
Malam hari yang terlihat sangat sempurna di langit, yang di temanin oleh para bintang dan rembulan.
Terdengar suara motor yang saling bersautan, terdapat seorang lelaki remaja yang kini sedang menatap ke arah lawannya, dengan tatapan datar.
"Lu sudah siap, Ga?" Tanya Putra.
Alga pun menganggukkan kepalanya. Berulang kali dirinya menghela nafas panjangnya, dan beralih menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian seksi di hadapannya, sambil memegang sebuah bendera berwarna merah ke arah atas.
"READY?"
"ONE!"
"TWO!"
"THREE!"
"LET'S GO!"
Kedua bendera merah pun dijatuhkan ke tanah begitu saja, beberapa motor pun mulai melajukan kecepatan mereka dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Alga yang masih mempertahankan posisinya paling depan, dirinya mulai mengambil kecepatan yang paling penuh.
"Lu tahu, Ga? Lu adalah seorang sahabat yang sangat gue utamakan daripada yang lain."
"Gue harap, group balap yang kita buat saat ini, akan selalu bertahan sampai kapan pun, dan persahabatan kita tidak pernah terpisahkan."
Sebuah lontaran tiba-tiba mulai terlintas dibenak pikiran Alga, dengan kenangan yang terlukis dengan sangat indah dan pahit. Alga masih mengingat semua kenangan tersebut, seperti sebuah kaset yang selalu berputar tanpa henti di seluruh kepalanya saat ini.
Sebuah tikungan yang sangat tajam. Alga pun mulai mengurangi kecepatan motornya, dan dirinya mulai beralih ke arah remnya dengan sangat sempurna, terdengar suara yang begitu sangat nyaring dan meninggalkan sebuah jejak roda sepeda motor Alga.
Alga yang melihat tikungan tajam itu sudah berakhir, dirinya pun mulai menambahkan kecepatannya kembali, dan membenarkan posisi sepeda motornya lurus ke depan.
Alga yang sudah melihat kembali arena balap di hadapannya, dirinya mulai menambahkan kecepatannya, dan dirinya melewati garis finish yang diikuti oleh tepukan tangan sekaligus teriakan para sahabatnya.
"Selamat, Ga! Lu menang kali ini, walaupun lu sudah lama tidak ikut beginian. Tapi, keberuntungan lu tidak pernah hilang sedikit pun." Jelas Putra dengan senyuman bahagianya.
Alga hanya tersenyum kecil dan kembali menatap kedua sepeda motor yang mulai melewati arena. Salah satu lawan Alga pun mulai menatap ke arah Alga dengan intens di balik helm full facenya.
Sky tersenyum di dalam helm full facenya. "Gue nggak pernah menyangka, gue akan kalah oleh lu kali ini." Ujarnya, setelah itu dirinya mulai memberi sebuah kode kepada para sahabatnya untuk mengikutinya.
Alga yang mendengar lontaran tersebut, dirinya merasa sangat mengenali suara lelaki yang kini menjadi musuh balapannya. Seperti ... dirinya sangat familiar oleh suara lelaki itu. Tapi dirinya hanya berfikir, itu hanya sebuah kebetulan. Karena sahabat terbaiknya sudah meninggalkannya, dan begitu banyak orang yang memiliki suara yang hampir sama.
"Lu mau kemana?" Kali ini David yang bersuara.
"Gue cabut duluan!" Pamit Alga.
Alga yang ingin mengendarai sepeda motornya kembali, niatnya pun dicegah oleh sebuah tangan yang mengambil kunci motornya dengan paksa.
"Sampai kapan lu akan menghindar?" Wisnu pun menatap ke arah Alga dengan tatapan tajam.
Alga yang mendengar lontaran tersebut, dirinya mulai menatap Wisnu dengan datar. "Balikin kunci motor gue!" Ujar Alga.
__ADS_1
Wisnu tersenyum sinis. "Lu sudah dewasa, Ga! Sampai kapan lu mau lari di setiap ada masalah, hah?"
"Sampai lu bosan mengatur kehidupan gue! Puas!" Murka Alga.
Wisnu tertawa kecil. "Lu salah! Sampai akhir nafas gue pun, gue akan selalu mengatur kehidupan lu, dan mempertahankan persahabatan kita!" Jelas Putra dengan penekanan.
"Apa yang harus dipertahankan? Persahabatan kita memang sudah tidak lengkap sejak dulu! Apa, yah? Gue harus berkorban lagi untuk mempertahankan persahabatan yang nggak ada gunanya ini?"
"Gue capek, Wis! Jika lu tahu, gue juga ingin mempertahankan persahabatan kita. Tapi jika gue kembali lagi ke Dasa, maka mereka semua akan menyudutkan gue lagi!" Ujar Alga bertubi-tubi.
"Gue nggak peduli, mau mereka menyudutkan lu atau apapun itu! Karena gue hanya ingin menepati janji ke sahabat gue, Langit! Jika gue harus kehilangan Dilan, gue lebih baik kehilangan seorang sahabat yang egois seperti lu!"
"Apa lu lupa? Kenapa Langit kecelakaan waktu itu?—"
"Wisnu, sudah! Itu sudah masalalu, buat apa diungkit lagi?" Ujar Putra yang mulai memotong pembicaraan di antara kedua lelaki tersebut.
Wisnu pun tetap melanjutkan lontaran kalimatnya, tanpa mempedulikan para sahabatnya, yang kini sedang melarang dirinya untuk menjelaskan sebuah kebenaran yang selama ini disembunyikan dari Alga.
"Langit kecelakaan waktu itu bukan karena sebuah kebakaran! Tapi itu semua karena lu, lu yang menyebabkan Langit meninggalkan kita!" Jelas Wisnu dengan nafas yang tersengal-sengal.
Alga yang mendengar penjelasan dari Wisnu, dirinya mulai tersenyum kecil. "Maksud lu? Gue yang membunuh Langit, gitu?" Tanya Alga tidak percaya.
Wisnu pun terdiam, dirinya mulai membisu seketika. Ntah kenapa, semua kenangan pahit yang pernah terjadi di hadapannya, kini semua kenangan tersebut mulai terlintas kembali.
Alga yang melihat para sahabatnya terdiam membisu, dirinya mulai tertawa kecil.
"Jawab! Kenapa lu semua pada membisu, hah? Apa gue yang membunuh Langit, hah?" Tanya Alga dengan suara yang ditinggikan.
Wisnu pun mulai menghela nafasnya. "Yah, jika bukan karena waktu itu lu terlalu egois, mungkin kita semua masih bisa berkumpul sampai saat ini." Jawab Wisnu dengan pelan.
"Stop, Put! Sampai kapan kita harus menyembunyikan semua ini dari dia? Mungkin jika dia tahu yang sebenarnya, dia pasti akan mengambil keputusan yang gue suruh ke dia dari tadi siang." Jelas Wisnu.
"Tapi?—"
"Gue dukung Wisnu, karena yang dia bilang benar. Gue nggak ingin kehilangan salah satu sahabat gue lagi, walaupun Alga yang harus dipertaruhkan disini. Tapi itu semua sangat impas." Ujar David sambil menatap wajah Alga dengan tajam.
Alga yang mendengar semua lontaran dari para sahabatnya, dirinya mulai terasa seperti jatuh ke jurang yang sangat dalam. Apa benar? Semua yang menimpa sahabat terbaiknya, itu semua karena ulahnya sendiri?
"Kenapa? Kenapa lu semua malah melemparkan semua masalah ke gue?" Tanya Alga sambil menatap para sahabatnya satu-persatu.
"Gue nggak melemparkan semuanya ke lu, Ga! Gue diam, ketika kedua sahabat gue menyukai orang yang sama. Tapi gue nggak bisa diam, jika masa depan sahabat gue hancur karena seorang gadis." Ujar Wisnu.
Alga tersenyum kecil. "Lu tahu? Apa yang gue rasakan saat ini? Gue sangat kecewa sama lu semua!" Alga yang menunjuk satu persatu para sahabatnya.
"Lu kecewa sama kita? Apa lu nggak pernah berfikir? Kita juga kecewa sama lu, karena lu yang menyebabkan sahabat terbaik gue pergi!"
"Kenapa lu nggak pernah jujur ke gue? Kenapa lu semua pada menyembunyikan semua ini ke gue? Kenapa lu pada nggak jujur dari awal?" Tanya Alga bertubi-tubi.
David yang sudah muak oleh para sahabatnya, dirinya mulai mendekati Alga, dan mulai mendaratkan sebuah pukulan diujung bibir Alga.
"Dav!" Teriak Putra dan BomBom bersamaan, atas melihat sikap David yang biasanya diam, kini dirinya mulai melayangkan tinjunya.
__ADS_1
"Lu tahu nggak? Apa susahnya, lu menuruti semua permintaan Wisnu? Lu cuma bawa Dilan kembali ke Jakarta, supaya itu anak tidak dikeluarkan oleh pihak sekolah!" Jelas David dengan menekan semua kalimatnya.
"Tapi lu tahu sendiri—"
"Yah, gue paham! Gue sebagai sahabat lu pada, gue hanya ingin semua ini masalah ini selesai! Kita tidak menyuruh lu untuk meninggalkan Asa, tapi jika itu cara yang terbaik, lu boleh meninggalkan Asa." Ujar David yang masih setia menatap tajam ke arah Alga.
Alga yang mendengar semua lontaran para sahabatnya, dirinya mulai mengusap wajahnya kasar.
"Lu ingin gue tinggalin Asa? Itu nggak akan pernah, karena kematian Langit itu bukan salah gue! Itu hanya sebuah kecelakaan waktu itu." Jelas Alga yang mulai meraih kunci motornya dengan paksa, dan mengendarai sepeda motornya untuk meninggalkan para sahabatnya.
Wisnu yang ingin mengikuti Alga, dirinya mulai di cegah oleh sebuah cengkeraman kasar dari tangan kokoh David.
Bugh!
Bugh!
Berulang kali, David melampiaskan semua emosinya kepada Wisnu. Sehingga, seluruh tubuh Wisnu mulai jatuh ke tanah. Sungguh sakitnya, jika David benar-benar emosi sekarang.
"Lu pernah bilang sama gue waktu itu, apakah gue masih waras atau nggak? Tapi yang lebih nggak waras itu lu, Wis!" Murka David.
Wisnu pun mulai membuang ludahnya, dan tersenyum licik. "Yah, gue emang nggak waras sekarang! Kenapa? Lu nggak senang? Pukul gue sampai semua emosi lu mereda!" Teriak Wisnu dengan nafas memburu.
David yang ingin melayangkan tinjunya kembali, kini niatnya dicegah oleh tangan kokoh lainnya.
"Lu semua pada bisa nahan emosi nggak? Gue nggak pernah berfikir, persahabatan yang dulunya baik-baik saja, kini malah menjadi sangat kacau balau." Ujar Putra yang mulai menatap kedua para sahabatnya.
David mulai berdecih. "Bukan gue yang bikin persahabatan kita hancur, tapi lu yang memulainya duluan, Wis! Lu memang dapat wasiat dari Langit waktu itu untuk mempertahankan persahabatan kita. Tapi, lu juga jangan memaksa seseorang untuk mengorbankan masa depannya." Jelas David yang mulai mengendarai motornya dan meninggalkan tempat arena yang menurutnya sangat sesak.
BomBom yang melihat tersebut sedari tadi, kini dirinya mulai membuka suaranya, dan berkata :
"Gue setuju sama pendapat David, gue kangen sama lu yang selalu membawa kita ke jalan yang aman. Tapi lu malah membuat gue kecewa, dengan perubahan lu saat ini. Lu yang sekarang, bukan Wisnu yang gue kenal dulu! Gue cabut duluan." Pamit BomBom dengan helaan nafasnya.
Putra pun menatap Wisnu dan mulai memberi tangan kokohnya, untuk membantu sahabatnya berdiri. Wisnu pun meraih tangan kokoh tersebut, dan menatap ke arah Putra.
"Kenapa lu nggak pergi? Kenapa lu nggak meninggalkan gue sendirian disini, seperti yang lainnya?" Tanya Wisnu dengan lirih.
Putra pun menghela nafasnya dengan berat, dan menatap ke arah langit. "Gue sebagai seorang sahabat, gue tidak mungkin meninggalkan sahabat gue sendirian. Walaupun dia sekarang berada di jalan yang salah, gue hanya bisa menuntunnya dari belakang, untuk mengambil ke jalan yang benar lagi." Jelas Putra dengan senyuman manisnya.
Wisnu yang mendengar lontaran kalimat Putra, dirinya mulai meraih langit di malam hari saat ini.
"Lu tahu? Langit hari ini terlihat indah, tapi tidak dengan perasaan gue saat ini. Gue hanya ingin, melaksanakan tugas gue saja ke dia." Lirihnya.
"Gue paham, tapi kasih waktu ke Alga sedikit lagi. Biar Alga yang mengambil semua keputusannya saat ini. Apa lu tahu? Kedua orang tuanya Dasa, ingin menikahkan Alga dengan Dasa." Putra menatap wajah Wisnu yang terlihat heran.
"Lu pasti baru tahu, kan? Makanya, Alga bersikeras menolak permintaan lu barusan. Karena, Alga saat ini sedang mempertahankan perasaan seorang gadis untuknya." Jelas Putra.
"Gue baru tahu, apa gue salah?" Tanya Wisnu dengan frustasi.
"Manusia tidak ada yang sempurna, sama halnya dengan seluruh bumi ini yang selalu berputar. Gue harap, lu bisa mengontrol semua emosi lu, dan kasih Alga waktu lagi." Jelas Putra.
Putra pun mulai menepuk pundak Wisnu dengan pelan, menaiki motornya, dan mengendarai sepeda motornya meninggalkan Wisnu sendirian.
__ADS_1
"Langit, lu tahu? Gue berasa tidak becus untuk mempertahankan persahabatan kita saat ini. Gue takut, ketika gue meninggalkan mereka semua, masalah di dalam persahabatan kita ini tidak ada selesainya." Lirihnya dengan helaan panjangnya.
Wisnu pun mulai berjalan ke arah motornya, dan mengendarai sepeda motornya membelah Ibu Kota Jakarta yang sangat indah di bawah malam hari saat ini.