
"Segitunya 'kah? Lu nggak percaya sama gue? Gue nggak akan melakukan sesuatu yang bikin perasaan orang yang gue sayangi terluka." Jelas Alga dengan tegas.
Asa yang mendengar setiap lontaran tersebut, dirinya mulai merasa bersalah.
"Sekarang gue sudah jujur ke lu, apa lu masih marah sama gue? Apa lu masih ingin menjauh dari gue?" Tanya Alga dengan dingin.
"Maafin Asa, Kak."
Alga yang mendengar lontaran kalimat dari gadis di hadapannya. Dirinya mulai tersenyum, dan menggelengkan kepalanya.
"Sstt! Ini semua bukan salah lu, karena yang salah disini adalah Alga, bukannya Asa." Jelas Alga dengan nada rendah.
Asa yang mendengar lontaran Alga. Dirinya mulai menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Nggak! Itu semua salah Asa. Seharusnya, Asa bisa lebih percaya sama seorang lelaki yang sudah Asa pilih sendiri–" Asa pun mulai tersenyum kecut sambil menghela nafasnya dengan berat. "Bukannya malah mencurigainya."
Alga pun hanya tersenyum sambil menatap kedua manik mata indah di hadapannya.
"Gue paham, Sa! Lu boleh bersikap seperti itu, sekalipun lu harus marah dan menampar gue di depan umum–"
"Karena ... gue paham rasanya, kalau orang yang sudah kita sayangi tidak memberi satu pun kabar ke kita, dan menghilang begitu saja." Jelas Alga dengan senyuman, sambil menghapus setiap jejak air mata di wajah Asa.
"Jadi, gue nggak mau melihat lu seperti ini. Gue nggak ingin, orang yang gue sayangi menangis, gue ingin selalu melihat lu tersenyum manis di hadapan gue."
Asa yang mendengar perkataan Alga. Dirinya mulai tersenyum manis, dan tertawa kecil.
"Makasih, Kak." Ucap Asa dengan senyuman manisnya.
"Makasih, buat?" Tanya Alga heran.
"Makasih sudah mau bersabar menghadapi semua sifat Asa, dan terimakasih sudah mau menjadi sebuah 'Pangeran' buat Asa." Jelas Asa dengan senyuman manisnya.
Alga yang mendengar lontaran tersebut, dirinya mulai tertawa kecil.
"Sabar? Mungkin cuma untuk hari ini gue menghadapi sifat kekanak-kanakan lu, kalau seterusnya—" Alga pun mulai memberhentikan kalimatnya, karena perkataan seseorang di hadapannya.
"Segitunya, kah? Kak Alga nggak mau sabar menghadapi sifat anak kecil yang Asa miliki ini?" Jelas Asa yang mulai memotong lontaran kalimat Alga.
Alga pun mulai tersenyum kecil, "Yah, karena gue capek harus mengalah sama seorang bayi besar gue ini!" Jelas Alga yang mulai mencubit kedua pipi lucu Asa.
Asa yang mendengar perkataan Alga. Asa pun mulai tertawa bahagia, tertawa atas semua perlakuan khusus dari lelaki yang dicintainya.
"Gue akan selalu sabar untuk menghadapi semua sifat lu, dan gue juga akan sabar untuk menunggu lu." Jelas Alga dengan senyuman kecilnya.
"Menunggu? Emangnya Asa mau pergi kemana?" Tanya Asa heran.
"Ntah, siapa tahu lu mau meninggalkan gue lagi, karena ke 'salah pahaman?" Jelas Alga dengan senyuman kecilnya.
__ADS_1
"Nggaklah, Asa sudah bahagia disini, dan Asa juga sudah mendapatkan apa yang selama ini Asa perjuangkan, yaitu, Kak Alga." Ucap Asa dengan senyuman manisnya.
Alga yang mendengar lontaran kalimat dari Asa. Dirinya mulai menarik tubuh Asa ke dalam pelukan hangatnya.
Sebuah pelukan hangat yang sedang menyampaikan semua isi perasaan seorang lelaki saat ini, sebuah pelukan yang tidak ingin dilepaskan olehnya.
"Gue juga nggak menyangka, seorang gadis yang dulu selalu gue anggap murah, dan bagai sebuah film horor yang selalu muncul di dalam kehidupan gue seperti sebuah musibah–" bisikan Alga yang terdengar suara hembusan helaan nafasnya dengan berat, Asa pun dengan setia menunggu lontaran Alga selanjutnya.
"Kini, gue malah takut kehilangan seorang gadis yang selalu gue anggap horor di dalam kehidupan gue saat ini. Mungkin benar yang lu ucapkan dulu ke gue, sebuah nama ALGASA tidak akan pernah lengkap kalau tidak ada kedua nama kita disana." Jelas Alga yang mulai melepaskan pelukannya, dan menatap kedua bola mata indah di hadapannya.
Asa yang mendengar perkataan Alga. Dirinya mulai tersenyum manis, dan mulai meraih telapak tangan Alga.
"Asa janji sama Kak Alga, kalau Asa akan selalu bersama Kak Alga. Sekalipun Kak Alga sudah tidak sempurna di mata orang lain, tapi bagi kedua mata Asa, Kak Alga akan selalu menjadi seorang lelaki yang sangat sempurna." Jelas Asa dengan senyuman, dan sebuah genggaman tangan yang sangat erat.
Alga yang mendengar perkataan dari Asa. Dirinya pun menganggukkan kepalanya, dan tersenyum manis kepada gadis di hadapannya.
Alga pun mulai menghela nafasnya dengan berat, dan mulai berdiri di samping ranjang Asa.
"Apa lu nggak bosan disini mulu? Nggak mau ke kelas, kah? Soalnya, gue masih ada kelas disaat bel kedua berbunyi." Ujar Alga kembali ke sifat aslinya datar.
Asa yang melihat perubahan Alga secara drastis, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Kak Alga nggak lihat apa? Saat ini, Asa nggak bisa jalan!" Jelas Asa dengan kesal.
Alga pun mulai menatap kedua kaki Asa, dan mulai beralih menatap kedua manik mata indah dengan tatapan dinginnya.
Asa yang mendengar kalimat tersebut, dirinya mulai mendengus kesal. "Apa salahnya, kalau Asa manja sama cowoknya sendiri?" Teriak Asa yang mampu membuat langkah seorang lelaki berhenti.
"Siapa cowok lu?" Tanya Alga balik dengan suara kerasnya.
Seluruh siswa-siswi yang mendengar kalimat Alga yang cukup terbilang sangat kencang, kini kedua kejora tersebut mulai menjadi tontonan di ruangan UKS.
Alga yang tidak mendapatkan jawaban apapun, dirinya mulai melanjutkan langkahnya kembali, dan langkahnya pun mulai terhenti karena teriakan seorang gadis saat ini.
"Kak Alga!" Panggil Asa dengan kesal.
"Apaan, Sa?" Tanya Alga yang pura-pura bodoh.
"Bantuin Asa ke kelas!" Pinta Asa dengan kepala ditundukkan.
"Minta saja sama cowok lu, Sa!" Jelas Alga yang mulai mengambil langkahnya kembali.
"Algasa Adistia Renanda, dasar cowok yang tega melihat kekasihnya menderita!" Teriak Asa dengan kencang.
Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai tersenyum kecil.
"Dasar cowok nggak peka, cowok nyeselin, cowok datar kayak tembok, dasar cowok kasar, cowok nggak punya hati, dan dasar cowok yang memiliki sifat bagaikan kulkas." Jelas Asa yang mulai terengah-engah.
__ADS_1
Alga yang mendengar di setiap lontaran kalimat dari gadis saat ini, dirinya mulai tersenyum kecil, walaupun setiap kalimat gadis ini menjelekkan dirinya di depan umum.
"Kasian banget kalau seseorang jadi cowok lu, mungkin saat ini dirinya akan dipermalukan di depan umum oleh gadisnya sendiri." Teriak Alga dengan senyuman kecilnya.
Semua orang yang melihat senyuman kecil Alga, seluruh siswa-siswi pun mulai merasa ketakutan, apalagi setiap kalimat lontaran yang mereka dengar dari mulut seorang gadis bernama Asalina Hyena.
Asa yang melihat perubahan dari Alga, dirinya mulai menelan salivanya dengan susah payah.
"Asa nggak peduli, lagi pula yang Asa bilang itu kenyataan, dan Asa sedang mempermalukan cowok Asa sendiri saat ini! Yaitu, Kak Alga." Jelas Asa dengan tegas.
Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai memberikan senyuman sinisnya.
"Coba lu bilang sekali lagi, siapa cowok lu?" Teriak Alga dengan emosi.
Asa yang merasa dirinya salah saat ini, dirinya mulai menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang sedang meremas ujung roknya.
"Gue tanya sama lu Asalina Hyena, siapa cowok lu? Bukannya tadi lu punya kepercayaan diri untuk mempermalukan gue di seluruh siswa-siswi saat ini!" Teriak Alga dengan emosinya.
"Apa salahnya, kalau Asa ingin dimanjain sama cowoknya sendiri?" Jelas Asa dengan pelan dan dengan kepala yang masih ditundukkan.
"Berapa kali gue bilang sama lu! Kalau lu ingin di manja, lebih baik minta sama cowok lu!" Ujar Alga dengan sifat aslinya.
"Emang Kak Alga kira pacarnya Asa ada berapa? Lagi pula, Asa berhak minta ke Kak Alga, karena Kak Alga cowok Asa." Jelas Asa sambil menatap kedua mata Alga.
"Maksud lu? Gue cowok lu, gitu?" Tanya Alga dengan bodoh.
"Iya-lah! Emang siapa lagi seorang cowok yang tadi memohon-mohon minta penjelasan dari Asa? Kenapa Asa marah kepadanya? Dan menghindarinya begitu saja selama seminggu ini?" Jelas Asa dengan kesal.
Alga pun mulai menghampiri Asa dengan langkah besarnya. "Sayangnya gue malas banget untuk gendong lu, berat badan lu, sumpah!" Jelas Alga dengan lirih.
Asa yang mendengar perkataan Alga, dirinya pun mulai menatap sinis ke arah Alga, dan mulai mencekik leher Alga dengan sekuat tenaganya.
"Emang Kak Alga kira Asa apaan? Habis itu tadi ngapain bentak Asa di depan umum coba?" Tanya Asa dengan kesal.
"Iya-yah, maaf. Lagian, siapa suruh mulai duluan?" Jelas Alga yang mulai menjauh dari Asa.
"Kak Alga duluan, ngapain malah ninggalin Asa sendirian disini?" Ujar Asa dengan kesal.
"Yaudah, gue nggak akan ninggalin lu, dan gue akan selalu bersama lu di setiap langkah gue—" Lontaran Alga pun mulai terpotong karena perkataan seorang gadis saat ini.
"Nggak perlu, sudah nggak butuh lagi!" Jelas Asa yang mulai turun dari tempatnya.
Alga yang melihat tersebut. Dirinya mulai menganggukkan kepalanya, dan meninggalkan Asa yang sedang berusaha keras menahan rasa sakit di kakinya.
"Lu sendiri yang menolak sandaran gue, bukan gue yang nggak mau memberikan sebuah sandaran gue ini untuk lu." Ujar Alga yang mulai menghilang dari pandangan Asa.
Sedangkan, Asa yang ditinggal begitu saja. Dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan heran.
__ADS_1
"Katanya nggak bakalan ninggalin Asa! Tapi ini malah ninggalin Asa sendirian?" Asa pun mulai mendengus kesal. "Terkadang Asa heran dengan sifatnya Kak Alga. Apakah semua lontaran kalimat Kak Alga barusan cuman bikin perasaan Asa bahagia untuk sementara saja?" Ujar Asa kepada dirinya sendiri dengan heran.