
"Cinta itu mungkin akan hilang seketika detik mulai terhitung. Tapi! Satu hal yang harus lu tahu, gue hanya mempunyai bidadari surga gue ... yaitu lu!"
...~Algasa Adistia Renanda~...
...••••••••...
Alga yang mulai merasa nafasnya tersengal-sengal karena dirinya mulai berada di depan sebuah gerbang rumah yang sangat sederhana sejak awal pagi ini.
Dengan sanga setia, Alga masih menatap rumah yang penuh kasih itu dengan tatapan lembut, sambil sesekali dirinya memeriksa jam tangannya.
"Ini gadis lama banget, sampai sekarang nggak keluar-keluar juga? Apakah gue terlalu pagi iya datangnya?" Gumamnya kepada dirinya sendiri.
Alga mulai menatap jam di tangannya sekali lagi, "Perasaan baru jam 5 pagi, nggak mungkin 'kan itu gadis pergi jam 4 pagi ke sekolah?" Lanjutnya, sambil menghela nafasnya berulang kali.
Alga yang mulai tidak sabaran, dirinya mulai menelpon seorang gadis yang kini sedang lagi bersiap di dalam rumah tersebut.
Truut! Truut!
Getaran dari benda pipih tersebut mulai terus berbunyi, sampai-sampai seorang gadis harus mengangkat panggilan tersebut tanpa harus melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo–"
"Lu dimana? Gue sudah nungguin di depan rumah lu sudah satu jam penuh diluar! Lu benar-benar nggak punya hati iya, Sa!"
Asa yang mendengar dari perkataan dari seberang telepon, dirinya mulai melihat ke arah jam yang mulai menunjukkan jam 6 pagi, sesekali dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Kak Alga nggak usah ngeprank Asa! Mana ada Kak Alga sepagi ini mau ke rumah Asa?!" Ucapnya dengan helaan nafas panjang.
"Gue benaran ada diluar, Sa! Dingin!"
"Kak Alga beneran nggak becandakan?"
"Nggak, cepetan lu turun! Gue nggak kuat kalau nungguin lu lama-lama lagi!"
"Yaudah, Asa segera turun ... Kak Alga jangan sampai mati iya, soalnya Kak Alga belum nikahin Asa!"
"Makanya, lu cepetan turun!"
"Yah, ini Asa lagi sarapan dulu!"
Tut!
Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya hanya bisa menatap handphonenya, dan menghela nafasnya dengan berat.
"Enak banget dia makan di dalam, dan gue disini kedinginan dari pagi?!" Lirihnya dengan helaan nafas yang sangat berat.
...••••••••...
Alga yang masih sangat setia menunggu kehadiran seorang gadis manis untuk keluar dari sebuah rumah yang sederhana itu.
"Sudah setengah jam gue tungguin itu gadis–"
"Kak Alga? Maaf iya, Asa tadi harus bikin ini dulu buat Kak Alga!" Jelasnya sambil memberikan sebuah kotak bekal yang berbentuk hello Kitty berwarna pink.
Alga yang melihat kotak bekal itu, dirinya mulai meraihnya dan mulai memasukinya ke dalam tasnya.
"Naik!"
__ADS_1
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya masih terdiam ditempatnya.
"Pakai ini!" Ujarnya, sambil melingkarkan jaketnya ke pinggang Asa dengan lembut.
"Lu besok-besok bawa jaket, biar lu nggak masuk angin nanti!"
"Kenapa, Asa harus pakai jaket?" Tanya Asa dengan polos.
Alga mulai menatap wajah Asa dengan lembut, sambil mengacak-acak rambut Asa.
"Karena, besok adalah hari dimana kehidupan seorang putri yang bernama Asalina Hyena akan diantarkan oleh seorang pangeran balok es nya." Jelasnya dengan senyuman datar yang terukir di wajahnya.
"Maksudnya, Kak Alga jadi tukang ojek pribadi Asa gitu?" Tanya Asa dengan polos.
"Kalau gue tukang ojek masih ada bayarannya, Sa! Sedangkan, gue hanya mau mengantarkan tuan Putri gue ini?!"
"Maksudnya, Kak Alga apa sih? Asa nggak paham!" Tanya Asa yang merasa heran.
"Gini-nih, yang paling gue nggak suka dari lu adalah bodoh. Tapi! Gue heran, kenapa gue sampai suka sama lu?!" Ujar Alga sambil menatap wajah Asa dengan senyuman kecil di wajahnya.
"Mungkin, Kak Alga suka sama Asa karena cantik, baik, manis, murah tersenyum, lucu, dan imut." Jelas Asa yang mulai membanggakan dirinya.
Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai tertawa kecil.
"Nggak mungkinlah, banyak cewek yang bodynya lebih bagus dari lu. Tapi! Gue biasa saja sama mereka!"
"Terus, Kak Alga suka sama Asa karena apa?" Tanya Asa yang mulai terlihat heran juga.
Alga mulai menatap Asa dsri bawah sampai ke atas, "Ntahlah, hanya tuhan yang tahu!" Ujarnya sambil membuka tasnya.
Alga mulai menatap wajah Asa sekilas, dan tersenyum. "Lu mau tahu perasaan gue?" Tanyanya kepada gadis di hadapannya ini.
Asa mengangguk'kan kepalanya dengan cepat.
"Mau tahu banget?" Tanyanya sekali lagi.
Sekali lagi, Asa mulai mengangguk'kan kepalanya, "Yah, Asa mau tahu banget tentang perasaan Kak Alga!" Jelasnya dengan tegas.
Alga mulai mengangguk'kan kepalanya menandakan bahwa dirinya mengerti.
"Tapi sayangnya, gue nggak tahu apa-apa tentang perasaan gue ini, Sa!" Jelas Alga yang mulai tersenyum kecil.
"Bodo ah, Asa serius juga!"
"Gue juga serius, Sa! Gue manusia biasa, yang pasti perasaan gue akan berubah-ubah. Tapi! Yang harus lu tahu satu hal, gue menginginkan seorang matahari yang selalu dekat dengan gue."
"Gue nggak mau lu pergi dari kehidupan gue, maupun menyerah atas apa yang akan terjadi nanti. Tapi! Itu tergantung dari diri lu, Sa. Gue nggak ingin memaksakan kehendak lu untuk selalu dekat dengan gue!" Ujar Alga dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai tersenyum manis. "Kalau kayak gitu, Kak Alga harus nembak Asa! Biar Asa nggak pergi jauh dari Kak Alga!" Saran Asa dengan senyuman.
Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai menatap wajah Asa dengan datar, dan menghela nafasnya dengan berat.
"Gue lagi nggak bawa pistol, Sa! Gue bawanya tali tambang, gue ikat lu aja yah?" Jelas Alga yang mulai menunjukkan tali tambang di dalam genggaman tangannya.
"Emang, Kak Alga kira Asa kambing? Yang harus diikat segala?" Ujar Asa dengan cemberut.
Alga mulai membuat tali tambang itu sebagai bentuk sebuah gelang tali, dan mulai dipasangkan kepada lingkaran lengan tangan Asa yang lembut.
__ADS_1
"Lu bodoh yah? Gue ini bukan hanya pintar bermain bola basket saja, tapi gue bisa membuat orang yang gue sayangi bahagia juga."
Asa yang diperlakukan seperti itu, dirinya mulai tersenyum manis.
"Berarti, Asa sudah mulai sah menjadi calon istri Kak Alga?" Tanya Asa dengan senyuman.
Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya menggelengkan kepalanya.
"Lu bilang tembak, dan gue hanya bisa ikat lu aja. Supaya lu sadar diri, kalau gue sudah ikat lu di tali ini!" Jelas Alga dengan datar.
"Tapi–"
"Gue belum masih suka sama lu, Sa! Jadi nggak usah terlalu berharap!"
"Bukannya, Kak Alga tadi bilang–"
"Gue nggak bilang apa-apa! Kapan gue bilang, lu sudah jadi calon istri gue?"
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat. Sungguh, Asa mulai merasa sangat-sangat kecewa atas apa yang dilontarkan oleh laki-laki di sampingnya.
Seketika, sebuah tangan mulai menyentuh kedua pipi Asa dengan lembut. Asa mulai menatap kedua mata laki-laki di hadapannya, tatapan antara mereka berdua mulai bertemu satu sama lain.
Dengan ukiran yang sangat sempurna untuk wajah laki-laki di hadapannya, mampu membuat semua orang menatapnya akan memberikan perasaan mereka untuk laki-laki ini. Angin pagi yang mulai sejuk, mampu membuat suasana disekitar mereka mulai terasa seperti hanya untuk mereka berdua.
"Buat Asalina Hyena, seorang gadis bodoh yang sukses berhasil membuat perasaan seorang lelaki kasar bernama Algasa Adistia Renanda."
"Terimakasih yah ... sudah menjadi matahari buat gue, sekaligus sudah menjadi bidadari surga gue. Lu tahu nggak, mungkin saat ini gue belum mengetahui tentang perasaan gue."
"Tapi, yang harus lu ketahui adalah ... gue ingin melihat lu bahagia selalu. Walaupun, gue harus melakukan berbagai cara apapun itu!" Jelas Alga yang mengungkapkan isi hatinya.
Setelah itu dirinya mulai melepaskan kedua tangannya, dan mulai menyalakan mesin motornya.
"Naik! Sudah selesai adengan romantisnya!" Ujarnya yang kembali kepada sifat aslinya.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Kak Alga sebenarnya nggak menginginkan, kalau Asa bahagia sebentar saja! Giliran sudah dikasih kata manis, malah dijatuhkan ke tanah!" Jelas Asa yang mulai menaiki motor sport Alga.
"Kita sudah mau telat, Sa! Gue nggak mau jadi murid yang nggak teladan!"
"Kalau lu masih ingin mimpi lagi, yaudah turun dari motor gue" Ujarnya dengan datar.
"Asa sudah naik, malas turun lagi!"
"Yaudah peluk gue!"
"Kak Alga jangan cari kesempatan dalam kesempitan, Asa nggak mau peluk!"
"Terserah lu dah! Gue cuma kasih tahu yang baik saja kok!"
Alga mulai menyalakan mesin motornya, dan dengan sengaja dia menancap gas dengan sangat sengaja. Sampai-sampai, Asa harus memeluk dirinya dengan erat.
"Kak Alga sengaja kan?" Ujarnya sambil mencubit pinggang Alga dengan kencang.
"Gue nggak sengaja, Sa! Gue cuma kasih contoh doang, kalau lu nggak mau peluk nanti lu bisa jatuh di tengah jalan!" Jelasnya dengan datar, sambil menjalankan motornya meninggalkan kalangan halaman rumah Asa.
Next Selanjutnya .....
__ADS_1