Always Him

Always Him
20


__ADS_3

Raga POV


Perkenalkan aku Raga Pramudya. Kalian panggil saja aku Raga.


Aku hanya laki-laki biasa yang entah kenapa kemanapun kaki ku melangkah tatapan para wanita mengikuti ku juga.


Apakah ada yang salah dengan diriku?


Seperti hari pertama ku di sekolah menengah pertama ku sekarang, banyak pasang mata yang memperhatikanku. Ingin sekali ku hujat dan menyuruhnya berhenti memperhatikanku.


Tapi ada seseorang yang berhasil mencuri perhatianku, hanya dia yang tidak memberikan tatapan memuja kepadaku.


Gadis cantik yang sederhana dengan sepedanya.


Ya, gadis itu adalah Gadis Pradipta.


Aku menyukainya saat pertama kali melihatnya dari seberang jalan sebelum masuk ke sekolah.


Dia gadis yang sederhana dan tidak banyak bergosip seperti kebanyakan gadis yang ada di sekolah ini.


Dia juga tidak berusaha mendekati ku seperti gadis lainnya yang sangat agresif.


Apakah Gadis tidak merasakan hal yang sama?


Aku tidak punya keberanian untuk mendekatinya, karna dia terlihat orang yang fokus pada sekolah dan tidak tertarik menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tidak seperti teman-temannya yang sudah mulai menjalin hubungan percintaan.

__ADS_1


Apakah hidupnya semenyenangkan itu? Apakah aku boleh menjadi bagian dari cerita hidupnya?


Aku sudah berusaha mendekat dengannya, dengan duduk di sekitarnya waktu di kantin, mengawasinya saat asik membaca dengan buku-buku perpustakaan sampai tidak memperhatikan sekitar, saat dia tersenyum dan tertawa dengan Ajeng.


Aku suka senyumannya, manis dan cantik.


Saat aku bertemu di jalan dan dia bilang tersesat karena belum mengingat jalan pulang, ingin rasanya aku menertawakan kekonyolannya.


Tapi aku sangat bersyukur dia tersesat, aku bisa mengetahui dimana rumahnya.


Beberapa hari kemudian, aku masih memperhatikannya dari jauh. Entahlah aku seperti seorang penguntit sekarang.


Katanya cinta menimbulkan efek menyenangkan, dan aku setuju dengan itu. Aku menyukai efek cinta itu.


Akupun berusaha tidak selalu memikirkannya. Aku tidak suka efek friendzone ini.


Masih dengan mengawasinya seperti biasa, aku juga mulai dekat dengan gadis lain.


Dia Sasa. Gadis cantik yang anggun menawan, namun dia sangat manja dan tidak mau berjarak denganku.


kemanapun aku pergi dia selalu ada. Aku mulai kesal dengan Sasa.


Dia seperti anak ayam saja.


Dia sangat berbeda dengan Gadis.

__ADS_1


Bertahun-tahun bertahan dengan Sasa, akhirnya aku menyerah juga.


Aku sudah tidak sanggup dengan setiap rengekannya.


Aku juga sadar rasa suka ku kepadanya dengan Gadis sangat berbeda.


Meskipun aku sudah bersama Sasa, tapi aku tidak bisa berpaling dari Gadis.


Ku akui, efek Gadis memang sangat mempengaruhi ku.


Setelah lulus SMP, aku berusaha mencari tau kemana dia melanjutkan sekolahnya.


Bohong saja kalau dulu aku ingin melanjutkan ke sekolah yang sama dengan Sasa. Itu hanya untuk menyenangkan hatinya saja.


Setelah mengintrogasi teman-teman Gadis, akhirnya aku tau dia melanjutkan kemana.


Ternyata dia lanjut ke sekolah bang Arga.


Jadi aku harus melanjutkan pendidikan di sekolah yang sama dengan bang Arga? Sebenarnya itu bukan ide yang bagus.


Aku tidak membenci abangku tentu saja, tapi aku tidak suka dengan sikap tengilnya itu.


Demi Gadis! Ya demi dia. Aku sudah membulatkan tekad untuk mendekatinya nanti.


Kalau tidak sekarang kapan lagi?

__ADS_1


__ADS_2