Always Him

Always Him
27


__ADS_3

ARGA POV


"Kenalin, aku Gaga" Kataku


Dia hanya berdiri di depanku dan menatapku.


Sialan, dia menangis lagi karna gue.


"Gadis" Kataku sambil mencoba meraih tangannya.


Tapi dia mundur perlahan dan menjauh.


Mungkin dia sudah ingat dan menganggapku hanyalah seorang yang menyebabkan kakaknya meninggal.


Tapi aku juga tidak ingin menyebabkan Bella meninggalkan dunia ini dengan cara seperti itu.


"Sayang, aku.."


"Berhenti menyebutku dengan itu!" Teriaknya


"Kamu masih tidak ingat juga?" Tanyaku memastikan.


"Apa yang harus ku ingat dari orang sepertimu?"


Aku baru tau kalau dia membenciku sedalam itu. Apakah aku tidak termaafkan?


"Aku juga tidak ingin Bella melakukan hal seperti itu, mengertilah" Lirihku


"Kenapa kamu datang lagi? Kenapa wajahmu sangat berubah sekarang, meskipun aku sudah tau kalau wajahmu seiras dengan orang itu tapi aku selalu memikirkan kemungkinan kalau kamu bukan dia! Tapi apa sekarang? Kenapa kamu datang?"


"Kamu yang datang kepadaku"

__ADS_1


"Dalam mimpimu!"


"Kamu tidak ingat? Kamu yang datang ke rumahku bersama Raga dan lainnya. Sudah ingat?"


"Aku tidak datang untukmu!"


"Maafkan aku!"


"Kalau kamu datang hanya untuk mengatakan itu, aku sudah memaafkanmu sejak lama"


"Berhenti membenciku"


Dia diam lama di tempatnya, jangan lupakan tatapan datarnya itu.


"Apakah dengan berhenti membencimu, kamu bisa membawa kembali ka Bebe di sini?" Ucapnya akhirnya


"Sayang" Lirihku


"Kamu gadisku, kekasihku. Kenapa aku tidak boleh memanggilmu seperti itu?"


"Sejak kapan kamu menjadi kekasihku?"


"Sejak dulu, sejak di pesta ulang tahunmu yang ke 10"


Dia terus diam tanpa menjawab.


"Baiklah aku ingatkan. Saat kamu ulang tahun, aku mengungkapkan perasaanku padamu. Aku juga tidak mengerti kenapa aku melakukan itu. Yang ku pikirkan saat itu, aku hanya tidak ingin nantinya kamu bersama laki-laki lain selain aku." Aku menjeda kalimatku dan melihat ekspresinya.


Aku tau dia tidak puas dengan kalimatku itu.


"Lalu aku meminta jawabanmu dan kamu menjawab..."

__ADS_1


"Sudah hentikan! Itu terjadi saat aku masih kecil. Aku saja tidak tau apa itu cinta saat itu." Selanya


"Kamu sudah menjawab iya dan artinya iya" Jawabku tidak mau kalah.


"Baiklah kalau begitu kita akhiri saja hubungan tidak jelas itu" Jawabnya.


Apa katanya tadi? Tidak jelas?


Tidak taukah dia kalau gue beneran cinta sama dia?


Setelah apa yang terjadi dulu, gue selalu diikuti rasa bersalah dan cemas dengan keadaannya dan sekarang dia nyuruh gue pergi?


Jangan harap!


"Aku gaakan lepasin kamu"


"Terserah. Yang pasti aku menganggap sudah tidak ada apa-apa. Jadi berhenti menggangguku dan anggaplah kita tidak pernah kenal"


"Saat aku liat kamu di rumah waktu itu, aku ga nyangka ketemu kamu dengan sangat mudah, Dis. Sebenarnya aku tau kamu sekolah di tempat yang sama dengan Raga di hari pertama aku mengantar Raga ke sekolah. Tapi aku gapunya nyali buat nyapa.


Aku sangat senang ketemu kamu lagi, aku juga tersiksa dengan kamu yang selalu membenciku, sayang"


Dia mulai menangis lagi dan gue langsung meluk dia. Tidak ada penolakan darinya. Gue mempererat pelukan padanya guna menyalurkan rasa rindu.


"Ku mohon, berhenti membenciku dan menyuruhku menjauh. Kamu tau aku gaakan bisa ngelakuin itu! Aku juga tidak mau menyebabkan Bella seperti itu, dia temanku. Aku berteman baik dengannya. Aku juga kehilangan teman saat itu. Tapi perasaan tidak bisa di paksa kan?"


Aku menyentuh pipinya dan menghapus jejak air matanya itu.


Dia menatapku sendu dan terus menangis.


"Jangan menangis lagi, sayang!" Seruku

__ADS_1


Akupun menciumnya tepat di bibir tanpa menunggu tanggapannya dan meminta izin darinya.


__ADS_2