Always Him

Always Him
55


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, pintu kamarku di ketuk dengan tidak sabar.


"Siapa sih pagi gini udah bikin ribut?" Gerutuku sambil berjalan


"Arga!" Seru ku


Aku langsung menarik dia masuk ke kamarku.


"Demi Tuhan, Ga! Apa yang kamu lakuin pagi-pagi kesini?" Tanyaku


Dia masih diam.


"Arga, aku bicara sama kamu!"


"Ngeliat kamu ngomel begini aku jadi ga khawatir lagi" Jawab Arga


"Khawatir?"


"Setelah telfon tadi, aku takut kamu kenapa-napa"


"Tapi aku gapapa"


"Gapapa gimana, mata kamu sembab gini" Kicau Arga sambil menyentuh kedua mataku


"Kamu kesini cuma karna itu?" Tanyaku


"Kamu gaakan tau gimana khawatirnya aku saat denger kamu nangis tadi"


"Aku hanya mimpi buruk"


"Seburuk itu sampe nangis?"


"Ya. Mending kamu pulang"


"Kamu ngusir aku?"


"Bisa dibilang begitu"


Arga tidak menjawab dan menjatuhkan dirinya ke kasurku.


Aku hanya menghela nafas berat menghadapi manusia bernama Arga ini.


"Ga, pulang gih!" Seruku


Tentu saja tidak diindahkan sama dia.


"Arga"


"Arga Pramudya"


"Sayang"


"Ya?" Jawab Arga


"Giliran dipanggil sayang aja nyaut"


"Sini deh"


"Raga mau nikah" Ucap Arga setelahnya


"Sama siapa?" Tanyaku


"Sama Dayu"


"Siapa Dayu?"


"Orang"


"Oh kirain alien yang tersesat di bumi. Kok dia mau sama Raga?"


"Kamu juga dulu mau sama dia"


"Itu kan dulu"

__ADS_1


"Kalo sekarang gimana?"


"Ga gimana-gimana"


"Kita nikah juga yuk"


"Astaga pembicaraan kita random banget sih! Kayaknya kamu butuh istirahat, Ga!"


"Aku serius, Dis"


"Kamu fokus dulu koasmu deh. Jangan mikir yang lain"


"Aku udah gabisa nunggu kamu"


"Nunggu gimana?"


"Nunggu halalin kamu"


"Apaan ya?"


"Beneran gamau nikah sama aku?"


"Arga nikah ga segampang itu. Aku masih mau jadi dokter yang hebat"


"Setelah nikah kamu juga masih bisa jadi dokter hebat"


"Tapi aku gamau nikah dulu"


"Kenapa?"


"Aku belum punya cukup modal buat kesana"


"Kan ada aku"


"Susah ngomong sama kamu"


"Jangan khawatir kalo soal biaya nikah, aku punya tabungan yang cukup untuk itu"


"Bukan masalah duitnya, tapi masalah di akunya. Apa nanti aku akan jadi istri yang baik? Ibu yang baik? Aku bahkan belum berfikir sampai situ"


"Tidak untuk waktu dekat ini"


"Susah ya, berdebat sama orang pinter"


Aku hanya tersenyum menanggapi omongan Arga.


"Istirahat sana, nanti aku bangunin" Perintahku


"Gaada mau ngomong apa gitu?" Tanya Arga


"Aku mencintaimu"


"Katakan lagi!" Perintah Arga


Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya. Aku tidak menyangka orang yang dulu sangat dingin, bahkan ku kira tak akan pernah bisa tersentuh siapapun, menjadi sosok yang kekanakan seperti sekarang.


"Gadis apa kamu tidak mendengarku?" Tanya Arga


"Apa?" Tanyaku sambil tersenyum


"Katakan sekali lagi!" Seru Arga


"Mengatakan apa?"


"Yang kamu katakan tadi"


"Apa yang aku katakan?"


"Kau sungguh mengerjaiku?" Tanya Arga sambil cemberut


Sungguh dia sangat tidak cocok dengan ekspresinya saat ini.


"Mana berani aku mengerjaimu"

__ADS_1


"Lalu tadi itu apa kalau tidak mengerjaiku?"


"Aku hanya bertanya padamu"


"Kamu tadi bilang sesuatu kan?"


"Apa?"


"Aku mencintaimu!"


"Aku juga sangat mencintaimu, Ga!" Jawabku sambil tersenyum


"Gadis, ini benar kamu kan?" Tanya Arga sambil memegang kedua bahuku


"Memangnya kamu kira aku siapa?" Kesalku


"Kau Gadis" Jawab Arga


Aku hanya memutar bola mataku mendengar jawaban darinya.


"Lalu?" Tanyaku sambil mengangkat alis kananku


"Aku hanya tidak menyangka kamu mengatakan itu tadi"


"Baiklah akan ku cabut kembali kata-kataku"


"Tidak boleh! Semua yang sudah diucapkan tidak boleh ditarik kembali"


"Peraturan darimana itu?"


"Itu peraturan yang ku buat barusan"


"Memangnya kau siapa?"


"Aku? Kamu masih tanya siapa aku?"


"Tentu saja tidak"


"Kau ini memang Gadisku"


"Tidak ada hubungannya"


"Haha kamu benar. Sekarang yang berhubungan adalah perutku sangat lapar dan meminta asupan nutrisi dari calon istriku yang cantik ini"


Pipiku merona seketika mendengar kalimat panjang dari Arga.


Belajar dari mana manusia itu berkata sungguh manis pagi hari?


"Belajar dari mana kalimat seperti itu?"


"Tentu saja itu naluriku sebagai seseorang yang sedang jatuh hati"


"Gombal! Sudah aku akan memasak dulu"


Aku beranjak dari tempatku untuk menyiapkan sarapan untuk kita berdua.


Setelah asik dengan kegiatan masakku tiba-tiba sebuah tangan melingkar tepat di perutku.


"Arga!" Tergurku


"Biarkan begini sebentar" Lirih Arga


"Sayang" Panggil Arga


Entah kenapa hatiku selalu hangat saat dia memanggilku seperti itu.


"Mau ya, nikah sama aku?"


"Tidak!" Jawabku


"Aku memaksa!"


"Memangnya bisa?"

__ADS_1


"Mengujiku?"


__ADS_2