ALGASA

ALGASA
Chapter 20


__ADS_3

"Ternyata, seperti ini kehangatan sang matahari ketika kehangatan itu berada dekat dengan sebuah balok es."


......~Algasa Adistia Renanda~......


...••••••••...


Malam adalah yang paling indah jika kita memandangi sang langit-langit yang dipenuhi oleh semua bintang dan rembulan.


Tapi! Berbeda dengan seorang lelaki remaja yang kini sedang tersenyum sendiri dengan handphonenya, sesekali dirinya menatap sebuah boneka Annabelle di dekatnya.


Ting!


Deringan ponsel mulai berbunyi, menandakan ada sebuah pesan masuk di dalam benda pipih itu. Dengan sangat berat, Alga mulai membuka ponselnya sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan menggunakan handuk.


Asa?


Iya ... pesan itu dari seorang gadis yang mampu membuat perasaan seorang Alga berdegup dengan sangat kencang, dan mampu membuat dirinya tersenyum.


"Darimana itu gadis dapat nomor gue?" Gumamnya kepada dirinya sendiri.


Alga mulai membuka Via Chat yang terdapat begitu banyak pesan spam masuk untuk dirinya.


'Malam Kak Alga, malam ini matahari tidak muncul iya? Tapi ... Asa akan selalu menjadi rembulan dan matahari untuk seorang lelaki ganteng bernama ALGASA.'


'Kak Alga pasti heran, marah, kesal, bahkan tidak ingin kalau Asa kirim pesan untuk Kak Alga. Tapi! Percayalah, Asa akan membuat itu semua menjadi kelembutan dan kehangatan untuk Kak Alga.'


'Kak Alga, Asa rindu dan kangen sama Kak Alga. Makanya itu ... Asa kirim chat ke Kak Alga, siapa tahu Kak Alga bisa mengabulkan doa Asa dan datang membawa bunga yang sangat besar untuk Asa.'


'Jika ... Kak Alga tidak ingin datang juga nggak apa-apa kok. Tapi! Balas pesan Asa iya ...'


'Dari Asalina Hyena ... calon bidadari surga Algasa Adistia Renanda.'


Alga yang melihat semua isi pesan tersebut, dirinya mulai tersenyum kecil dan manis.


"Bidadari surga gue menginginkan bunga ternyata. Baiklah! Keinginan bidadari akan diwujudkan oleh pangeran balok es nya!" Gumamnya dengan pelan.


Alga pun mulai mengambil jaket kulitnya yang berwarna hitam, mengambil kunci motornya, dan mulai berjalan keluar rumah dengan terburu-buru.


Dengan cepat dirinya mulai menaiki motor sportnya, dan meninggalkan kalangan rumahnya.


......•••••••......


Sebuah rumah yang sangat hangat dan penuh kasih, Alga mulai menatap rumah tersebut dengan perasaan gundah.


"Semangat Alga!" Ucapnya kepada dirinya sendiri.


Tok! Tok!

__ADS_1


Pintu terbuka terdapat seorang wanita paruh baya yang mulai membuka pintu rumahnya.


"Cari siapa iya?" Tanya Aisyah dengan heran.


Alga yang baru pertama kali ke rumah seorang gadis, dirinya mulai terlihat bingung, dan banyak sekali air keringat yang mulai membasahi seluruh badannya.


"Saya disini ingin mengantarkan pesanan kepada Ibu Asalina Hyena, apakah betul ini rumahnya?" Jawab Alga yang pura-pura menjadi kurir pengantar barang.


"Iya benar, tunggu sebentar iya!" Ucap Aisyah dengan sopan.


"ASA! ADA KURIR YANG MENGANTAR BARANG KAMU, NAK!" Teriak Aisyah yang mulai terdengar dikedua telinga Asa.


"Bunda ngomong apa sih? Asa nggak pesan apa–"


"Permisi saya ingin mengantar paket ibu, tolong di tanda tangani!" Ujar Alga yang mulai cepat memotong perkataan dari Asa.


Asa yang melihat kehadiran seseorang lelaki di depan pintunya, dirinya mulai mengusap-usap matanya dengan cepat.


"Nih anak malah bengong! Ini kasian kurirnya nungguin loh, bunda tahu masih muda dan ganteng. Cepatan sini!" Jelas Aisyah yang mulai memasuki kedalam rumahnya, dan meninggalkan anak gadisnya.


Asa mulai berjalan mendekati laki-laki yang berada di luar pintu.


"Kak Alga ngapain disini?" Tanya Asa yang tidak tahu apa-apa.


Alga yang mulai merasa lega, akhirnya dirinya mulai bisa berdiri dan bernafas dengan normal.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai tersenyum kecil, "Kak Alga bukan tamu, tapi kurir!" Ucap Asa yang menyadarkan posisi Alga sekarang.


"Gara-gara lu semuanya, ngapain gue disuruh jadi kurir coba? Kan jadinya nggak dapat apa-apa!"


Asa mulai menghela nafasnya dengan berat, dan mulai menutupi pintu rumahnya dengan cepat. Alga yang diperlakukan seperti itu, dirinya mulai membuka matanya dengan lebar.


"Gila! Parah banget nih gadis, gue jauh-jauh kesini buat anterin semua kemauan dia ... sekarang gue malah diperlakukan seperti layaknya kurir benaran? Sungguh hebat anda nona!"


Alga yang kesal diperlakukan seperti itu, dirinya mulai membalikkan badannya, dan melangkahkan kakinya dengan sangat malas. Sebelum, dirinya ingin menyalakan mesin motornya, suara seseorang mampu membuat kegiatannya berhenti seketika.


"Mas! Nih minumnya!" Panggilnya, sambil menyodorkan sebuah gelas yang berisi air kepada Alga.


Alga yang diperlakukan seperti itu, dirinya mulai meneguk habis semua isi dari dalam gelas.


"Gue kira lu sudah nggak peduli sama gue. Sampai-sampai pintu rumah lu di tutup, dan membiarkan gue dehidrasi diluar!" Ucap Alga sambil menatap wajah Asa yang dikuncir acak-acakan.


Asa hanya menggelengkan kepalanya, "Kak Alga ngapain disini? Mau marahin Asa karena chat nomor Kak Alga?" Tanya Asa dengan datar.


"Lu bilang kangen sama gue, dan menginginkan bunga yang besar. Gue datang kesini biar bidadari gue nggak sedih!"


"Terus ... bunganya mana? Asa nggak melihat Kak Alga bawa bunga?!" Tanya Asa yang terlihat heran.

__ADS_1


Alga mulai membuka jaketnya, dan terdapat secarik kertas yang dilipat.


"Nih, lu buka aja ... pasti lu akan tahu isinya!"


Asa mulai membuka kertas tersebut, dan mulai menatap apa yang ada didalam kertas tersebut.


"Ini bunganya?" Tanya Asa dengan heran.


"Iya!"


"Asa mintanya yang gede bukan yang kecil! Terus masa bunganya taruh di kertas sih? Asa maunya yang asli!" Jelas Asa dengan lirih.


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.


"Gue miskin, Sa!"


"Kak Alga itu kaya, masa beli bunga yang besar nggak sanggup?" Ucap Asa dengan lirih.


"Berarti lu dekatin gue karena harta? Yaudah, kalau gitu gue pulang dulu!" Ujar Alga yang mulai menyalakan mesin motornya.


Asa yang melihat Alga benaran ingin meninggalkan dirinya sendirian, Asa mulai berdiri di depan motornya Alga.


"Kak Alga kok ngambek? Asa cuma becanda kok,"


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai mematikan mesin motornya lagi.


"Gue buat bunga di kertas, karena nggak akan pernah layu dan busuk. Kalau yang asli mereka bisa layu dan busuk, kalau lu nggak siram mereka!"


"Bukannya, gue nggak mampu beli. Tapi! Percuma kalau beli bunga yang mudah layu, mending gue bikin langsung aja dengan menggunakan hati gue." Jelasnya dengan datar.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai tersenyum kecil.


"Tapi! Nggak usah bikin bunga yang untuk orang mati Kak Alga–"


"Gue bikin bunga seperti itu, sama halnya dengan cinta gue ke lu. Gue akan membawanya sampai mati, Sa! Gue nggak mau seperti mawar ataupun jenis bunga yang lain, karena gue tidak menyukai bunga semacam itu!" Jelasnya dengan tegas, sambil menatap wajah Asa dengan datar.


"Gitu yah? Tapikan, Asa maunya bunga mawar!"


"Kalau nggak mau, yaudah gue kasih ke orang lain saja!" Jelasnya sambil berusaha merebut kertas ditangan Asa.


Asa yang diperlakukan seperti itu, dirinya mulai berlari menuju pintu.


"Mas kurir terimakasih yah, pesanan Asa sudah diantar dengan selamat, dan kangen Asa sudah dibayar!" teriak asa sambil menunjukkan surat ditangannya.


Alga yang masih berada di tempatnya, walaupun gadis itu sudah masuk ke dalam rumahnya, dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.


"Sungguh, cuma air doang imbalannya? Nggak ada yang lain gitu? Haish!" Gumamnya kepada dirinya sendiri, sambil menyalakan mesin motornya, dan pergi dari kalangan rumah sederhana itu.

__ADS_1


__ADS_2