
Tahun ketiga ku berjalan dengan sangat baik.
Aku bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang memuaskan agar aku di terima di sekolah yang aku inginkan nantinya.
Tentu saja kerja keras ku dalam belajar beriringan dengan kerja keras ku untuk mengikhlaskan perasaanku terhadap Raga.
Toh kalau jodoh tidak kemana bukan?
Hari demi hari kita lewati dengan super sibuk. Sebagai murid kelas tiga, kita semua mendadak bersahabat dengan buku-buku yang biasanya tidak akan terbuka saat menyontek, tidak akan membaca selain chat dari doi tapi kita harus membagi waktu dengan membaca buku kisi-kisi yang sungguh menyebalkan itu.
Tunggu dulu! Kita? Doi? Memangnya kamu punya doi?
Jawaban dari seorang Gadis Pradipta, tentu saja aku punya. Aku bisa di bilang pengagum garis keras pebulu tangkis asal Korea Selatan yang bernama Lee Yong Dae.
Kalau kalian tidak familiar dengan nama itu, kemungkinan ada dua jawaban yang bisa memecahkan pertanyaan yang ada di otak kecil kalian.
Yang pertama, kalian tidak terlalu mengikuti pertandingan bulu tangkis yang di siarkan di tv. Yang kedua, kalian masih muda.
Kalau kalian masih ingin tau lebih mengenai babang tamvan Lee itu, u can google it.
__ADS_1
Ku rasa dia tidak kalah tampan dengan para personil kpop idol yang bertebaran di hati kalian masing-masing.
Tentu saja doi ku yang kedua adalah Raga Pramudya.
Tidak usah di jelaskan lagi bukan bagaimana aku mengaguminya dan mengapa aku menyukainya?
Aku hanya takut nanti kalian juga jatuh cinta kepadanya.
Tapi semakin kesini, ku rasa rasa suka ku kepadanya semakin berkurang. Aku jauh lebih menerima kenyataan sekarang. Bahwa cinta memang tidak ada logika. Cinta memang bisa saja tidak terbalas, cinta memang bisa memberikan kebahagian, cinta juga yang akhirnya memberikan kesedihan, cinta jugalah yang akhirnya menghilangkan kesedihan itu, cinta juga yang membuat rasa itu ada, lalu cinta juga yang membuat rasa itu pergi.
Mungkin, alasan para ilmuwan-ilmuwan di luar sana tidak mau repot dan membuang waktu mereka yang sangat berharga untuk melakukan penemuan obat penawar patah hati, atau bisa saja penemuan obat penyembuh sakit hati karna dari awal mereka sudah tau obat yang bisa menyembuhkan patah hati tanpa mau ribet untuk melakukan uji coba, riset, dan sebagainya.
Patah hati memang menyakitkan. Dan sialnya aku merasakannya di masa-masa aku baru saja tau apa itu cinta. Ya meskipun sebenarnya yang di maksud cinta dengan anak berseragam putih biru tua pasti jauh berbeda dengan cinta yang di maksud dengan orang dewasa.
Tapi, di umur berapapun merasakan patah hati, pasti semuanya akan merasakan dampak kecewa setelahnya bukan?
Meskipun pemikiran kita berbeda mengenai cinta, tapi efek yang di timbulkan saat patah hati bukankah sama saja?!
Semuanya juga berasal dari atas nama cinta bukan?
__ADS_1
Lalu, apakah aku masih di bilang kekanakan?
Di umur berapapun kita merasakan cinta, rasanya sama-sama berbunga bukan?
Serasa menjadi orang yang paling bahagia di planet yang disebut bumi ini.
Saat patah hati, semua orang pasti kecewa bukan? Karna mereka salah orang untuk menaruh hati, merasa pihak yang sangat dirugikan, merasa dipermainkan, merasa membuang waktu yang sangat berharga untuk hal-hal yang sia-sia ternyata.
Lalu, setelah itu menyalahkan cinta.
Apakah benar cinta yang salah? Atau individunya yang tidak mau disalahkan dan menggambing hitamkan cinta atas nama patah hati?!
Menemukan penawar dan penyembuh patah hati memang tidak memerlukan riset atau referensi dari apapun, manapun dan dimanapun.
Karna, obat patah hati itu sendiri adalah cinta itu lagi.
Bukan mencintai orang yang tidak mencintai kita, tapi mencintai orang yang mencintai dan menghargai kita
Dengan menyembuhkan hati yang kecewa itu, dengan menyambut cinta yang baru dengan suasana hati yang baru.
__ADS_1