
Bel pulangpun berbunyi. Semua murid penghuni sekolah berhamburan meraih gerbang utama. Hari pertama sekolah cukup meakjubkan. Bertemu dengan Ajeng yang menjadi sosk cerewet setelah mengenalnya dan tentu saja bertemu seorang cowok yang membuatku menjadi pengagumnya. Apakah aku pengagum pertamanya di sekolah ini? Mungkin saja tidak. Mengingat pribadinya dan teman yang dia miliki, ku rasa dia memiliki banyak pengagum.
Akupun menggandeng sepedaku menjauh dari sekolah.
Saat di perjalanan pulang, aku melihat Raga dan temannya jalan kaki tak jauh dari tempatku sekarang.
Apakah rumah dia dekat? Mengapa dia jalan kaki ke sekolah? Bukankah anak-anak lain berlomba melihatkan kekayaan di depan semuanya agar diperhatikan?
Sekali lagi Raga berhasil memenuhi otakku dengan apapun yang dia lakukan.
Apakah aku benar menyukainya? Atau sekedar penasaran dengan pribadinya yang sederhana itu?
Ya Tuhan ingatkan aku bahwa aku masih harus fokus belajar demi masa depan ku yang ingin menjadi dokter spesialis anak di masa depan.
Lalu akupun mengayuh sepedaku semakin mendekat ke arah Raga dan temannya. Disaat aku sudah berlalu disisinya, terdengar suara yang membuatku menjadi salah tingkah.
"Gadis, hati-hati!" Seru Raga.
Sial, dia menyapaku! Dan apa yang dia bilang tadi? Hati-hati? Semoga wajahku tidak semerah Tuan Crab saat itu.
Aku merasa kinerja jantungku tidak normal seperti biasanya. Apakah di dekatnya membuatku tidak sehat? Tidak, di dekatnya membuatku tidak waras lebih tepatnya.
Ya Tuhan, tolong ingatkan aku untuk tidak selalu mengingat senyumannya yang seindah senyuman aktor di televisi nasional.
__ADS_1
Akupun segera mengayuh sepedaku semakin cepat agar tidak terlihat memalukan di hadapan Raga dan temannya.
Sial! Di dekatnya memang tidak bagus untuk kesehatanku. Ingatkan aku untuk tidak berada di dekatnya terlalu sering.
Karena asik bersepeda, hingga aku sadar bahwa jalan yang aku lewati berbeda dengan jalan yang aku lewati saat berangkat tadi pagi.
Gila! Apa aku tersesat? Aku tersesat karna Raga? Aku harus bagaimana?
Ya, perlu diketahui aku baru pindah ke lingkungan ini. Jadi aku belum menghafal jalanan di sini. Bahkan aku tidak terlalu hafal jalan pulang. Akhirnya di sinilah aku. Entah di mana dan harus bagaimana?!
Akupun terus mengayuh terus sepedaku sambil mengingat jalan. Dan tak lama kemudian aku menemukan sosok Raga di depanku.
Apa aku harus bertanya kepadanya? Bagaimana aku memulainya?
Huh, kenapa aku sepanik ini hanya karna ingin menanyakan arah kepadanya?
"Raga!"
"Gadis, kamu masih di sini?"
"Ya dan bukan. Maksudku seharusnya aku sudah pulang sejak tadi. Tapi aku tersesat dan tak tau harus lewat jalan yang mana"
"Memang di mana rumahmu sampai kamu tersesat? Apa rumahmu diangkut kura-kura dalam film kartun?"
__ADS_1
Waw dia bicara sepanjang itu! Dan apa tadi katanya? Apa aku harus tertawa dengan leluconnya?
"Tentu saja tidak. Aku baru pindah di daerah sini jadi aku belum hafal jalan ke rumah"
"Oke. Sinikan sepedamu biar ku antar kamu sampai di rumah"
"Apa tidak merepotkan?"
"Itu gunanya teman bukan? Ayo naik sebelum hari semakin sore"
Teman ya? Jangan lupakan itu. Ada kata teman diantara aku dan Raga.
Ragapun mengayuh sepedaku dengan kecepatan sedang. Setelah dihiasi kesunyian diantara kita, akhirnya sampai di depan rumahku.
"Terima kasih"
"Sama-sama. Besok jangan sampai tersesat lagi. Karna aku tidak mau mengantarkanmu hahaha"
Sungguh, tawanya sungguh indah!
"Sampai jumpa di sekolah, Gadis"
Ragapun berjalan menjauh dari rumahku dan aku menunggu dia sampai hilang dari penglihatan.
__ADS_1
Sangat sayang bukan untuk tidak melihat ciptaan Tuhan yang indah dalam diri Raga.
Ku harap Tuhan selalu mendekatkanku dengan Raga. Ya itulah harapanku.