
Klakson mobil yang mulai terdengar berulang kali, mampu membuat sang penghuni rumah di hadapannya membukakan pintu dengan sangat lebar, dan mulai berlari kecil ke arahnya dengan tergesa-gesa.
Brugh ...
Seorang lelaki remaja yang masih setia bersender di mobilnya, sambil menatap ke arah seorang gadis yang jatuh di hadapannya tanpa bergerak sama sekali untuk membantunya. Sadis? Sungguh sangat sadis sekali lelaki di hadapannya itu, dirinya hanya bisa menahan tawanya dengan memberikan senyuman mengejek.
Berbeda dengan seorang gadis kecil yang saat ini sedang terjatuh di atas tanah bumi. Dengan helaan nafas beratnya, dirinya mulai menatap ke arah lelaki di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Kak Alga nggak mau bantuin Asa?" Panggil Asa dengan mendengus.
Alga yang mendengar lontaran kalimat tersebut, dengan terpaksa dirinya mulai berjalan ke arah gadis kecil yang masih setia duduk di atas langit bumi.
"Pegang tangan gue!?"
Asa yang melihat uluran tangan Alga, dirinya hanya mengabaikan tangan Alga begitu saja. Sedangkan, Alga yang melihat uluran tangannya masih kosong, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan menahan semua emosinya.
"Yaudah, gue gendong, buruan naik!" Ujarnya dengan penekanan, dan memberikan punggung belakangnya.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga. Dirinya mulai menunjukkan senyuman lebarnya, Asa pun mulai memanjakan tubuhnya di punggung belakang Alga, dan melingkarkan kedua tangannya dileher Alga dengan erat.
"Lu bisa nggak? Nggak usah kencang-kencang juga, gue nggak bisa nafas!" Jelas Alga dengan protes.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai tertawa kecil, dan melonggarkan pelukannya. "Maaf Kak! Soalnya Asa lagi bahagia saat ini, Asa kira Kak Alga nggak akan—"
"Gue bakalan peka, Sa! Apa lagi buat orang yang gue sayangi, gue bakalan tahu apa yang dirasakan oleh lu." Jelas Alga dengan cepat memotong lontaran Asa.
Alga pun mulai menggendong Asa di punggung belakangnya dengan sangat sempurna, dan dengan angin pagi yang mulai menemani kehangatan seorang laki-laki kepada sang mataharinya.
"Kak Alga?" Panggil Asa dengan pelan, sambil membenamkan kepalanya dipundak Alga.
"Hmm?"
"Makasih, yah? Sudah mau menjadi pangeran balok es buat Asa. Sungguh, Asa berasa seperti mimpi, kalau Asa bisa membuat Kak Alga suka sama Asa juga." Jelasnya dengan cengiran.
Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai tersenyum kecil tanpa Asa sadari. Alga pun mulai menatap wajah sekilas, setelah itu dirinya fokus menatap ke depan.
"Lu berat juga yah, Sa? Berat badan lu sudah naik berapa kilo?" Tanya Alga sambil menahan tawanya.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga. Dirinya mulai mempererat pelukan dilehernya, dan itu mampu membuat Alga tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
__ADS_1
Seakan-akan, angin mulai berhembus dengan sangat kencang, dan menampar helaian rambut di antara kedua pasangan yang kini mulai tersungkur ke tanah dengan sangat sempurna.
Alga yang melihat wajah Asa dirinya mulai menatap setiap ukiran demi ukiran yang sangat sempurna di pandangannya sekarang. Sesekali, dirinya mulai membenarkan setiap helaian yang menutupi sebuah ukiran wajah seorang gadis di hadapannya.
Alga tersenyum manis. "Bagaimana bisa, gue nggak bisa suka sama lu, hah? Kalau lu selalu mengganggu kehidupan gue setiap detik, setiap jam, bahkan setiap hari-hari kosong gue. Mungkin ... lu beruntung mendapatkan gue, karena kita sangat serasi. Lu cantik, gue ganteng, lu pintar di mata pelajaran, dan gue pintar di bidang olahraga, lu terkenal dikalangan kaum Adam, dan gue terkenal dikalangan kaum hawa. Makanya kita jodoh, dan lu mendapatkan gue." Jelas Alga.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai mendorong tubuh Alga dengan cepat. "Kak Alga yang berat, bukannya Asa!" Ujarnya dengan penekanan, sambil mengganti topik pembicaran, karena kedua pipinya bagaikan seperti kepiting rebus.
Alga yang sudah kembali ke alam sadarnya, dirinya mulai merapihkan dirinya, dan mulai berjalan memasuki mobil tanpa mempedulikan Asa.
Asa yang melihat tingkah Alga barusan, dirinya hanya mematung di tempatnya. "Asa di tinggal sendirian begitu saja? Tadi sangat romantis, sekarang malah di campakkan!" Cerutusnya dengan sebal.
Alga yang memperhatikan semua gerak-gerik seorang gadis yang masih setia tidak beranjak sedikit pun, dirinya mulai membunyikan klakson mobilnya kembali. Sedangkan Asa yang mendengar suara klakson mobil Alga, dirinya mulai berjalan mendekati mobil sport tersebut, dan memasukinya dengan wajah cemberut.
Sungguh, Asa sangat marah sama laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Giliran lelaki itu menggendong gadis di sampingnya, dirinya tidak pernah kehilangan keseimbangannya sedikit pun di hadapannya.
Alga yang melihat tatapan membara Asa kepadanya, dirinya mulai menghela nafasnya, dan mobil sportnya pun mulai meramaikan jalanan Ibu Kota Jakarta.
Berbeda dengan seorang gadis yang berada di sampingnya Alga, dirinya dari awal sampai akhir melihat semua kejadian tersebut di kedua matanya. Sungguh! Semua perlakuan Alga barusan mampu membuat perasaannya sangat terluka.
'Mungkin memang benar kata pepatah waktu itu. 'Walaupun kita adalah seorang yang pertama dicintainya, tapi cinta itu akan lenyap ketika kehadiran seseorang, yang akan menggantikan posisi kita.' Batin Dasa.
...***...
Sebuah halaman pakiran, terdapat sebuah mobil sport merah yang mulai terparkir dengan sangat sempurna disana, bersama dengan seluruh motor para sahabatnya yang terparkir sempurna di sampingnya.
Seorang lelaki remaja yang mulai membuka pintu mobil penumpang bagian depan, dirinya mulai menggendong seorang gadis dan menaruhnya di kursi roda dengan sangat sempurna. Alga yang tidak melupakan seorang gadis lainnya, dirinya mulai membukakan pintu bagian belakangnya dengan sangat sempurna.
Walaupun Asa di nomor duakan oleh Alga, Asa juga tidak ingin egois tentang perasaannya seorang diri. Karena dirinya juga mengetahui, beban Alga saat ini lebih berat daripada dengan perasaannya, yang penting lelaki di hadapannya ini sangat adil bagi mereka berdua.
Alga yang masih setia mendorong kursi roda Dasa, dirinya mulai berjalan ke arah para sahabatnya, yang diikuti oleh Asa di belakangnya dengan menundukkan kepalanya. Alga pun mulai beralih menatap seluruh wajah Putra yang terdapat bekas luka memar biru.
"Lu kenapa, Put?" Tanya Alga yang langsung mulai mendekati sahabatnya.
"Nggak apa-apa, ini cuman luka kecil saja kok!" Jelasnya dengan penenakan.
"Nggak apa-apa? Luka memar biru kayak gini, masih dibilang nggak apa-apa? Kasian wajah tampan lu yang bakalan ada bekas memarnya." Ujar Wisnu yang mulai menunjukkan semua luka di wajahnya Putra.
Putra mulai meringis kesakitan. "Lu mau ngobatin gue, atau malah nambah bikin ngilu semua luka gue?" Tanya Putra yang mulai menjauhi wajahnya dari tangan Wisnu.
__ADS_1
"Sudah selesai! Yuk, ah, kita langsung ke kelas masing-masing, soalnya gue belum ngerjain tugas." Ujar Wisnu yang mulai meraih ranselnya ke pundak.
Seluruh anggota ALGASA yang mendengar lontaran kalimat Wisnu, mereka pun mulai memberhentikan tugas ringan mereka saat ini, dan dirinya mulai mengikuti langkah Wisnu saat ini.
"Put, gue titip Dasa, yah?" Ucap Alga.
Perkataan Alga mampu membuat langkah para sahabatnya berhenti di sebuah koridor, yang menghubungkan antara ke arah kelasnya maupun kelas yang lain. Putra pun hanya menganggukkan kepalanya, dan mengambil alih kursi roda Dasa meninggalkan tempat yang dimana ketiga kejora masih mengamati dirinya.
"Gue langsung ke kelas kalau gitu, malas disini jadi nyamuk gue." Ujar David yang mulai membuka suaranya dan meninggalkan kedua kejora yang masih terdiam membisu.
Alga pun mulai beralih menatap wajah Asa dan dirinya mulai meninggalkan Asa dengan langkah yang sangat berat. Asa yang melihat kepergian Alga di hadapannya, dirinya mulai mendengus kesal, dan mulai berlari kecil untuk mengejarnya.
"Kak Alga kok nggak menghibur Asa, sih? Kak Alga nggak lihat, Asa lagi ngambek sama Kak Alga!" Jelas Asa yang masih beragumen di setiap koridor.
Alga yang mendengar setiap lontaran demi lontaran kalimat dari seorang gadis di sampingnya, itu mampu membuatnya menjadi tatapan para penghuni yang berada di koridor saat ini. Sedangkan, Asa yang masih melihat Alga tidak mempedulikan dirinya, Asa pun mulai menghalangi langkah Alga dan menatap wajah datar Alga dengan tajam.
"Awas!"
Asa yang mendengar lontaran Alga, dirinya mulai menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat.
"Sa, gue bilang awas! Berapa kali gue bilang sama lu, gue nggak suka jalan gue dihalangi oleh siapapun!" Jelasnya dengan penenakan.
"Asa nggak mau awas! Kak Alga harus bikin ngambek Asa hilang terlebih dahulu!—" perkataan Asa mulai terhenti atas sikap seorang lelaki kepadanya saat ini, kenapa dirinya harus diperlakukan seperti ini lagi olehnya? Sakit sekali, sungguh.
"Lu ngerti bahasa nggak sih, Sa?Berapa kali gue bilang sama lu, hah? Kalau gue nggak suka jalan gue dihalangi begitu saja! Apalagi kalau cara lu kayak gini terus-menerus, Sa, bikin gue muak!"
"Berapa kali gue bilang, barang murah kayak lu nggak akan pernah pantas untuk menghalangi setiap langkah gue! Lu belum sepenuhnya ada di perasaaan gue, dan jangan seenaknya lu bisa mau apapun itu dari gue!" Jelasnya dengan penekan di setiap kalimatnya.
Asa yang diperlakukan kasar oleh Alga saat ini, dirinya mulai menatap wajah datar Alga dengan tatapan lirih dan perasaan yang begitu sangat sesak. Sedangkan Alga yang melihat seorang gadis masih setia duduk di lantai koridor, dirinya memberikan sebuah senyuman kecil.
Sungguh, Asa sama sekali tidak mempedulikan para mata yang tertuju kepadanya, maupun sebuah bisikan yang sedang membicarakan tentang dirinya. Karena, harga dirinya sudah dihancurkan oleh lelaki di hadapannya berulang kali, jadi buat apa dirinya mendengarkan omongan orang lain? Perkataan pedas dari orang yang dirinya sukai, itu mampu membuatnya terluka saat ini.
"Gue kira, permainan kali ini Asa yang akan menang. Ternyata, tidak ada satupun yang berubah disini, Alga tetap menganggap Asa murah sampai kapan pun."
"Ck ... Lagian mau ngejar Alga itu ngaca dulu, sudah suci belum buat Alga? Kalau masih belum suci, mending mandi kembang tujuh rupa setiap harinya, siapa tahu Alga akan kecantol sama peletnya."
Setiap lontaran demi lontaran mampu terdengar di daun telinga Alga saat ini, seketika dirinya mulai mengepal kedua tangannya, dan menghela nafasnya dengan berat.
"Lu lihat? Dimata orang lain saja, lu sangat murahan sebagai seorang gadis sampai detik ini, bahkan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun! Sama halnya dengan perbuatan gue ke lu waktu itu, itu semua tidak akan pernah berubah sampai detik ini!" Jelas Alga tanpa memperdulikan kondisi Asa saat ini.
__ADS_1
Sungguh, sesak sekali rasanya saat ini. Seorang lelaki yang pernah berjanji akan membuat sebuah ukiran senyuman di wajahnya sampai kapan pun itu, kini lelaki tersebut malah melanggar semua janjinya. Apakah benar, dirinya tidak pernah menang sampai kapan pun itu? Menang karena sudah mendapatkan perasaan seorang lelaki yang sangat dirinya sayangi.