
Hari ini sudah menjadi tahun ketiga ku di sekolah ini.
Mentari pagi bersinar terang menyinari bumi dan menyapa seluruh penghuninya.
Sudah kelas 3 berarti masa putih biru tua ini akan segera berakhir.
Apa rasa suka ku juga akan berakhir juga?
Benar, aku masih menyukai Raga dan Raga masih dengan pacarnya, kurasa.
Pagi ini aku dan Okta pergi ke perpustakaan sekolah karna kita sekarang beda kelas. Aku juga beda kelas dengan Raga.
Kita belajar untuk persiapan ujian-ujian yang akan hadir nantinya.
Teman-temanku di kelas baru sangat kompetitif dan tidak ramah. Mereka individu sekali jadi aku tidak bisa beradaptasi dengan baik.
Saat sudah merasa bosan belajar, aku dan Okta mulai berbicara ngalur ngidul. Tidak seperti Ajeng, Okta anak yang tidak suka bergosip. Dia pecinta banyak laki-laki yang dia lihat di tv ataupun internet, dia juga memiliki kekasih di dunia nyata.
"Setelah lulus kamu mau lanjut dimana?" Tanya Okta
"Sekenanya aja dimana. Kamu?" Jawabku malas
"Gadis sekali jawabnmu. Aku mau lanjut ke sekolah kejuruan."
"Kenapa? Kamu masih ingin menjadi seorang Arsitek?"
"Aku ingin ambil jurusan tata boga"
"Kamu serius? Itu sangat berbeda dari keinginanmu dari awal?"
"Semua bisa berbeda seiring waktu bukan? Aku hanya ingin nantinya menjadi istri dan ibu yang baik"
__ADS_1
"Lalu apa hubungannya dengan jurusan yang akan kamu pilih?"
"Tentu saja agar pintar masalah dapur. Bukankah para suami akan senang punya pasangan yang jago urusan dapur?"
"Apa itu kata kekasihmu Ta?"
"Ya, dia ingin aku jago masak. Makanya aku memilih tata boga untuk masa depanku"
"Kamu yakin? Aku rasa kamu sudah cukup jago memasak saat ini"
"Kalau menurutmu jago merebus mi instan itu disebut jago urusan dapur, mending kamu diem aja deh"
"Haha memang benar bukan?"
"Tentu saja tidak. Seorang perempuan harus jago masak masakan apa saja, bisa merawat rumah, merawat taman juga agar rumah menjadi indah dan suami betah di rumah"
"Kamu yakin akan dijadikan istri oleh kekasihmu?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Akupun langsung beranjak dari kursi ku sebelum Okta sadar sepenuhnya.
Dan benar saja
"Hey kembali kau gadis laknat!" Teriak Okta
"Siapa yang berisik? Ini perpustakaan" Tanya Pak Sadi
Aku hanya cekikikan dan keluar dari perpustakaan.
Aku melesat ke kantin karna naga ku yang tumbuh dengan sehat meminta asupan nutrisi di waktu yang sangat tepat.
__ADS_1
Setiba di kantin aku melihat Raga dan Sasa berdua disana.
Lihatlah, pengaruh Raga masih sebesar itu terhadap diriku. Hanya melihatnya saja, jantungku sudah tidak waras.
"Gadis sini, duduk bersama kita!" Teriak Raga
Sialan, tidak mengertikah kalau aku tidak bisa dekat dengannya tapi aku juga tidak bisa menolak.
"Hi Dis, yang lain kemana?" Tanya Sasa
"Okta masih di perpustakaan yang lain aku tidak tau" Jawabku
"Kamu sudah memesan makananmu?" Tanya Raga
Lihatlah, senyuman sialan itu terus saja ada disana
"Ya sudah"
"Setelah ini kamu mau lanjut kemana?" Tanya Raga lagi
"Sekenanya saja. Aku tidak berharap apapun"
"Hahaha Gadis sekali" Riang Sasa
"Kalau kita akan sekolah di yayasan ini lagi Dis. Karna kita ingin selalu berada di tempat yang membuat kita bertemu" Jawab Sasa
"Siapa yang bertanya? Aku saja tidak peduli. Pamer sekali dia" Gerutu ku
"Apakah kamu mengatakan sesuatu Dis?" Tanya Sasa
"Kamu masih ingin menjadi dokter, Dis?" Tanya Raga
__ADS_1
Sial dia masih ingat?! Aku saja sudah tidak pernah membahasnya lagi.
Raga sialan.