
Arga masih memelukku erat dan menunggu aku membuka suaraku.
Aku masih berusaha mencari oksigen di sekitarku agar aku bisa berpikir jernih lagi.
Sebenarnya apa yang aku lakukan tadi?
Detak jantungku juga belum stabil hingga saat ini. Aku masih memegang pundak Arga dengan erat.
Apa aku harus percaya Arga untuk saat ini dan seterusnya?
Menikah! Apa aku benar-benar siap?
"Sayang" Lirih Arga mengembalikanku ke dunia.
Aku lantas menengok ke arahnya dan menatapnya lekat. Aku menggerakkan tangan kananku untuk menggapai pipi Arga. Sontak dia menutup matanya.
"Ga!" Panggilku
"Hm" Jawab Arga
"Apa kamu yakin?" Tanyaku
"Sangat"
"Denganku?"
"Tentu"
"Baiklah, ayo kita kembali!" Ajakku
"Jadi kamu setuju?" Tanya Arga seakan tak percaya
"Ya" Jawabku
"Kenapa?" Tanya Arga lagi
"Jadi kamu mau aku berubah pikiran? Baiklah, ayo kita beritau semuanya"
"No! Yang sudah diucapkan tidak boleh ditarik lagi"
Setelah itu Arga menyeretku sambil memasang senyuman yang mungkin akan menjadi senyuman favoritku.
Aku berusaha memaklumi tingkahnya saat ini. Apa dia sebahagia ini?
__ADS_1
"Jadi pestanya mau yang gimana?" Tanya Papa Arga
"Yang sederhana saja, Om" Jawabku
"Tidak! Kita harus merayakannya" Tegas Arga
"Merayakan dengan sederhana sama saja namanya menikah" Jawabku
"Sudah-sudah. Kenapa jadi kalian yang ribut. Biar Mama dan Ibu yang menyiapkan semuanya, kalian berdua tinggal pilih gaun dan cicin" Tegas Mama Arga
"Aku masih bisa lanjut kuliah di sini kan?" Tanyaku entah pada siapa
"Tentu saja. Kita akan hidup mandiri di sini. Lagian kamu juga bentar lagi lulus kan? Setelahnya kita akan kembali ke Jakarta" Jawab Arga
"Kalian mau honeymoon di mana?" Tanya Papa Arga
Wajahku memerah dan salah tingkah karna pertanyaan Papa Arga tadi. Honeymoon? Aku pernah memikirkannya tapi itu dulu sekali.
"Kamu ingin kemana, Dis?" Tanya Arga
"Terserah saja" Jawabku sekenanya
"Baiklah, aku akan memikirkanny nanti"
Saat akan masuk ke mobil ayahku, tiba-tiba Arga menarikku untuk ikut dengannya. Mau tidak mau aku ikut dengannya karna ayah juga sudah mengijinkan.
"Kamu yakin dengan keputusanmu?" Tanya Arga membuka percakapan
"Iya" Jawabku
"Apa yang membuatmu yakin?" Tanya Arga
"Kamu"
"Aku atau ciumanku?" Tanya Arga menyebalkan
"Arga!" Tegurku malu
Sungguh lelaki ini, tidak bisakah sebentar saja tidak membuatku malu.
"Iya saying" Jawab Arga
Aku hanya memutar bola mataku kesal.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memanggilku dengan sebutan kakak lagi?" Tanya Arga
"Kamu ingin aku memanggilmu begitu?"
"Aku lebih suka kamu memanggilku saying"
"Arga bisakah kamu serius?"
"Bukankah aku akan menikahimu? Apa itu belum cukup serius?"
"Menyebalkan!"
"Setelah nikah nanti, apa kamu ingin langsung memiliki anak?"
"Aku bahkan masih pusing memikirkan tugas yang tiada henti datang dalam kehidupanku"
Arga terkekeh mendengar jawabnku.
"Sayang, setiap manusia selalu mendapat tugas dalam hidupnya"
"Tumben sekali kamu berkata bijak seperti ini, Tuan? Apa perlu kita rayakan?" Jawabku menggodanya
"Haha tentu. Dengan ciuman mungkin bisa" Jawab Arga enteng
"Dasar otak mesum!" Teriakku
Arga hanya terkekeh dan setelahnya hanya keheningan yang menemani kita dalam perjalanan menuju rumahku.
Setelah sampai depan rumahh, Arga bergegas keluar mobil dan membukakan pintu untukku.
"Soal honeymoon tadi, apa benar tidak ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"
"Kalau aku menyebutkan semua tempat yang ingin ku kunjungi, apa kamu mau mengajakku kesana?"
"Tentu saja"
"Tapi aku ingin kebanyak tempat"
"Kita punya banyak waktu untuk kesana, Dis"
"Aku kan sibuk kuliah, belum lagi denganmu yang selalu menggangguku"
"Bukankah kita punya waktu selamanya?"
__ADS_1
Wajahku langsung merona mendengar Arga. Arga benar-benar sialan! Beraninya dia selalu membuat jantungku tidak karuan?