
Arga POV
Tak terasa aku sudah tiba di hari yang sangat ku tunggu.
Menikahi Gadis adalah salah satu impian yang akan segera ku capai.
Beberapa hari sebelum hari pernikahan, Mama benar-benar memisahkanku dengan Gadis. Dan itu membuatku merasa sedikit kesal.
Kita juga melakukan fitting baju secara terpisah, kita hanya bertemu saat mencari cincin. Itupun dia dikawal oleh Mama. Sehingga aku tidak bisa memonopolinya untuk diriku sendiri.
Hari ini, hari pernikahanku membuatku gugup melebihi saat aku sedang sidang skripsi.
Papa yang ada di sampingku berusaha meyakinkanku agar tidak terlalu gugup mengingat ini adalah hari bahagiaku.
Setelah semua yang kita lalui, aku sangat bersyukur karena Gadis menerimaku sebagai teman hidupnya.
Beberapa hari sebelum hari pernikahanku, aku juga menyempatkan waktuku mengunjungi Bella untuk mendapatkan restunya.
Ku harap Bella di sana juga ikut bahagia dan aku berjanji akan berusaha membuat Gadis selalu bahagia.
Langkah kaki terdengar menuruni tangga mengalihkan pikiranku.
Aku menengok ke arah tangga dan melihat Gadis yang ditemani Ibu perlahan mendekat ke arahku.
Dia cantik.
Bukan, dia sangat cantik.
Aku bahkan hampir lupa berkedip karena sibuk menatap gadisku yang sebentar lagi akan menjadi istriku.
Setelah Gadis sampai di sampingku, upacara pernikahan kita pun berlancar dengan lancar.
Kita berdua akhirnya sah menjadi sepasang suami istri.
__ADS_1
Dan kulihat wajah istriku bersemu merah saat kita berhadapan.
Akupun menyematkan cicin di jari manisnya dan Gadis melakukan hal yang sama denganku.
Aku tersenyum ke arahnya. Rasanya hari ini aku tidak bisa berhenti tersenyum.
"Hi wifey!" Sapaku
Lihat! Pipi istri terlihat memerah saat aku menyapanya. Sungguh menggemaskan.
"Hi!" Sapa Gadis
Lalu aku menundukkan kepalaku dan mengecup singkat bibir yang menjadi canduku itu lalu memeluknya erat.
Sorakan dari tamu undangan yang datang membuatku melepaskan pelukanku.
"Selamat sayang!" Pekik Mama sambil memeluk Gadis
"Congratulations, son!" Ucap Papa sambil memelukku
"Selamat, nak! Ayah harap kamu selalu menjaga Gadis" Kata Ayah sambil memelukku
"Arga janji" Jawabku mantap
"Jadi sudah sah nih?" Ucap pria yang tiba-tiba hadir.
Aku hanya memutar bola mataku malas.
"Tentu" Jawabku sekenanya
"Selamat, Dis. Apa perlu gue manggil lo kakak ipar?"
Ya, pria itu adalah Raga adikku.
__ADS_1
Gadis terkekeh mendengar ucapan Raga barusan. Entah di mana letak kelucuannya.
"Terserah saja kamu mau manggil apa" Jawab Gadis
"Jadi boleh dong, aku panggil sayang" Goda Raga sambil melirik ke arahku
Aku menatap tajam ke Raga dan di balas kekehan.
"Bercanda Bang! Selamat ya, Bang. Janji harus kasih gue ponakan yang lucu dan imut" Ucap Raga lalu memelukku
"Terima kasih" Jawabku sambil menampilkan senyum terbaikku
"Gadis, gue juga ikut bahagia buat lo. Jangan bosan ya sama Abang gue" Ucap Raga
"Makasih, Ga! Dayu mana?"
"Dia ga bisa ikut. Tapi dia titip salam ke kalian"
"Jadi, lo sama Dayu gimana?" Tanyaku
"Serius nih kita ngobrol di sini? Udah banyak yang ngantri noh?"
"Yaudah pergi sana!" Kesalku
"Jangan lupa malam ini harus berhasil ya, Bang. Goyangan lo kudu mantep. Inget, harus kasih gue ponakan yang lucu" Goda Raga sambil mengedipkan sebelah matanya
"Sialan lo!" Jawabku menatap jijik ke arahnya
Gadis yang mendengar ucapan Raga hanya tersipu malu.
"Jadi, kamu siap untuk malam ini?" Tanyaku menggodanya
"Apasih" Jawab Gadis sambil mencubit perutku
__ADS_1
Aku tertawa melihat responnya.
Istriku sangat menggemaskan bukan?