
Dilan yang melihat seorang gadis di hadapannya. Dirinya mulai tersenyum manis, sambil berjalan mendekati gadis yang kini sedang tertidur pulas di brankar.
Wajah yang terlihat sangat pucat. Dirinya mulai tersenyum kecil dan mengelus pipi Dasa dengan lembut.
"Gue tahu, lu pasti cuman lagi tidur, kan? Gue hanya ingin bilang ke lu, jangan lama-lama tidurnya, gue nggak kuat kalau melihat lu seperti ini terus di hadapan gue."
"Kalau lu seperti ini, bagaimana caranya gue bisa berjuang untuk membuat lu bahagia bagaikan layaknya seorang putri kerajaan?" Ucapnya dengan lirih.
Dilan pun mulai meyisir rambut Dasa dengan sangat pelan. Sesekali dirinya tersenyum manis ke arah Dasa dan sesekali air matanya pun mulai mengalir dengan sangat deras.
Ntahlah, Dilan masih belum bisa melepaskan orang yang sangat dirinya sayangi sekaligus seorang gadis yang sangat dirinya cintai saat ini.
Alga yang berdiri di belakang punggungnya Dilan. Dirinya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat dan tersenyum kecil ke arah seorang gadis yang kini sedang tertidur dengan sangat pulas disana.
"Gue nggak pernah menyangka, bahwa semua janji-janji lu ke gue akan hilang secepat ini. Apakah lu tahu, Da? Kepergian lu ini seperti luka yang sangat menusuk untuk kita semua disini." Ucap Alga yang mulai merasa kedua matanya terasa panas.
Bragh ...
Pintu ruangan mayat pun mulai terbuka dengan sangat lebar dan kencang. Terdapat seorang wanita paruh baya yang mulai menangis di samping tubuh Dasa dengan tersedu-sedu, berbeda dengan seorang lelaki paruh baya yang hanya melihat anak perempuannya tanpa merasa kehilangan sedikit pun.
"Dasa sayang, maafin mamah nak." Lusi yang mulai mengelus wajah Dasa dengan lembut. "Maafin mamah, karena tidak ada di samping kamu disaat kamu sedang berusaha dengan sangat keras untuk mengalahkan semua penyakit kamu, Nak!" Jelasnya dengan lirih.
Wahid yang melihat istrinya menangis. Dirinya mulai memeluk istrinya di dalam pelukan bidang dadanya dan menenangkan Lusi.
"Sudah Mah, sudah, lagi pula bagus kalau dia pergi dari dunia ini, supaya saya tidak malu mempunyai anak bodoh seperti dia!" Ujar Wahid dengan penekanan.
Lusi yang mendengar perkataan dari suaminya, dirinya mulai mendorong tubuh suaminya dengan kasar.
"Asal kamu tahu Mas, Dasa selalu ingin membuat kamu merasa bangga dengan dirinya. Walaupun dia sedang merasakan sakit yang sangat luar biasa di dalam tubuhnya, dia tidak pernah menyerah untuk itu semua!"
__ADS_1
"Kamu lihat ini, Mas!" Ujar Lusi yang mulai mengeluarkan semua raport Dasa dan beberapa nilai ulangannya selama ini.
"Dasa sudah berusaha dengan sangat keras untuk mendapatkan semua nilai yang sangat kamu inginkan dan kamu tuntut kepadanya. Tapi, apa yang kamu lakukan selama ini kepadanya? Kamu selalu kasar kepadanya dan selalu menyuruhnya belajar!" Ucap Lusi dengan murka.
Wahid yang melihat semua nilai-nilai dari sang anaknya, dirinya tersenyum dengan sangat puas dan bangga.
"Bagus, kalau dia bisa mendapatkan nilai yang saya inginkan selama ini! Lagi pula, dia itu hanya malas-malasan saja di tempat tidur itu, biar dia nggak perlu belajar lagi."
"Tapi! Saya tidak akan pernah membiarkan dia malas-malasan begitu saja." Jelas Wahid yang mulai menarik lengan Dasa dengan sangat kencang.
Bragh ...
Tubuh Dasa pun terjatuh ke lantai dengan sangat kencang, semua orang yang melihat kejadian tersebut sangat-sangat terkejut atas apa yang terjadi.
Sedangkan, Wahid yang melihat anak perempuannya tidak berkutik juga, dirinya pun mulai menendang Dasa dengan sangat keras.
Dilan yang melihat kejadian tersebut, dirinya mulai mendekati Wahid dengan penuh emosi.
"Brengsek! Gue nggak akan pernah membiarkan Om untuk menyakiti Dasa lagi mulai detik ini juga!" Ujar Dilan dengan kesal.
Bugh ...
Satu pukulan hebat mendarat di pipi kiri Wahid dan itu mampu membuat kulit bibir Wahid yang tipis mulai mengeluarkan darah.
Alga yang melihat kejadian tersebut. Dirinya mulai memisahkan sahabatnya dengan sangat cepat. "Dil! Tahan emosi lu, Okay?" Ucap Alga dengan datar.
Dilan pun mulai menghela nafasnya dengan berat, menatap wajah Wahid dengan tajam, dan menggendong tubuh Dasa dengan sekuat tenaganya.
Alga yang melihat kejadian tersebut, Dirinya mulai menarik lengan Wahid dengan kencang dan membawanya keluar dari ruangan peristirahatan terakhir Dasa.
__ADS_1
Bugh ... Bugh ...
Wahid yang menerima pukulan demi pukulan diseluruh tubuhnya, dirinya hanya bisa pasrah dengan semuanya. Ntah kenapa, dirinya mulai menyadari apa yang pernah dilakukan olehnya kepada anak perempuannya yang sangat dirinya cintai dan sayangi.
Alga yang merasa pukulannya mampu membuat perasaan lelaki di hadapannya ini sadar. Dirinya mulai mengacak-acak rambutnya dengan kasar dan tertawa kencang. Sungguh, akhirnya semua perasaan yang dirinya simpan kini terhuras semuanya.
"Alga heran sama Om, Dasa yang selalu menunggu pahlawan tercintanya akan selalu memberikan kehangatannya lagi kepada dirinya disuatu saat nanti. Tapi, Om malah menyiksa dirinya, sampai akhir hidupnya saja mau Om siksa juga?" Ujarnya dengan senyuman kecil.
Wahid yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menatap wajah Alga dengan datar.
"Sedangkan dirimu? Dasa yang selalu percaya kau adalah mataharinya dan selalu memberikan kehangatannya lagi kepada dirinya. Kini kau sendiri juga pergi meninggalkan dirinya, sama halnya dengan lelaki brengsek saat ini!"
"Bukan saya saja disini yang salah! Tapi dirimu disini juga yang salah atas kematian seorang gadis di dalam sana! Kau pun juga sejahat seperti saya, yang meninggalkan Dasa sendirian disaat dirinya butuh seseorang disisinya." Jelasnya dengan senyuman kecil di wajahnya.
Wahid pun mulai bangkit dari lantainya. Kini dirinya pun mulai memasuki ruangan dimana tempat Putrinya berada dan meninggalkan Alga sendirian disana.
Alga yang mendengar perkataan dari Wahid barusan. Dirinya mulai tersenyum kecil dan entah kenapa kedua matanya terasa berat sekaligus sangat panas sekali.
"Apakah benar, gue juga sejahat itu kepada Dasa? Apakah Dasa pergi meninggalkan dunia ini dan meninggalkan semua janji yang dirinya lontarkan kepada gue, karena gue sendiri yang telah meninggalkan dirinya?" Gumam Alga dengan frustasi.
Sesekali, dirinya mulai menatap pintu ruangan yang dimana seharusnya terdapat seorang gadis disana. Sekarang dirinya merasa tidak berani untuk berjalan maupun memasuki ruangan itu lagi.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, dirinya mulai merasakan sesuatu yang sangat sesak di dadanya. Ntah kenapa, semua kenangan bersama dengan Dasa mulai melintas di hadapannya.
Alga yang melihat seorang gadis kini sedang tersenyum di hadapannya sekarang, dirinya mulai tersenyum dan menggapai dirinya. Tapi seberapa usaha dirinya menggapai gadis itu, sesekali itu pula dirinya bagaikan menggapai sebuah angin yang tidak bisa di sentuh dan hanya bisa dilihat di pandangannya.
"Maafin gue, Da! Maafin gue yang telah meninggalkan diri lu sendirian disaat lu membutuhkan kehadiran gue disisi lu." Ucap Alga lirih.
Alga pun mulai menatap wajah seorang gadis cantik di hadapannya, dengan sebuah ukiran senyuman di wajah gadis tersebut kepadanya. Walaupun itu hanya sebuah bayangan maupun ilusi bagi tatapan Alga, tapi itu memang kenyataan kalau raga Dasa saat ini sedang tersenyum manis di hadapannya sekarang.
__ADS_1