
"Walaupun, dirimu selalu bersamaku. Tapi, perasaan dan pikiranmu hanya untuk orang lain bukannya untuk diriku."
...~Asalina Hyena~...
...••••••...
Berjalannya sedikit demi sedikit waktu, hari pun mulai terlihat malam, dengan matahari yang sudah menghilang dan mengumpat ntah dimana dirinya.
Berbeda dengan seorang laki-laki yang selalu setia menemani setiap detik seorang gadis yang kini masih terbaring sempurna di sebuah tempat tidur perawat. Sungguh! Laki-laki itu tampak terlihat sangat berantakan, dan dirinya melupakan seseorang gadis lain yang selalu menunggu dirinya di rumah sakit ini.
Asa yang melihat seseorang yang sangat dirinya sayangi, dirinya hanya ingin mensampingkan ego-nya dulu sekarang. Mungkin, perasaannya disini yang merasa sakit. Tapi! Perasaan yang lebih sakit disini adalah seorang laki-laki yang masih setia duduk di samping seorang gadis bernama Dasalina Wulandari.
"Lebih baik kalian berdua makan dulu, yah. Jangan sampai kalian juga sakit seperti Dasa," ucap Lusi dengan lembut.
Asa yang mendengar perkataan dari Lusi dirinya mulai meraih nasi kotak yang diberikan oleh Lusi, dan tersenyum manis ke arahnya.
"Makasih, Tan." Ucap Asa dengan ramah.
"Yah, sama-sama."
Lusi pun mulai berdiri di samping Asa, dan menatap kedua kejora di dalam dengan tatapan nanar.
"Kamu bisa'kan bujuk Alga untuk mengisi perutnya? Walaupun itu sedikit saja, yang penting dia mengisi tenaganya." Jelas Lusi dengan lirih.
Asa yang mendengar perkataan dari Lusi dirinya menganggukkan kepalanya, "Yah Tan, nanti Asa usahakan." Ucapnya dengan lembut.
Lusi yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai memasuki ruangan UGD yang diikuti oleh Asa dari belakang.
"Ga, Tante pulang dulu. Tolong jagain anak tante disini yah, kalau ada apa-apa hubungi tante saja." Jelas Lusi dengan lembut.
Alga hanya menganggukkan kepalanya saja, dan masih setia menatap wajah Dasa yang tidak dapat di artikan.
Lusi yang mendapat persetujuan dari Alga, dirinya mulai menatap Asa dengan lembut dan tersenyum.
"Tolong yah, Sa. Suruh Alga mengisi perutnya sedikit saja, Tante nggak mau nanti Dasa marah sama Tante."
Asa yang mendengar perkataan dari Lusi, dirinya menganggukkan kepalanya dengan lembut.
"Yah Tan." Ucapnya dengan lembut.
Lusi yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya pun mulai keluar dari ruangan UGD tersebut.
Asa hanya bisa melihat orang yang sangat dirinya sayangi, kini mungkin laki-laki itu terlihat seperti orang lain.
Asa pun mulai menghampiri Alga, dan menepuk pundak Alga dengan pelan.
"Kak Alga, makan dulu yah? Walaupun sedikit, yang penting isi semua cacing-cacing Kak Alga." Jelas Asa dengan lembut.
Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai menatap wajah Asa dengan datar.
"Gue nggak lapar, Sa!"
__ADS_1
"Tapi, Asa sangat lapar Kak! Asa nggak mau Kak Alga seperti ini terus menerus, itu bikin perasaan Asa sakit." Jelas Asa dengan lembut sambil membuka kotak nasi yang diberikan oleh Lusi barusan.
Alga yang dipaksa begitu saja, dirinya mulai menghembuskan kotak nasi itu dengan kasar.
"Sudah gue bilang, gue nggak lapar, Sa!" Ujarnya dengan emosi dan suara ditinggikan.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menatap Alga dengan sangat nanar.
"Tapi, Asa hanya ingin–"
"Lu mending keluar dari ruangan UGD sekarang! Gue nggak mau, kehadiran lu akan mengganggu tidurnya Dasa nanti." Usir Alga yang mulai menunjukkan satu jarinya ke arah pintu.
Asa yang mendengar semuanya, dirinya mulai tersenyum kecil dan menghela nafasnya dengan sangat berat.
"Sebelum Asa pergi dari sini, Kak Alga makan dulu yah?" Pintanya sekali lagi.
Alga yang tidak tertahan emosinya, dirinya mulai menarik lengan Asa dengan kencang, dan menarik Asa untuk mengikutinya.
"Gue bilang keluar, lu punya kuping nggak sih?"
"Gue nggak mau diganggu sekarang, gue sudah suruh Putra untuk antar lu pulang!" Ujarnya dengan datar, dan mulai duduk diruang tunggu bersama Asa.
Alga mulai menghela nafasnya dengan kasar, dan mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Dirinya mulai menatap wajah Asa dengan nanar, sikapnya barusan pasti mampu membuat perasaan gadis itu terluka.
Alga mulai duduk disampingnya Asa, dan menatap wajah Asa dengan lembut.
"Gue minta maaf sudah kasar ke lu barusan. Gue benaran nggak sadar barusan," ucapnya dengan nada bersalah.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat. Walaupun tadi perlakuan Alga kasar kepadanya, dirinya juga nggak boleh menyalahkan semua sikap Alga barusan.
Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai menggelengkan kepalanya.
"Gue nggak bisa, gue ingin selalu disini bersama Dasa. Gue nggak mau, disaat gue pergi bersama lu, Dasa pergi meninggalkan gue sendirian untuk kedua kalinya."
"Lagipula, nggak ada bedanya diantar sama gue atau Putra'kan? Putra nggak akan macam-macam ke lu, karena sifatnya dia bukan seperti itu." Jelasnya dengan datar, dan menatap kedua sepasang sepatunya.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat sekali lagi.
"Apa Asa sudah nggak ada di perasaan Kak Alga?" Tanya Asa dengan pelan.
Perkataan Asa barusan, itu mampu membuat Alga membisu. Seakan pertanyaan Asa barusan seperti sebuah kalimat yang sangat menghantam perasaannya sekarang.
"Gue nggak tahu, yang penting satu hal sekarang. Gue akan adil sama lu kok, tenang saja." Jawabnya dengan datar.
Tenang? Apakah Asa bisa tenang dengan perasaannya yang sekarang mulai terasa sakit sekarang, sifat Alga saja sudah menunjukkan kalau Asa sama sekali seperti dulu.
"Tapi–"
"Sa, tolong ngertiin kondisi gue sekarang! Lu hanya maukan punya hubungan dengan gue? Gue akan kabulkan itu ke lu besok, tapi lu nggak berhak untuk mengatur semua perasaan gue ini ke siapa?" Jelasnya yang mulai kesal.
Asa yang mendengar setiap kalimat dilontarkan, dirinya mulai menghela nafasnya dengan berat.
__ADS_1
Asa tersenyum kecil, "Asa nggak perlu itu Kak. Kalau Kak Alga memandang Asa seperti itu, lebih baik Asa mundur sekarang." Ucap Asa dengan lirih dan mulai meninggalkan Alga sendirian.
Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai menatap punggung Asa dengan berat.
Sial!
Alga pun mulai mengambil tasnya, berjalan mendekati Asa dengan berlari kecil, dan menarik lengan Asa dengan lembut.
"Gue antar lu pulang," ucapnya dengan datar.
Asa yang melihat lelaki di hadapannya, dirinya tersenyum kecil.
'Asa tahu kok, Kak. Kalau di dalam perasaan Kak Alga paling dalam, ada tempat untuk Asa walaupun itu hanya sedikit.' Batin Asa dengan lirih.
...••••••...
Di sebuah rumah yang terlihat seperti tidak ada penghuni sama sekali, Alga mulai menatap Asa dengan heran, dan bertanya.
"Orang tua lu pada kemana?" Tanya Alga dengan datar.
"Cari uang," jawabnya dengan lembut.
"Terus? Lu tinggal ditemanin sama siapa di rumah?" Tanyanya lagi.
"Sendiri,"
Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Sudah biasa sendirian di rumah?" Tanyanya lagi.
"Yah,"
"Yaudah, gue balik ke rumah sakit kalau gitu. Karena, Dasa juga sendirian disana." Pamitnya dengan datar.
Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya langsung memegang lengan Alga dengan cepat.
"Kak Alga juga bisa kok temanin Asa disini, karena Asa juga sendirian disini. Lagipula, Kak Dasa masih ditemanin sama perawat dan Dokter." Jelas Asa dengan lembut.
Alga mulai menatap wajah Asa dengan lembut, dan membuka handphonenya untuk kirim beberapa pesan kepada seseorang.
"Gue sudah suruh Nanda untuk ke rumah lu, dan sekarang lepasin lengan gue." Suruhnya dengan datar.
Asa pun mulai melepaskan tangannya dilengan Alga, dan menatap kedua sepasang sepatunya dengan nanar.
Tiba-tiba sebuah ciuman manis dikening Asa. Sungguh, perlakuan barusan mampu membuat Asa mendongakkan kepalanya, dan menatap Alga dengan lirih.
"Lu dan Dasa beda, Sa! Dia dirumah sakit sendirian, walaupun banyak perawat disana. Dasa hanya ingin orang yang sangat dirinya sayangi."
"Sedangkan lu? Lu masih sehat, dan masih ada orang yang sangat peduli sama lu bahkan sahabat. Kalau, Dasa sama sekali tidak ada teman yang mengerti dirinya." Jelas Alga dengan datar, dan mulai memasuki mobilnya.
Asa yang hanya melihat kepergian Alga yang sudah mulai menghilang dari pandangan'nya. Dirinya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Asa juga masih ingin, di temanin oleh orang yang sangat Asa sayangi sekarang." Gumam Asa pelan dengan helaan nafas yang membuat dadanya sesak.
Nggak apa-apakan, kalau Asa ingin dimengerti oleh seorang laki-laki yang dirinya cintai? Pasti, kalian juga akan sama seperti Asa sekarang, kalau kalian semua berada di posisi Asa sekarang.