
Setelah berdebat dengan Arga yang sudah berakhir, aku memutuskan untuk pulang.
Berdebat dengan Arga cukup menguras tenaga, ditambah tugas yang tiada habisnya dari dosen.
Sampai di kosan, aku langsung mandi dan naik ke kasur kesayangan.
Seketika kantuk langsung datang.
Haripun berubah menjadi pagi kembali.
Matahari menyapa dunia dengan senyum cerah terbaiknya.
Hari yang baik untuk mengawali hal baik juga bukan?
Setelah melakukan ritual pagi dari memberaihkan kamar sampai membuat sarapan, aku mengecek hpku yang dari tadi terabaikan.
Banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari banyak orang.
Hendak membuka pesan teratas di hpku, panggilan dari Raga tiba-tiba masuk.
Setelah dering pertama,
"Halo Ga?" Jawabku
"Astaga, Gis lo di mana?" Tanya Raga sedikit berteriak
"Kenapa kamu pagi-pagi sudah teriak?" Keluhku
"Lo ga buka hp lo?" Tanya Raga lagi
"Gimana bisa aku ngomong sama kamu kalo hpku ga di buka Bambang?!"
"Jadi lo gatau apa yang terjadi?"
Aku memutar bola mataku seketika.
"Ada apa sih, Ga?" Tanyaku malas
"Gue harap lo tenang ok! Jangan panik! Lo di kosan kan? Gue jemput ya?!" Rentetan pertanyaan dari Raga
"Ada apa? Jangan nakutin gue!" Kesalku
"Soal bang Arga" Jawab Raga
"Kenapa dengannya?"
"Dia gaada" Jawab Raga lagi
"Maksudnya?"
"Dia udah ninggalin kita"
"Ga, masih pagi ga lucu!"
"Gue ga lagi ngelucu, Dis. Bang Arga udah gaada. Gue udah otw ke kosan lo, lo siap-siap ya!"
Deg.
Arga ninggalin aku?
"Raga!"
"Lo tenang, gue udah mau nyampe. Gue tutup"
Setelah panggilan Raga berakhir, entah rasanya seperti apa.
Tuhan, apakah ini benar?
Tak terasa air mataku keluar tanpa permisi. Dadaku mulai sesak memikirkan Arga.
__ADS_1
"Arga kamu gabole pergi! Kamu gabole ninggalin aku! Kamu udah janji!" Gumamku
Aku terus menangis dan semakin keras.
Ketukan di pintu mengalihkan perhatianku.
Aku lalu berlari tergesa dan membuka pintu.
"Cepet ganti gue tunggu di sini!" Seru Raga tanpa basa basi
"Jadi ini beneran?" Tanyaku
"Gadis, buat apa gue becanda buat kematian abang gue?"
Aku kembali menangis dan terduduk di depan Raga.
"Ga hanya lo aja yang kehilangan, kita semua kehilangan. Ayo, kita harus segera nganter abang ke peristirahatan terakhirnya" Jelas Raga
Raga lalu mengantar ke kamarku dan mengambilkan baju yang ada di lemariku.
Dia mendorongku masuk ke kamar mandi.
Setelah aku selesai, kita berdua langsung bergegas ke bandara.
Sampai di Jakarta, jantungku semakin berpacu dengan cepat.
Raga terus memandangiku khawatir.
"Dis!" Sapa Raga
Aku masih menatap kedepan menghiraukan Raga.
Raga membuang nafas keras setelahnya.
Setelah sampai di rumah Raga, banyak sekali orang di sana.
"Gadis!" Seru mama Raga
"Tante!" Suaraku mulai serak karna sudah menangis lagi
"Terima kasih sudah datang"
Mama Raga langsung memelukku dan membuatku semakin menangis.
"Jangan nangis lagi ya, nanti Arga gasuka"
"Ayo masuk!" Ajak mama Raga
Setelah masuk ke dalam rumah, aku tidak melihat ada Arga di sana.
"Bang Arga udah di makamin tadi saat kita di perjalanan" Seru Raga yang seakan tau pertanyaan yang ada di kepalaku
"Gadis, terima kasih karna sudah menerima Arga ya! Ini ada titipan dari Arga"
"Dibuka nanti aja, mau nengok rumah baru bang Arga?" Tawar Raga
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Aku dan Raga berjalan menuju tempat pemakaman yang tidak jauh dari rumah Raga.
"Dis lo tau kan abang gue suka banget sama lo?" Tanya Raga
Aku hanya diam tanpa menjawab.
"Lo harus bahagia!" Seru Raga lagi
Tak jauh aku melihat nama Arga di sana. Air mataku kembali meleleh.
Tuhan, kenapa Engkau cepat mengambil kebahagiaanku sebelum aku bisa merasakan kebahagiaan itu?!
__ADS_1
"Dis!" Seru Raga sambil menepuk pundakku
Aku menengok ke Raga tanpa menjawab.
"Lo gamau bangun?" Tanya Raga
Aku bingung dengan pertanyaannya.
"Maksud kamu?" Tanyaku heran
"Bangun, Dis!" Seru Raga
Seketika aku memejamkan mataku karna bingung dengan maksud Raga.
Lalu aku membuka mata dan melihat sekeliling.
"Ini di kamarku? Masih gelap!" Gumamku
Aku langsung ngecek hpku.
"Masih jam 3 pagi" Gumamku lagi
Jantungku berpacu dengan cepat.
"Aku hanya mimpi?" Gumamku
"Aku tidak kehilangan Arga?"
Aku langsung menelfon nomor Arga untuk memastikan semuanya.
Dering pertama
Dering kedua
Dering ketiga
Belum diangkat dan aku mulai gelisah.
Dering kelima
"Halo!" Suara di seberang sana
Aku kembali menangis.
"Gadis ada apa? Kenapa telfon lalu menangis?" Seru Arga
"Arga!" Cicitku
"Iya?" Jawab Arga
"Ini beneran Arga kan?" Tanyaku
"Iya! Kamu kenapa? Kamu di mana? Aku jemput ya!"
"Aku gapapa"
"Jangan buat aku khawatir! Kamu di mana? Kenapa menangis?" Tanya Arga
"Gapapa, aku cuma seneng denger suara kamu" Jawabku akhirnya
"Kok pake nangis segala?" Tanya Arga
"Saking senengnya! Sampai ketemu nanti, Ga!" Jawabku sambil menutup sambungan telfon tanpa menunggu jawaban Arga.
Kelegaan memenuhi diriku.
Aku sangat bersyukur ini semua hanya mimpi.
Karna kehilangan dia terlalu menyakitkan walau itu hanya terjadi dalam mimpi.
__ADS_1