
Flashback kejadian di Singapure.
Seorang laki-laki yang tidak sabaran ingin bertemu oleh seorang gadis yang sangat dirinya rindukan, lelaki itu rela berangkat pukul 5.00 waktu Singapure.
Dengan helaan nafas yang sangat berat. Dirinya mulai tersenyum kecil menatap langit-langit 'Bandara Udara Internasional Changi Singapura.' Seketika pandangannya mulai beralih menatap seorang penjual dari luar pintu Bandara.
Alga pun mulai berjalan mendekati penjual gelang tersebut, dan mulai memilih sebuah gelang yang pernah dia janjikan kepada seorang gadis yang sangat dirinya rindukan.
Mungkin dulu, dirinya tidak bisa memberikan sebuah gelang sungguhan, dan dirinya hanya memberi sebuah gelang yang terbuat dari tali tambang. Seketika, dirinya mulai melihat sebuah gelang yang terukir dengan sangat sempurna di kedua matanya.
Yah, gelang yang terukir dengan kunci dan hati. Kunci seperti perasaan Alga yang hanya terkunci untuk seorang gadis bernama Asalina Hyena, dan hati adalah sebuah perasaan-nya yang telah di ambil oleh seorang gadis tersebut.
Alga pun mulai tersenyum kecil, "Mudah-mudahan, dirinya menyukai gelang couple ini." Gumamnya dengan pelan.
"Ini harganya berapa, Bang?" Tanya Alga.
"25 ribu saja, Nak."
Alga pun mulai mengeluarkan selembar uang kertas berwarna biru. "Kembalian-nya ambil saja, Bang." Jelasnya dan mulai berjalan ke arah penerbangan yang mulai terdengar dari speaker.
Dengan sangat setia, Alga hanya menatap ke arah jendela kaca di sampingnya yang terdapat pemandangan langit yang sangat luar biasa indahnya. Sesekali, dirinya mulai menatap sebuah gelang yang barusan lelaki itu beli, dengan helaan nafas yang panjang, dan dengan senyuman manis di wajahnya.
"Gue harap, dia bakalan suka sama gelang yang gue beli ini untuknya, dan gue harap perasaan dirinya ke gue nggak pernah berubah." Gumamnya dengan datar.
Perjalanan yang sangat cukup lama. Akhirnya penerbangan dirinya mulai mendarat di 'Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta' dengan langkah yang sangat besar, dirinya mulai berjalan keluar dari bandara tersebut, dan lelaki itu mulai menghentikan sebuah taksi yang melintas di hadapannya.
Sesekali, Alga mulai menatap ke arah jam tangannya yang masih pukul 6.25 menit waktu Indonesia.
Alga yang berfikir masih ada waktu, dirinya mulai menyuruh supir untuk mengantarkan dirinya ke rumahnya terlebih dahulu. Daripada dirinya harus menjemput seorang gadis menggunakan taksi, lebih baik dirinya menggunakan mobilnya.
"Pak, berhenti disini saja." Pinta Alga.
Sebuah rumah yang terlihat cukup besar. Dirinya mulai membukakan pintu taksi, dan mulai berjalan mendekati rumah tersebut.
__ADS_1
Pintu pun mulai terbuka dengan sangat sempurna, dengan langkah yang besar, dirinya mulai menaiki anak tangga satu persatu, dan mulai membereskan seluruh badannya.
Dengan helaan nafas yang sangat berat, dirinya mulai menuruni anak tangga, dan mulai meraih kunci mobilnya dengan langkah yang sangat besar dirinya mulai berjalan ke halaman parkiran rumahnya.
"Ga! Kamu mau kemana?" Panggil seorang wanita paruh baya.
Alga menghela nafasnya dengan berat. "Cari udara segar." Ujar Alga datar.
Anisa pun mulai mendekati anak lelakinya, dan mulai memasuki mobilnya dengan sangat sempurna.
"Yaudah, sekalian anterin Bunda ke perusahaan." Jelas Anisa dengan lembut.
Alga hanya diam saja, dan mulai memasuki mobilnya dengan sangat sempurna.
Anisa yang sedari tadi terburu-buru, dirinya tidak sempet mempersiapkan dirinya.
"Ga, di mobil kamu simpan sisir, kah?" Tanya Anisa dengan cepat.
Alga mulai mengambil sisirnya, dan memberikan kepada Bundanya tanpa membuka sedikit pun suaranya.
"ALGA! KAMU ITU KALAU LAGI MENYETIR HATI-HATI, NAPA! KAN JADI BERANTAKAN." Teriak Anisa dengan histeris.
Alga yang mendengar perkataan dari Bundanya, dirinya hanya menahan tawanya, dan menggelengkan kepalanya.
"Bukan, Alga yang salah, Bun! Tapi yang di depan nggak benar mengendarai motornya." Jelas Alga yang nggak mau disalahkan.
"Nih, tissue buat bersihin Meak-Up, Bunda." Ujar Alga sambil memberikan sebuah tissue kepada Bunda tersayangnya.
Anisa pun mulai meraih tissue tersebut, dan membuangnya dengan sembarang tempat.
Seketika, dirinya mulai memasang antingnya dengan sangat sempurna. Tapi sekali lagi mobil mulai berhenti mendadak, dan itu mampu membuat anting yang sudah terpasang dengan sempurna mulai kembali terlepas.
Anisa yang merasa sudah sangat sempurna. Dirinya mulai mencium pipi anak lelakinya dengan sangat gemas, dan mulai membuka pintu mobil Alga dengan memberikan sebuah senyuman manisnya kepada putranya.
__ADS_1
"Thanks, kamu anak Bunda yang paling ganteng!" Jelasnya dengan membentukkan jarinya seperti Sarange.
Alga hanya menganggukkan kepalanya. Dirinya pun mulai meninggalkan pakiran perusahaan yang dimiliki oleh keluarganya, yang telah susah payah di bangun oleh Bundanya seorang diri.
Dengan kecepatan penuh, dirinya mulai melajukan mobilnya dengan sangat sempurna, dan seketika ada sebuah toko bunga yang terdapat di pinggir jalan. Alga pun mulai memberhentikan mobilnya di depan toko bunga tersebut.
Seketika, sebuah kenangan dirinya bersama dengan seorang gadis mulai kembali melintas, dan dirinya sama sekali tidak pernah memberikan sebuah bunga yang sungguhan kepada gadis itu.
Pintu mobil mulai terbuka, terdapat begitu banyak bunga yang sangat indah di hadapannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya pegawai bunga dengan sangat ramah.
Alga menganggukkan kepalanya. "Bisa tolong pilihkan saya beberapa bunga, yang artinya sebuah simbol cinta dan kesempurnaan?" Jelasnya dengan datar.
"Simbol bunga yang artinya cinta dan kesempurnaan banyak sekali, Tuan." Ucap pegawai bunga dengan ramah.
"Iyaudah, bungkus saja semuanya menjadi satu." Jelas Alga dengan sangat sempurna.
Beberapa menit kemudian, sebuah sebuket bunga mulai terlihat indah dihias oleh pegawai bunga tersebut. Alga yang melihat sebuket bunga yang terlihat sangat sempurna di hadapannya. Dirinya mulai tersenyum, dan mulai mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
Dirinya pun mulai kembali masuk ke dalam mobilnya. Alga yang melihat isi mobilnya sangat berantakan atas perbuatan sang Bundanya. Dirinya hanya melemparkan semua tissue ke sembarang tempat, supaya tempat duduk penumpang di sampingnya tidak terlihat kotor.
"Gue berharap, dia suka dengan semua kejutan gue ini." Gumamnya dengan senyuman.
Alga pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Kemacetan di Jakarta yang sangat padat, tidak menghalangi semua semangatnya untuk bertemu seorang gadis yang sangat dirinya rindukan saat ini.
Sebuah gerbang hitam yang menjulang tinggi. Kini, sebuah mobil mulai terparkir dengan sangat sempurna di halaman pakiran sekolah yang menjadi perjalanan kisahnya untuk meraih masa depannya, dan sekaligus menjadi saksi perjalanan kisahnya bertemu dengan sang 'Matahari Kecilnya.'
Seketika butiran hujan mulai turun dengan sangat derasnya, dan membasahi seluruh permukaan bumi. Alga pun mulai melihat sekeliling mencari sosok seorang gadis, dan dirinya mulai melihat seorang gadis di pandangannya sekarang, seorang gadis yang kini sedang bersama dengan kelima lelaki yang sangat dirinya kenal, yaitu, para sahabatnya.
Ntah kenapa, tatapan mereka berdua bertemu satu sama lain, gadis kecil itu pun mulai berlari ke arahnya, dan langsung menghambur untuk memeluk dirinya dengan sangat erat.
Alga yang mendapatkan perlakuan khusus tersebut. Dirinya mulai mencium aroma wangi yang melekat ditubuh gadis di pelukannya, sebuah wangi yang sangat dirinya rindukan, dan dengan sebuah pelukan yang telah lama tidak pernah dirinya dapatkan selama ini. Ntah kenapa, dirinya tidak ingin melepaskan seorang gadis yang kini Alga peluk sekarang.
__ADS_1
'Gue kangen lu, Sa. Bahkan hidup gue berasa hampa ketika menjauh dari lu. Lu tahu? Gue rela memberikan nyawa gue ini untuk lu, dan gue rela melakukan apa pun itu untuk selalu bersama lu. Walaupun, disatu sisi ada seorang gadis yang sedang membutuhkan kehadiran gue saat ini. Tapi gue nggak bisa, Sa! Karena hati gue hanya untuk lu seorang, walaupun mereka semua memaksa gue untuk meninggalkan diri lu.' Batin Alga dengan lirih.
Dengan airmata yang mulai bersatu dengan butiran air hujan. Alga pun mulai tersenyum manis ke arah Asa, dan dirinya berusaha untuk tidak menunjukkan semua masalahnya di hadapan Asa saat ini, semua masalah yang selama ini membuat dirinya merasa tertekan.