
Matahari yang mulai bersembunyi di balik sebuah awan gelap yang mulai terlihat dengan sangat jelas. Kini hanya sebuah rembulan yang mulai terlihat dengan sangat indah dan jelas, yang ditemanin oleh sebuah bintang yang mulai terlihat sangat banyak menghiasi malam ini.
Angin yang mulai berhembus dengan sangat sempurna. Beberapa motor mulai melaju dengan kecepatan tinggi dan meramaikan suasana jalan besar Ibu Kota Jakarta.
Dilan, David, Putra, Wisnu, Dan BomBom mulai mengendarai motor mereka ke arah sebuah rumah sakit yang di informasikan oleh Alga barusan kepada mereka semua.
Yah, Alga melarang para sahabatnya untuk memberi tahu masalah ini semua kepada Asa. Karena dirinya ingin fokus kepada seorang gadis yang mulai terlihat lemah, dan dipenuhi oleh berbagai alat yang di pasang ke seluruh tubuhnya.
Beberapa motor tersebut pun mulai terpakir dengan sangat sempurna di tempat parkiran rumah sakit, dan beberapa para laki-laki itu pun mulai mengambil langkah yang sangat besar untuk mencari ruangan seorang gadis bernama Dasalina Wulandari.
Dilan yang melihat seorang laki-laki sedang duduk di depan pintu ruangan UGD. Dirinya mulai menghampiri Alga dengan berlari kecil dan dengan raut wajah khawatir.
"Bagaimana dengan keadaan Dasa?" Tanya Dilan dengan suara serak.
Alga hanya menghela nafasnya dengan berat dan menggelengkan kepalanya.
"Maksud lu?"
"Ini sudah ketiga kalinya, Dasa di bawa keruangan UGD! Gue bingung, sebenarnya apa yang terjadi disaat gue nggak bersama dia? Kan, sudah gue bilang jaga Dasa!" Jelasnya dengan penekanan.
Putra yang mendengar perkataan dari Alga. Dirinya mulai menghela nafasnya dengan sangat berat dan dengan pikiran yang bercampur aduk di kepalanya.
"Gue juga nggak tahu, yang jelas Citra dan Diana mulai keluar dari kelas disaat kita semua berada diluar kelas menunggu pintu yang terbuka lebar atas kejadian tersebut." Jelas Dilan yang mulai mengusap wajahnya dengan kasar.
Sedangkan, David mulai memberikan barang yang ditinggal begitu saja oleh Alga di kelas. Alga pun mulai mendongakkan kepalanya dan menatap David dengan datar.
"Lu nggak kasih tahu dia, 'kan?" Tanya Alga dengan datar.
__ADS_1
"Nggak, gue tahu pasti lu bakalan berat kalau harus ada dua gadis disini. Lebih baik, kita harus mikirin kondisi Dasa sekarang, masalah yang tadi pagi kita pikirin nanti." Jelas David yang mulai melihat kondisi seorang gadis di balik kaca transparan ruangan UGD.
Putra yang mendengar perkataan dari David, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat. Kalau dirinya memberi tahu siapa identitas Citra kepada para sahabatnya, maka keluarganya akan hancur dan tambah membenci dirinya.
"Ga? Apa lu beneran nggak mau kasih kabar apapun kepadanya? Gue takutnya nanti bakalan ada kesalahpahaman disini dan—" Perkataan Putra pun terpotong oleh seorang laki-laki di hadapannya.
"Kalau dia memang berfikiran seperti itu tentang gue, biarkan saja. Itu urusan nanti, yang lebih penting adalah nyawa seseorang disini yang dipertahankan." Jelas Alga yang mulai terlihat khawatir.
"Terus? Bagaimana dengan kedua orang tuanya?" Tanya Putra dengan heran.
Alga menghela nafasnya. "Gue nggak tahu, gue takut nanti gue yang disalahkan disini! Karena gue nggak becus menjaga Dasa." Jelas Alga dengan lirih dan dengan mata yang mulai terasa panas karena menahan semua perasaannya.
Wisnu pun mulai menepuk pundak Alga dengan pelan. "Bukan lu saja disini yang bersalah, kita bakalan ada selalu bersama lu disini." Jelas Wisnu dengan sangat tegas.
Dilan pun mulai bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan para sahabatnya. Tapi langkahnya dihentikan oleh suara seseorang lelaki yang bertanya kepadanya.
Dilan tersenyum kecil. "Gue nggak kuat disini, gue nggak kuat melihat dia seperti itu di hadapan gue." Jawabnya dengan pelan.
Alga yang mendengar perkataan dari Dilan, dirinya tersenyum kecil.
"Lu kira, hanya lu doang yang nggak kuat disini? Gue juga, Dil! Gue dari pagi sampai sekarang menemani dia yang sedang berusaha di dalam sana. Sedangkan lu? Apa lu kira gue bodoh? Kalau lu mencintai Dasa, kan? Bukannya seorang gadis yang bernama Asalina Hyena?" Jelas Alga yang mulai berjalan mendekati Dilan.
Bugh ...
Sebuah pukulan hebat mulai melayang dengan sangat hebat disisi bibir Dilan yang mulai terlihat jelas mengeluarkan darah segar yang mengalir keluar.
"Asal lu tahu, gue rela melepaskan perasaan gue ini hanya untuk lu sahabat gue! Dan lu? Disaat orang yang lu sayangi sedang berusaha keras di dalam sana dari tadi, apa lu nggak ada rasa sedikit pun untuk selalu menemani setiap nafasnya dan perjuangan Dasa di dalam sana?"
__ADS_1
Dilan yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menatap kedua mata laki-laki dihadapannya dengan senyuman kecil.
"Lu tahu apa tentang gue? Sedangkan lu? Apakah lu pernah berfikir perasaan Dasa yang terluka atas semua kejadian disaat dimana lu bersama dengannya?" Jelas Dilan yang mulai menatap Alga dengan kebencian.
Alga tersenyum lebar. "Maksudnya lu, gue yang salah disini?" Tanya Alga dengan datar.
"Bukan lu yang salah, tapi gue yang salah disini. Nggak seharusnya dulu gue membiarkan Dasa bersama lu, mungkin ini nggak akan terjadi!" Jelas Dilan dengan lirih dan penekanan.
Alga yang mendengar perkataan dari Dilan. Mereka berdua pun mulai berpelukan satu sama lain dan melepaskan perasaan mereka berdua.
"Gue nggak seharusnya membiarkan Dasa mencintai seseorang laki-laki yang bodoh kayak lu!" Ucap Dilan di dalam pelukan Alga.
"Yah, gue emang bodoh dari dulu sampai sekarang! Tapi, gue nggak akan membiarkan semua itu terjadi lagi kedepannya." Jelas Alga sambil tertawa kecil.
"Gue janji, gue akan selalu menjaga Dasa disisi gue, dan mengambil perasaannya lagi untuk gue." Ucap Dilan dengan lirih.
"Dan, gue janji sebagai seorang yang berada di masalalunya. Akan selalu bersamanya, dan menemani setiap langkahnya di akhir nyawa gue, seperti dulu gue pernah berjanji ini kepadanya." Janji Alga dengan sungguh-sungguh.
Semua para sahabatnya pun yang melihat kejadian tersebut, mereka semua mulai berpelukan dengan sangat erat satu sama lain, yang di akhiri oleh BomBom dengan pelukan yang sangat-sangat eratnya.
"Bom lu bisa nggak jangan erat-erat banget peluk kita semua!" Ketus Wisnu yang mulai terlihat sesak nafas.
"Bukan gue yang salah, tapi karena badan kalian yang seperti triplek disini." Ucap BomBom dengan sangat cepat.
Tanpa ada kejadian lucu ataupun badut. Semua laki-laki itu mulai tertawa dengan sangat lebar dan dengan sangat bahagia.
Mungkin, mereka kira persahabatan mereka akan hancur atas keegoisan seseorang. Tapi jika kita berbicara di hadapannya dan dengan kepala dingin. Maka semuanya akan terjawab dengan perlakuan baik dan tidak akan ada kesalahpahaman disini.
__ADS_1
Sahabat sejati adalah yang sangat ingin kita dapatkan di dunia ini, janganlah pernah kita menghancurkan persahabatan yang telah kita pertahankan selama ini dan dengan semua kenangan yang sangat indah. Disaat dimana kita bersama dengan para sahabat kita.