ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 52


__ADS_3

Lusi pun mulai berjalan memasuki ruangan UGD dengan langkah yang sangat besar, dan dengan perasaan sebagai seorang ibu untuk anaknya.


Lusi yang melihat gadis kecilnya sedang tertidur dengan sangat pulas di sebuah ranjang. Dirinya mulai menghela nafasnya dengan sangat berat, dan mendengarkan suara lirih Dasa yang masih saja menyebut nama Alga di dalam mimpinya.


Lusi yang mendengar perkataan dari anak gadisnya. Sebagai seorang Ibu yang melahirkan Dasa, dirinya mulai mengusap rambut Dasa dengan lembut, dan menganggukkan kepalanya.


Lusi pun mulai mencium kening Dasa dengan penuh kasih sayang seorang ibu kandung. Sesekali dirinya menghela nafas beratnya, menatap wajah pucat Dasa, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah besar.


Diluar ruangan, Lusi pun tidak melihat sesosok lelaki yang ingin dicarinya, dengan langkah berat, dirinya berjalan ke arah taman dengan tergesa-gesa. Dilan yang melihat perubahan drastis Lusi, dirinya mulai mengikuti ke arah kemana Lusi berjalan. Yaitu, taman belakang rumah sakit.


Lusi pun melihat seorang lelaki yang kini sedang mendongakkan kepalanya ke arah langit. Tanpa berfikir panjang, langkah Lusi pun kini berada dipandangan kedua mata Alga.


"Ada apa, Tan?" Tanya Alga heran.


"Tante ingin bicara sebentar dengan kamu, Ga!" Ujarnya, dengan memberikan tatapan mata kosongnya.


"Tante ingin bicara hal apa ke Alga?" Tanya Alga 'the tho point.'


Lusi yang mengerti maksud pertanyaan Alga, dirinya mulai menjelaskan apa yang ingin dirinya bicarakan kepada Alga. Sedangkan, lelaki yang mendengar semua lontaran dari wanita paruh baya di hadapannya, dirinya sama sekali tidak pernah menyangka akan seperti ini pembicaraan mereka.


"Ma–maksudnya, Tante apa?" Tanya Alga heran.


Lusi menghela nafasnya dengan berat, dan menatap wajah Alga dengan penuh berharap.


"Saya tahu, saat ini engkau masih peduli terhadap semua tentang Dasa? Jadi saya akan menyerahkan anak gadis saya kepadamu. Karena saya sadar, kebahagiaan yang dimiliki olehnya, itu semua ada di dirimu." Jelas Lusi.


Alga yang mendengar perkataan dari Lusi, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat. "Saya tidak bisa, Tan." Tolak Alga.


"Saya ingin melihat kalian berdua menikah, dan saya akan merestui hubungan di antara kalian dahulu." Ujarnya dengan memohon.


Alga yang mendengar perkataan dari Lusi. Dirinya merasa ini adalah sebuah lelucon untuknya, kenapa harus sekarang hubungan mereka direstuin? Kenapa nggak dari dulu saja, hubungan mereka berdua direstuin?


Alga pun menatap Lusi dengan tajam. "Alga nggak bisa—" Perkataan Alga terpotong, karena suara berat di belakang punggungnya.


"Gue tahu, alasan kenapa lu langsung menolak permintaan dari Tante Lusi. Tapi, bukannya itu keinginan lu dari dulu? Kalau lu ingin menikahi Dasa, dan akan selalu membuatnya bahagia?" Jelas Dilan sambil menatap Alga dengan datar.


Alga yang mendengar perkataan dari sahabatnya, dirinya mulai tertawa kecil. "Gue nggak perlu alasan untuk menolak lelucon ini semua, kenapa lu pada harus melemparkan semuanya ke gue? Dari dulu lu pada kemana aja? Kenapa harus sekarang kalian semua memberikan restu oleh sebuah hubungan yang sudah lamanya berakhir?" Murka Alga.


Wahid yang melihat dan mendengar semua kejadian di hadapannya, dirinya mulai menepuk kedua tangannya dengan murka, dan dengan tatapan mata membara.


"Terus, bagaimana dengan semua janji-janjimu yang ingin menikahi dirinya?" Wahid pun menatap wajah Alga yang terdiam membisu. "Mungkin, kami dulu tidak pernah setuju kalau putri saya, akan mempunyai hubungan dengan lelaki lemah sepertimu dulu! Tapi dengan perubahanmu sekarang, saya bisa melepaskan putri saya dengan tenang, dan saya setuju dengan pendapat istri saya—Lusi." Jelasnya.


Alga yang mendengar perkataan dari ketiga manusia di hadapannya, seakan dirinya sedang disudutkan oleh mereka semua. Kenapa semua kesalahan harus dilempar kepadanya sekarang?


Lusi pun mulai menepuk pundak Alga dengan lembut. "Tante hanya minta, supaya kamu bisa mengabulkan permohonan Tante saat ini. Tante tahu, kamu adalah laki-laki yang baik, kamu bisa menyudahi hubungan kamu dengannya, jika itu adalah jalan satu-satunya saat ini." Jelas Lusi dengan senyuman kecil.


Alga yang mendengar perkataan dari Lusi. Dirinya pun hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, dan meninggalkan tempat itu dengan langkah yang sangat besar.


"Pah, apakah Alga akan mendengarkan permintaan kita?" Lirih Lusi.


Wahid pun dengan sangat lembut memeluk istrinya. "Kita lihat saja nanti—"


"Saya akan pastikan, bahwa Alga akan menerima pernikahan ini dengan waktu yang sangat cepat." Jelas Dilan yang mulai meninggalkan taman belakang.


Dilan pun mulai menelpon seseorang dibalik handphonenya, dan menaruh benda pipih tersebut di daun telinganya.


"Gue butuh bantuan lu saat ini!"


'Apa yang bisa gue bantu?'


"Gue ingin, lu merusak hubungan Alga dengan seorang gadis bernama Asalina Hyena, secepat mungkin. Kalau bisa, disaat dimana kejadian tersebut, ada di hadapan kedua mata sahabat gue–Alga."


'Itu sangat gampang, sesuai awal perjanjian kita saja. Karena, gue juga ingin melihatnya menjauh dari kehidupan gadis yang sedang gue incar saat ini.'


"Thanks, Dik."


Panggilan tersebut pun mulai terputus, sebuah panggilan dari nomor kontak bernama Andika Pratama. Yah, seorang lelaki remaja, yang waktu itu ingin menantang Alga untuk bertanding ulang.

__ADS_1


Dilan pun mulai tersenyum kecil, dan menghirup udara segar dengan sangat kuat.


"Gue akan bantuin lu, Da. Gue akan bantuin dimana kebahagiaan lu akan terukir dengan sangat sempurna bersama Alga, walaupun itu akan membuat gue terluka nantinya." Gumamnya, sambil memandang langit-langit rumah sakit.


***


Sebuah ruangan pasien, terdapat seorang lelaki remaja yang kini masih setia terdiam membisu, dan menatap setiap inci wajah seorang gadis di hadapannya. Semua kejadian yang berada di taman, seakan-akan kini mulai memenuhi semua isi kepalanya, dengan helaan nafas panjangnya, dirinya tersenyum lirih :


"Kenapa waktu itu lu harus pergi meninggalkan gue, Da? Kenapa lu nggak jujur ke gue? Apa karena lu takut gue nggak bisa melupakan lu, disaat lu akan pergi meninggalkan gue sendirian di dunia ini, Da? Tapi ternyata, semua yang lu lakukan susah payahnya, itu semua salah, bahkan itu membuat gue seperti disudutkan sekarang!"


"Lu tahu, apa yang terjadi barusan? Dilan dan kedua orang tua lu, mereka semua melemparkan masalahnya ke gue. Lu tahu, Da? Mungkin, menurut lu gue jahat, gue nggak pernah menepati semua janji yang gue buat waktu itu ke lu. Tapi, itu semua bukan sepenuhnya kesalahan gue, Da!"


"Mungkin dulu, gue pernah berjanji akan menikahi lu, dan akan membuat lu bahagia selalu. Tapi sekarang semua janji itu hanya kenangan belaka, disaat lu meninggalkan gue, disaat itu pula gue telah membuka perasaan gue kembali untuk perasaan seorang gadis, yang harus gue jaga, Da!"


"Gue hanya manusia biasa, gue bukan lelaki yang seperti di novel pada umumnya, gue hanya ingin membuat kisah gue sendiri. Sebuah kisah yang dimana, semua itu adalah keinginan gue, bukan karena paksaan ataupun karena sebuah masalalu yang sudah lamanya berakhir. Menurut lu, gue sekarang egois'kan, Da? Yah, gue egois! Kenapa? Kenapa semua masalah harus dilemparkan ke gue? Bukannya, lu sendiri yang mengakhiri hubungan kita dari dulu?" Lirihnya.


Sebuah butiran kristal yang sudah lama tidak menyapa setiap sudut wajah datarnya. Kini, butiran kristal itu menetes di kedua sudut pipi wajah datarnya, dan menyentuh tangan seorang gadis yang sedang tertidur pulas.


Dasa yang merasakan kehangatan di tangannya, dirinya sedari tadi mendengarkan semua lontaran kalimat dari lelaki di sampingnya, walaupun semua lontaran itu tidak terdengar sangat jelas. Tapi, semua lontaran itu mampu membuat perasaannya sangat sesak, sekaligus dirinya harus menerima kenyataan yang sangat sakit buat Dasa sekarang.


Yah, suara berat itu adalah milik seorang lelaki remaja yang sangat penting di dalam kehidupannya—Alga.


Dasa tidak pernah menginginkan, semua yang dirinya lakukan waktu itu, akan membuat perasaan Alga untuknya juga ikut mati, dan bahkan kesalahan yang Dasa lakukan waktu itu, malah membuat orang yang disayanginya menangis di sampingnya. Ingin sekali Dasa menghapus setiap kristal yang telah membasahi wajah datarnya sekarang, tapi semua usahanya sia-sia, karena dirinya tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya.


Dasa pun hanya bisa berpasrah, dirinya hanya bisa menggerakkan jari tangannya, untuk memberi petunjuk kepada Alga. Bahwa dirinya tidak akan pernah sendirian, masih ada seseorang yang ingin mengikuti semua jalannya, dan merangkulnya.


Walaupun semua lontaran Alga sangat sakit untuk perasaannya. Tapi, Dasa tidak ingin egois, dirinya pun mulai berusaha untuk mengukir sebuah senyuman manis di hadapan Alga.


Sedangkan, Alga yang melihat kejadian di hadapannya, dirinya mulai tersenyum kecil, dan menghela nafasnya dengan panjang :


"Gue tahu, semua lontaran gue barusan pasti membuat perasaan lu terluka. Tapi hanya lu seorang yang gue punya sekarang, Da! Mungkin, hubungan kita nggak akan pernah seperti dulu lagi. Tapi, lu akan selalu menjadi orang yang selalu gue sayangi, sekaligus seorang gadis yang pertama kali membuat gue jatuh cinta." Jelasnya.


Dasa hanya selalu tersenyum manis di hadapan semua orang, walaupun dirinya tidak terlalu mendengar semua lontaran Alga secara jelas. Tapi, dirinya paham satu hal, bahwa Alga sekarang sedang banyak masalah di kehidupannya. Batin? Tentu, semua tentang Alga ... Dasa adalah orang yang pertama akan mengetahui semuanya, walaupun itu hanya masalah kecil saja.


'Dasa berharap, semua tidur panjang ini segera berakhir. Dasa hanya ingin membereskan semua masalah yang Dasa perbuat dulu, dan ingin memperjuangkan seseorang yang Dasa sayangi kembali.' Batin Dasa.Lusi pun mulai berjalan memasuki ruangan UGD dengan langkah yang sangat besar, dan dengan perasaan sebagai seorang ibu untuk anaknya.


Lusi yang melihat gadis kecilnya sedang tertidur dengan sangat pulas di sebuah ranjang. Dirinya mulai menghela nafasnya dengan sangat berat, dan mendengarkan suara lirih Dasa yang masih saja menyebut nama Alga di dalam mimpinya.


Lusi yang mendengar perkataan dari anak gadisnya. Sebagai seorang Ibu yang melahirkan Dasa, dirinya mulai mengusap rambut Dasa dengan lembut, dan menganggukkan kepalanya.


Lusi pun mulai mencium kening Dasa dengan penuh kasih sayang seorang ibu kandung. Sesekali dirinya menghela nafas beratnya, menatap wajah pucat Dasa, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah besar.


Diluar ruangan, Lusi pun tidak melihat sesosok lelaki yang ingin dicarinya, dengan langkah berat, dirinya berjalan ke arah taman dengan tergesa-gesa. Dilan yang melihat perubahan drastis Lusi, dirinya mulai mengikuti ke arah kemana Lusi berjalan. Yaitu, taman belakang rumah sakit.


Lusi pun melihat seorang lelaki yang kini sedang mendongakkan kepalanya ke arah langit. Tanpa berfikir panjang, langkah Lusi pun kini berada dipandangan kedua mata Alga.


"Ada apa, Tan?" Tanya Alga heran.


"Tante ingin bicara sebentar dengan kamu, Ga!" Ujarnya, dengan memberikan tatapan mata kosongnya.


"Tante ingin bicara hal apa ke Alga?" Tanya Alga 'the tho point.'


Lusi yang mengerti maksud pertanyaan Alga, dirinya mulai menjelaskan apa yang ingin dirinya bicarakan kepada Alga. Sedangkan, lelaki yang mendengar semua lontaran dari wanita paruh baya di hadapannya, dirinya sama sekali tidak pernah menyangka akan seperti ini pembicaraan mereka.


"Ma–maksudnya, Tante apa?" Tanya Alga heran.


Lusi menghela nafasnya dengan berat, dan menatap wajah Alga dengan penuh berharap.


"Saya tahu, saat ini engkau masih peduli terhadap semua tentang Dasa? Jadi saya akan menyerahkan anak gadis saya kepadamu. Karena saya sadar, kebahagiaan yang dimiliki olehnya, itu semua ada di dirimu." Jelas Lusi.


Alga yang mendengar perkataan dari Lusi, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat. "Saya tidak bisa, Tan." Tolak Alga.


"Saya ingin melihat kalian berdua menikah, dan saya akan merestui hubungan di antara kalian dahulu." Ujarnya dengan memohon.


Alga yang mendengar perkataan dari Lusi. Dirinya merasa ini adalah sebuah lelucon untuknya, kenapa harus sekarang hubungan mereka direstuin? Kenapa nggak dari dulu saja, hubungan mereka berdua direstuin?


Alga pun menatap Lusi dengan tajam. "Alga nggak bisa—" Perkataan Alga terpotong, karena suara berat di belakang punggungnya.

__ADS_1


"Gue tahu, alasan kenapa lu langsung menolak permintaan dari Tante Lusi. Tapi, bukannya itu keinginan lu dari dulu? Kalau lu ingin menikahi Dasa, dan akan selalu membuatnya bahagia?" Jelas Dilan sambil menatap Alga dengan datar.


Alga yang mendengar perkataan dari sahabatnya, dirinya mulai tertawa kecil. "Gue nggak perlu alasan untuk menolak lelucon ini semua, kenapa lu pada harus melemparkan semuanya ke gue? Dari dulu lu pada kemana aja? Kenapa harus sekarang kalian semua memberikan restu oleh sebuah hubungan yang sudah lamanya berakhir?" Murka Alga.


Wahid yang melihat dan mendengar semua kejadian di hadapannya, dirinya mulai menepuk kedua tangannya dengan murka, dan dengan tatapan mata membara.


"Terus, bagaimana dengan semua janji-janjimu yang ingin menikahi dirinya?" Wahid pun menatap wajah Alga yang terdiam membisu. "Mungkin, kami dulu tidak pernah setuju kalau putri saya, akan mempunyai hubungan dengan lelaki lemah sepertimu dulu! Tapi dengan perubahanmu sekarang, saya bisa melepaskan putri saya dengan tenang, dan saya setuju dengan pendapat istri saya—Lusi." Jelasnya.


Alga yang mendengar perkataan dari ketiga manusia di hadapannya, seakan dirinya sedang disudutkan oleh mereka semua. Kenapa semua kesalahan harus dilempar kepadanya sekarang?


Lusi pun mulai menepuk pundak Alga dengan lembut. "Tante hanya minta, supaya kamu bisa mengabulkan permohonan Tante saat ini. Tante tahu, kamu adalah laki-laki yang baik, kamu bisa menyudahi hubungan kamu dengannya, jika itu adalah jalan satu-satunya saat ini." Jelas Lusi dengan senyuman kecil.


Alga yang mendengar perkataan dari Lusi. Dirinya pun hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, dan meninggalkan tempat itu dengan langkah yang sangat besar.


"Pah, apakah Alga akan mendengarkan permintaan kita?" Lirih Lusi.


Wahid pun dengan sangat lembut memeluk istrinya. "Kita lihat saja nanti—"


"Saya akan pastikan, bahwa Alga akan menerima pernikahan ini dengan waktu yang sangat cepat." Jelas Dilan yang mulai meninggalkan taman belakang.


Dilan pun mulai menelpon seseorang dibalik handphonenya, dan menaruh benda pipih tersebut di daun telinganya.


"Gue butuh bantuan lu saat ini!"


^^^"*A*pa yang bisa gue bantu?'"^^^


"Gue ingin, lu merusak hubungan Alga dengan seorang gadis bernama Asalina Hyena, secepat mungkin. Kalau bisa, disaat dimana kejadian tersebut, ada di hadapan kedua mata sahabat gue–Alga."


^^^"Itu sangat gampang, sesuai awal perjanjian kita saja. Karena gue juga ingin melihatnya menjauh, dari kehidupan seorang gadis yang sedang gue incar saat ini.'"^^^


"Thanks, Dik."


Panggilan tersebut pun mulai terputus, sebuah panggilan dari nomor kontak bernama Andika Pratama. Yah, seorang lelaki remaja, yang waktu itu ingin menantang Alga untuk bertanding ulang.


Dilan pun mulai tersenyum kecil, dan menghirup udara segar dengan sangat kuat.


"Gue akan bantuin lu, Da. Gue akan bantuin dimana kebahagiaan lu akan terukir dengan sangat sempurna bersama Alga, walaupun itu akan membuat gue terluka nantinya." Gumamnya, sambil memandang langit-langit rumah sakit.


...***...


Sebuah ruangan pasien, terdapat seorang lelaki remaja yang kini masih setia terdiam membisu, dan menatap setiap inci wajah seorang gadis di hadapannya. Semua kejadian yang berada di taman, seakan-akan kini mulai memenuhi semua isi kepalanya, dengan helaan nafas panjangnya, dirinya tersenyum lirih :


"Kenapa waktu itu lu harus pergi meninggalkan gue, Da? Kenapa lu nggak jujur ke gue? Apa karena lu takut gue nggak bisa melupakan lu, disaat lu akan pergi meninggalkan gue sendirian di dunia ini, Da? Tapi ternyata, semua yang lu lakukan susah payahnya, itu semua salah, bahkan itu membuat gue seperti disudutkan sekarang!"


"Lu tahu, apa yang terjadi barusan? Dilan dan kedua orang tua lu, mereka semua melemparkan masalahnya ke gue. Lu tahu, Da? Mungkin, menurut lu gue jahat, gue nggak pernah menepati semua janji yang gue buat waktu itu ke lu. Tapi, itu semua bukan sepenuhnya kesalahan gue, Da!"


"Mungkin dulu, gue pernah berjanji akan menikahi lu, dan akan membuat lu bahagia selalu. Tapi sekarang semua janji itu hanya kenangan belaka, disaat lu meninggalkan gue, disaat itu pula gue telah membuka perasaan gue kembali untuk perasaan seorang gadis, yang harus gue jaga, Da!"


"Gue hanya manusia biasa, gue bukan lelaki yang seperti di novel pada umumnya, gue hanya ingin membuat kisah gue sendiri. Sebuah kisah yang dimana, semua itu adalah keinginan gue, bukan karena paksaan ataupun karena sebuah masalalu yang sudah lamanya berakhir. Menurut lu, gue sekarang egois, 'kan? Yah, gue egois! Kenapa? Kenapa semua masalah harus dilemparkan ke gue? Bukannya, lu sendiri yang mengakhiri hubungan kita dari dulu?" Lirihnya.


Sebuah butiran kristal yang sudah lama tidak menyapa setiap sudut wajah datarnya. Kini, butiran kristal itu menetes di kedua sudut pipi wajah datarnya, dan menyentuh tangan seorang gadis yang sedang tertidur pulas.


Dasa yang merasakan kehangatan di tangannya, dirinya sedari tadi mendengarkan semua lontaran kalimat dari lelaki di sampingnya, walaupun semua lontaran itu tidak terdengar sangat jelas. Tapi, semua lontaran itu mampu membuat perasaannya sangat sesak, sekaligus dirinya harus menerima kenyataan yang sangat sakit buat Dasa sekarang.


Yah, suara berat itu adalah milik seorang lelaki remaja yang sangat penting di dalam kehidupannya—Alga.


Dasa tidak pernah menginginkan, semua yang dirinya lakukan waktu itu, akan membuat perasaan Alga untuknya juga ikut mati, dan bahkan kesalahan yang Dasa lakukan waktu itu, malah membuat orang yang disayanginya menangis di sampingnya. Ingin sekali Dasa menghapus setiap kristal yang telah membasahi wajah datarnya sekarang, tapi semua usahanya sia-sia, karena dirinya tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya.


Dasa pun hanya bisa berpasrah, dirinya hanya bisa menggerakkan jari tangannya, untuk memberi petunjuk kepada Alga. Bahwa dirinya tidak akan pernah sendirian, masih ada seseorang yang ingin mengikuti semua jalannya, dan merangkulnya.


Walaupun semua lontaran Alga sangat sakit untuk perasaannya. Tapi, Dasa tidak ingin egois, dirinya pun mulai berusaha untuk mengukir sebuah senyuman manis di hadapan Alga.


Sedangkan, Alga yang melihat kejadian di hadapannya, dirinya mulai tersenyum kecil, dan menghela nafasnya dengan panjang :


"Gue tahu, semua lontaran gue barusan pasti membuat perasaan lu terluka. Tapi hanya lu seorang yang gue punya sekarang, Da! Mungkin, hubungan kita nggak akan pernah seperti dulu lagi. Tapi, lu akan selalu menjadi orang yang selalu gue sayangi, sekaligus seorang gadis yang pertama kali membuat gue jatuh cinta." Jelasnya.


Dasa hanya selalu tersenyum manis di hadapan semua orang, walaupun dirinya tidak terlalu mendengar semua lontaran Alga secara jelas. Tapi, dirinya paham satu hal, bahwa Alga sekarang sedang banyak masalah di kehidupannya. Batin? Tentu, semua tentang Alga ... Dasa adalah orang yang pertama akan mengetahui semuanya, walaupun itu hanya masalah kecil saja.

__ADS_1


'Dasa berharap, semua tidur panjang ini segera berakhir. Dasa hanya ingin membereskan semua masalah yang Dasa perbuat dulu, dan ingin memperjuangkan seseorang yang Dasa sayangi kembali.' Batin Dasa.


__ADS_2