ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 56


__ADS_3

Alga yang masih sangat setia menunggu kehadiran sosok Asa. Dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, tidak seperti biasanya, Alga hari ini ingin menjemput sang 'Matahari Kecilnya' dengan tekadnya sendiri.


Angin yang mulai berhembus dengan sangat sempurna, mampu menampar helaian rambut seorang lelaki yang kini dengan setia menatap sebuah rumah di hadapannya dengan tatapan nanar.


Beberapa menit kemudian, pintu rumah yang ditunggu oleh Alga pun mulai terbuka lebar. Terdapat seorang gadis cantik yang kini sedang tersenyum manis ke arah seorang lelaki, kedua kejora tersebut pun mulai berjalan ke arah halaman pakiran.


Alga yang telah menunggu kehadiran seorang gadis di hadapannya. Dirinya mulai menghampiri kedua kejora tersebut, dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Sa?" Panggilnya dengan datar.


Asa yang mendengar suara berat di hadapannya, dirinya mulai menatap wajah Alga dengan kosong. Berbeda dengan Raka, dirinya hanya memberikan tatapan datar, dan beralih menatap ke arah gadis di sampingnya.


"Sa, siapa dia?" Tanya Raka dengan heran.


Asa yang ditanya pun masih terdiam membisu, dan masih menatap wajah datar Alga dengan kosong. Seketika, semua kejadian yang dimana dirinya kecewa oleh seorang lelaki di hadapannya, mampu membuat Asa membuang pandangannya menatap ke arah lain.


Asa hanya menggelengkan kepalanya. "Asa nggak kenal, dan lagi pula kita sudah telat. Sekarang!" Ujar Asa dengan penekanan.


"Sa, gue anterin lu, yah?" Tanya Alga yang mulai memegang lengan Asa dengan cepat.


Asa yang diperlakukan seperti itu. Dirinya mulai menghempaskan genggaman tangan kokoh Alga dengan kasar, dan menghela nafasnya dengan berat.


"Maaf, Kak. Asa sudah ada yang anterin sekarang, kalau nggak ada yang lain, Kak Alga bisa pergi dari rumah Asa." Jelas Asa dengan datar.


Alga yang mendengar perkataan dari Asa. Dirinya mulai tersenyum kecil, dengan helaan nafas yang berat. Ntah kenapa, perasaannya terasa sangat sesak.


Raka yang sangat mengerti, dirinya mulai mendorong tubuh Alga yang terasa hampa atas semua lontaran Asa kepadanya, dan untungnya Alga bisa menahan dorongan itu dengan sekuat tenaganya yang tersisa.


"Lu bisa dengerin dia, kan? Lebih baik lu pergi dari sini, karena kehadiran lu sekarang hanya mengganggu kita berdua saja disini!" Usir Raka dengan penekanan.

__ADS_1


Alga yang mendengar perkataan dari Raka, dia hanya menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan tajam.


"Lu nggak berhak mengusir gue—"


Perkataan Alga mulai terpotong, karena lontaran perkataan dari seorang gadis yang sangat dirinya sayangi saat ini. Bahkan semua perkataan yang dilontarkan oleh gadis cantik di hadapannya, mampu membuat semua waktu mulai berhenti.


"Bang Raka, memang nggak berhak untuk mengusir Kak Alga. Tapi, kalau Asa suruh Kak Alga pergi dari pandangan Asa sekarang, bagaimana? Apakah Kak Alga bakalan menurutinya?" Tanya Asa dengan suara yang berat.


Jujur, Asa juga tidak ingin bicara seperti ini di hadapan laki-laki yang sangat dirinya perjuangkan selama ini.


Tapi, dirinya juga nggak bisa menerima atas semua perbuatan Alga di belakangnya. Karena itu semua akan sama saja, jika Asa harus menutup kedua mata dan telinga Asa. Apakah, dirinya bisa menahan semua kebohongan yang Alga lakukan kepadanya?


"Lu pasti lagi bercanda, kan? Gue tahu, lu pasti sedang bercanda sama gue." Ujar Alga dengan terbata-bata.


Asa hanya menggelengkan kepalanya. "Waktu itu, Asa sudah pernah bilangkan sama Kak Alga? Disaat dimana, Kak Alga sudah tidak bisa membalas perasaan Asa juga, maka disaat itu pula Asa akan menyerah untuk melepaskan semua perasaan ini untuk Kak Alga." Jelas Asa yang mulai menatap lelaki di hadapannya.


"Lu nggak masuk akal, Sa! Kapan? Kapan gue nggak pernah balas perasaan lu?"


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai tersenyum kecil. "Okay, gue salah, Sa! Gue nggak seharusnya membohongi lu waktu itu—" Sekali lagi, perkataan yang ingin Alga lontarkan pun mulai terpotong oleh laki-laki di samping Asa.


"Lu bisa nggak? Jangan gangguin kita berdua sekarang?" Ujar Raka dengan suara datarnya ke arah Alga.


Raka pun mulai menarik lengan Asa, dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya. Raka pun mulai menutup pintu Asa, dan mulai memutari bagian depan mobil.


Alga hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, sambil menatap kepergian mobil di hadapannya dengan senyuman kecil.


"Arrggh! Gue nggak akan menuruti keinginan bodoh lu itu, Sa! Seenak jidatnya lu mempermainkan perasaan gue ini yang sudah mulai hanya untuk lu seorang." Gumamnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


...***...

__ADS_1


Hanya sebuah keheningan di dalam sebuah mobil saat ini. Raka yang merasa heran atas sikap pendiam adik tersayangnya. Dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat, dan menatap seorang gadis yang sedang menatap seluruh kota dibalik jendela dalam mobil.


"Lu kenapa, Sa? Lu sakit?" Tanya Raka dengan khawatir.


Asa hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya, tanpa harus mengeluarkan suaranya sedikit pun.


Raka yang mengerti maksudnya, dirinya pun mulai tertawa kecil, dan menyalakan sebuah alunan musik yang galau. Seperti suasana perasaan seorang gadis di sampingnya sekarang.


"Lu tahu, menurut gue pasangan yang paling unik, yang pernah gue temuin yaitu hubungan lu, Sa."


"Waktu itu, ada laki-laki yang merelakan belanja kepenuhan rumah kita, dan sekarang seorang laki-laki yang tidak ingin mengungkapkan isi hatinya." Jelasnya dengan senyuman kecil.


Asa yang mendengar perkataan dari Abangnya, dirinya hanya menghela nafasnya dengan berat.


"Asa bukan pacarnya Kak Putra! Tapi, Asa pacarnya Kak Alga!" Jelasnya dengan penekanan.


Raka yang mendengar perkataan dari gadis kecil di sampingnya, dirinya mulai tersenyum kecil.


"Tapi, lu sendiri yang menyuruh kekasih lu pergi, Sa. Apa lu nggak ingat, apa yang barusan terjadi?" Ujar Raka dengan cengiran.


"Asa percaya kok, kalau Kak Alga bakalan memperjuangkan Asa juga. Seperti, Asa memperjuangkan dirinya." Jelas Asa dengan helaan nafas berat.


"Seberapa yakin, bahwa laki-laki tampan seperti dia akan memperjuangkan seorang gadis bodoh seperti lu?" Tanya Raka dengan meremehkan.


"Seyakin-yakinnya Asa mencintai Kak Alga, dan menyayangi Kak Alga."


"Cinta itu akan hilang secepat mungkin. Ketika orang itu telah menemukan cinta barunya, apalagi lu menyuruhnya menjauh." Jelas Raka dengan senyuman kecil.


"Bang Raka nggak akan paham satu hal? Sayang dan cinta itu bisa menjadi sumber kekuatan yang tidak pernah kita pahami artinya."

__ADS_1


"Mungkin cinta akan hilang seketika. Tapi, bagaimana kalau cinta itu disatukan oleh rasa sayang? Rasa sayang seseorang kepada kita, tidak akan pernah menghilang dari dalam perasaanya." Jelas Asa dengan menekan semua kalimatnya.


Raka yang mendengar lontaran tersebut, dirinya mulai tersenyum kecil, dan dirinya masih fokus kepada di depan. Berbeda dengan Asa, dirinya hanya menatap seluruh Ibu Kota Jakarta melalui jendela mobil, walaupun semua perasaannya sedang berkecamuk. Seketika kedua kejora tersebut terdiam, dan di dalam mobil hanya ada keheningan yang ditemanin oleh sebuah alunan musik galau.


__ADS_2