ALGASA

ALGASA
Chapter 34


__ADS_3

"Kata orang kalau cinta itu seperti pelangi yang berbagai ragam warnanya. Tapi, ternyata cinta itu bukan beragam warna melainkan beragam kuat perasaaan kita ini kepadanya."


......••••••......


Alga yang masih setia berdiri di depan pintu kelas Asa yang tertutup dengan sangat sempurna di hadapannya. Sesekali dirinya mulai menghela nafasnya, mengutak-atik handphonenya, dan menatap jam tangannya berulang kali.


Akhirnya, jam istirahat mulai berbunyi. Alga yang tidak sabaran ingin memasuki kelas Asa, dirinya mulai disambut oleh sebuah pintu yang terbuka mengarah kepadanya.


Bagh!


Dengan sangat sempurna, dirinya mulai menahan rasa sakit sekaligus malu yang sangat luar biasa dihadapan semua orang.


"Alga, kamu bolos dari kelas? Dan, ngapain kamu menempel di pintu?" Tanya Pak Didit dengan heran.


Alga yang mendengar perkataan dari Pak Didit, dirinya mulai menghela nafasnya dengan kasar.


"Bapak kalau mau buka pintu itu bilang-bilang dulu, siapa tahu ada orang di belakangnya. Bukannya, langsung buka saja! Untung wajah ganteng Alga nggak kenapa-napa."


"Itu semua salah kamu, kenapa malah nyalahin bapak? Emang, kelas kamu disini? Balik sana!" Usir Pak Didit dengan tegas.


Alga yang diusir, dirinya mulai menatap seorang gadis yang berdiri di belakang Pak Didit, dengan senyuman manis dirinya menyapa gadis itu.


"Saya mau maling anak orang dulu, Pak!" Ujarnya dengan cengiran, setelah itu dirinya mulai melewati Pak Didit, dan mencengkeram lengan Asa dengan lembut sambil mengikuti dirinya.


Asa yang ditarik begitu saja, dirinya hanya bisa berpasrah, dan mengikuti setiap langkah yang diberikan oleh laki-laki di depannya.


Seketika, cengkraman itu pun mulai terlepas dengan sempurna dan Asa hanya di bawa disebuah taman belakang sekolah yang masih terhias dengan kejadian kemarin. Yang dimana, kenangan yang sangat indah dirinya diperlakukan seperti layaknya seorang Putri oleh pangerannya.


Alga yang mengerti dari senyuman kecil Asa, dirinya hanya bisa memandangi setiap inci wajah Asa yang sangat sempurna di kedua matanya.


"Sa! Lu mau jadi sang matahari gue?" Tanya Alga dengan sangat lembut.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya hanya terlihat heran atas perkataan yang dilontarkan oleh laki-laki di hadapannya.

__ADS_1


"Ma-maksud, Kak Alga apa?" Tanya Asa balik dengan gagap.


Alga mulai menghela nafasnya dengan berat, "Maksudnya gue adalah, lu mau menjadi seorang matahari yang akan selalu memancarkan kehangatan lu itu untuk gue, dan selalu melelehkan setiap sifat gue yang seperti layaknya sebuah balok es." Jelas Alga dengan senyuman.


"Terus, Kak Dasa bagaimana?" Tanya Asa dengan sangat nanar.


"Gue dan Alga mungkin saling mencintai, tapi itu semua hanya sebuah kenangan dulu. Gue bahagia kok, walaupun gue sekarang hanya sebagai sahabatnya." Ucap seorang gadis yang kini memasuki taman belakang sekolah, yang dibantu oleh David sahabatnya dengan senyuman.


Asa yang mendengar perkataan dari Dasa, dirinya hanya bisa terdiam tanpa harus memberi jawaban apa pun.


"Gue sudah berfikir panjang, Sa! Dan, perasaan gue ini hanya untuk lu seorang. Mungkin, Dasa pernah ada di dalam perasaan gue ini sampai sekarang."


"Tapi! Gue lagi berjuang untuk melupakan semua perasaan itu hanya demi lu, Sa. Gue harap, lu bisa bantuin gue untuk melupakan semua perasaan ini." Jelas Alga yang mulai memegang kedua tangan Asa dengan lembut.


Asa yang mulai menatap kedua mata Alga, dirinya hanya bisa menatap Dasa dan bergantian menatap laki-laki di hadapannya.


"Berarti, di dalam perasaan Kak Alga masih ada rasa untuk Kak Dasa?" Tanya Asa dengan hati-hati.


Dasa yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya hanya bisa menatap Alga dengan bertanya juga.


Asa menganggukkan kepalanya dengan mengerti.


"Tapi! Perasaan gue hanya untuk lu sekarang, mungkin nggak sepenuhnya gue akan memberikan perasaan ini untuk lu."


"Karena, lu tahu sendiri cinta pertama itu susah untuk dilupakan apalagi kenangan yang selalu menghantui pikiran gue ketika bersama Dasa. Gue hanya ingin, disaat gue melupakan semua perasaan itu! Lu ingin berjuang bersama dengan gue." Jelasnya dengan datar.


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Asa mau kak, Asa akan selalu bersama Kak Alga dan selalu berjuang bersama Kak Alga." Ucapnya dengan lembut.


Alga yang mendengar perkataan dari Asa, dirinya mulai tersenyum lebar dengan sangat sempurna. Dirinya pun mulai mulai memberikan selembar kertas putih yang bergambar bunga matahari yang sedang tersenyum sempurna disana.


"Gue harap, lu selalu menjadi matahari yang tersenyum sempurna di kehidupan gue." Jelasnya dengan senyuman kecil.

__ADS_1


Asa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.


"Asa akan selalu menjadi mataharinya Kak Alga."


Alga hanya menganggukkan kepalanya, dan menatap wajah Dasa yang mungkin cintanya dulu dan akan seterusnya menjadi cinta pertamanya.


Alga pun mulai mensejajarkan dirinya, dan berjongkok di hadapan seorang gadis yang kini sedang duduk di kursi roda dengan sangat sempurna.


Dasa tersenyum kecil, dan mengelus wajah Alga dengan sangat lembut.


"Mungkin dulu, lu adalah seorang gadis sekaligus tuan Putri yang akan selalu gue jaga sampai akhir nyawa gue. Dan, gue pernah bilang ke lu dulu. Kalau lu akan selalu menjadi cinta pertama untuk gue, dan itu tidak akan pernah tergantikan."


"Tapi! Percayalah, bahwa semua perkataan gue itu akan selalu menjadi nyata. Gue akan selalu bersama lu, dan berjuang bersama lu hanya sebagai seorang sahabat sejati saja. Karena, cinta itu bisa juga menjadi sahabat bukannya menjadi musuh."


"Karena, perasaan gue yang sekarang hanya untuk orang lain saat ini. Seorang gadis yang selalu mengalah, dan bersabar atas semua sikap kasar yang gue berikan untuknya. Tapi! Dirinya selalu berjuang untuk gue sampai saat ini, dan mungkin sekarang waktunya gue yang seharusnya berjuang untuk membuatnya bahagia hari ini."


"Buat lu, Da! Gue akan selalu menjadi sahabat sekaligus seseorang yang pernah ada di kehidupan lu, karena gue nggak mau menyesal dikemudian hari dan harus memiliki kalian berdua begitu saja. Gue nggak mau nanti karena serakah gue nantinya, gue akan kehilangan lu berdua." Jelasnya dengan senyuman kecil di wajahnya.


Dasa yang mendengar perkataan dari Alga, dirinya mulai tersenyum manis, dan menganggukkan kepalanya. Mungkin, perasaannya disini agak sedikit sakit dan sesak atas semua yang dilontarkan oleh laki-laki di hadapannya.


Tapi! Dirinya sadar, kalau hidupnya mungkin tidak akan lama juga di dunia ini. Lebih baik seperti ini, yang penting dirinya selalu bisa bersama Alga dan berjuang bersamanya. Walaupun, hanya sebagai seorang sahabat bukannya sebuah seseorang yang sangat penting di dalam kehidupannya sekarang.


"Dasa setuju sama Alga, walaupun hanya sebagai sahabat, yang penting kita semua selalu bersama seperti ini." Ucap Dasa dengan senyuman manis di wajahnya.


Alga yang mendengar perkataan dari Dasa, dirinya menganggukkan kepalanya dengan cepat, dan tersenyum manis ke arahnya.


Dasa hanya bisa menatap setiap inci wajah Alga yang diukir dengan sangat sempurna.


'Walaupun nanti, Dasa akan menghilang dari kehidupan kamu, Ga. Mungkin, seperti ini yang akan terbaik untuk kebahagiaan semuanya, termaksud untuk kebahagiaan kamu, Ga!' Batinnya Dasa.


Angin yang mulai berhembus dengan sangat sempurna, mampu membuat semua orang yang di taman merasa sangat bahagia, dengan cuaca yang mulai menunjukan hari sudah mulai agak sore.


Sebuah keputusan yang diambil sekarang mungkin akan selalu menjadi pilihan yang tepat. Tapi! Jangan pernah lah menyesal untuk hari-hari selanjutnya yang akan datang.

__ADS_1


Aku penulis ALGASA menucapkan terimakasih atas dukungan kalian semua selama ini:) Jangan lupa tinggalkan jejak.


__ADS_2