Always Him

Always Him
18


__ADS_3

Setelah berhasil menjauh dari kak Arga, aku bergabung dengan teman-teman seangkatanku yang lainnya.


Aku juga ikut berdesakan di depan mading untuk melihat namaku terletak di lembaran kertas mana.


Hari yang sangat melelahkan.


Setelah menemukan namaku, aku langsung menuju kelas yang akan ku huni satu tahun nanti.


Dari arah pintu aku melihat sosok yang tidak asing lagi sejauh mata memandang.


"Hi Gadis!" Sapa orang itu.


"Raga kamu disini? Bukankah kamu mau melanjutkan ke sekolah lain?"


Demi suara nyanyian indahku, apakah Tuhan tidak berada di sisi ku sekarang?


Raga lagi? Seriously?


"Awalnya begitu, tapi karna aku tidak menemukan alasan kuat untuk sekolah di sana, akhirnya aku memutuskan lanjut di sini. Aku tidak menyangka kamu juga di sini juga, Dis! Aku sangat senang!"


Persetan dengan senyuman yang sialnya masih sedap di pandang itu.


Aku sudah move on ini!


Masa iya aku harus terjebak dengan dia terus?


Aku mulai tidak suka ada Raga di dekatku dan di sekitarku.


Setelah berbasa-basi dengan Raga, kita kembali berkumpul di lapangan untuk mengikuti agenda selanjutnya.


Setelah menahan lapar, haus, bosan, kantuk, pegal dan pasukannya, akhirnya ocehan demi ocehan yang tidak begitu ku dengar telah usai.


Aku sudah siap akan meluncur ke kantin, tapi seseorang mencegatku.


"Kamu mau kemana?"


"Kantin"

__ADS_1


"Kamu tidak mendengarkan tadi?"


"Ya. Memangnya ada apa?"


"Sebelum meninggalkan lapangan, kamu harus mendapatkan tanda tangan semua osis"


"Memangnya harus?"


"Tentu"


"Aku tidak yakin aku bisa memenuhi persyaratan itu"


"Belum dilakukan sudah menyerah!"


"Bukan begitu, tapi lihatlah teman-temanmu itu, menyuruh kita mendapatkan tanda tangannya yang aku tidak tau apa manfaatnya tapi mereka malah sok gamau begitu. Menyusahkan saja"


"Kamu mau mendapatkan hukuman?"


"Lebih baik begitu daripada membuang waktu sia-sia seperti mereka yang pada lari kesana kemari"


"Kamu tau hukuman yang akan kamu dapat?"


"Hukumannya jadi kekasihku!"


"Dasar sinting!" Teriakku keras sampai orang yang berada di dekatku memutar kepala mereka untuk melihatku


Ya, orang yang mencegatku tadi adalah si Arga sinting. Persetan dengan kesopanan yang menjadi ikon masyarakat Indonesia.


Kenapa dia sekarang berubah menjadi menyebalkan?


Apa yang sebenarnya dia inginkan?


Kenapa dia tidak menjadi manusia es yang datar dan terlihat mustahil untuk mencair.


Sialan, dia berhasil membuatku kesal dua kali hari ini.


Sekali lagi dia begitu, aku tidak tau apa yang akan terjadi nantinya?!

__ADS_1


Setelah lagi-lagi berhasil pergi dari Arga makhluk bumi yang baru itu, aku sudah duduk manis ditemani es jeruk manis dan saru mangkuk mie ayam spesial pakai ceker.


Sungguh nikmat dan berhasil menyogok naga yang sangat sehat di dalam perutku dan berhasil memperbaiki suasana hatiku menjadi lebih baik.


"Boleh aku duduk di sini?" Tanya Raga


"Tentu, ini tempat umum. Kamu boleh duduk di mana saja."


"Bagaimana sekolah ini?"


"Lumayan"


"Jawabanmu sangat Gadis sekali"


Akupun tidak menjawab pertanyaannya lagi. Tidak penting dan sangat basa-basi.


"Apakah kamu akhir pekan ini ada waktu?"


"Ada apa?"


"Aku hanya ingin mengajakmu untuk..."


Belum selesai Raga berbicara, seseorang dengan tampang menyebalkannya datang dan bergabung denganku dan Raga.


"Gadis kamu sudah makan?" Tanya kak Arga.


Ya, dia yang menghampiri kita berdua. Ada apa dengannya? Aku curiga dia salah obat kemarin.


"Kamu tidak lihat?" Jawabku sambil menunjuk mangkuk kosong di depanku.


"Apa kamu ada waktu akhir pekan ini?" Tanya kak Arga lagi.


Tanpa menjawab, aku langsung beranjak dan terus berjalan menjauhi mereka berdua.


Dasar sialan!


Demi Dewa biru yang sangat imut dan menggemaskan, ada apa dengan kakak beradik itu? Apakah mereka sedang meninggalkan kewarasan mereka di tempat yang mereka tidak ingat?

__ADS_1


Atau mereka benar-benar sakit dan salah membeli resep obat?


Dasar Pramudya sialan!


__ADS_2