
..."Laki kok nggak modal? Kalau, nggak modal mending nggak usah pacaran!"...
...~Ezracristy Harahap~...
...•••••••...
Alga yang sudah selesai menghabiskan semua makanan-nya, dirinya mulai beralih menatap ke arah seorang gadis di hadapannya
"Bayarin! Gue sudah selesai makan!" Ujarnya dengan datar sambil fokus membuka handphonenya.
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Mas! Semuanya jadi berapa, yah?" Tanya Asa dengan ramah.
Abang tukang cilok yang dipanggil, dirinya mulai menghitung setiap mangkok yang ada di meja mereka, dan mulai menghitung semua jumlahnya di kalkulator.
"Totalnya, tujuh puluh ribu, Neng!" Ucapnya dengan ramah kembali.
Asa yang mendengar perkataan dari Abang tukang cilok, Asa pun mulai mengeluarkan selembar uang berwarna merah.
"Nih Bang!"
"Lah! Eneng yang bayar toh? Abang kira pacarnya yang bayar, soalnya makannya rakus banget." Ucapnya dengan heran.
Alga yang mendengar perkataan dari Abang tukang cilok yang bicaranya sudah mirip seperti ibu-ibu rempong yang di dekat rumahnya, yang selalu ngomongin urusan orang mulu.
"Abang kalau punya mulut, jadi laki itu jangan banyak makan ember! Laki kok mulutnya kayak ibu-ibu tukang gosip." Ketusnya.
"Saya nggak gosip, Mas. Tapi! Kalau, Mas nggak punya modal untuk bahagiakan cewek. Saran Abang untuk Eneng ... nggak usah pacaran sama lelaki semacam kayak gini, yang ada di manfaatkan mulu." Jelas Abang tukang cilok yang tidak bisa diam mulutnya.
Alga yang mendengar semua perkataan Abang cilok, dirinya mulai bangkit dari tempat duduknya, dan mulai mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah kepada Abang Cilok.
Alga mulai berjalan ke arah Asa, dan menatap Asa dengan datar, "Gue sanggup biayain gadis gue!" Ujar Alga sambil menarik lengan Asa dengan lembut.
Asa yang mendengar, dan lengannya mulai digenggam oleh Alga dengan paksa untuk mengikuti dirinya. Asa masih setia berdiri di tempatnya, tanpa bergerak sedikit pun.
Alga yang melihat tingkah Asa yang masih diam disana, dirinya mulai membalikkan badannya lagi, "Kenapa, diam saja? Mau pulang nggak lu?" Tanyanya dingin.
Asa mulai menatap Alga dengan nanar, sambil menghela nafasnya dengan berat, "Asa hanya ingin minta balikin uang Asa! Kan sayang kalau di kasih dua lembar begitu saja," jawab Asa dengan polos.
Alga yang mendengar perkataan dari gadis di depannya sekarang, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan tatapan heran.
"Gue ganti! Gue nggak mau nanti dianggap sebagai lelaki yang memanfaatkan perempuan!" Sindir Alga kepada Abang tukang cilok.
"Aduh Mas ... lucu banget sih neng pacarnya! Langsung baperan banget!"
"Bang! Ini bukannya masalah baper atau kagak! Tapi, ini masalah harga diri gue sebagai laki-laki." Ujarnya datar.
Asa yang mulai ditarik lagi lengannya, dirinya masih berdiri ditempatnya tanpa bergerak sedikit pun.
Alga yang mulai kesal dengan tingkah gadis yang bersamanya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Lu mau ngapain lagi? Mau tidur disini?" Ujarnya dengan kesal.
Asa menghela nafasnya dengan berat, sambil menatap Alga dengan datar, "Asa hanya mau ambil tas yang ketinggalan saja kok." Gumamnya pelan.
Alga yang mendengar perkataan dari gadis di hadapannya, dirinya mulai menggapai tas Asa, dan memakainya di pundak Asa.
"Bisa nggak sih lu jangan bikin gue repot mulu!" Ujarnya dengan kesal.
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya hanya bisa menundukkan kepalanya, dan memainkan ujung roknya.
__ADS_1
Alga yang sudah selesai memasang tas ditempatnya, dirinya mulai menarik lengan Asa kembali ke arah pakiran mobilnya.
...•••••••...
Asa hanya menatap wajah Alga dengan tajam, sambil sesekali menghela nafasnya dengan berat. Sungguh! Hening sekali di dalam mobil ini, hanya terdengar suara AC mobil saja yang menemani keheningan di antara mereka berdua.
"Kak Alga?!" Panggil Asa yang mulai tidak tertahan dengan keheningan yang mampu membuatnya mati rasa.
"Hmm?"
"Kalau misalnya hati Kak Alga sudah 100% untuk Asa! Apa Asa boleh minta sesuatu dari Kak Alga?" Tanya Asa dengan pelan.
"Apa?"
"Asa ingin nikah!" Jawabnya dengan polos.
Alga yang mendengar perkataan dari gadis di sampingnya, dirinya mulai menatap ke arah gadis disampingnya dengan heran, dan berbagai pertanyaan di kepalanya.
Alga tersenyum kecil, "Gue nggak ada hati! Adanya ... hati ayam mau?" Ujarnya dengan datar, sambil kembali lagi ke arah depan.
"Asa serius!"
Alga mulai menatap wajah Asa dengan tajam, "Dan ... gue lebih serius lagi!" Ujarnya dengan tegas.
"Bodo ah! Asa tanya benar-benar, Kak Alga malah buat lelucon!" Ucap Asa yang mulai kesal.
"Masalah nikah belakangan! Gue belum suka sama lu, dan buat apa gue kasih perasaan gue ke lu? Yang bayarin makanan saja gue sekarang!" Jelasnya dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menghadap duduknya ke arah Alga, dan menatap lelaki di depannya dengan tajam.
"Siapa yang suruh bayarin makanan? Kak Alga sendiri yang mau maju kok!" Ujar Asa dengan kesal.
"Kak Alga kok salahin Asa mulu sih?" Tanya Asa kesal sendiri.
"Karena lu bodoh! Seharusnya, lu itu pikir pakai otak lu!" Ujar Alga yang mulai kesal.
Asa yang mendengar perkataan Alga dirinya mulai memcemberut'kan bibirnya, "Emang, iya? Perasaan, nilai Asa sangat sempurna di sekolah!" Lirihnya dengan pelan.
Alga yang mendengar perkataan dari gadis di sampingnya, dirinya hanya tersenyum kecil sambil menatap fokus kearah depan.
"Lu bodoh sebagai gadis untuk gue yang sempurna. Seperti yang pernah gue bilang ke lu ... Barang murah, tidak akan pernah mendapatkan yang sempurna, dan sekarang gue sudah melengkapi di kehidupan lu." Jelasnya, yang masih fokus ke depan.
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya mulai tersenyum lebar.
"Kak Alga?" Panggilnya sekali lagi.
"Hmm?"
"Tadi ... perkataan Kak Alga itu ada sebuah makna'nya atau sebuah teka-teki untuk Asa?" Tanya Asa bertubi-tubi.
"Maksud lu?" Tanya Alga dengan heran, atas semua pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis di sampingnya.
"Maksudnya Asa. Kak Alga bilang kayak gitu barusan lagi tembak Asa?" Tanya Asa yang ingin sekali mengetahui arti dari perkataan laki-laki di sampingnya.
"Lu tahu perumpaan nggak sih? Itu cuma perumpaan, bukan perasaan gue! Emang lu kira ... lu sebuah burung? Yang harus ditembak?" Ujarnya ketus.
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
"Perasaan ... Asa bicara baik-baik, kok Kak Alga malah emosi sih?" Ucapnya dengan heran.
Alga mulai menatap ke arah Asa dengan datar, "Gara-gara lu ... gue harus kehilangan kembalian gue, dan uang gue hari ini!" Ujarnya datar.
__ADS_1
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki disampingnya, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan menatap ke arah luar jendela mobil. Daripada dirinya berdebat dengan lelaki di sampingnya, mending dirinya mengalah saja. Karena, itu sudah setiap hari menjadi makanan Asa.
Asa yang melihat seorang memakai kostum badut, dirinya mulai menatapnya dengan penuh semangat, "Kak Alga! Ada badut!" Teriak Asa sambil menunjuk ke arah pinggiran jalan.
Alga yang melihat arahan dari Asa, dirinya mulai memutar mobilnya ke arah yang ditunjukan Asa barusan.
"Kak Alga mau ngapain mutar ke arah lawan?" Tanya Asa dengan heran.
Alga yang ditanya hanya mengabaikan pertanyaan dari gadis disampingnya, dan dirinya mulai memutar balik mobilnya ke arah jalan yang bukan arah rumah Asa.
Alga mulai memakirkan mobilnya dipinggiran jalan, dan mulai berada di depan pintu mobil Asa.
Alga mulai mengetuk kaca jendela mobil, dan menatap kearah gadis yang sangat sempurna untuknya, "Turun!" Pintanya.
Asa yang mendengar perkataan dari laki-laki di hadapannya, dirinya hanya bisa pasrah untuk mengikuti semua perkataannya.
"Mana handphone lu?"
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, dan menatap kearah Alga dengan heran.
"Buat apa?" Tanya Asa yang mulai takut ditinggal sendirian ditengah jalan.
"Gue bilang mana!" Ujarnya sekali lagi.
Asa yang dibentak, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat sambil memberikan handphonenya dengan takut kepada lelaki di hadapannya.
"Bang! Saya sewa kostumnya! Nanti saya bayar dua kali lipat!" Ujar Alga datar.
Abang badut yang mendengar tawaran Alga, dirinya mulai melepaskan semua pakaian kostum badutnya, dan memberikan'nya kepada Alga.
Alga mulai memakaikan kostumnya ke seluruh badannya, dan mulai memasang sebuah tomat di hidungnya.
"Tolong di ambil foto, Bang!" Ujarnya, yang dianggukin oleh Abang badut.
"Lebih dekat lagi mas, jangan kayak patung kaku benar!" Jelas Abang tukang badut yang sangat alih dalam mengambil foto seperti seorang fotografer profesional.
"Aduh! Mas bagaimana sih, jadi cowok dingin banget! Lebih dekat lagi Maas, jangan kayak kulkas. Kasian nanti pacarnya masa foto sama tiang listrik." Jelasnya sekali lagi.
Alga yang mulai kesal atas penjelasan dari laki-laki yang sudah paruh baya di depannya. Kini, dirinya mulai memegang kedua tangannya ke wajah Asa, untuk menatap kearah dirinya.
Tatapan mereka berdua saling bertemu satu sama lain, dengan nafas yang mulai berhembusan satu sama lain yang mulai terasa dekat, dan dengan angin yang berhembus kencang dengan indah di malam hari, adalah sebuah kejadian yang sangat sempurna untuk seorang gadis seperti Asa yang bisa menatap Alga dengan lebih dekat seperti ini.
Asa tersenyum manis, yang diikuti oleh Alga dengan tersenyum kecil, dan tatapan dinginnya. Sesekali, Alga mulai membenarkan sehelai rambut hitam lekat Asa yang berantakan karena angin yang berhembus kencang.
"Lu tahu! Gue relal melakukan apapun untuk membuat lu selalu tersenyum dengan sempurna layaknya sebuah tulisan dan lukisan. Bahkan, gue rela jika menjadi sebuah badut untuk membuat lu selalu terukir dengan senyuman di wajah lu."
"Karena, tugas badut itu bukanlah hanya sekedar untuk mencari penghasilan saja. Tapi! Dibalik kostum badut adalah untuk membuat semua orang tersenyum kembali di wajahnya, sama halnya dengan gue! Gue hanya mau menjadi sebuah badut yang bisa membuat lu tersenyum selalu, walaupun lu bukan bersama gue." Jelasnya dengan nada datar, sambil tersenyum kecil.
Tapi! Perkataan datar dari seorang lelaki bernama Algasa Adistia Renanda, mampu membuat perasaan seseorang gadis terbunga-bunga dengan sangat bahagia, sambil menunjukan senyumannya kepada lelaki di hadapannya.
"Mas, ini sudah saya fotokan!" Panggil Abang badut yang mengganggu keromantisan antara Asa dan Alga.
Alga yang mulai tersadar ke alam'nya, dirinya mulai menjauhkan dirinya dari Asa, dan melepaskan semua kostum badutnya.
"Makasih Bang, ini semua bayaran yang sudah saya janjikan!" Ujar Alga sambil memberikan beberapa lembar uang.
"Makasih iya Mas! Alhamdulillah bisa membeli susu untuk anak saya di rumah. Semoga, hubungan kalian selalu langgeng sampai tua." Doa'nya dengan bersyukur.
"Amin, makasih Bang doa'nya." Ucap Alga sambil tersenyum.
Asa yang mendengar perkataan laki-laki di sampingnya, dirinya hanya diam saja. Daripada sifat hangatnya berubah kembali menjadi sebuah balok es dingin! Mending Asa diam seperti orang bisu. Lagipula, dirinya juga sudah terbiasa dengan perlakuan kasar Alga. Kecuali! Kalau sifat hangatnya ini sangatlah langkah.
__ADS_1