
"Hi sayang! Sudah lama menunggu?" Jawab Raga.
Demi apapun, sayang? Raga? Ya Tuhan ini sungguh tidak baik untuk jantung dan mataku. Apa dia pacar Raga? Jadi dia alasan Raga menolak ka Nisa?
Padahal aku sudah percaya diri bahwa Raga sedikit tertarik kepadaku.
Dasar senyuman sialan!
"Halo semua! Perkenalkan namaku Sasa. Aku pacarnya Raga"
Jadi dia benar-benar pacar Raga.
Sudah tidak ada harapan untukku bukan?
"Jadi Raga sudah mempunyai pacar? Sejak kapan?" Tanya Okta
"Oh dia cinta pertamaku. Kita sudah berhubungan sejak pertengahan kelas 1 dulu" Jawab Raga dengan senyuman yang tentu saja tidak surut dari wajahnya
Sebahagia itukah kalau cinta pertamamu juga menyukaimu?
Aku juga ingin merasakannya. Tapi ternyata cinta pertamaku juga menjadi perusak rasa itu dalam hatiku.
Astaga! Apa benar aku bersungguh-sungguh mencintainya?
__ADS_1
Setelah itu kita berlima menghabiskan makanan kita dengan tenang.
Ku kira hari ini menjadi hari keberuntunganku karna duduk di dekat Raga. Tapi kenyataan yang terjadi menyadarkanku bahwa Raga hanya menganggapku sebagai teman.
Senyuman itu memang di tujukan kepada semua orang. Dia orang yang ramah dan tidak pilih teman.
Andai saja otakku bekerja lebih baik sebelumnya, pasti aku tidak kecewa seperti sekarang bukan?
Setelah selesai dengan urusan di kantin, kita berempat kembali ke kelas dan Sasa kembali ke kelasnya juga.
Sungguh aku ingin sekali menjauh dari Raga. Aku tidak siap menghadapi senyumannya dan candaannya yang ternyata di tujukan sebagai teman saja kepadaku.
Setelah sampai kelas, guru fisika memasuki kelas dan langsung memberi tugas yang tidak masuk akal dan seenaknya kembali keluar kelas lagi.
Kita semua dengan serius mengerjakan soal-soal fisika yang ada. Tentu aku santai saja, meskipun Raga yang terbaik dalam masalah otak, otak yang ku punya juga tidak kalah dengan miliknya.
Setelah selesai mengerjakan, Okta langsung menyambar buku tugasku. Bersamaan dengan yang lain ikut bergerombol menyalin tugas yang sudah ku selesaikan. begitupun dengan Raga.
Huh, dia lagi. Rasanya aku ingin sekali berhenti menyukainya. Tapi setelah apa yang ku ketahui tadi, kenapa aku masih suka dengannya?
Apa aku tidak bisa berhenti menyukainya? Atau aku tidak mau berhenti menyukainya?
Hati memang sesialan itu.
__ADS_1
Melihat teman-temanku menyalin tugasku membuatku sedikit bosan. Apakah harus aku menulis tugas di papan? Kasihan juga mereka berdesakan untuk menyontek.
Tapi aku kembali pada lamunanku dan tidak menghiraukan mereka.
Mungkin dengan ini aku bisa sedikit menghilangkan rasa suka ku pada Raga.
Aku terus menulis apapun yang ada di dalam imajinasiku.
Aku sungguh ingin menjadi Raga yang bisa memiliki cintanya. Aku juga ingin memberitahu dia bahwa aku sudah menyukainya dari awal kita bertemu.
Tapi apa itu perlu? Apa itu tidak akan mempengaruhi pertemanan kita?
Bagaimana kalau setelah aku memberitahu Raga bahwa aku menyukainya dia malah menjauh?
Nyatanya aku tidak mau di tolak apalagi di tolak oleh Raga. Membayangkannya saja aku tidak mau.
Mungkin itu lebih buruk bagiku daripada mengetahui bahwa sekarang, Raga sudah memiliki kekasih yang dia cintai dan mencintainya.
Sebagai teman aku harus selalu mendukung demi kebahagiaan dia bukan?
Seperti yang dikatakan banyak orang, kamu akan bahagia kalau orang yang kamu cintai juga bahagia, meskipun bahagianya bukan dengan dirimu.
Ya, cinta memang mengajarkan kita untuk semunafik itu.
__ADS_1