ALGASA

ALGASA
ALGASA|Bab 67


__ADS_3

Sudah tiga minggu pun berlalu, tidak ada yang berubah sama sekali di dalam kehidupan Asa saat ini. Yah, disaat kepergian Alga yang menghilang tanpa kabar sama sekali, Asa hanya menerima sebuah pesan terakhir kalinya dari seorang lelaki yang sangat dirinya rindukan saat ini.


Sebuah pesan yang menurut Asa adalah hal terindah untuknya. Karena, Alga masih merespon dan menunggu dirinya di kehidupan selanjutnya. Walaupun, selama ini dirinya tidak pernah melihat sebuah warna-warni kehidupannya lagi.


Bagi Asa, Alga adalah sebuah pelangi yang sangat terindah untuknya selama ini. Walaupun, semua perilaku kasar Alga kepadanya, Asa sama sekali tidak pernah membenci dirinya maupun menjauhinya, sampai detik ini, dirinya masih sangat setia menunggu seorang lelaki yang sangat dirinya rindukan.


Helaan nafas mulai berhembus dengan sangat berat, seorang gadis kini mulai menatap sebuah langit cerah di bawahnya pohon besar dirinya bersandar.


"Kak, berapa lama Asa harus menunggu Kakak?—"


"Lu masih menunggu dirinya?" Tanya seorang lelaki remaja yang kini sedang mengamati setiap inci wajah Asa.


Asa pun menganggukkan kepalanya, dengan senyuman kecilnya.


Lelaki itupun mulai tersenyum kecil, dan beralih menatap ke arah langit. "Lu boleh menunggu dirinya, tapi lu juga harus menjaga kesehatan lu, Sa!" jelasnya.


Asa tersenyum kecut. "Asa nggak tau bagaimana kabar Kak Alga saat ini, apa dia baik-baik saja? Atau tidak? Lagipula, kehidupan Asa sudah nggak seperti dulu lagi, karena penyemangat hidup Asa kini menghilang meninggalkan Asa juga." lirihnya.


Lelaki itu tersenyum manis ke arahnya, dan mengacak rambut Asa dengan lembut.


"Menurut lu? Jika cara lu seperti ini, apa Alga akan suka melihat seorang gadis yang dulu sangat berani menyatakan perasaannya kepadanya waktu itu? Dan kini, gadis pemberani itu pun mulai terlihat lemah bagaikan sebuah bunga yang layu."


"Asa sudah layu dari dulu, Kak. Sejak kepergian dia pergi, dan akhirnya Kak Alga pun juga ikut pergi seperti dirinya juga." lirih Asa.


"Sa?" Panggil lelaki remaja itu dengan berat dan menatap dirinya.


"Hmm?"


"Jika gue membantu lu untuk melupakan dirinya, apa lu mengijinkan gue, Sa?" Tanyanya.


Asa yang mendengar perkataan dari lelaki disampingnya, dirinya mulai menatap kedua mata lelaki itu dengan tatapan kaget dan heran.

__ADS_1


"Maksudnya Kak Putra?"


"Gue nggak ingin, melihat lu menderita seperti ini, Sa."


Asa yang mendengar lontaran kalimat dari Putra, dirinya mulai tersenyum kecil.


"Asa nggak menderita kok, Kak. Mungkin, Asa hanya butuh waktu saja untuk menyendiri." Tanya Asa dengan senyuman kecil.


Putra pun menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Makanya itu, gue nggak ingin melihat lu seperti ini terus menerus. Apalagi melihat tatapan mata kosong lu itu, Sa. Seperti lu nggak punya harapan hidup sama sekali di dunia ini, Sa." jelas Putra.


Asa pun mulai meraih ranselnya, dengan sempurna dirinya mulai berdiri dari hadapan Putra dan menatapnya.


"Kak Putra nggak perlu khawatir tentang keadaan Asa, ini sudah keputusan dan pilihan Asa sendiri."


"Asa hanya ingin minta, Kak Putra menghargai semua keputusan Asa saat ini!"


Putra yang melihat Asa mulai meninggalkan dirinya, kini dirinya mulai mencengkeram erat pergelangan tangan Asa dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Sudah 5 bulan, Sa! Itu sudah cukup untuk gue melihat kondisi lu selama ini, karena gue nggak ingin melihat seorang yang gue sayangi menderita."


"Gue tahu, lu capek, lu lelah, harus berapa lama lu menunggu dirinya? Harus berapa lama lu masih memegang setiap janji lu kepadanya? Harus berapa lama lu menunggu kehadirannya? Apa lu nggak lelah menunggu kehadirannya seorang diri?" Ujar Putra dengan pelukan eratnya.


Asa yang mendengar lontaran kalimat dari lelaki yang memberikan pelukan hangat kepadanya, kini dirinya mulai menangis di bidang dada kokohnya.


"Asa nggak tahu Kak, yang satu hal Asa tahu, ntah kenapa, perasaan Asa harus menunggu kehadiran Kak Alga, karena perasaan Asa bicara, kalau Kak Alga masih memikirkan Asa dan masih menunggu kehadiran Asa."


Putra yang mendengar lontaran kalimat dari Asa, dirinya mulai terdiam membisu, dan tersenyum kecil.


'Perasaan lu itu benar, Sa. Mungkin benar kata orang dahulu, cinta sejati bagaikan sebuah burung merpati yang melambangkan sebuah ikatan cinta.' batin Putra dengan lirih.


Putra pun mulai melepaskan pelukannya, dan menghapus setiap jejak air mata di wajah Asa dengan sempurna.

__ADS_1


"Lu jelek kalau menangis, lebih baik lu tersenyum, gue kangen sama senyuman manis lu tau nggak?" jelas Putra.


Asa yang mendengar kalimat Putra, dirinya mulai tersenyum manis, dan menghela nafasnya dengan panjang.


"Selalu tetap tersenyum, walaupun Alga jauh dari lu, pasti Alga akan setuju dengan semua perkataan gue barusan. Karena senyuman manis lu itu yang mampu mendapatkan perasaan Alga untuk lu." Jelas Putra dengan cengiran bodohnya.


Asa yang mendengar lontaran kalimat dari Putra, dirinya mulai tersenyum kecil.


'Jika memang senyuman manis Asa mampu membuat Kak Alga menyukai Asa, mungkin Kak Alga nggak akan pergi meninggalkan Asa saat ini.' batin Asa.


Angin pun mulai menampar kedua kejora yang berada di dalam dunia mereka sendiri.  Tapi, satu kata di dalam perasaan mereka adalah sebuah luka yang sangat menyakitkan. Walaupun sebuah luka itu tidak berdarah, namun mampu membuat perasaan mereka sangat sakit dan sesak. Bagaikan ada beribu pisau yang memberi sebuah goresan luka di dalam dada mereka berdua.


Putra yang mencium aroma khas seorang gadis di dalam pelukannya, dirinya mulai tersadar dari lamunannya saat ini. Berulang kali dirinya menarik nafas beratnya yang panjang, kini dirinya mulai menatap ke setiap inci wajah seorang gadis di hadapannya, dan menghapus setiap jejak airmata yang telah membasahi kedua pipinya.


"Gue anterin lu pulang, yah?"


Asa pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil. "Iya, Kak."


Putra pun mulai tersenyum dan menggandeng pergelangan tangan Asa dengan erat, dirinya membawa Asa ke arah area parkiran motornya berada.


Seperti biasa, sejak Alga meninggalkan Asa, Putralah yang selalu mengantar-jemput Asa ke sekolah dan pulang. Mungkin perilaku manis Putra akan membuat semua kaum hawa terpesona atas sikapnya yang bagaikan seorang pangeran untuk sang putri.


Tapi bagi Asa, semua perilaku Putra sama sekali tidak terpengaruh sama sekali di dalam kehidupannya selama ini. Mungkin benar, melupakan seseorang yang sudah pernah mewarnai kehidupan kita dengan begitu berbagai macam warna, mungkin itu sangat sulit dilupakan oleh orang lain, walaupun orang lain itu memberikan sebuah warna yang sangat indah.


Karena perasaan yang kini dimiliki oleh Asa hanya untuk seseorang, dan akan selalu tetap menunggu dirinya disini seorang diri. Walaupun dirinya tidak tau, apakah seorang tersebut juga akan seperti dirinya, memikirkannya, merindukannya, dan menunggunya.


Mungkin saat ini kehidupannya sama sekali tidak ada warna, tapi, satu hal yang Asa tahu, cepat atau lambat, penantiannya saat ini akan berubah menjadi hal yang terindah untuknya. Itu pasti, karena perasaannya selalu berbicara untuk selalu menunggu kehadiran dirinya, dan Asa akan mengikuti semua keinginan perasaannya saat ini.


Karena pelangi belum tentu terlihat indah, begitu juga dengan cerita dan perjuangan Asa sampai detik ini. Perjuangan Asa mungkin sampai detik ini masih terus berlanjut, tapi bukan dirinya saja yang berjuang seorang diri, ada dua lelaki yang kini berjuang dengan cara mereka sendiri.


Alga yang sedang berjuang atas kehidupan yang menimpa dirinya, dan menjauhi seorang gadis yang sangat dirinya rindukan saat ini. Walaupun dirinya tau tentang perasaannya saat ini, dirinya rela menghilang begitu saja tanpa kabar sama sekali, walaupun disana dirinya sangat ingin selalu bersama seorang gadis yang mampu membuat kehidupannya berwarna saat ini.

__ADS_1


Sedangkan Putra, kalian pasti mengetahui satu hal, kalau dirinya sangat menyukai seorang gadis yang disukai oleh sahabatnya sendiri. Tapi dengan tekadnya saat ini, dirinya tidak ingin egois tentang perasaannya sampai kapanpun itu. Walaupun saat ini dirinya sedang berjuang dan berusaha, supaya Asa bisa memberi dirinya kesempatan di dalam kehidupannya.


Apa yang akan terjadi diantara hubungan mereka? Apakah Asa akan selalu setia menunggu kehadiran seorang lelaki yang sangat dirinya rindukan saat ini? Atau, Asa memberi Putra sebuah kesempatan untuk memasuki kehidupannya? Inilah cerita perjuangan diantara ketiga kejora tersebut.


__ADS_2