyena : "Kak Alga nggak perlu khawatir, Asa disini baik-baik aja kok. Bahkan, pas Kak Alga kembali, Asa tidak akan pernah mengecewakan Kak Alga nantinya."
Asa yang melihat semua ketikan dirinya, kini sebuah senyuman lirih mulai terhias di wajahnya. Sakit, rasanya sakit banget di bagian dadanya, sulit sekali untuk dirinya bernafas dengan lega.
"Kak Alga, Asa kangen sama Kak Alga. Jika Kak Alga memang tidak bisa menyukai Asa kembali, Asa hanya ingin Kak Alga selalu ada di hadapan Asa." Dengan suara yang gemetar dan terisak-isak, kini sebuah air mata mulai terlihat jelas di kedua wajahnya. "Asa hanya ingin, melihat kehadiran Kak Alga di hadapan Asa. Walaupun perasaan Kak Alga sampai detik ini bukan untuk Asa, tapi biarlah Asa berjuang kembali untuk mendapatkan Kak Alga." lirihnya.
Yah, sejak kejadian waktu itu, Asa tidak pernah menyangka, bahwa dirinya tidak pernah mendengar suara berat seorang lelaki yang selalu bilang tidak pernah menyukainya, dan bahkan Asa pun tidak pernah menyangka, bahwa dirinya tidak akan pernah melihat wujud rupa dari seorang lelaki yang sangat dirinya sayangi sampai detik ini.
__ADS_1
Berbeda dengan seorang lelaki yang kini hanya menatap sebuah benda pipihnya dengan nanar, begitu banyak pesan masuk dari kontak yang masih tertulis 'Asa Matahariku' Yah, dirinya sama sekali tidak pernah membuka maupun merespon satupun pesan sama sekali.
Sungguh, sebuah badai yang menimpanya kali ini. Tiga bulan berlalu begitu dengan cepat, bukan maksudnya Alga pergi dan menghilang tanpa kabar begitu saja. Karena dirinya tahu satu hal, kalau dirinya menghilang tanpa kabar begitu saja, dirinya akan melukai sebuah perasaan yang sangat tulus kepadanya.
Alga pun mulai membaca 160 pesan dari seorang gadis yang mampu membuatnya tersenyum manis saat ini, sesekali dirinya menatap sebuah foto yang mampu membuatnya tertawa kecil.
"Udah 3 bulan berlalu gue nggak melihat senyuman manisnya. Kalau boleh jujur, gue juga kangen lu, Sa." Lirih Alga dengan helaan nafas beratnya.
Alga pun mulai menatap seluruh tubuhnya di sebuah cermin, dengan sebuah kursi roda dirinya mulai terlihat tidak sempurna seperti dulu lagi. Seorang lelaki remaja yang dulu selalu dipuja-puja oleh kaum hawa. Sekarang dirinya malah terlihat lemah dan hanya bisa mengandalkan sebuah kursi roda untuk membantu dirinya menjadi sandaran berjalan.
"Apa gue pantas, untuk mendapatkan seorang gadis manis seperti lu, Sa? Apa lu nggak akan malu, memiliki seorang lelaki yang tidak sempurna seperti gue saat ini? Karena gue yang sekarang berbeda dengan gue yang dulu, mungkin ketika lu mengetahui keadaan gue saat ini, lu akan menjauhi gue begitu saja, Sa."
"Bahkan, kalau lu memang menerima semua kondisi gue saat ini. Mungkin, gue yang tidak akan pernah bisa menerima kehadiran lu di samping gue. Karena gue nggak ingin melihat seorang yang gue sayangi merasa tersulit dengan keadaan gue saat ini." lirihnya.
Alga pun mulai mengetik sebuah pesan singkat dan pesan itu mampu membuat seorang diujung sana mati rasa.
AlgasaAdistiaRenanda : "Lu nggak perlu khawatir dengan kondisi gue saat ini. Gue menghilang begitu saja, karena gue hanya ingin, supaya lu bisa melupakan semua tentang gue di dalam kehidupan lu sampai detik ini."
AlgasaAdistiaRenanda : "Gue tau, lu pasti sangat kecewa dengan perubahan gue saat ini, bahkan lu berfikir, dimana semua janji yang selalu gue lontarkan waktu itu kepada lu. Gue nggak akan pernah melupakan semua janji yang telah gue lontarkan waktu itu kepada lu, jika ada kesempatan di kehidupan selanjutnya, gue ingin lu menjadi sebuah ratu gue."
AlgasaAdistiaRenanda : "Buat seorang gadis bodoh, gue harap, lu bisa melupakan semua perasaan lu itu untuk gue."
Alga yang sudah mengetik sebuah pesan singkat dan panjang. Dirinya mulai melemparkan benda pipihnya ke arah sofa panjang.
Sebuah ketukan pintu mulai terdengar di kedua daun telinga Alga saat ini, dan pintu pun mulai terbuka lebar yang terdapat seorang lelaki yang sedang tersenyum kecil ke arahnya saat ini.
"Gimana keadaan lu? Apa gue nggak perlu bilang ke yang lainnya?" Tanya Putra sambil menatap ke arah Alga.
Alga pun mulai menggelengkan kepalanya. "Lu nggak kasih tau bunda gue kan?" tanya Alga.
__ADS_1
"Tenang, semuanya beres. Gue nggak ember ke siapapun kok." Jelas Putra dengan cengiran bodohnya.
Alga pun menganggukkan kepalanya dan mulai mendorong kursi rodanya ke arah balkon kamarnya.
Putra yang melihat sahabatnya, dirinya mulai beralih mendorong kursi roda Alga ke arah balkon.
"Gue bingung sama isi kepala lu, Ga! Sebenarnya lu masih sayang sama dia, dan lu pasti juga sangat rindu semua tentang dia. Tapi, lu malah sembunyi di rumah gue saat ini. Apa lu nggak berfikir, gimana keadaan dia saat ini, ketika lu memperlakukan dirinya seperti ini." jelas Putra.
"Gue paham, apa yang gue ambil saat ini. Lagipula, gue melakukan hal ini juga untuk membuat dirinya melupakan gue."
Putra pun mulai bersender di ujung balkon, menatap langit yang sangat cerah, dan beralih menatap ke arah Alga.
"Kalau lu memang ingin melepaskan seorang gadis manis seperti dirinya, maka ijinkan gue untuk menggantikan posisi lu di kehidupannya." Ujar Putra dengan tatapan tajam.
Alga yang mendengar lontaran kalimat dari lelaki di hadapannya, dirinya mulai tersenyum kecil.
"Gue nggak akan pernah ijinkan, selama gue masih hidup, tidak akan ada seorang pun yang bisa mendekati dirinya maupun menyakiti dirinya."
"Lu yakin? Dengan keadaan lu seperti ini, apa lu bisa menjaga dan melindungi dirinya?"
"Yah, gue yakin, karena kaki gue doang yang lumpuh. Gue percaya keajaiban Tuhan pasti ada, seperti kejadian Dasa waktu itu."
"Lu lucu tau nggak, keajaiban tidak akan ada yang tau. Bisa jadi, lu akan mati duluan tanpa mendapatkan keajaiban Tuhan terlebih dahulu." Ujar Putra yang mampu membuat Alga terdiam.
"Kalau begitu, gue akan tetap di tekad gue yang awal. Kalau lu memang ingin mendekati Asa, silahkan. Berarti lu harus berhadapan dengan gue langsung." Tegas Alga yang mulai memasang earphone di kedua daun telinganya.
"Siapa takut, mulai hari ini dan detik ini, gue akan membuat seorang gadis yang lu sayangi bahagia bagaikan seorang ratu kerajaan." tekad Putra.
Alga yang pura-pura tidak mendengar, padahal dirinya mendengar semua lontaran kalimat Putra barusan. Dirinya hanya mulai tersenyum kecil.
__ADS_1
'Gue harap lu benaran bisa, Put. Supaya, dirinya bisa melupakan perasaannya itu untuk gue.'