
Tahun pertama masa putih abu-abu ku terlampaui dengan sempurna.
Hari ini adalah tahun kedua bagiku, itu artinya kak Arga sudah lulus dan aku tidak akan bertemu dia lagi di sekolah ini.
Satu tahun ke belakang, kenakalan kak Arga semakin menjadi. Dia suka gonta ganti cewek, berantem, bolos kelas dan tentunya karna itu semua dia menjadi langganan masuk bk.
Semoga saja kak Arga di luar sana berubah menjadi kak Arga yang baik seperti dulu.
Tidak bagus bukan kalau dia seperti itu terus?
Aku beraktifitas seperti biasa. Aku juga tidak begitu bergaul dengan teman-teman ku.
Yang ku lakukan hanya bergaul dengan buku dan absen ke perpustakaan setiap hari.
Aku juga jarang ke kantin karna aku bawa bekal dari rumah.
Kehidupan damai seperti ini yang ku inginkan.
"Hi, Dis!"
"Caca, sendirian aja?"
"Iya nih, ada tugas dari pak Bambang. Ngeselin banget botak satu itu"
Aku hanya menertawakan kekonyolan Caca saat dia kesal seperti itu.
Aku jadi sering ngobrol sama Caca karna kita memang sering nongkrong di perpustakaan.
Lama kita berdua di sana, akhirnya kita memutuskan menyudahi semuanya dan pulang.
Aku langsung bergegas ke halte dekat sekolah, tapi saat menunggu lama tidak ada bus yang berhenti.
Hp mati dan aku tidak bawa uang.
Apa aku harus jalan kaki?
Tapi rumahku jauh.
"Gadis" Seru seseorang
__ADS_1
"Raga, kamu belum pulang?"
"Ini mau pulang. Kamu?"
"Tidak ada bus yang lewat, aku juga tidak bawa uang dan ponselku mati"
"Ayo aku antar"
"Tidak merepotkan?"
"Tidak. Tapi mampir dulu ke rumahku ya, takut nanti mama cariin."
Aku hanya mengangguk. Rejeki tidak boleh di tolak bukan?
Sepanjang perjalanan ke rumah Raga, suasana hening. Tidak ada yang membuka obrolan untuk menghilangkan keheningan yang tercipta sampai ke rumah Raga.
"Mama aku pulang!" Teriak Raga
"Astaga, kebiasaan teriak-teriak!"
"Hehe maaf ma"
"Gadis, ayo sini. Kita makan malam sekalian"
"Bagaimana sekolahmu, Dis?" Tanya papa Raga
"Semuanya baik om"
"Om dengar kamu mau jadi dokter?"
"Rencananya begitu om, doakan saja"
"Masih mau jadi dokter anak?" Tanya Raga
"Iya"
"Arga juga..."
Belum sempat papa Raga menyelesaikan perkataannya, dering ponselku berbunyi.
__ADS_1
"Maaf om, tante saya permisi angkat telfon dulu"
Setelah menjauh dan mengangkat telfon, aku langsung berpamitan pulang.
"Raga, antar Gadis sampai rumah dengan selamat. Jangan ngebut" Petuah Mama Raga
"Iya, ma"
Aku dan Raga masuk ke mobil dan meninggalkan rumah Raga.
"Kamu beneran masih mau jadi dokter?" Tanya Raga memecah keheningan
"Iya. Aku belum merubah keinginan sampai saat ini"
"Mau kuliah di mana?"
"Rencananya mau lanjut di sini aja sih"
"Gabole jauh sama om ya?"
"Iya. Kalau kamu?"
"Aku mungkin akan kuliah bisnis buat bantu papa nantinya"
"Bukankah kamu ingin jadi pilot?"
"Ya, tapi kasihan papa kalau anaknya tidak ada yang meneruskan perjuangannya"
"Memangnya bang Arga tidak bisa?"
"Sebenarnya dulu bang Arga mau menggantikan papa nantinya, bahkan bang Arga pernah magang di perusahaan papa tapi entah kenapa bang Arga berubah pikiran"
"Emang kak Arga kuliah di mana?"
"Di sini aja. Sama seperti mu, kita juga gabole jauh-jauh" Jawab Raga sambil tersenyum
Tidak terasa sudah sampai di depan rumahku.
"Terima kasih sudah mau di repotkan, Ga!"
__ADS_1
"Santai saja. Aku balik dulu ya, sudah larut"
"Hati-hati"