
Hari ini adalah hari terakhir ujian nasional diadakan.
Akhirnya setelah kepalaku tersiksa karena mempelajari apa saja yang di butuhkan untuk ujian, sebentar lagi akan selesai.
Aku sangat tidak sabar untuk naik level menjadi murid putih abu-abu.
Kebanyakan orang berkata, masa putih abu-abu adalah masa yang sangat menyenangkan dan menggagumkan.
Ku harap masa putih abu-abu ku lebih menyenangkan dari sekarang. Ya, semoga.
Hubunganku dengan Raga masih seperti dulu. Bukankah kita hanya berteman? Jadi aku bisa apa.
Dia sudah jarang terlihat dengan Sasa akhir-akhir ini. Mungkin karna sibuk belajar dan sebagainya.
Aku, Okta, Zaki dan Raga masih sering berkumpul di perpustakaan untuk belajar bersama. Kita termasuk murid yang giat dalam belajar.
Karna, dengan giat belajar dan bekerja keras kita akan mempunyai peluang besar untuk meraih cita-cita bukan?
Menjadi seorang dokter bukanlah cita-cita yang mudah untuk di capai. Aku harus belajar giat untuk memenuhi keinginanku.
Dan aku bukan hanya ingin menjadi dokter saja, aku ingin menjadi dokter yang hebat. Yang sangat hebat.
__ADS_1
Setelah ujian selesai, Aku, Okta, Zaki dan Raga memutuskan untuk berkumpul di rumah Raga untuk merayakan keberhasilan kita menjawab soal-soal yang memusingkan kepala.
Ini pertama kalinya aku akan berkunjung ke rumah Raga. Kenapa jantungku mulai tidak stabil kembali?
Astaga, efek Raga masih sebesar ini meskipun kita berkomunikasi hanya membahas pelajaran saja.
Aku sudah berfikir bahwa aku sudah baik-baik saja dan bisa melupakan Raga. Tapi ternyata tidak juga.
Aku masih menyimpan Raga di hati ku. Entah di sebelah mana.
Raga yang selalu berhasil memunculkan debaran dalam diriku, dia juga yang mematahkan hatiku.
Itu bukan salah dia bukan? Bukankah dia tidak tau kalau aku menyukainya?
Apakah setelah jauh dari Raga perasaan ini akan hilang? Ataukah semakin bertambah karna menumpuk rindu?
Setelah sampai di rumah Raga, kita di sambut oleh mama Raga.
Pantas saja Raga sangat menawan, ibunya saja mengagumkan seperti ini. Aku yakin ayahnya juga tidak kalah menawan dari Raga.
Sungguh gen yang sempurna dan menghasilkan keturunan yang sempurna juga.
__ADS_1
Akhirnya kita berkumpul di ruang tamu. Raga dan Zaki asik bermain PS, sedangkan aku dan Okta asik melihat film horor yang banyak di bicarakan di dunia maya maupun teman-teman di sekolah.
Tak terasa waktu semakin sore, kita bertiga memutuskan untuk pulang karna takut di cariin mama. Kalian masih ingat bukan bahwa kita masih di bawah umur.
Setelah akan beranjak pergi, tiba-tiba ada seorang laki-laki berseragam putih abu-abu memasuki rumah Raga.
Apakah dia kakak Raga? Tapi tidak terlihat mirip dengan Raga sedikitpun. Karna Raga mewarisi wajah sang mama hampir 100%. Kalau dia benar kakak Raga, mungkin dia mewarisi apa yang ada dalam papanya.
Tunggu dulu! Mengapa aku memikirkan hal yang tidak penting itu?!
"Sini sayang, kenalan dulu sama teman-temannya Raga." Seru bu Sarah, mama Raga.
Akhirnya cowok itu mendekat ke arah kita.
"Arga." Jawab cowok itu dengan muka datarnya.
Datar sekali dia, sangat berbeda dengan Raga yang murah senyuman menawannya itu. Aku jadi tidak yakin kalau mereka bersaudara.
"Dia adalah kakaknya Raga. Kalian boleh memanggilnya Bang Arga. Dia memang orangnya seperti itu, jadi jangan di hiraukan ya. Kalau kalian bertemu dengan Arga di tempat lain, tegur saja tidak usah sungkan" Jelas bu Sarah seakan tau apa yang ada di dalam otakku.
Lalu, bang Arga meninggalkan kita semua dan kita bertiga melanjutkan niat kita yang tertunda tadi.
__ADS_1
Dasar manusia es.