
"Mungkin, gue dulu tidak pernah menganggap diri lu sebagai seseorang yang selama ini ada di dalam kehidupan gue."
"Tapi sekarang, gue telah menganggap diri lu sebagai seseorang yang sangat berarti untuk kehidupan gue."
...~Algasa Adistia Renanda~...
...••••••••...
Angin yang mulai berhembus dengan sangat kencang, mampu menampar helaian rambut seorang gadis manis yang kini sedang berada di taman belakang sekolah.
Dengan langit yang kini sedang tersenyum bahagia atas pertunjukan yang mereka saksikan selama ini. Berbeda, dengan perasaan seorang gadis yang kini merasa sakit atas semua pertunjukan yang mampu membuat perasaannya terluka.
Beberapa kali, gadis itu mengusap semua jejak air suci yang mulai mengalir dengan sangat deras di kedua pipi mulus seorang gadis bernama Asalina Hyena.
Sesekali, gadis itu tersenyum kecil sambil menatap sebuah gelang tali tambang yang mulai terikat erat dipergelangan tangannya.
"Kenapa, Kak? Kenapa, waktu itu Kak Alga pernah bilang kalau Asa akan selalu terikat erat bersama Kak Alga?"
Asa tersenyum kecil, sesekali semua air matanya mulai mengalir dengan sangat deras.
"Kenapa? Kak Alga bilang, tidak akan pernah menyakiti perasaan Asa? Tapi, ternyata Kak Alga malah membuat perasaan Asa sangat terluka sekarang," ucapnya dengan lirih.
Semakin, Asa menatap gelang tali tambang yang dibuat oleh Alga. Semakin, itu pula Asa mulai memikirkan semua memori masalalu bersama dengan orang yang sangat dirinya cintai.
"Sa, jangan pernah meninggalkan gue yah! Walaupun, semua yang akan terjadi nanti di masa datang. Gue nggak mau, kalau kehidupan gue tidak pernah dipenuhi oleh sang matahari gue."
Asa tersenyum kecil, atas perkataan yang selalu dirinya ingat, dan dirinya simpan di dalam hatinya.
"Kak, jika kenyataan bahwa Kak Alga sudah tidak membutuhkan kehadiran seorang gadis bernama Asalina Hyena lagi. Ijinkan, Asa pergi dalam kehidupan ALGASA selamanya." Gumamnya dengan lirih, sambil membenamkan wajahnya dengan kedua tangannya dan lututnya.
"Buat matahari yang selalu menerangi kehidupan gue, dan memberikan sebuah kehangatan di dalam kehidupan gue."
__ADS_1
"Gue ingin mengatakan sesuatu hal yang selama ini gue simpan, dan butuh waktu tentang perasaan gue ini. Ternyata, perasaan gue ini buat lu Asalina Hyena." Ucap seorang laki-laki yang mulai menyiarkan suaranya disebuah Speaker.
Asa yang mendengar perkataan dari seseorang yang sangat dirinya kenal, dirinya mulai mendongakkan kepalanya, dan tersenyum kecil.
"Gue tahu, semua kejadian barusan mampu membuat perasaan lu terluka. Tapi! Gue harap ini bisa membuat perasaan lu kembali bersinar lagi, seperti sebuah matahari yang tidak lagi ditutupi oleh awan gelap."
"Gue hanya ingin, matahari gue akan selalu bersinar sangat terang. Seperti langit-langit yang selalu menunjukkan senyuman kecil mereka kepada kita, sama halnya dengan matahari yang mulai muncul di hadapan gue."
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai mengusap kedua pipinya dengan sangat cepat. Asa nggak pernah menyangka, bahwa laki-laki yang sekarang sedang berjuang untuk mendapatkan perasaan dirinya untuk bahagia lagi.
Masa, dirinya sendiri harus menyerah sampai disini? Bukannya, dirinya sangat mencintai laki-laki yang kini sedang berbicara di Speaker.
Suara kembang api yang mulai kembali mewarnai langit, balon warna-warni yang mulai berterbangan ke arah langit, dan dengan kedua burung merpati yang mulai dilepaskan ke langit.
Semua pertunjukan yang sangat indah di hadapan pandangan Asa. Mampu membuat Asa sama sekali tidak pernah menyangka akan kejadian itu barusan, bahkan bicara saja dirinya tidak bisa lontarkan.
"Bagaimana? Apa lu suka hadiah gue ini?" Bisik seorang laki-laki yang mulai berdiri di samping gadis manis yang sangat dirinya cintai.
"Asa sangat suka, melebihi batas apa pun itu." Ucap Asa dengan lembut.
"Tapi! Hadiahnya, belum selesai sampai disini!"
"Dan, sekarang waktunya kejutan kedua untuk lu. Tapi! Gue hanya minta, lu tutup mata!"
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai mengangguk'kan kepalanya dengan cepat. Alga yang mendapat persetujuan dari Asa, dirinya mulai menutupi mata Asa dengan sangat lembut.
Dengan jetikan jarinya, semua mulai disiapkan oleh seluruh sahabatnya, dan termaksud dengan cinta masalalunya. Yaitu, Dasalina Wulandari.
"Dengan hitungan ketiga, gue akan membuka tutupan mata ini dengan sangat cepat." Jelasnya dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai mengangguk'kan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
"Satu,"
"Dua,"
"Tiga."
Tutupan mata pun mulai terbuka, Asa dengan pelan membuka kedua matanya, dan menatap seluruh di hadapannya.
Dengan bunga yang mulai ditaburkan di atas kepalanya, dan turun di seluruh tubuhnya. Asa mulai tersenyum manis ke arah Alga, dan dirinya mulai memotek sebuah bunga mawar yang mulai dipasang di samping telinga Alga dengan lembut.
"Kak Alga tahu? Waktu itu, Kak Wisnu pernah bilang kalau Kak Alga seperti sebuah pohon kaktus yang berduri."
"Tapi! Menurut Asa, Kak Alga itu seperti bunga mawar yang berduri. Karena, bunga mawar itu adalah lambangnya cinta kepada seseorang, dan dirinya akan berduri disaat bersama dengan yang lain."
"Tapi! Kalau bersama dengan seseorang yang sangat dirinya sayangi, semua duri yang ada ditubuhnya. Dirinya akan selalu menyembunyikan semua duri tersebut di hadapan orang yang sangat dirinya sayangi, karena mawar berduri itu takut kalau orang yang sangat dirinya sayangi akan terluka atas semua durinya!" Jelas Asa yang panjang lebar dengan senyuman.
Alga mulai menatap wajah Asa dengan sangat lembut, dan dingin.
"Dan! Lu tahu? Lu itu seperti bunga bangkai di dalam kehidupan gue saat ini, yang akan selalu menjadi orang yang sangat gue sayangi sampai diri lu mulai menjadi bunga bangkai tersebut."
"Walaupun, lu sudah tiada! Gue akan selalu menunggu lu disini, bahkan menunggu lu dilahirkan lagi di dunia ini." Jelasnya dengan senyuman kecil, sambil mengacak-acak rambut Asa dengan pelan.
Hiasan yang sangat indah dengan lampion kecil yang menggantung di taman sekolah, meja yang dihidangkan makanan, dan dengan semua bunga yang mulai ditaburkan di sekeliling meja tersebut.
Angin yang mulai tersenyum bahagia bersama dengan perasaan seorang gadis manis, yang kini kembali dengan sangat bahagia bersama dengan seseorang lelaki di sampingnya.
Berbeda dengan perasaan seorang gadis yang kini sedang tersenyum kecil menatap kedua pasangan yang sangat bahagia di hadapannya.
"Ga! Mungkin benar, kalau disini aku yang salah karena telah melepaskan semua perasaan kamu itu untuk'ku. Tapi! Dasa percaya, kalau ada sedikit saja perasaaan Alga untuk Dasa." Batin Dasa dengan senyuman kecil.
Cinta itu terkadang mempermainkan perasaan kita, dan pikiran kita. Tapi! Apakah, hanya cinta saja yang mempermainkan kita? Bahkan, takdir dan waktu saja bisa mempermainkan kita.
__ADS_1
Next Selanjutnya ...