
Alga yang masih setia menunggu kabar baik dari balik pintu ruangan operasi, dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, dan menatap pintu ruang operasi itu dengan nanar.
"Gue takut, gue takut bakalan kehilangan Dasa selamanya di dalam kehidupan gue." Lirih Dilan dengan tatapan nanar.
Alga yang mendengar perkataan dari Dilan. Dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat dan menepuk pundak sahabatnya dengan pelan.
"Gue takut, Ga. Disaat gue belum bisa membahagiakan orang yang gue sayangi di dunia ini, Tuhan malah berkata lain dengan semua permintaan gue selama ini."
"Gue sudah kehilangan segalanya, kedua orang tua gue, bahkan orang yang gue sayangi sekarang. Apa Tuhan masih ingin menyiksa kehidupan gue selamanya?" Jelasnya dengan tersenyum kecut.
Alga hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. "Gue percaya sama dia, pasti Dasa bakalan sedang berusaha keras di dalam sana, gue yakin itu semuanya." Jelasnya untuk menyemangati Dilan.
Dilan pun tersenyum kecil ke arah Alga. Seketika pintu ruangan operasi pun mulai terbuka lebar yang terdapat beberapa perawat dan dokter.
Dilan dengan sangat cepat, dirinya pun mulai mendekati para dokter dan perawat dengan raut wajah datarnya.
"Dok. Bagaimana kondisi Dasa? Apa dia baik-baik saja?" Tanyanya.
Dok. Wahyudi yang spesialis bedah kanker. Dirinya pun mulai menghela nafasnya dengan berat dan menggelengkan kepalanya.
"Kami semua disini sudah berusaha sekeras tenaga kami, tapi Tuhan berkata lain kepada kita semua disini. Mungkin, Tuhan menginginkan supaya gadis itu tidak terlalu tersiksa dengan penyakitnya dan memilih untuk mengakhiri semua penderitaannya." Jelasnya dengan tegas dan dengan tepukan pelan di pundak Dilan.
Dilan yang mendengar perkataan dari Wahyudi, dirinya mulai mundur beberapa langkah, dan dengan raut wajah kecewa.
Dilan pun tersenyum lirih. "Kalian semua pasti sedang drama, kan? Kalau di film pasti akan ada sebuah namanya mukjizat dari Tuhan!"
Sama halnya dengan seorang laki-laki yang mendengarkan semua kalimat tersebut. Bagaikan dihantam beribu pisau di jantungnya. Alga yang melihat sahabatnya, dirinya pun mulai mendekati dilan dan memeluk sahabatnya dengan erat.
"Dil, lepasin Dasa sekarang! Dia sudah bahagia disana, mungkin jalan ini yang dia pilih untuk mengakhiri semua penderitaannya!" Jelas Alga untuk menenangkan Dilan.
Dilan menggelengkan kepalanya, dirinya tidak menerima semua perkataan Alga kepadanya. "Lu bisa ngomong seperti itu, Ga! Tapi gue yang merasa sangat kehilangan disini, Ga!" Ujar Dilan yang mulai mendorong Alga dengan kasar.
Dilan pun mulai berjalan ke ruangan operasi dengan langkah yang sangat berat dan air suci yang sudah membasahi kedua pipinya.
Wahyudi pun mulai menepuk pundak Alga dengan sangat berat dan tersenyum kecil.
"Saya tahu, kamu pasti sangat kehilangan dia sama seperti sahabatmu itu. Tapi kematian tidak bisa kita cegah, bahkan kita pun tidak tahu kapan kematian itu pun akan datang merenggut nyawa orang yang kita sayangi di dunia ini."
"Mungkin, ini pilihan dia untuk mengakhiri semua penderitaannya selama ini, dan mungkin dengan dirinya pergi dari dunia ini, mampu membuat dia bahagia bagaikan bidadari surga." Jelas Wahyudi dengan senyuman kecil.
Alga yang mendengar perkataan dari Wahyudi. Dirinya menghela nafasnya dengan berat, menatap wajah lelaki yang sudah beranjak umur dan tersenyum kecil ke arahnya.
__ADS_1
"Makasih Om, terimakasih karena selalu bersama dan menemani setiap hembusan nafas Dasa." Ucap Alga dengan berat.
Wahyudi menganggukkan kepalanya. "Itu sudah tugas saya sebagai dokter sekaligus sebagai paman Dasa." Jelasnya dengan senyuman kecil.
"Satu lagi, kamu lebih baik telepon kedua orangtuanya Dasa sekarang. Saya ingin tahu apakah mereka masih memilih pekerjaan mereka atau memilih anaknya." Jelas Wahyudi yang mulai meninggalkan Alga sendirian.
Alga menganggukkan kepalanya, karena dirinya sangat paham bagaimana orangtuanya Dasa. Mereka sangat jarang untuk menemani Dasa, karena pekerjaan mereka.
...***...
Sebuah mimpi panjang seorang gadis kecil yang kini dirinya merindukan seorang pahlawan laki-laki di dalam kehidupannya, yaitu, Ayahnya.
Seorang lelaki yang dulu sangat menyayangi gadis kecil itu, dirinya mampu melakukan berbagai cara apapun untuk membuat putri tercintanya bahagia.
Sehingga waktu yang selalu berjalan tanpa hentinya, begitu pun juga sebuah kehangatan dari sang pangeran yang selalu membuat gadis kecil itu bahagia, kini kehangatan tersebut mulai menghilang seiring berjalannya waktu.
Gadis kecil yang selalu menunggu seorang pahlawan tercintanya di sebuah pintu rumahnya itu tanpa hentinya, dirinya selalu setia untuk menatapnya tanpa henti dan menunggunya.
Seketika, seorang wanita paruh baya mampu membuat lamunan dirinya tersadar dan menggendongnya di dalam pelukan hangatnya.
"Dasa pasti sedang menunggu Ayah, kan?" Tanya Lusi dengan senyuman manisnya.
Yah, dia adalah Dasa, seorang gadis kecil yang kini berumur 4 tahun. Dengan kecantikan alaminya dan senyuman manisnya mampu membuat semua orang merasa penasaran siapa orang tua Dasa sebenarnya.
Lusi menganggukkan kepalanya. "Ayah masih sibuk dengan pekerjaannya, karena ayah ingin melihat kamu bahagia dengan apa yang ayah kerjakan selama ini." Jelas Lusi dengan senyuman manis.
Dasa kecil pun menganggukkan kepala dan selalu menunggu pahlawan tercintanya itu menemui dirinya.
Sehingga, Dasa pun mulai beranjak umur 7 tahun, Dasa pun akhirnya bisa bersama dengan orang yang sangat dirinya rindukan lagi di hadapannya sekarang.
"Yah, Dasa akhirnya bisa mendapatkan peringkat kelima di kelas, ayah banggakan sama Dasa?" Ucap seorang gadis manis, yang kini sedang memberikan sebuah raport semesternya, kepada seorang lelaki yang sangat dirinya rindukan.
Seorang lelaki yang terlihat sangat gagah di hadapan seorang gadis manis dan gadis cantik seperti sebuah namanya Dasalina Wulandari. Wahid pun mulai menatap tajam Dasa dan mengambil raport di tangan Dasa dengan kasar.
Wahid pun tersenyum kecil. "Saya sudah kasih begitu banyak bimbel buat kamu, tapi apa yang bisa kamu dapatkan cuma ini?" Ujar Wahid dengan murka, sambil melemparkan raport tersebut ke arah wajah Dasa dengan kasar.
Dasa menggigit bibir bawahnya. "Maaf, Yah, Dasa sudah berusaha dengan sangat keras." Gumam Dasa dengan pelan, sambil memainkan jarinya.
Wahid pun mulai menarik lengan Dasa ke arah kamarnya. "Malam ini kamu nggak boleh tidur, kamu harus belajar sampai jam 3 pagi. Kalau saya melihat kamu tidur, saya nggak akan segan-segan menghukum kamu lebih dari ini!" Jelasnya dengan murka, sambil mengunci pintu kamar dari luar.
Dasa yang melihat semua kejadian yang mulai terlintas kembali. Dirinya hanya bisa menangisi itu semua, yang dimana dirinya waktu itu terlihat sangat berantakan dan kesepian.
__ADS_1
Dasa pun mulai berjalan ke tempat lain, seketika semua kenangan pahit itu melintas di hadapannya sekarang. Dirinya tersenyum kecil.
Dasa yang meringkuk di atas tempat tidur, yang dibalutkan beberapa selimut di tubuhnya, seluruh tubuhnya sangat menggigil dengan hebat.
"Hatchi ... Dasa sakit, Yah!" Lirih Dasa.
Wahid yang melihat kondisi Dasa sekarang. Dirinya tidak mempedulikan semuanya itu, yang selalu Wahid pikirkan, yaitu, membuat anaknya pintar dan mendapatkan kejuaraan di kelas.
Wahid pun mulai menyiramkan air ke seluruh tubuh dasa dengan hebat. Sesekali, dirinya pun mulai menarik lengan Dasa dengan kencang.
"Nggak usah manja, jangan jadiin penyakit ini untuk alasan kamu males-malesan untuk belajar!" Jelas Wahid dengan kesal.
Dasa yang mendengar perkataan dari Ayahnya. Dirinya hanya mendongakkan kepalanya dan menatap kedua mata lelaki yang dulu selalu memberikan kehangatannya. Tapi sekarang, kini tatapan hangat tersebut telah menghilang di hadapannya.
"Tapi, Yah—"
"Nggak ada tapi-tapian! Sekarang mandi dan langsung pergi ke sekolah!" Ujarnya, dengan kasar Wahid mendorong tubuh dasa ke arah kamar mandi.
Dengan langkah yang sangat berat. Dasa pun memasuki kelasnya dan tidak disangka perasaannya berdegup dengan sangat kencang.
Seorang lelaki culun pun mampu membuat perasaan seorang Dasa berbunga-bunga, sejak saat itulah Dasa memperjuangkan Alga dan mencintainya.
Bahkan, Dasa kira Alga adalah sang pangeran matahari untuknya lagi. Seseorang lelaki yang selalu memberikan kehangatannya kepada Dasa, walaupun perlakuan ayahnya selalu kasar kepadanya. Tapi Dasa sangat bahagia, karena masih ada seseorang yang selalu memberikan kehangatan untuknya lagi.
Dengan selalu giat belajar, Dasa berharap selalu mendapatkan peringkat pertama di kelas, karena dirinya ingin sekali membahagiakan pahlawannya, dirinya ingin sekali melihat ayahnya seperti seperti dulu lagi.
Tanpa Dasa sadari, dirinya selalu menahan semua penyakit yang menimpanya. Hanya sebuah obat warung yang selalu diberikan oleh Wahid kepada dirinya, tanpa hentinya dan tanpa mengeluh Dasa selalu membuat ayahnya merasakan sesuatu kebahagiaan.
Sampai-sampai, Dasa nggak menyadari bahwa penyakit yang selalu dirinya anggap sepele, bahkan penyakit itulah yang mampu membuat nyawanya terancam. Dasa selalu menutupi semuanya, walaupun sakit yang sangat luar biasa dirinya tahan selama ini.
Dan akhirnya, semua penyakit itu terbongkar karena Lusi— Mamanya. Lusi yang telah kembali ke indonesia, karena urusan pekerjaannya sudah selesai disana. Sedangkan, Wahid yang mengetahui itu semua, dirinya masih saja terus memaksa Dasa belajar tanpa hentinya.
Mungkin, Dasa memilih untuk pergi selamanya. Supaya batinnya tidak tersiksa dan semua penyakit yang selalu menghantam tubuhnya pun segera menghilang. Hanya Tuhan yang selalu menyayangi dirinya, berbeda dengan keluarga yang selalu menemani dirinya.
Seketika, sebuah kenangan yang melintas di hadapan dasa saat ini. Dirinya melihat seorang lelaki yang sedang menangisi tubuhnya di sebuah ruangan saat ini.
Ntah kenapa, itu mampu membuat perasaan dasa tersentuh oleh laki-laki itu. Rasanya, dirinya ingin sekali selalu bersama laki-laki itu dan memeluknya.
Tapi, apakah itu bisa? Apakah dirinya bisa selalu bersama dengan laki-laki itu? Apakah takdir bisa menyatukan dirinya bersama dengan laki-laki itu?
Dasa yang melihat semua itu, seketika butiran air mata yang selalu dirinya tahan. Kini air mata itu pun mulai mengalir dengan sangat deras.
__ADS_1
"Dasa ingin selalu bersama dengannya, Dasa nggak mau meninggalkan dirinya, Dasa hanya ingin menempati semua janji-janji Dasa kepadanya."
"Bahkan, Dasa hanya mau ... dirinya bahagia mendapatkan seorang gadis seperti Dasa. Apakah itu akan bisa mengembalikan semua kenangan hangat tersebut untuk Dasa kembali?" Lirihnya dengan senyuman kecil.